Achmad Djunaidi
Universitas Muhammadiyah Mataram

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran Guru dan Masyarakat Sekolah Dalam Menghadapi Pengaruh Media Sosial Terkait dengan Kenakalan Remaja di SMA Negeri 1 Mauponggo Gufran Sabarin; Achmad Djunaidi
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No 2: September 2018
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.61 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v6i2.676

Abstract

Arus globalisasi yang diikuti dengan perkembangan tekhnologi memberikan berbagai pengaruh yang cukup besar terhadap keadaan masyarakat, terutama pada kalangan remaja dapat membuat mereka berbuat positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan peran guru dan masyarakat sekolah dalam menghadapi pengaruh media sosial terkait dengan kenakalan remaja di SMA 1 Mauponggo dan usaha-usaha apakah yang dilakukan pihak sekolah dalam menanggulangi kenakalan remaja tersebut. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa. Data yang sudah terkumpul dianalisis melalui langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru, maupun mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk mengkaji proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya. Peran guru dalam proses belajar mengajar adalah guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar dan fasilitator, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pengarah, guru sebagai pelatih, guru sebagai penilai, guru sebagi pemimpin, guru sebagai mediator, dan guru sebagai evaluator. The current of globalization which is followed by the development of technology provides a considerable amount of influence on the condition of society, especially among adolescents can make them do positive and negative. This study aims to describe the role of teachers and school community in dealing with the influence of social media related to juvenile delinquency in Mauponggo 1 High School and what efforts have been made by the school to overcome the juvenile delinquency. This research method uses qualitative with a descriptive approach. The technique of collecting data uses observation, interviews, and documentation. Key informants in this study were principals, teachers and students. Data that has been collected is analyzed through steps of data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study indicate that the role of the teacher will always describe the expected patterns of behavior in various interactions, both with students, fellow teachers, and teaching, can be seen as central to their role. Because whether it is realized or not, a portion of the teacher's time and attention is devoted to studying the learning process and interacting with students. The role of the teacher in the teaching and learning process is the teacher as an educator, the teacher as the teacher and facilitator, the teacher as the guide, the teacher as the director, the teacher as the trainer, the teacher as the assessor, the teacher as the leader, the teacher as the mediator, and the teacher as the evaluator.
IMPLEMENTASI PASAL 29 UU NO 1 TAHUN1974 TENTANG PERJANJIAN DAN PENGESAHAN PERKAWINAN DI DESA MBAWA KECAMATAN DONGGO KABUPATEN BIMA TAHUN 2014 ACHMAD DJUNAIDI; ANDANG ANDANG
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 2: September 2016
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.974 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v4i2.335

Abstract

Abstrak: Perjanjian perkawinan merupakan persetujuan antara calon suami atau istri, untuk mengatur akibat perkawinan terhada hartakekayaan mereka yang menyimpang dari persatuan harta kekayaan. Perjanjian Perkawinan bukanlah hal yang popular dalam masyarakat, karena dalam masyarakat terdapat pemikiran bahwa suami-istri yang membuat perjanjian perkawinan dianggap tidak mencintai pasangannya tersebut. Hal ini disebabkan dengan adanya pengesahan dan perjanjian perkawinan sudah diatur dalam Pasal 29 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Untuk sahnya sebuah perjanjian perkawinan dan mengikat terhadap pihak ketiga, maka perjanjian perkawinan tersebut harus didaftarkan dan disahkan oleh pegawai pencatatan perkawinan.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif, dengan informan adalah Kepala KUA, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, P3 dan Pemerintah Desa. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Jenis datanya adalah kualitatif, sumberdata primer diperoleh melalui hasil wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui catatan dokumen. Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan tahapan: reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan.Dalam hasil penelitian yang akan diteliti data jumlah keluarga yang melakukan perjanjian perkawinan di Desa Mbawa, pada tahun 2013-2014 sebanyak 330 pasangan, sedangkan yang melakukan perjanjian perkawinan sebanyak 264 pasangan yang tercatat di KUA Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Perjanjian perkawinan yang dilakukan oleh kedua calon pengantin, terdapat unsur-unsur yang sama, yaitu perjanjian dan unsur harta kekayaan dalam perkawinan. Pengesahan perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat diawali dengan timbulnya kesadaran akan pentingnya dilakukan sebuah perjanjian dan pengesahan perkawinan. Hambatan dalam proses perjanjian dan pengesahan perkawinan yang dilakukan oleh kedua belah pihak sebelum perkawinan adalah masih adanya masyarakat yang kurang memiliki kesadarah untuk melakukan pencatatan perkawinan sehingga prosesnya pengesahanpun menjadi terhambat. Bagi masyarakat yang ingin melangsungkan perkawinan, sebaiknya dilakukan berdasarkan apa yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal membuat,  menentukan dan mengesahkan surat perjanjian perkawinan.
PENERAPAN NILAI-NILAI MORAL DAN KARAKTER DALAM PPKn DI SMP DARUL HIKMAH MATARAM Azhar Azhar; Achmad Djunaidi
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No. 1: Maret 2018
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.681 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v6i1.629

