Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kapasitas Geser - Lentur Balok Beton Bertulang High Volume Fly Ash Self Compacting Concrete (HVFA-SCC) dengan Kadar Fly Ash 60% dan Balok Beton Normal Sheilla Shelina; Agus Setiya Budi; Endah Safitri
Matriks Teknik Sipil Vol 8, No 3 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.531 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v8i3.45603

Abstract

mengkaji kapasitas geser dari balok HVFA-SCC dan Balok beton normal
PENGARUH KADAR ACCELERATOR TERHADAP KUAT TEKAN PADA HIGH STRENGTH SELF COMPACTING CONCRETE (HSSCC) BENDA UJI SILINDER UMUR 3, 7, 14, DAN 28 HARI Wibowo Wibowo; Endah Safitri; Wahyu Hapsari
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 4 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.026 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i4.36540

Abstract

Seiring dengan berkembangnya zaman, perkembangan konstruksi semakin lama semakin meningkat. Salah satu bahan utama yang digunakan dalam konstruksi adalah beton. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap beton semakin tinggi. Selain permintaan terhadap beton semakin tinggi, permintaan terhadap beton mutu tinggi juga semakin tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi-inovasi pada beton. Salah satu inovasi beton yang dapat dilakukan adalah dengan membuat beton mutu tinggi yang dapat memadat sendiri (High Strength Self Compaction Concrete – HSSCC), dengan kuat tekan diatas 41,4 MPa. Dalam penelitian ini, dilakukan inovasi dengan menggunakan bahan tambah berupa superplasticizer dan accelerator. Superplasticizer ditambahkan untuk mencapai workability yang tinggi. Sedangkan accelerator adalah untuk mempercepat proses pengikatan dan mengembangkan kekuatan awal beton. Accelerator juga digunakan untuk memperpendek waktu pengikatan semen sehingga mempecepat pencapaian kekuatan beton. Kadar superplasticizer yang digunakan adalah 0,8%, dan variasi kadar accelerator sebesar 0%, 0,4%, 1,2%, dan 2% dari berat semen.Penelitian dilakukan secara bertahap mulai dari pengujian agregat, pengujian SCC, dan pengujian kuat tekan beton. Pengujian SCC dilakukan dengan 3 metode, yaitu flow table untuk mengetahui parameter fillingability, l-box test untuk mengetahui parameter passingability, dan v-funnel test untuk mengetahui fillingability serta segregation resistance. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 7,5 cm dan tinggi 15 cm, dimana benda uji ini diuji dengan uji kuat tekan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) pada umur 3, 7, 14, dan 28 hari.Berdasarkan hasil uji SCC pada beton segar, penggantian semen dengan kadar accelerator sebesar 0,4% memberikan hasil yang baik karena mampu memenuhi seluruh parameter SCC dengan standar EFNARC. Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan beton yang menggunakan superplasticizer 0,8% dan variasi penambahan accelerator menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan kadar accelerator dan semakin lama umur beton, maka kuat tekan beton yang dihasilkan semakin tinggi. Persentase maksimum kadar accelerator yang dapat digunakan agar dapat mencapai High Strength Self  Compacting Concrete (HSSCC) adalah 0,4%. Dengan nilai kuat tekan sebesar 43,09 MPa, memenuhi standar minimum kuat tekan beton mutu tinggi yang disyaratkan SNI-03-6468-2000.
Kajian Kematangan Beton untuk Memprediksi Nilai Kuat Tekan Beton dengan Variasi Kadar Metakaolin Nugraheni, Brilian; Wibowo; Endah Safitri
Sustainable Civil Building Management and Engineering Journal Vol. 1 No. 4 (2024): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/scbmej.v1i4.3095

