Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Warta Perkaretan

KAJIAN PENGGUNAAN MIKROORGANISME TANAH UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN PADA TANAMAN KARET Yan Riska Venata Sembiring; Priyo Adi Nugroho; Istianto Istianto
Warta Perkaretan Vol. 32 No. 1 (2013): Volume 32, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.525 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v32i1.31

Abstract

Tanah perkebunan yang umumnya miskin hara menyebabkan pentingnya penambahan hara dari luar melalui pemupukan. Ketersediaan pemupukan kimia yang terbatas seringkali menjadi kendala dalam kegiatan pemupukan. Penggunaan pupuk kimia yang berkelanjutan juga dapat menurunkan kesuburan biologi tanah. Mikroorganisme tanah memiliki peranan penting dalam penyediaan kebutuhan hara tanah. Namun pemanfaatan mikroorganisme tanah ini belum banyak digunakan untuk mendukung perkebunan karet khususnya dalam penyediaan kebutuhan hara dan efisiensi dalam pemupukan. Beberapa mikroroganisme yang memiliki kemampuan adalah mikroorgnaisme penambat nitrogen, pelarut fosfor (P), bakteri endofitik, mikoriza, dan mikroorganisme pemantap agregat. Berbagai jenis mikroorganisme yang menguntungkan bagi tanaman ini dapat dikemas sebagai salah satu pilar nutrisi tanaman melalui pupuk hayati.
DINAMIKA HARA KALIUM DAN PENGELOLAANNYA DI PERKEBUNAN KARET Priyo Adi Nugroho
Warta Perkaretan Vol. 34 No. 2 (2015): volume 34, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.274 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v34i2.260

Abstract

Kalium merupakan salah satu hara penting pada tanaman karet. Defisiensi kalium akan menyebabkan lemahnya jaringan batang dan kerusakan tanaman oleh bakteri, jamur, serangga, nematoda dan virus. Kalium berperan dalam regenerasi kulit pada bidang sadap, kestabilan lateks, mengatur keseimbangan magnesium (Mg) dan meningkatkan produksi. Dalam kaitannya dengan kekeringan, aktivitas stomata dan laju transpirasi tanaman karet dengan kalium yang cukup akan menurun seiring dengan meningkatnya stres kelembaban tanah. Kalium juga berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Kalium dalam ekosistem kebun karet merupakan suatu daur/siklus yang terbuka. Sumber hara utama kalium adalah pelarutan mineral, dekomposisi bahan organik, air hujan, pencucian kanopi dan pemupukan. Hara kalium yang berada di dalam tanah sebagian terimmobilisasi di dalam jaringan tanaman karet dalam bentuk kayu maupun diserap oleh tanaman kacangan penutup tanah (LCC). Erosi dan pemanenan merupakan penyebab utama kehilangan hara. Di Indonesia tanaman karet umumnya dibudidayakan pada tanah-tanah masam terutama yang tergolong ke dalam ordo Inceptisol, Ultisol dan Oxisol.Secara inheren tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan tanah yang kurang baik termasuk kandungan Kalium yang rendah. Beberapa teknologi telah diterapkan oleh pekebun karet dalam mengelola kesuburan tanah yaitu melalui pemupukan kalium, penggunaan zat aditif (slow release agent) untuk efektifitas pemupukan, pengolahan tanah dan penanaman LCC sebagai bahan organik dan pencegah erosi.
APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) PADA PERKEBUNAN KARET Priyo Adi Nugroho
Warta Perkaretan Vol. 31 No. 1 (2012): Volume 31, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.211 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v31i1.264

Abstract

Sistem informasi Geografis (SIG) merupakan suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografi  dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisis dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografi. Teknologi SIG memungkinkan dukungan kegiatan bidang perkebunan karet secara efektif dan efisien. Terdapat beberapa keunggulan pada teknik penginderaan jauh antara lain (1) perekaman berulang, (2) faktual, dan (3) format berbentuk digital. Melihat penggunaannya di bidang lain yang cukup luas, maka pada bidang perkebunan karet berpeluang untuk diaplikasikan,antara lain untuk keperluan digitalisasi peta analog, penentuan luasan areal hiaten, penentuan tindakan kultur teknis pada berbagai kondisi topografi dan penapisan sebaran Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)  dan status hara daun.
POTENSI PENGEMBANGAN KARET MELALUI PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Priyo Adi Nugroho
Warta Perkaretan Vol. 31 No. 2 (2012): Volume 31, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.676 KB) | DOI: 10.22302/ppk.wp.v31i2.271

