Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Departemen Neurologi, FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Medicina

HIPERTERMI DALAM 72 JAM AWITAN SEBAGAI PREDIKTOR PERBURUKAN KLINIS PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT SELAMA PERAWATAN Adja, Yuliana Monika Imelda Wea Ora; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.718 KB)

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia yang membutuhkan pengobatandan perawatan jangka panjang. Stroke iskemik akut dengan defisit neurologi yang berat terjadikurang lebih 2-10% dan berhubungan dengan prognosis buruk baik jangka pendek ataupun jangkapanjang. Banyak faktor yang mempengaruhi luaran dan tingkatan perbaikan setelah mengalamistroke iskemik di antaranya peningkatan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui hipertermidalam 72 jam awitan yang dihubungkan dengan prediktor perburukan klinis penderita stroke iskemikakut selama perawatan.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangankohort prospektif. Prediktor perburukan digolongkan atas dua kelompok yaitu prediktor perburukanklinis dan prediktor perbaikan klinis melalui nilai NIHSS pada saat awal dan hari ke tujuh perawatan,dan juga di lakukan pengukuran suhu aurikula dalam 72 jam awitan stroke.Selama periode Januarisampai Maret 2015 didapatkan 88 penderita yang memenuhi kriteria eligibilitas. Data dianalisismenggunakan SPSS 20 for windows dengan menampilkan berbagai karakteristik subyek penelitianmeliputi usia, jenis kelamin, awitan stroke, jenis stroke iskemik, skor NIHSS awal, skor NIHSS harike-7, dan derajat hemiparesis. Hubungan antara hipertermi dengan perburukan klinis penderita diujidengan Chi-square, didapatkan hasil yang bermakna secara statistik (RR= 8,01;IK 95% 3,02 sampai21,25; P <0,0001). Dapat disimpulkan bahwa hipertermi merupakan prediktor perburukan klinispenderita stroke iskemik akut selama perawatan yang diukur dengan skala NIHSS. [MEDICINA2015;46:104-11].Stroke is a leading cause of death and disability in worldwide which need a long term care and treatment.Acute ischemic stroke reveal a severe neurological deficits occur approximately 2-10% in population. Itis associated with poor short and long term prognosis. Many factors influence outcomes and degree ofrepairing after ischemic stroke, in which increasing of body temperature is one of it. This study aim todetermine whether a hyperthermia occur in 72 hours is associated with predictor of clinical deteriorationof ischemic stroke patients during treatment.This was an analytic observational prospective cohortstudy design. Predictors of clinical deterioration measures with NIHSS score at baseline and seventhday of treatment and auricular temperature measured in 72 hours of stroke onset.There was 88 patientswith ischemic stroke during January to March 2015 met the eligibility criteria. Data were analyzedusing SPSS 20 for windows to display the various characteristics of the study subjects including age,sex, stroke onset, type of ischemic stroke, first and seventh day NIHSS score, and the degree ofhemiparesis. The relationship between hyperthermia and clinical deterioration tested with Chi-squaretest. The results obtained were statistically significant (RR= 8.01; 95%CI= 3.02 to 21.25; P<0.0001).Itwas concluded a 72-hour hyperthermia as a predictor of clinical deterioration of acute ischemic strokepatients during treatment measured with NIHSS. [MEDICINA 2015;46:104-11].
GANGGUAN MOOD PADA STROKE Tantular, Gabriella; Westa, Wayan; Nuartha, AABN
Medicina Vol 46 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.87 KB)

Abstract

Stroke adalah salah satu sindrom neurologi yang dapat menimbulkan kecacatan dalam kehidupanmanusia. Salah  satu gejala yang dapat  timbul  setelah  seseorang  terkena  stroke adalah gangguanmood. Gangguan mood berhubungan dengan disabilitas fisik, beratnya stroke dan gangguan kognitif.Gangguan mood yang ditemukan pada stroke adalah depresi, gangguan afektif bipolar dan mania.Gambaran  gejala  berhubungan dengan  lesi  anatomis  stroke. Terapi  yang diberikan dapat  berupafarmakologis, psikoterapi, dan rehabilitasi. [MEDICINA 2015;46:33-36].Stroke is one of neurology syndrome that cause disability in human life. One of the symptoms thatappear after stroke was mood disorder. Mood disorder were related to physical disability, severity ofstroke  and  cognitive  dysfunction. Mood  disorder  found  in  stroke was  depression,  affective  bipolardisorder, and mania. Symptoms were associated with anatomical lesion. Treatment for this disorderare pharmacologic treatment, psychotherapy, and rehabilitation. [MEDICINA 2015;46:33-36].
Lesi talamus sebagai faktor risiko perburukan neurologis pada stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut Suryawati, Ni Nyoman Ayu; Nuartha, AABN; P, Thomas Eko
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.457 KB)

