Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

REGULASI EMOSI DAN PEMAAFAN PADA WANITA BERCERAI DI ACEH TENGAH Nursan Junita; Retna Aisyah Simanhate; Hafnidar Hafnidar; Zurratul Muna
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : LPPM University 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v5i2.6473

Abstract

Regulasi emosi adalah kemampuan individu untuk merespon dan mengontrol kondisi emosi yang dialami secara tenang. Kemampuan ini penting dimiliki oleh individu yang mengalami perceraian, karena perceraian akan berdampak secara emosional bagi individu yang mengalaminya. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara regulasi emosi dan pemaafan pada wanita yang mengalami perceraian di Aceh Tengah dengan menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik sampling insidential dalam pengambilan sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 275 wanita yang sudah bercerai yang berasal dari Aceh Tengah. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) yang digunakan untuk mengukur variabel regulasi emosi dan Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM 18) untuk mengukur variabel pemaafan yang kembangkan oleh McCullough, dkk. (2006) dan sudah di validasi dalam bahasa Indonesia oleh Agung (2015). Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi pearson. Hipotesis dalam penelitian ini adalah melihat apakah ada korelasi positif antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukan angka koefisien korelasi sebesar 0.625 dan p = 0.000 (p<0.05). Hal ini menunjukan ada hubungan positif antara 2 variable tersebut, artinya semakin tinggi regulasi emosi maka semakin tinggi pula pemaafan, begitu pula sebaliknya semakin rendah regulasi emosi semakin semakin rendah pula pemaafan. Bagaimanapun hasil penelitian menunujukaan bahwa regulasi emosi dan pemaafan berkaitan dengan usia, jumlah anak, Pendidikan dan pekerjaan
Perbedaan Orientasi Masa Depan Mahasiswa Tingkat Akhir Penerima KIP-K dan Non KIP-K di Program Studi Psikologi Universitas Malikussaleh Ika Amalia; Ella Suzanna; Nursan Junita; Muhammad Yoga Pratama; Izzatush Shafa Aina
Jurnal Diversita Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v9i2.8208

Abstract

Pendidikan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sosial dalam rangka meningkatkan kreativitas dan kemampuan sehingga dapat mencapai tujuannya melalui keterampilannya. Berdasarkan tahapan perkembangannya, mahasiswa yang menempuh pendidikan tingkat akhir digolongkan pada usia dewasa awal yang memiliki tugas perkembangan yang berkaitan dengan masa depan yaitu dalam hal karir, pendidikan, dan pernikahan/ pembentukan keluarga. Tahap perkembangan ini berkaitan dengan orientasi masa depan. Orientasi masa depan seseorang berbeda-beda baik pada mahasiswa tingkat akhir penerima KIP-K maupun non KIP-K. ada yang berfokus pada segi pekerjaan, pendidikan atau pada kehidupan pribadinya. Hal ini membawa kekhasan tersendiri baik pada mahasiswa tingkat akhir penerima KIP-K maupun Non KIP-K di Program Studi Psikologi Universitas Malikussaleh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan orientasi masa depan mahasiswa tingkat akhir penerima KIP-K maupun Non KIP-K di program Studi Psikologi Universitas Malikussaleh. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode komparasi. Adapun metode analisis yang digunakan yaitu uji T- test yang melibatkan 63 mahasiswa. Hasil Analisis penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan Orientasi Masa Depan mahasiswa Tingkat Akhir penerima KIP-K maupun Non KIP-K di program Studi Psikologi Universitas Malikussaleh.
Program Pelatihan Personal Safety Skill bagi Masyarakat Desa Blang Pulo Sebagai Upaya pencegahan Terjadinya Kekerasan Seksual pada Anak dan Remaja Ella Suzanna; Rahmia Dewi; Maya Lestari; Febriani Rahma; Leni Maszura; Nursan Junita; Fahru Azra'i Ansori; Galih Trisurya Nugraha
Gotong Royong: Jurnal Pengabdian, Pemberdayaan Dan Penyuluhan Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Gotong Royong (JP3KM) Juni 2026
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/jp3km.v5i2.113

Abstract

Kekerasan seksual pada anak dan remaja ialah salah satu bentuk kejahatan yang semakin meningkat di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Aceh. Tingginya angka kasus, ditambah minimnya pemahaman masyarakat mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual serta prosedur penanganannya, menjadikan intervensi berbasis komunitas sangat penting dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan identifikasi, dan keterampilan kader, perangkat desa, orangtua, serta ibu-ibu rumah tangga dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual pada anak di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Metode kegiatan meliputi psikoedukasi, penyampaian data statistik kasus di Aceh, pelatihan berbasis role play, diskusi kelompok, serta pretest dan posttest. Sebanyak 20 peserta terlibat aktif dalam kegiatan ini. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, peningkatan kemampuan identifikasi kasus secara tepat, serta meningkatnya kepercayaan diri peserta dalam memberikan edukasi kepada anak dan remaja. Peserta juga mampu menyusun langkah penanganan awal berdasarkan studi kasus yang mereka tuliskan sendiri. Kegiatan ini terbukti efektif dalam membangun kapasitas perangkat desa serta meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat guna mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja.
Pemaafan (Forgiveness) dan Resiliensi (Recilience) pada Pelajar yang mengalami Social Media Fatigue dimasa Pandemi Covid-19 H Hafnidar; Nursan Junita; Cut Ita Zahara
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jopp.311412021