Abstract

Tingginya minat investor untuk mengusahakan komoditas karet tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan di wilayah tradisional karet. Selain di areal HGU, pengusahaan tanaman karet berpeluang untuk dilakukan pada areal-areal dengan status kawasan hutan yang diakomodasi dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). Sebagai salah satu tanaman kehutanan, karet mempunyai keunggulan di antaranya sebagai penghasil kayu, penambat CO2 dan penghasil O2, serta sebagai tanaman konservasi. Selain itu, pengembangan perkebunan karet pada areal-areal HTI yang berhimpitan dengan pemukiman masyarakat juga dapat dijadikan alternatif untuk mencegah konflik  antara perusahaan dengan masyarakat sekitar. Namun demikian untuk pengembangan agribisnis karet di areal HTI perlu dipertimbangkan beberapa hal terutama terkait dengan kelayakan lahan yang akan diusahakan, kesesuaian klon yang akan digunakan dan kultur teknis yang diterapkan, serta ketersediaan tenaga kerja setempat.
EVALUASI SISTEM PEMANENAN LATEKS TANAMAN KARET DI AREAL REGULER DAN BORONG: STUDI KASUS DI KEBUN-KEBUN WILAYAH JAWA BARAT Junaidi, Junaidi; Rouf, Akhmad; Putra, Riko Cahya; Nugroho, Priyo Adi; Susetyo, Imam; Nugrahani, Mudita Oktorina; Mujahidin, Jaja; Sulaiman, Budi; Nurdiyatna, Harry
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 2 (2025): Volume 44, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i2.1205

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kinerja sistem pemanenan lateks tanaman karet di areal reguler dan borong yang dilakukan pada 12 kebun di wilayah Jawa Barat. Sistem pemanenan reguler menggunakan karyawan tetap dan karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dengan upah bulanan, sedangkan sistem borong menggunakan tenaga kerja karyawan lepas dengan upah rupiah per kilogram kering yang disetor. Data dikumpulkan dari statistik produksi tahun 2024 masing-masing kebun. Hasil analisis menunjukkan bahwa produktivitas tanaman per hektar pada areal reguler nyata lebih tinggi dibanding sistem borong (895,44 kg/ha/tahun berbanding 623,06 kg/ha/tahun), namun produktivitas per tanaman nyata lebih rendah (21,57 g/p/s berbanding 33,64 g/p/s). Indeks kecukupan tenaga sadap (IKT) untuk areal reguler masing-masing 0,93 pada irisan tunggal, 0,96 pada irisan ganda, dan 1,00 pada sadap bebas, sedangkan untuk areal borong, jumlah penyadap cenderung berlebih, IKT masing-masing mencapai 1,18, 1,89, dan 1,86. Pada areal reguler indeks realisasi hari kerja sadap (IRHK) berkisar antara 0,80 – 0,87, sedangkan pada areal borong menunjukkan realisasi yang lebih rendah, hanya berkisar 0,41 – 0,55. Analisis korelasi menunjukkan bahwa parameter indeks capaian produksi (ICP) memiliki korelasi signifikan terhadap umur sadap (US), IRHK, produksi per pohon (g/p/s), dan produksi per hari kerja (kg/HK) pada areal reguler. Pada areal borong, ICP berkorelasi signifikan terhadap kerapatan tanaman, IRHK, IKT, g/p/s, dan kg/ HK. Capaian produksi terhadap target dapat dioptimalkan dengan meningkatkan realisasi hari kerja, produksi per pohon, dan produksi per hari kerja. Upaya optimalisasi ketiga parameter tersebut didiskusikan dalam artikel ini.