Abstract

Beton massa tidak dapat diukur kuat tekannya dengan metode konvensional karena metode tersebut tidak mampu mencerminkan kondisi curing aktual di lapangan yang sering mengalami gradien suhu signifikan akibat volume besar beton. Oleh karena itu, metode kematangan (maturity method) menjadi alternatif yang mengestimasi kuat tekan berdasarkan suhu aktual dan waktu curing di lapangan, dengan model prediksi persamaan logaritmis karena kemudahannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai maturitas beton untuk menentukan kuat tekan pada beton dengan variasi substitusi parsial metakaolin sebesar 0%, 7,5%, 12,5%, dan 20% dari berat binder, yang kemudian dibandingkan dengan hasil kuat tekan menggunakan uji destruktif. Metode yang digunakan adalah uji eksperimental dengan spesimen berupa silinder beton dengan diameter dan tinggi 15 cm dan 30 cm yang dilengkapi sensor suhu pada kedalaman ±15 cm. Beton diukur suhunya pada umur 0, 1, 3, 7, 14, 21, dan 28 hari, serta uji kuat tekan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai maturitas untuk memperoleh kuat tekan beton dengan model prediksi persamaan logaritmis memiliki nilai koefisien determinasi (R2) diatas 0,9, dengan perbandingan kuat tekan beton menggunakan metode kematangan dan uji destruktif menunjukkan selisih di bawah 3%.
Kajian Setting Time dan Permeabilitas pada Beton Variasi Limbah Granit Sebagai Subtitusi Parsial Agregat Kasar Fauzy Kurnain; Wibowo Wibowo; Endah Safitri
Globe: Publikasi Ilmu Teknik, Teknologi Kebumian, Ilmu Perkapalan Vol. 2 No. 3 (2024): Publikasi Ilmu Teknik, Teknologi Kebumian, Ilmu Perkapalan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/globe.v2i3.485

Abstract

Currently, infrastructure development is a priority of the Indonesian government which aims to improve the quality of life of the community and equitable distribution of infrastructure development. The need for concrete material as a construction material also increases in line with the increase in infrastructure development. The use of recycled aggregate materials, especially granite waste, is a promising option in sustainable infrastructure development. This study was conducted with the aim of knowing the effect of partial substitution of coarse aggregates using granite waste variations on the binding time and permeability of concrete. Experimental method was chosen in this research. The levels of granite waste used were 0%; 15%; 30%; and 45% by weight of coarse aggregate or gravel. The test specimens used for the concrete bond time study were fresh concrete poured into cube molds measuring 20 cm x 20 cm x 20 cm with a minimum height of 15 cm. Testing concrete bond time using a penetrometer tool. The test specimen for concrete permeability is a cube measuring 15 cm x 15 cm x 15 cm, totaling 12 pieces and tested with a Permeability Test Apparatus (Water Permeabilty Apparatus).The results showed that partial substitution of coarse aggregate with granite waste variation did not affect the setting time of concrete up to a certain level. Based on the results of the research conducted, the initial setting time and final setting time values of 0%, 15%, 30%, and 45% granite content variations fluctuate and the coefficient of determination (R2) value in linear regression is only 0.5 and 0.3. Partial replacement of coarse aggregate with granite waste has an effect on the impermeability of concrete which meets the requirements for medium aggressive impermeable concrete. Water pressure of 5 kg/cm2 for 72 hours applied to the concrete partial replacement of coarse aggregate with granite waste variation resulted in permeability coefficient values of 4.11 x 10-12 cm/s; 3.48 x 10-12 cm/s; 2.17 x 10-12 cm/s; and 3.25 x 10-12 cm/s. The minimum coefficient value of concrete with partial substitution of coarse aggregate with granite waste is obtained at 30% by weight of coarse aggregate. Granite, whose specific gravity is greater than gravel, produces denser and more water-resistant concrete.
Kajian Kuat Tarik Belah pada Beton Variasi Limbah Granit Sebagai Substitusi Parsial Agregat Kasar Diajeng Derrissyifa Salvia; Wibowo Wibowo; Endah Safitri
Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Vol. 2 No. 3 (2024): Juli: Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipi
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/konstruksi.v2i3.468

Abstract

The development of concrete making technology has developed rapidly nowdays, the innovations in terms of material use and workmanship. The implementation of construction work carried out today pays attention to aspects of strength, rigidity, and high durability, as well as sustainability. To support these two things, research can be carried out on making concrete using granite waste. The research method used in this study is an experimental method. The concrete mix design uses variations of granite waste with successive levels of 0%, 15%, 30%, and 45%. The test specimen used for tensile strength testing is cylindrical with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm, the test uses 12 specimens where each variation uses 3 specimens. The test is performed when the specimen has reached the age of 28 days. The test specimen tested has met the planned compressive strength requirements at a concrete life of 28 days where the results are greater than 20 MPa. Results of testing the tensile strength of concrete variations of granite waste as a partial substitution of coarse aggregate with variations of granite waste of 0%, 15%, 30%, and 45% respectively; 2.43 MPa; 2.50 MPa; 2.97 MPa; and 2.78 MPa.
Kajian Keuletan pada Beton Variasi Limbah Granit Sebagai Substitusi Parsial Agregat Kasar Farhan Nuraziz; Wibowo Wibowo; Endah Safitri
Ocean Engineering : Jurnal Ilmu Teknik dan Teknologi Maritim Vol. 3 No. 3 (2024): September: Jurnal Ilmu Teknik dan Teknologi Maritim
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/ocean.v3i3.2412