Abstract

During the Covid-19 pandemic, communication technology increasingly controls all aspects of human life, in order to achieve success in studying, resilience is essential for Indonesian students. This study aims to empirically test the relationship between forgiveness and resilience in students who experience social media fatigue measured by the Social Media Fatigue Scale that the author created himself based on Bright (2015) concept. A total of 279 Indonesian students spread across several cities in Sumatra and Java, Indonesia, were respondents to the study. Data collection using Forgiveness Scale (4 items, a= 0.829) and Resilience Scale (7 items, a= 0.899), which researchers created based on forgiveness theory which developed by Enright (2001) and McCullough, et al (1998) and resilience theory which developed by Reivich and Shatte (2002). The results of a simple regression test showed a significant positive relationship between forgiveness and resilience (R= .781; p less than 0.001; F=18.03) where the effective contribution of forgiveness to resilience is 33.9%. The implications of the results of the study will be discussed.  Abstrak: Masa pandemic Covid-19 teknologi komunikasi semakin mengontrol segala aspek kehidupan manusia, untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, resiliensi sangat diperlukan pelajar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara pemaafan dengan resiliensi pada pelajar yang mengalami social media fatigue berdasarkan Skala Social Media Fatigue yang penulis buat sendiri dari konsep Bright (2015). Sebanyak 279 orang pelajar Indonesia yang tersebar di beberapa kota di Pulau Sumatera dan Jawa, Indonesia, menjadi responden penelitian. Pengumpulan data menggunakan Skala Pemaafan (Forgiveness Scale, 14 aitem, a= 0.829) dan Skala Resiliensi (Recilience Scale, 7 aitem, a= 0.899), yang peneliti buat sendiri berdasarkan Teori Forgiveness yang dikembangkan oleh Enright (2001) dan McCullough, dkk (1998) dan Teori recilience dari Reivich dan Shatte (2002). Hasil uji regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pemaafan dengan resiliensi (R= .781; p kurang dari 0.001; F=18.03) dimana sumbangan efektif pemaafan terhadap resiliensi sebesar 33.9%. Implikasi hasil penelitian akan didiskusikan.
Intervensi Psikoedukatif melalui Program SANTUN untuk Membangun Empati dan Mencegah Bullying di Sekolah Hafnidar Hafnidar; Yulia Nanda Safitri; Ikhyanuddin Ikhyanuddin; Nursan Junita; Mishkatul Ameerah; Yella Silvia; Nadia Ulfa; Masjidah Khoiriah Hasibuan
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/awwapf08

Abstract

Bullying di lingkungan sekolah masih menjadi permasalahan serius yang berdampak pada kesejahteraan psikologis siswa, khususnya pada masa remaja awal. Rendahnya empati, lemahnya regulasi emosi, serta kurangnya kesadaran sosial menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku perundungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membangun empati dan mencegah perilaku bullying melalui intervensi psikoedukatif berbasis nilai melalui Program SANTUN (Sikap Aman dan Tenteram untuk Semua). Program ini dilaksanakan di SMP Negeri 7 Sawang, Kabupaten Aceh Utara, dengan melibatkan 55 siswa dan 18 guru serta tenaga pendidik. Metode yang digunakan adalah psikoedukasi berbasis nilai dengan pendekatan ceramah interaktif, simulasi, role play, refleksi kelompok, dan focus group discussion (FGD), yang mengintegrasikan prinsip psikologi positif dan nilai pendidikan Islam. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai bentuk-bentuk bullying, kesadaran emosi, serta kemampuan mengekspresikan empati dan perilaku prososial. Guru juga menunjukkan peningkatan kapasitas dalam mengenali dan menangani perilaku bullying serta menerapkan teknik self-therapy sederhana dalam pembelajaran. Program SANTUN dinilai efektif sebagai intervensi preventif dan promotif dalam menciptakan iklim sekolah yang aman, inklusif, dan berlandaskan nilai empati.
Religiosity and Anxiety: Evidence From Community Adults During the Crisis Situations Rini Julistia; Zuhairatul Khairah; Cut Meurah Diza Zuchra; Tri Widia Ningsih; Tsuwaibah Aslamiyah; Mutia Utari; Ade Ira Ramadhan; Amalia; Yola Safira; Sri Ratna Sari; Mandari Putri; Riska Amanti Manik; Elviza Wardani; Jauharatul Qulub; Dara Salsabila; Nursan Junita
Jurnal Psikologi Terapan Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpt.v8i2.26265

Abstract

The COVID-19 pandemic has created a global crisis that affects not only physical health but also psychological well-being, particularly increasing anxiety levels in the community. Various protective factors have been proposed to buffer psychological distress, including religiosity. This study aimed to examine the relationship between religiosity and anxiety among community members during the COVID-19 pandemic. A quantitative correlational design was employed with participants drawn from early adulthood (18–40 years). Religiosity was measured using a multidimensional religiosity scale covering religious belief, religious practice, religious experience, and religious knowledge, while anxiety was assessed using a standardized anxiety scale. Data were analyzed using Pearson correlation analysis and ANOVA-based significance testing. The results showed a significant negative correlation between religiosity and anxiety (r = −.511, p < .01), indicating that higher religiosity is associated with lower anxiety. All four dimensions of religiosity were also negatively correlated with anxiety: belief (r = −.174), practice (r = −.459), experience (r = −.528), and knowledge (r = −.285), all at p < .01. These findings suggest that religiosity functions as an important psychological protective factor in crisis situations. The study contributes to culturally contextual evidence regarding the role of religiosity in reducing anxiety during large-scale public health emergencies