Okatiranti O
Faculty Of Nursing Sciences, Universitas BSI Bandung

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Lansia (Studi Kasus: di Kelurahan Sukamiskin Kota Bandung) Ningrum, Tita Puspita; Okatiranti, Okatiranti; Kencana Wati, Desak Ketut
KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.911 KB)

Abstract

ABSTRAKPeningkatan harapan hidup lanjut usia mempunyai dampak yang berpengaruh terhadap kualitas kesehatan lansia. Keluarga merupakan support sistem bagi lansia dalam mempertahankan kesehatannya. Dukungan keluarga merupakan salah satu hal terpenting dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Dukungan keluarga yang baik akan meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga lansia dapat menikmati hidup di masa tuanya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia di Kelurahan Sukamiskin Wilayah Kerja Puskesmas Arcamanik Kota Bandung. Desain penelitian menggunakan studi korelasi dengan rancangan cross sectional. Responden sebanyak 160 orang diambil dengan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data  menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan kualitas hidup WHOQOL BREF. Analisis univariat menggunakan rumus persentase, sedangkan untuk melihat hubungan variabel dependen dan independen menggunakan  uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lansia yaitu 106 orang (100%) memiliki tingkat dukungan keluarga yang cukup, dan hampir seluruh lansia yaitu 105 orang (99%) memiliki kualitas hidup yang cukup. Hasil uji statistic rank spearman menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia dengan nilai signifikansi 0,048< 0,05. Nilai koefisiensi sebesar 0,193 yang menunjukkan keeratan hubungan yang rendah. Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Kualitas Hidup, Lansia. ABSTRACTThis research aims at recognizing the correlation between family support and the quality of elderly life in Sukamiskin Village coverage area of Public Health Center of Arcamanik, Bandung. The research design implemented in this research was cross sectional. The population was all elderlies living in Sukamiskin Village coverage area of Public Health Center of Arcamanik, Bandung in 2016 of 1,058 people. The data was gathered by using questionnaire of family support and questionnaire of quality of life. The respondents of 106 people were selected through stratified random sampling technique. The data were analyzed by using spearman rank correlation test. The research results shows that all respondents of 106 people (100%) considered to have sufficient family support, and pertaining quality of life, 105 respondents (99%) considered to have sufficient quality of life. The result of spearman rank shows that there is correlation between family support and the quality of elderly life in Sukamiskin Village coverage area of Public Health Center of Arcamanik with significant value 0.048 < 0.05. The coefficient value is 0.193 showing a low level of correlation. It suggested that the Public Health Center and Community become more aware about the elderly existence and health to provide a support for a better quality of elderly life. Keywords: Elderly, Family Support,  Quality of Life
Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia Di BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung Ningrum, Tita Puspita; Okatiranti, Okatiranti; Nurhayati, Shanti
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.245 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4361