Abstract

Concrete is one of the most common construction materials used throughout the world. Concrete consists of three main components: cement, coarse aggregate, and fine aggregate. Coarse aggregate serves as the main structural component in concrete, providing strength and resistance to external loads. Currently, technological advancements in construction are rapidly progressing. Therefore, innovation in concrete production is necessary, one of which is recycled aggregate concrete. The aim of this research is to determine the effect of using granite waste as a partial substitute for coarse aggregate on toughness of concrete. The method used in this research is experimental method. In this study, the variation level of granite waste used in this study was 0%; 15% ; 30% ; and 45%. The objects used for this research are blocks with dimensions of 400x100x100 mm tested using a Universal Testing Machine. The results of this research show that the toughness value obtained from the results of toughness testing on concrete with varying levels of 0% granite waste; 15% ; 30% ; and 45% respectively, namely 1.9589 kNmm; 2.2362 kNmm; 2.4189 kNmm; and 2.2118 kNmm.
PENGARUH KADAR AKTIVATOR 0,33 DAN RASIO SS/SH (2,0-3,0) PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN Dahlilliyanto, Rafilla Hafnan; Agus Setiya Budi; Endah Safitri
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v11i01.3615

Abstract

Beton geopolimer merupakan beton yang mempunyai reaksi pengikatan yang berbeda dengan beton konvensional. Reaksi yang terdapat pada beton geopolimer adalah reaksi polimerisasi. Beton geopolimer menggunakan limbah hasil pembakaran batu bara yang bernama fly ash (abu terbang). Bahan-bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengaktifkan reaksi polimerisasi dalam fly ash adalah menggunakan kombinasi alkali hidroksida dengan alkali silika. Sodium hidroksida (SH) serta sodium silikat (SS) adalah jenis alkali yang digunakan pada beton geopolimer. Sampel beton yang diterapkan pada penelitian ini adalah silinder dengan dimensi 15 cm x 15 cm x 30 cm dengan kadar aktivator 0,33 serta variasi sodium silikat dan sodium hidroksida sebesar 2,0; 2,5; dan 3,0 yang nantinya akan diuji setelah beton berumur 28 hari. Pengujian yang diterapkan adalah untuk mengetahui nilai kuat tekan pada beton geopolimer dengan rasio variasi SS/SH sebesar 2,0-3,0. Dari hasil pengujian kuat tekan didapatkan bahwa rasio variasi SS/SH 2,0; 2,5; 3,0 masing-masing sebesar 41,06 MPa, 41,33 MPa, dan 45,56 MPa. Berdasarkan hasil kuat tekan didapatkan hasil maksimal dengan menggunakan rasio SS/SH sebesar 3,0 dengan kuat tekan sebesar 45,56 MPa.
PENGARUH KADAR AKTIVATOR 0,33 DAN RASIO SODIUM SILIKAT DENGAN SODIUM HIDROKSIDA (0,5-1,5) PADA BETON GEOPOLIMER DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN Tampubolon, Jerricho; Agus Setiya Budi; Endah Safitri
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v11i01.3622

Abstract

Beton geopolimer merupakan beton yang memiliki reaksi berbeda dengan beton konvensional yaitu reaksi polimerisasi. Beton ini menggunakan limbah dari hasil pembakaran batu bara yang bernama fly ash  yang membutuhkan aktivator untuk mengikat campuran dari fly ash  dengan pasir dan kerikil untuk menjadi sebuah beton inovasi pengganti beton konvensional. Bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengaktifkan reaksi polimerisasi pada fly ash  adalah dengan menggunakan alkali hidroksida dengan alkali silika atau disebut dengan sodium silikat dan sodium hidroksida (SS/SH). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen kuantitatif dan dilakukan pada laboratorium struktur dan bahan dengan benda uji silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm dengan rasio 0,33 untuk perbandingan alkali dengan fly ash  dan variasi SS/SH sebesar 0,5 ; 1,0 ; dan 1,5.. Pengujian yang dilakukan adalah untuk mendapatkan nilai kuat tekan pada beton geopolimer dengan rasio variasi SS/SH sebesar 0,5-1,5. Berdasarkan hasil pengujian slump dan kuat tekan yang sudah dilakukan didapatkan bahwa rasio variasi SS/SH yang memberikan hasil maksimal adalah dengan menggunakan rasio SS/SH sebesar 1,5 dengan kuat tekan sebesar 41,16 MPa dan nilai workability terkecil.