Sinta Nurmalasari
Industrial Engineering Departement Diponegoro University Jl. Prof. Sudarto, SH Tembalang Semarang 50239 Telp. 0247460052

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL PEMILIHAN BAHAN PEWARNA ALAM COKLAT BATIK TULIS SOLO DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Hartini, Sri Hartini; Nurmalasari, Sinta; Rinawati, Dyah Ika
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 9, No.2, Mei 2014
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.398 KB) | DOI: 10.12777/jati.9.2.77-86

Abstract

Pewarna alami batik diklaim lebih ramah lingkungan dan telah terbukti menghasilkan emisi yang lebih rendah. Untuk itu penggunaan pewarna alam khususnya batik sangat dianjurkan. Sebuah sentra batik Laweyan di Solo telah memulai penggunaan pewarna alam sejak beberapa tahun yang lalu. Warna yang dominan digunakan adalah warna coklat karena ciri khas batik Solo yang paling banyak menggunakan warna coklat soga. Untuk menghasilkan warna coklat di sentra tersebut banyak pilihan bahan pewarna alam yang digunakan. Penelitian ini bermaksud mengembangkan model pemilihan alternatif bahan alam berdasarkan kriteria-kriteria yang ada. Tahapan dalam pemilihan yaitu menggali kriteria yang berpengaruh, melakukan pembobotan kriteria dan melakukan pembobotan pada alternatif yang ada. Penelitian ini menggunakan metode AHP  dalam pengolahan data sehingga dapat diketahui bahan alam apa yang tepat untuk menghasilkan warna coklat sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada. Dari hasil penelitian faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahan alam yaitu 4 variabel 6 kriteria dan 14 sub kriteria. Dari beberapa kriteria tersebut bahan alam yang terpilih adalah jalawe untuk menghasilkan warna coklat. Kata Kunci : batik, pewarna alam, analytical hierarchy process (AHP), laweyan, batik tulis Abstract Natural dyes of batik has claimed to be more environmentally friendly and has been known lower emissions. The use of natural dyes for batik especially highly recommended. A center of batik Laweyan in Solo has initiated use of natural dyes since a few years ago. The dominant colors used are brown because typical Solo batik are the most widely use soga brown color. To produce a brown color in the center of a large selection of natural dyes are used. During this time they are using all these ingredients. This study intends to develop a model of natural selection of alternative materials based on existing criteria. Stages in the selection criteria, namely digging influential,  weighting criteria and weighting criteria on existing alternative. This study uses AHP method in data processing so as to know what the right natural dyes to produce a brown in accordance with existing criteria. From the research, the factors that influence the selection of natural dyes are 4 variables 6 criteria and 14 sub-criteria. From of these criteria are natural dyes has selected to produce a brown color is jalawe. Keyword : batik, natural dyes, analytical hierarchy process (AHP), laweyan.
Faktor Demografi yang Berhubungan dengan Burnout pada Tenaga Keperawatan: Sebuah Tinjauan Literatur Nurmalasari, Sinta; Pramesona, Bayu Anggileo
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v12i2.pp68-74

Abstract

ABSTRAK: Burnout merupakan sindrom psikologis yang timbul akibat stres kerja kronis yang tidak tertangani secara efektif dan banyak dialami oleh tenaga keperawatan. Kondisi ini ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, serta penurunan pencapaian pribadi. Perawat termasuk kelompok yang rentan terhadap burnout karena tingginya tuntutan kerja, tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien, serta intensitas interaksi emosional yang tinggi dalam pelayanan. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor demografi dan tingkat burnout pada tenaga keperawatan berdasarkan penelitian terkini. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data PubMed dan Google Scholar dengan rentang publikasi tahun 2021–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa usia dan masa kerja merupakan faktor yang paling konsisten berhubungan dengan tingkat burnout, di mana perawat berusia muda dengan masa kerja singkat memiliki risiko yang lebih tinggi. Sementara itu, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan status perkawinan berperan dalam menurunkan risiko burnout melalui peningkatan rasa percaya diri dan dukungan sosial yang memadai. Pengaruh jenis kelamin masih menunjukkan hasil yang bervariasi antar studi. Kesimpulannya, faktor demografi memiliki peranan penting dan perlu dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan serta intervensi yang bertujuan untuk mencegah burnout pada tenaga keperawatan. Kata kunci: burnout, demografi, tenaga keperawatan, usia, masa kerja ABSTRACT: Burnout is a psychological syndrome that arises from chronic occupational stress that is not effectively managed and is widely experienced among nursing professionals. It is characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and a reduced sense of personal accomplishment. Nurses are particularly vulnerable to burnout due to heavy workload demands, responsibility for patient safety, and the emotional intensity inherent in patient care. This literature review aims to identify the association between demographic factors and burnout levels among nursing staff based on recent empirical evidence. Articles were retrieved from PubMed and Google Scholar databases, limited to publications from 2021 to 2025. The findings indicate that age and length of employment are the most consistent factors associated with burnout, where younger nurses and those with shorter work experience exhibit higher risk. Meanwhile, higher educational attainment and being married appear to reduce the risk of burnout by enhancing self-confidence and social support. The influence of gender remains inconsistent across studies. In conclusion, demographic characteristics play an essential role and should be considered in developing policies and interventions aimed at preventing burnout among nursing professionals. Keywords: burnout, demographic factors, nursing staff, age, length of employment