Tri Astuti
STKIP PGRI Lubuklinggau

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Model Respons Penyimak dalam Pengajaran Apresiasi Sastra Cerita (Pengembangan Model Pengajaran dan Pemilihan Bahan dengan objek Kajian Cerita Rakyat Sumatera Selatan di SLTP Kota Lubuklinggau) Tri Astuti
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 4 No - (2011): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6369.685 KB)

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang pemilihan bahan pembelajaran dengan objek kajian cerita rakyat Sumatera Selatan dan pengembangan model pengajaran Respons Penyimak dalam pengajaran apresiasi sastra cerita pada siswa kelas I SLTP di Kota Lubuklinggau. Untuk itu, ada dua metode penelitian yang digunakan: Pertama, metode analitis-deskriptif, yaitu untuk mengkaji secara teoritis kesesuaian pemilihan bahan ajar cerita; Kedua, metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk melihat secara empiris kesesuaian pemilihan bahan dan ketepatan penggunaan model pembelajaran Respons Penyimak pada siswa kelas I SLTP di Kota Lubuklinggau. Ada dua SLTP yang digunakan sebagai tempat penelitian, yaitu SLTP Negeri 1 dan SLTP Negeri 2 Lubuklinggau. Hasil analisis data dan pembahasan terhadap hasil penelitian diperoleh simpulan: (1) pemilihan bahan apresiasi sastra cerita dengan objek kajian cerita rakyat daerah Sumatera Selatan sesuai untuk siswa kelas I SLTP di kota Lubuklinggau, bahan dapat menarik minat dan memotivasi siswa, terlebih dengan penggunaan sarana atau media pembelajaran berupa kaset rekaman pembacaan cerita, siswa lebih dapat terfokus perhatian dan konsentrasinya untuk menyimak cerita; (2) penerapan Model Respons Penyimak yang dikembangkan dalam tindakan penelitian menunjukan keefektifan. Ini terlihat dari pelaksanaan proses pengajarannya dan hasil kegiatan siswa merespons cerita. Dari proses pengajarannya, siswa telah dapat terlibat langsung dalam proses pemaknaan karya sastra. Dari hasil merespons cerita, hasil diskusi siswa menunjukan respons yang bersifat sementara, relatif dan variatif; dan hasil tes siswa menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, hasil tes akhir lebih baik dari hasil tes awal dan tes akhir setiap siklus pembelajaran selalu meningkat.
PENERAPAN MODEL RESPONS PEMBACA DALAM UPAYA MENGOPTIMALISASIKAN HASIL BELAJAR APRESIASI SASTRA CERITA SISWA KELAS 1 SMP NEGERI 5 LUBUKLINGGAU Tri Astuti; Herlayati H.
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 5 No 1 (2012): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.112 KB)

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang penerapan model pengajaran respons pembaca dalam upaya mengoptimalisasikan hasil belajar apresiasi sastra cerita pada siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam tiga siklus pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model respons pembaca dapat mengoptimalisasikan hasil belajar siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Lubuklinggau dalam mengapresiasi sastra cerita. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase rata-rata dari hasil tes awal, tes akhir merespons cerita pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3. Pada siklus 3 persentase pemahaman rata-rata siswa dalam mengapresiasi sastra cerita sudah mencapai ketuntasan belajar (85.03%). Di samping itu juga, dapat dilihat dari perbanbingan peningkatan gain, rata-rata gain siswa secara keseluruhan meningkat sebesar 18.55% dari siklus 1 sampai siklus 3. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, terlihat siswa aktif dalam kegiatan diskusi merespons cerita. Dalam merespons cerita, siswa terlibat langsung dalam proses pemaknaan karya sastra. Hasil merespons cerita oleh siswa menunjukkan respons yang bersifat sementara, relative, dan variatif.
Bahasa Baku dan Sikap terhadap Bahasa Baku (Tinjauan Teoritis dan Deskriptif terhadap Problematika Pembakuan Bahasa Indonesia) Tri Astuti
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 6 No 1 (2013): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3908.431 KB)