Abstract

Nilai-nilai moral dan karakter di Indonesia masih sangat memprihatinkan terutama dalam dunia pendidikan maraknya terjadi tindakan kekerasan dan perbuatan asusila seperti, pemerkosaan, tawuran antar pelajar, pelecehan seksual dan lain sebagainya. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan penerapan nilai-nilai moral dan karakter dalam pembelajaran PPKn di SMP Darul Hikmah Mataram,  dan mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi moral dan karakter siswa di SMP Darul Hikmah Mataram. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, pengumpulan digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subyek penelitian adalah, guru PPKn, guru BK, siswa SMP, serta kepala sekolah. Analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai moral dan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dibutuhkan kesiapan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang lengkap, nilai-nilai moral dan karakter siswa perlu diajarkan. Nilai-nilai moral dan karakter yang ajarkan yaitu mengamalkan nilai-nilai pancasila, juga diajarkan karakter sikap toleransi, menghargai, berbicara sopan santun, kejujuran, dan saling menghargai dan tolong menolong untuk diajarkan kepada peserta didik tersebut. Faktor yang mempengaruhi nilai-nilai moral dan karakter siswa dilihat dari segi positif seperti, mengajarkan hal-hal bernuansa agama, merubah peserta didik menjadi lebih baik, patuh dan taat. Segi negatif seperti, factor lingkungan, factor teman sepergaulan, dan factor teknologi.Moral and character values in Indonesia are still very alarming especially in the world of education where there are widespread acts of violence and immoral acts such as rape, brawls between students, sexual harassment and so on. The purpose of the study was to explain the application of moral and character values in PPKn learning at Darul Hikmah Middle School in Mataram, and identify factors that influence the morale and character of students in Darul Hikmah Middle School in Mataram. The research method used is qualitative research with a descriptive approach, the collection used is observation, interviews, and documentation. The research subjects were PPKn teachers, BK teachers, middle school students, and school principals. Data analysis using interactive models. The results of this study indicate that the application of moral values and character in the learning of Pancasila and Citizenship Education requires readiness to prepare a complete learning device, moral values and character of students need to be taught. Moral values and characters that teach are practicing the values of the Pancasila, also taught the character of tolerance, respect, speaking of manners, honesty, and mutual respect and helping help to be taught to these students. Factors that influence students' moral and character values are seen in a positive way, such as teaching religious nuances, changing students to be better, obedient and obedient. Negative aspects such as environmental factors, peer factors, and technological factors.
Analisis Putusan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) No 100/PUU-XIII/2015 Terkait Pemilihan Calon Tunggal Pilkada Serentak di Indonesia Anasrullah Anasrullah; Achmad Djunaidi; Candra Candra
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 1: Maret 2017
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.182 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v5i1.781

