Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peningkatan Kemampuan Pengetahuan Konten Sains Melalui Pembelajaran Ipa Berbasis Kearifan Lokal Pada Pertanian Bawang Merah Brebes Meri Meri
JPMP Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/jpmp.v4i1.1725

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pembelajaran sains berbasis kearifan lokal di pertanian bawang merah Brebes dapat meningkatkan konten pengetahuan konten sains peserta didik. Penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain kelompok kontrol pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah semua peserta didik kelas VII yang diajar oleh guru yang sama. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling dengan mengambil kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data diambil dengan menggunakan lembar tes dan lembar angket. Data dianalisis menggunakan ujiindependent sample t-test dan ujigain scoreternormalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pengetahuan konten sains peserta didik antara pembelajaran sains berbasis kearifan lokal pada pertanian bawang merah Brebes di kelaseksperimen dengan pembelajaran IPA menggunakan model ekspositoripadakelaskontrol. Hal ini didasarkan pada hasil ujiindependent sample t-test bahwa signifikansi (Sig.) = 0.00< 0.05 maka, Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada perbedaan peningkatan kemampuan konten sains peserta didik yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pembelajaran IPA berbasis kearifan lokal tentang pertanian bawang merah Brebes efektif dalam meningkatkan kemampuan pengetahuan peserta didik tentang konten sains. Diketahui dari hasilujigainternormalisasipadakelaseksperimen 0.33 pada kategori sedang dan kelas kontrol 0.14 pada kategori rendah.
PELATIHAN PEMASARAN SECARA ONLINE HASIL RAJUT UMKM IBU – IBU PKK KABUPATEN BELITUNG Edwin Saputra; Novy Yudiastika; Dina Safitri; Meri Meri; Visca Mayyoan; Sela Sapitry; Rindu Handayani
Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan Vol 4, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/kewirausahaan.v4i2.622

Abstract

Partisipasi  aktif ibu – ibu PKK Desa Cerucuk  Kecamatan Badau kabupaten Belitung masih kurang dalam pemasaran produk yang di produksi apalagi dalm pemasaran online di mana ibu – ibu PKK didesa Cerucuk masih menjual produk dengan cara manual. Maka dari itu perlu di adakan pelatihan tentang proses pemasaran secara online khusu kepasa ibu – ibu PKK yang berasal dari desa Cerucuk tersebut. Dalam kegiatan ini diharapkan bisa berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan penjualan secara online sehingga bisa membuat pemasukan prekonomian. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan lebih afektif  apabila ibu – ibu PKK sudah  bisa menggunkan media social sebagai pemsaran produk yang mereka buat. Sedangkan alokasi waktu untuk latihan penjualan secara online minimal 2 jam permingu. Pada akhir kegiatan dapat disimpulkan bahwa facebook dan Instagram adalah dua platform digital yang bisa menambah pemasaran agar lebih mudah dan berkembang.
EFEKTIFITAS BEBERAPA MERK MINYAK SEREH WANGI (Cymbopogon sp) TERHADAP MORTALITAS KUTU KEPALA (Pediculus humanus capitis) SECARA In vitro Meri Meri
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v17i2.272

Abstract

Pediculus humanus capitis merupakan ektoparasit penyebab pedikulosis pada manusia. Minyak sereh wangi merupakan bahan alami yang dihasilkan dari tanaman Cymbopogon nardus R atau Cymbopogon winterianus J. Didalamnya terdapat kandungan kimia yang bersifat insektisida dan berpotensi sebagai pedikulosida nabati yaitu “Sitronelal”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas beberapa merk minyak sereh wangi terhadap mortalitas kutu kepala. Metode penelitian bersifat eksperimen, yaitu dengan meletakkan 2 ekor kutu kepala dewasa (jantan dan betina) pada kertas saring yang telah dijenuhkan dengan minyak sereh wangi didalam cawan petri. Mortalitas kutu kepala diamati berdasarkan waktu. Pengujian dilakukan dengan 5 kali pengulangan dan 3 merk minyak sereh wangi. Aquadest digunakan sebagai kontrol serta uji pembanding menggunakan pedikulosida merk “X” dengan senyawa aktif permethrin 1 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minyak sereh wangi merk “A”, “B”, dan “C” memiliki waktu pengaruh yang lebih cepat dibandingkan dengan pedikulosida merk “X” dengan senyawa aktif permethrin 1%. Waktu yang dibutuhkan untuk membunuh kutu kepala yaitu kurang dari 15 menit. Minyak Sereh Wangi Merk “A” mempunyai waktu tercepat terhadap mortalitas kutu kepala dengan rata-rata waktu 6 menit 1 detik. Sedangkan Merk “B” dengan waktu 7 menit 30 detik dan 10 menit 3 detik untuk Merk “C”.
Revitalisasi Pendidikan Buddhis Melalui Manajemen Strategis Berbasis Dhamma Alfred Wijaya; Meri Meri; Kabri Kabri; Partono Partono
Dhammavicaya : Jurnal Pengkajian Dhamma Vol. 8 No. 2 (2025): Dhammavicaya : Jurnal Pengkajian Dhamma
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/dhammavicaya.v8i2.1833

Abstract

Buddhist education in Indonesia faces structural and cultural challenges that threaten its sustainability, such as declining student numbers, limited human resources, and minimal funding. This study aims to develop a Buddhist education management model based on Dhamma principles (Paññā, Sīla, Viriya) integrated with a contemporary strategic approach. Using descriptive-qualitative methods and a literature study approach, this article examines primary data from Buddhist texts and secondary sources from academic literature. The main findings suggest that strengthening value-based management can strengthen the position of Buddhist schools as transformative institutions in shaping character and wisdom. This article makes a theoretical contribution by proposing a Dhamma-based strategic framework that is applicable in the Indonesian context.
Peran Kebudayaan India Pra-Buddha dalam Pembentukan Nilai Sosial Masyarakat Buddhis Awal Meri Meri; Alfred Wijaya; Kabri Kabri; Partono Partono
Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat Vol. 4 No. 3 (2025): Desember: Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrafi.v4i3.7344

Abstract

This study aims to analyze the formative influence of pre-Buddhist Indian culture on the development of social values within early Buddhist society. Prior to the emergence of Buddhism in the 6th century BCE, Indian civilization had already evolved a complex cultural and philosophical landscape characterized by the varṇa (caste) hierarchy, Vedic ritualism, and the metaphysical doctrines of the Upaniṣads concerning karma, saṃsāra, and mokṣa. Employing a qualitative library research method, this study draws on secondary historical and sociological literature as well as primary Buddhist scriptures from the Sutta Pitaka (Pali Text Society edition). The analysis identifies three major cultural elements Brahmanical ritualism, the doctrine of rebirth and moral causation, and the śramaṇa ascetic movements that provided both the context and the dialectical counterpoint to the rise of Buddhism. The findings reveal that the Buddha’s teaching emerged as a moral and philosophical critique of the Vedic worldview, rejecting hereditary privilege and ritual exclusivity in favor of ethical conduct (sīla), mental cultivation (bhāvanā), and compassionate social responsibility (mettā–karuṇā). Through this transformation, Buddhism redefined human worth based on moral action (kamma), rather than lineage or social status, thus creating an egalitarian and ethically grounded social order. Understanding the pre-Buddhist cultural background offers deeper insight into the sociological, philosophical, and ethical dimensions of early Buddhist thought and highlights its continuing relevance for contemporary discussions on social justice, equality, and interreligious harmony.