Abstract

Stroke merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang neurologi. Insidens stroke di Indonesia adalah 12,1 per 1000 penduduk tahun 2013, sama banyak antara wanita dan lelaki dengan mortalitas di Indonesia sebesar 22%, (21,2% untuk stroke iskemik dan 28,2% untuk stroke perdarahan). Perdarahan talamus sering menimbulkan penurunan kesadaran akibat kerusakan sistem ascending reticular activating system bagian rostral. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa lesi talamus merupakan faktor risiko perburukan neurologis pada penderita stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut. Rancangan penelitian ini adalah kohort prospektif pada 60 orang penderita stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut dari Maret-Oktober 2015. Subjek dibagi 2 kelompok, masing-masing 30 subjek dengan lesi di daerah talamus dan lesi bukan talamus berdasarkan hasil CT scan kepala. Hubungan antar-variabel dinyatakan dengan risiko relatif (RR) (IK95%) dengan tingkat kemaknaan (P)<0,05. Pada analisis data didapatkan hubungan bermakna antara lesi talamus dengan perburukan klinis neurologis [RR=7,98 (IK95% 2,23 sampai 28,52), P=0,001]. Kami menyimpulkan bahwa lesi talamus secara bermakna merupakan faktor risiko terjadinya perburukan klinis neurologis pada penderita stroke perdarahan intraserebral akut. Stroke is one of the emergency case in neurology. Incidence of stroke in Indonesia was 12.1 per 1000 population in 2013, and women were equally affected as men; mortality among stroke patients in Indonesia was 22% (21.2% for ischemic stroke and 28.2% for haemorrhagic stroke). Thalamic hemorrhage often cause decrease of consciuosness due to damage of rostral ascending reticular activating system. The purpose of this study was to know whether thalamic lesion is a risk factor of worsening neurology in acute supratentorial intracerebral stroke patients. This study was prospective cohort design involving 60 acute supratentorial intracerebral stroke patients from March until October 2015. Subjects were divided into 2 groups consist of 30 subjects for each group (thalamic lesion and another location in head) based on head CT scan. Association between variable was expressed in relative risk (RR) (95%CI) with level of significance P<0.05. Data analysis revealed that there were association between thalamic lesion and worsening of clinical neurology [RR=7.98 (95%CI 2.23 to 28.52), P=0.001]. We conclude that thalamic lesion is a a risk factor of worsening of clinical neurology in acute haemorrhagic stroke patient.
PENURUNAN JUMLAH LEUKOSIT SEBAGAI PREDIKTOR PERBAIKAN KLINIS PENDERITA STROKE HEMORAGIK SELAMA PERAWATAN Harkitasari, Saktivi; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.154 KB)

Abstract

Prognosis penderita stroke hemoragik dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah jumlahleukosit. Berbagai penelitian menyatakan bahwa peningkatan jumlah leukosit sebagai prediktorperburukan klinis dan kematian pada penderita stroke hemoragik, tetapi sampai saat ini masihbelum jelas apakah penurunan jumlah leukosit setelah terjadi leukositosis dapat sebagai prediktorperbaikan klinis penderita stroke hemoragik. Penelitian ini menggunakan rancangan kohort prospektif.Subjek penelitian adalah penderita stroke hemoragik dengan awitan datang d”24 jam denganleukositosis saat masuk rumah sakit yang dirawat di Sanglah Denpasar. Kelompok yang mengalamipenurunan jumlah leukosit dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami peningkatan atautanpa perubahan jumlah leukosit. Penilaian luaran klinis menggunakan perubahan skor NIHSS yangdinilai pada hari ketujuh. Total sebanyak 44 subjek dimasukkan dalam penelitian, 19 subjekmeunjukkan perbaikan skor NIHSS. Penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang signifikandengan perbaikan klinis (RR=5,33; IK95%: 1,81 sampai 15,74; P<0,0001). Hasil penelitianmenunjukkan hanya penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang independent dengan perbaikanskor NIHSS. Disimpulkan bahwa pada penderita stroke hemorgaik dengan leukositosis, penurunanjumlah leukosit dapat menjadi prediktor perbaikan klinis selama perawatan yang diukur denganskala NIHSS. [MEDICINA 2015;46:92-8].The prognosis of hemorrhagic stroke patients is associated with many factors, leucocyte count is one ofthem. Many studies indicated that elevated leucocyte count is a predictor for bad clinical outcome anddeath in patients with hemorrhagic stroke, however, there is remain unclear whether leucocyte reductionafter leucocytosis could be a predictor for better clinical outcome of patients with hemorrhagic stroke.Thisis a prospective cohort study. Subject were hemorrhagic stroke patients who were arrival time d”24hours onset with leucocytosis admitted in Sanglah hospital Denpasar. Group with leucocyte countreduction were compared with group leucocyte count elevation or without changing. Clinical outcomewere measured with NIHSS score changing at day 7.A total of 44 subjects were recruited, 19 of themhad better NIHSS score. Leucocyte count reduction was significantly associated with better clinicaloutcome (RR=5,33; 95%CI: 1,81 to 15,74; P<0,0001). Leucocyte count reduction was the onlyindependently associated with better NIHSS score. It was concluded that in hemorrhagic stroke patientswith leucocytosis, leucocyte count reduction could be a predictor for better clinical outcome duringhospitalization measured with NIHSS.[MEDICINA 2015;46:92-8].