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pertimbagan hukum  putusan Hakim Mahkamah Konstitusi No. 100-PUU-8-2015 Tentang Pemilihan Calon Tunggal Pilkada Serentak di Indonesia dan implikasinya dalam pelaksanaan. Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif, pendekatan dalam  penelitian adalah perundang-undangan dan pendekatan kepustakaan, jenis dan sumber datanya ialah data perimer dan data sekunder, tehnik pengumpulan data dengan menggunakan studi pustaka dan tehnik analisis data adalah dari hal yang bersifat induktif kededuktif yaitu data umum tentang konsepsi hukum baik berupa asas-asas hukum, postulat serta ajaran-ajaran (doktrin). Putusan Mahkamah Konstitusi calon tunggal dalam pilkada adanya kekosongan hukum mana kala syarat paling kurang dua pasangan calon tersebut tidak terpenuhi. Mahkamah Konstitusi menilai adanya kekosongan hukum tersebut telah mengancam tidak terlaksananya hak-hak rakyat untuk dipilih dan memilih karena dua alasan. Pertama, penundaan kepemilihan serentak berikutnya sesungguhnya telah menghilangkan hak Rakya untuk dipilih dan memilih pada pemilihan serentak berikutnya. Kedua apabila penundaan demikian dapat dibenarkan, tetap tidak ada jaminan bahwa pada pemilihan serentak berikutnya itu, hak Rakyat untuk dipilih dan memilih akan dipenuhi. Dengan demikian menurut Mahkamah Konstitusi Pilkada yang ditunda sampai pemilihan berikutnya hanya kerena tidak terpenuhinya syarat paling sedikit dua pasangan calon bertentangan dengan UUD 1945. The purpose of this study is to explain the legal considerations of the decision of Constitutional Court Judge No. 100-PUU-8-2015 Regarding the Election of Single Candidates for Simultaneous Local Elections in Indonesia, the legal implications of the decision of the judges of the Constitutional Court No. 100 / PUU / 8/2015 on the election of a single candidate for simultaneous elections in Indonesia. This research includes normative legal research, the approach in research is legislation and library approach, the types and sources of data are perimer data and secondary data, data collection techniques using library studies and data analysis techniques are from things that are inductive, that is general data about the concept of law in the form of legal principles, postulates and teachings (doctrine). The decision of the Constitutional Court is the sole candidate in the election where there is a legal vacuum where when the requirements of at least two candidate pairs are not fulfilled. The Constitutional Court assesses that the legal vacuum has threatened the failure of the people's rights to be elected and elected for two reasons. First, the next simultaneous election delay has actually eliminated the Rakya's right to be elected and elected in the next simultaneous election. Second, if such delays are justified, there is still no guarantee that in the next simultaneous election, the people's right to be elected and elected will be fulfilled. Accordingly, according to the Constitutional Court Pilkada which was postponed until the next election only because it did not fulfill the requirements of at least two candidate pairs contrary to the 1945 Constitution.
Peranan Guru PPKn dalam Membina Sikap dan Kedisiplinan Siswa di Sekolah Melalui Pendekatan Keteladanan Guru di SMP Negeri 2 Donggo Achmad Djunaidi; Titin Sarimawati
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 2: September 2019
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.749 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v7i2.1135

