Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

AKURASI TIMBANGAN PEDAGANG BUAH MUSLIM PADA PASAR TRADISIONAL DI KOTA WATAMPONE Siti Nikmah Marzuki; Muljan Muljan; Uswatun Hasanah
J-ESA (Jurnal Ekonomi Syariah) Vol 1 No 2 (2018): Desember
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.423 KB)

Abstract

Penelitian ini menitikberatkan pada perilaku pedagang buah muslim dalam berdagang di Kota Watampone dan analisis akurasi ketepatan timbangan pedagang buah muslim di Kota Watampone. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif yakni metode penelitian yang menjelaskan mengenai suatu variabel tertentu yang menjadi fokus penelitian yaitu tentang akurasi ketepatan timbangan buah pedagang muslim yang ada di Kota Watampone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada pedagang yang menjual buah dengan tidak memenuhi takaran timbangan sesuai akad jual beli. Mengenai akurasi timbangan, masih terdapat pedagang buah yang bermain pada ukuran timbangan yang mengakibatkan takaran tidak sesuai dan merugikan pembeli. Disamping itu menemukan pedagang yang tidak jujur, masih tidak amanah dan melakukan tindakan gharar. Mereka melakukan tindakan penipuan dengan menjual buah yang tidak sesuai dengan timbangan, buah tidak segar, memberikan janji mengenai rasa yang tidak sesuai, dan mencampur buah yang bagus dengan buah yang sudah busuk.
INTEGRASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM ADAT DALAM PEWARISAN MASYARAKAT BUGIS BONE Asni Zubair; Muljan Muljan; Rosita Rosita
Al-Risalah: Jurnal Hukum Keluarga Islam (Ahwal Al-Syakhsiyah) Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.072 KB) | DOI: 10.30863/al-risalah.v1i1.390

Abstract

AbstractIntegration of Islamic law and customary law of inheritance that run in the Bugis community in District Palakka Bone takes place in the form of assimilation, syncretic, acculturative, and legitimacy. Integration in a syncretic form can be seen in the division of inheritance society that make Islamic law and customary law as a reference. Integration in the form acculturative can be seen at the time of the division of property, there is executed before the death, and there is also carried out after the death of the testator. The integration in the form of legitimacy can be seen from the case of the division of inheritance community continue to provide part of property to the son of the heir who had died earlier than the heir known as substitute heirs. Integration of Islamic law and customary law apply to the division of the community estate Bugis Bone in District Palakka namely because: a. between Islamic law and customary law have interacted for a long time, complementary in addressing the legal needs of the community, b. Islamic law and customary law used as a reference and a major cornerstone in the division of the community estate, c. Islamic law and customary law into the legal awareness of the public to follow both of these rules. d. between Islamic law and customary law have a common vision and goal to bring peace to people's lives. 
AKURASI TIMBANGAN PEDAGANG BUAH MUSLIM PADA PASAR TRADISIONAL DI KOTA WATAMPONE Siti Nikmah Marzuki; Muljan Muljan; Uswatun Hasanah
J-ESA (Jurnal Ekonomi Syariah) Vol. 1 No. 2 (2018): Desember
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menitikberatkan pada perilaku pedagang buah muslim dalam berdagang di Kota Watampone dan analisis akurasi ketepatan timbangan pedagang buah muslim di Kota Watampone. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif yakni metode penelitian yang menjelaskan mengenai suatu variabel tertentu yang menjadi fokus penelitian yaitu tentang akurasi ketepatan timbangan buah pedagang muslim yang ada di Kota Watampone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada pedagang yang menjual buah dengan tidak memenuhi takaran timbangan sesuai akad jual beli. Mengenai akurasi timbangan, masih terdapat pedagang buah yang bermain pada ukuran timbangan yang mengakibatkan takaran tidak sesuai dan merugikan pembeli. Disamping itu menemukan pedagang yang tidak jujur, masih tidak amanah dan melakukan tindakan gharar. Mereka melakukan tindakan penipuan dengan menjual buah yang tidak sesuai dengan timbangan, buah tidak segar, memberikan janji mengenai rasa yang tidak sesuai, dan mencampur buah yang bagus dengan buah yang sudah busuk.
KONTRIBUSI ISTRI DALAM PEREKONOMIAN KELUARGA DI KABUPATEN MAJENE PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH Supriadi Supriadi; Nur Astaman Putra; Mustafa Mustafa; Muljan Muljan; Fajar Fajar
Jurnal AL-SYAKHSHIYYAH Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan Vol 8 No 1 (2026): Volume 8, Nomor 1, Juni 2026
Publisher : IAIN BONE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/as-hki.v8i1.11687

Abstract

This study examines the contribution of wives to family economic welfare from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah in Majene Regency. The research employed a field study approach involving female street vendors at the Central Market of Majene. Ushul fiqh, sociological, and philosophical approaches were utilized, while data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed using descriptive qualitative methods. The findings reveal that wives’ participation in family economic activities is driven by economic demands and the local cultural value of sibali parri’, which emphasizes cooperation between spouses. Women play not only domestic roles but also significant economic roles in maintaining household stability. Their contribution positively affects family welfare, resilience, egalitarian relationships, and the fulfillment of basic family needs. From the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah, such participation aligns with the objectives of Islamic law, particularly the protection of wealth (ḥifẓ al-māl), life (ḥifẓ al-nafs), and family sustainability. However, the dual burden experienced by working wives remains a major challenge that requires a more equitable distribution of household responsibilities.