<!--
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman","serif";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
font-size:10.0pt;
mso-ansi-font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:10.0pt;}
@page WordSection1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.WordSection1
{page:WordSection1;}
-->
Abstrak
: Geografi fisik mengkaji fenomena fisik permukaan bumi yang mempengaruhi
kehidupan manusia atau dikenal sebagai geosfer. Geosfer dikaji oleh banyak bidang keilmuan, menjadikan geografi fisik harus
memiliki ciri sebagai suatu keilmuan yang berbeda dengan keilmuan lainnya,
yaitu berdasarkan pada pendekatan geografi. Akan tetapi luasnya geosfer sebagai
objek kajian, kiranya masih perlu adanya penciri geografi fisik yang dapat
ditandai berdasarkan pada : (1) adanya keteraturan alam semesta berupa sistem
yang seimbang, (2) penyederhanaan fenomena permukaan bumi menjadi suatu model,
dan (3) pembatasan luasan atau skala kajian yang diamati. Dengan adanya penanda
kajian geografi fisik tersebut diharapkan adanya ketegasan antara keilmuan
geografi fisik dengan keilmuan lainnya serta fenomena geosfer yang
keterkaitannya tidak terbatas dapat lebih mudah dipahamai.