Abstract

Sikap siswa berperan sebagai penunjang dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Sikap dipengaruhi perasaan pendukung atau tidak mendukung terhadap suatu objek. Terdapat banyak asumsi bahwa ada hubungan yang positif antara sikap siswa dengan hasil belajarnya.  Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pernanan guru dalam membina sikap dan kedisplinan siswa melalui pendekatan keteladanan guru. Metode penelitian ini mneggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah guru PPKn dan siswa di SMPN 2 Donggo. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, interview dan dokumentasi. Analisis data menggunakan  reduksi data, penyajian data verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Peranan Guru dalam pembinaan disiplin siswa adalah meningkatkan ketaqwaan siswa, mengadakan pembinaan untuk mempertinggi budi pekerti dan kepribadian siswa;  membimbing  tingkah  laku  siswa sehari-hari  di  sekolah;  2)      Bentuk pembinaan disiplin siswa yang dilakukan oleh guru adalah menunjukan/memberi contoh sikap disiplin; menegur siswa   yang   melanggar   secara   lisan;   menyampaikan   manfaat   dari berdisiplin; memberikan sanksi terhadap siswa yang melanggar baik sanksi ringan maupun sanksi berat; 3) Faktor pendukung dalam memberikan keteladanan dan kedisiplinan guru PPKn siswa adalah suasana lingkungan belajar yang kondusif/nyaman, sarana pembelajaran yang memadai/ menunjang, dan peran serta orang tua dalam pendidikan anak. Students ' attitudes serve as supporting in achieving a learning objective. Beliefs influenced by feelings of support or not supporting an object. There are many assumptions that there is a positive relationship between students ' attitudes and their learning outcomes.  The purpose of this research is to explain the teacher's attention to cultivating the philosophy and discipline of the students through the teacher's example. This method of study used qualitative research with a descriptive approach. The informant is the teacher of PPKn and students at SMPN 2 Donggo. The data collection used is observation, interview, and documentation. Data analysis used data reduction, presentation of verification data, and withdrawal of conclusions. The results showed that 1) the teacher's role in the coaching of students ' discipline is to increase the student's steady lit, conduct coaching to heighten the character's ethics and personality;  Guiding the conduct of every day students at school;  2) The form of student discipline coaching conducted by the teacher is to demonstrate/give examples of disciplinary attitude; Rebuke the student who violates orally;   Convey the benefits of disciplined; Sanctions on students who violate either mild or severe sanctions; 3) supporting factors in providing the teacher's transparency and discipline for students is a conducive/comfortable learning environment, adequate learning facilities, and parents ' participation in children's education.
TRADISI SIRAMAN (MEMANDIKAN CALON PENGANTIN) DALAM PROSESI UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA DI DESA LARANGAN KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN BREBES Achmad Djunaidi; Setiadi Aji Prawira
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 1: Maret 2016
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.706 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v4i1.324

Abstract

Abstrak:Penelitian ini merupakan penelitian upacara adat jawa, yaitu upacara siraman. Dalam penelitian ini peneliti mengajukan rumusan masalah yang cukup menarik. Adapun rumusan masalah tersebut adalah bagaimana proses siraman serta apa makna siraman tersebut. Dengan tujuan memahami bagaimana proses siraman beserta makna yang terdapat dalam proses siraman.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif yang disusun secara sistematis dalam penelitian ini. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenolgi, karena metode ini memakai pengalaman hidup sebagai alat untuk memahami fenomena yang sedang terjadi ataupun yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini juga menggunakan metode  purposive sampling dimana peneliti menentukan sendiri sampel yang akan diambil karena pertimbangan tertentu. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti menganggap metode ini lebh efektif dalam penelitian kualitatif.Pembahasan proses upacara siraman berdasarkan hasil penelitian yang mendeskripsikan proses upacara siraman. Adapun proses dari siraman tersebut seperti berikut : calon pengantin memakai pakaian siraman lantas diiringi oleh orang tuanya ketempat siraman, orang tua calon pengantin yang menyiram dilanjutkan oleh sesepuh (orang yang dituakan) dan diakhiri dengan dukun pengantin memecahkan kendil siraman disambut para tamu yang mengucapkan  “wes pecah pamore” . Selain proses upacara siraman, hasil penelitian juga membahas tentang makna yang terkandung dalam proses upacara siraman. Adapun makna yang terkandung dalam upacara siraman yaitu melakukan upacara adat (meminta berkah tuhan) sebagai bentuk harapan kesuksesan upacara pernikahannya, membersikan jasmani dan rohani sebagai bentuk penyucian diri untuk menghadapi upacara yang sakral serta pemberian doa yang terbaik dari keluarga dan para tamu undangan bagi calon pengantin. Abstract:  This study is a Javanese traditional ceremony, the ceremony siraman. In this study, the researchers propose formulation of the problem is quite interesting. The formulation of the problem is how the siraman process and what the meaning of the siraman. With the goal of understanding how the process of being washed along with the meaning contained in the siraman process.The method used is a qualitative research method. Qualitative research is descriptive systematically arranged in this study. The approach used is phenomenological approach, because this method uses life experiences as a tool to understand the phenomenon that is happening or has already happened. In this research using purposive sampling method where researchers determine their own samples to be taken because of certain considerations. Methods of data collection in this research is the method of observation, interviews, and documentation. Researchers believe this method is more effective in qualitative research.Discussion ceremony siraman process based on research results that describe the process of being washed ceremony. The process of being washed in the following manner: the bride to wear a splash of water and then accompanied  by his parents to place siraman, parents of prospective brides flush followed by the sesepuh (elder person) and ends with a splash kendil (water container)solve shaman bride greeted guests say “wes pecah pamore” (already glowing aura). Besides ceremonial siraman process, the results of the study also discusses the meaning contained in the process of being washed ceremony. As for the meaning contained in ceremonial splash of water that traditional ceremonies (ask for a blessing of god) as a form of hope of success wedding ceremony, cleaning physically and mentally as a form of self-purification to confront the ceremony of the sacred and the provision of prayer is the best of the family and invited guests for the bride.
Penggunaan Metode Kooperatif Model Artikulasi Terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Kelas VII SMPN 2 Gangga Kabupaten Lombok Utara Achmad Djunaidi; Taufik Taufik
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 7 No. 1: Maret 2019
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.785 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v0i0.849