Abstract

Bahasa merupakan sarana komunikasi paling vital di masyarakat. Oleh sebab itu, standardisasi atau pembakuan bahasa dalam suatu masyarakat menduduki peran yang penting, terlebih untuk masyarakat heterogen seperti Indonesia, yang konsekuensinya memunculkan berbagai bahasa dan ragam bahasa. Untuk memudahkan komunikasi dalam masyarakat, perlu dipilih satu variasi atau ragam bahasa yang dapat dijadikan sebagai acuan atau standar pemakaian di masyarakat. Bahasa yang standar atau baku ini akan menduduki posisi yang lebih tinggi dalam skala tata nilai masyarakat pemakai bahasa. Bahasa standar atau baku memiliki ciri kemantapan dinamis, cendikia, dan keseragaman kaidah. Persoalan yang terjadi dalam usaha pembakuan/standardisasi bahasa Indonesia, tak terlepas dari pengaruh sikap dan tanggapan para pemakai bahasa Indonesia itu sendiri. Sikap tuna harga diri, yaitu sikap yang kurang bangga dan sinis dalam menggunakan dan memakai bahasa Indonesia. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing dibanding bahasa sendiri dan memandang sinis terhadap usaha-usaha dalam pengembangan bahasa Indonesia. Selain itu, adanya tanggapan yang beranggapan bahwa masalah kebahasaan Indonesia adalah masalah yang sepele, tidak perlu pembahasan lebih mendalam dalam pemakaiannya karena mereka berargumen dalam penggunaan bahasa ’yang penting tahu maksudnya’. Hal ini melahirkan kebiasaan di kalangan masyarakat kita bahwa belajar bahasa Indonesia cukup secara alamiah saja. Artinya, mereka belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apa bentuk bahasa tersebut secara kaidah yang benar, sehingga dalam pemakaian mereka menekankan pada selera bahasa daripada penalaran bahasa.
Pengaruh Model Pembelajaran Mind Mapping terhadap Kemampuan Menulis Karya Tulis Ilmiah Siswa Kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau Eli Susanti; Tri Astuti
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 7 No 2 (2013): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3343.907 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah pada siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau. Hal ini sesuai dengan rumusan permasalahan dalam penelitian, yaitu: Apakah ada pengaruh model pembelajaran Mind Mapping terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau? Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni dengan penggunaan dua sampel penelitian yang dipilih secara acak kelas sehingga terpilih kelas XI IA sebagai kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan menggunakan model Mind Mapping dan kelas XI IS sebagai kelas kontrol diberi pembelajaran dengan menggunakan model konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan teknik nontes (wawancara) pada guru bahasa Indonesia. Data tes yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan analisis uji “t” (uji perbedaan dua rata-rata) didapat t hitung = 5,70. Selanjutnya t hitung dikonsultasikan dengan nilai t tabel dengan db = (n1 + n2 – 2) = (32 + 38 – 2) = 68. Dikarenakan 68 tidak terdapat pada tabel, maka digabungkan db = 120. Lalu dibandingkan dengan t tabel dalam taraf signifikan 5 % diperoleh t tabel1,98 dan taraf kepercayaan 1% diperoleh t tabel 2,62. Jadi, hipotesis Alternatif (Ha) diterima karena t hitung lebih besar dari t tabel (5,59 > 1,98 dan 5,59 > 2,62). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa model pembelajaran Mind Mapping berpengaruh terhadap kemampuan menulis karya tulis ilmiah siswa kelas XI SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau, teruji kebenarannya.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP TERHADAP KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR INTRINSIK CERPEN SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 LUBUKLINGGAU R.A. Fadillah Novrianti; Tri Astuti
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 8 No 1 (2014): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.685 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas model Co-op Co-op dalam meningkatkan kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik cerpen siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan adalah ekperimen semu (quasi experiment) dengan desain pre-test and post-test group. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X.3 sebanyak 38 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes sebagai data utama dan nontes. Teknik tes berupa tes esai dan teknk nontes menggunakan wawancara. Teknik analisis data dimulai dari mencari simpangan baku, uji normalitas, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan model model Co-op Co-op efektif dapat meningkatkan kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik cerpen siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji statistik yakni uji “t” diketahui to = 6,74 lebih besar dari tt baik pada taraf signifikansi 1% (2,64) maupun 5% (2,02).
VARIASI BAHASA DAN TINGKATAN SOSIAL MASYARAKAT JAWA DAN SUNDA (TINJAUAN TEORITIS DAN DESKRIPTIF TERHADAP KASUS PENGGUNAAN BAHASA DI MASYARAKAT) Tri Astuti
Jurnal Perspektif Pendidikan Vol 8 No 1 (2014): Jurnal Perspektif Pendidikan
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.774 KB)

Abstract

Tujuan penelitian untuk memberikan pemahaman terhadap variasi bahasa dan tingkatan sosial masyarakat Jawa dan Sunda. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya, sehingga manusia dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dengan cara mencatat dan rekam. Hasil penelitian menjelaskan bahwa variasi bahasa yang diakibatkan dari tingkatan sosial masyarakat ini disebut variasi sosial atau sosiolek. Pembagian ragam bahasa ini dapat dilihat melalui dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan; dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Pada golongan masyarakat kelas atas (berpendidikan) dikenal pemakaian variasi bahasa lemes (istilah dalam bahasa Sunda), krama inggil/kromo madyo (istilah dalam bahasa Jawa), dan pemakaian kode terperinci; pada golongan masyarakat kelas bawah (tak berpendidikan/pendidikan rendah) dikenal pemakaian variasi bahasa kasar (istilah dalam bahasa Sunda); dan ngoko (istilah dalam bahasa Jawa) dan pemakaian kode terbatas.