Abstract

Rendahnya kemampuan mengemukakan pendapat siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode pembelajaran Kooperatif Model Artikulasi dapat meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Kelas VII SMP N 2 Gangga. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 2 Gangga sebanyak 24 orang, yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Jenis penelitian menngunakan eksperimen dengan pendekatan kuantitatif desain Pre-test dan Post-est. Desain ini digunakan sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis statistik dengan rumus t-tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa t-hitung sebesar 12,64 dari t-tabel 2,069 yang berarti terdapat pengaruh signifikan dengan menggunakan metode pembelajaran Kooperatif model Artikulasi terhadap proses belajar mengajar. Rata-rata hasi belajar siswa yang dikenakan metode pembelajaran Kooperatif model Artikulasi sebesar 77,67 dan hasil belajar siswa yang tidak dikenakan perlakuan sebesar 67,67. Dengan demikian disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran Kooperatif model artikulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VII di SMPN 2 Gangga, maka dapat dikatakan hipotesis (Ha) diterima yang berbunyi bahwa metode pembelajaran Kooperatif model Artikulasi dapat meningkatkan kualitas hasil belajar PKn siswa. The low ability to express student opinions in the Subject of Citizenship Education. This study aims to determine whether the application of Cooperative learning methods Articulation Model can improve Student Learning Outcomes in Class VII Civics Subjects of Ganges N 2 Middle School. The sample in this study were class VII students of Ganges 2 Junior High School as many as 24 people, consisting of 14 male students and ten female students. This type of research uses experiments with a quantitative approach to Pre-test and Post-test design. This design was used before the trial and after the test. While the analysis used is statistical analysis using the t-test formula. The results showed that t-count was 12.64 from t-table 2.069, which means that there was a significant effect using the Cooperative learning method of the Articulation model on the teaching and learning process. The average student learning outcomes subject to the Cooperative learning method of Articulation model is 77.67, and student learning outcomes that are not subject to treatment amounted to 67.67. Thus it was concluded that the application of Cooperative learning methods articulation models could improve Citizenship Education learning outcomes of class VII students in Ganges 2 Ganga, it can be said the hypothesis (Ha) is accepted which means that Cooperative learning methods Articulation models can improve the quality of Citizenship Education student learning outcomes.