Abstract

ABSTRAKKecemasan kematian lansia merupakan suatu kondisi emosional yang dirasakan ketika suatu hal yang tidak menyenangkan dialami oleh seseorang manakala memikirkan kematian. Seseorang yang mengalami kecemasan terhadap kematian memiliki kekhawatiran, kesusahan, ketidaknyamanan, ketegangan, kegelisahan dan mereka disibukkan dengan memikirkan proses sekarat, kemusnahan, kejadian apa yang terjadi setelah kematian. Jika perasaan cemas tersebut terus-menerus dialami lansia maka kondisi itu dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan lansia baik fisik maupun mental, bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik sehingga akan mengganggu kegiatan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi Bagaimanakah Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Ciparay Kabupaten Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 150 orang. Pengambilan sampel  menggunakan teknik Purposive sampling dengan kriteria inklusi eklusi, sehingga diperoleh 79 orang. Data diambil dengan menggunakan intrumen Death axiety Scale (DAS) kemudian dianalisa menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 41(51.9%) mengalami kecemasan kematian yang tinggi dan hampir setengah dari responden sebanyak 38(48.1%) mengalami kecemasan kematian yang rendah. Penting bagi  perawat sebagai konselor dalam mengatasi kecemasan akan kematian lansia dengan memberikan dukungan untuk membantu meningkatkan mekanisme koping lansia menjadi lebih adaptif.Kata kunci: Kecemasan kematian, Lansia ABSTRACTThe death anxiety in elderly is an emotional state that is felt when something unpleasant by someone when thinking of death, a person who experiences anxiety over death has feelings, distress, discomfort, feeling, anxiety and they are preoccupied with the process of dying, annihilation, what happened after death If the feelings of death anxiety are constantly alert the elderly, then the condition could have adverse effects on the health of the elderly both physically and mentally, and even can bargain physical diseases that will interfere with daily activities in the elderly. The purpose of the study was to prevention how does Anxiety Level Matter of Death in Elderly in BPSTW Ciparay Bandung. This research used descriptive quantitative research. The population in this study is elderly people aged over 60 years with the number of 150 people. A total of 79 respondents was taken using purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. In addition, all data were analyzed using distribution frequency. Results showed more than half of respondents, 41 (51.9%) experienced high death anxiety. It could be caused by inadecuate coping mechanism in elderly. It is important for nurses as a counselor to prevent of death anxiety and provide support for helping an elderly to increase coping mechanism became more adaptif.Keywords: Death Anxiety, Elderly
PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TENTANG TANDA-TANDA DAN PENANGANAN HIPOGLIKEMIA DI RUMAH Ekawati Anggorokasih; Okatiranti Okatiranti; Galih Jatnika
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.528 KB)

Abstract

ABSTRAK Hipoglikemia menduduki peringkat kedua kasus komplikasi akut terbanyak setelah ketoasidosis pada klien Diabetes Melitus tipe 2. Gejala hipoglikemia dapat terjadi mendadak dan tanpa terduga sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan pasien DM tipe 2 tentang tanda-tanda dan penanganan hipoglikemia di rumah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Responden penelitian adalah semua pasien diabetes melitus tipe 2 yang berjumlah 285 orang yang berkunjung ke poliklinik penyakit dalam RSUD Kota Bandung, dengan tehnik purposive sampling didapatkan anggota sampel 74 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup berbentuk pilihan benar dan salah. Data diolah dengan menggunakan distribusi persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44 responden (59,46%) memiliki pengetahuan yang cukup tentang tanda-tanda dan penanganan hipoglikemia, 24 responden (32,43%) mempunyai pengetahuan yang baik, sedangkan 6 responden (8,11%) lainnya memiliki pengetahuan yang kurang. Pengetahuan yang cukup pada pasien diabetes melitus tipe 2 dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pengalaman, dan media massa atau informasi. Kata Kunci : Hipoglikemia, Pasien Diabetes Melitus tipe 2, Pengetahuan ABSTRACT Hypoglycemia is ranked second most cases of acute complication after ketoacidosis in type 2 diabetes melitus (DM). Symptoms of hypoglycemia may occur suddenly and unexpectedly. People with diabetes should have to have enough knowledge about the signs and treatment of hypoglycemia. This study aims to identify type 2 DM patients' knowledge about the signs and treatment of hypoglycemia in the home. The method used is descriptive exploratory.  Participants were outpatients with DM type 2 who visiting outpatients Hospital kota Bandung. Number of participants were 74.Data collection used quiestionnaire. Data analysis used distribution percentages.The results showed that 44 respondents (59.46%) have sufficient knowledge about the signs and treatment of hypoglycemia, 24 respondents (32.43%) had good knowledge, while 6 respondents (8.11%) others have least knowledge. sufficient knowledge in patients with type 2 DM is influenced several factors such us education, experience, and the mass media or information. Keywords : Hypoglycemia, Patients with  tipe 2 diabetes melitus, Knowledge
Risiko Terjadinya Dekubitus Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Pasien di Ruang Perawatan Neurologi Okatiranti O; Ria Eviyanti Sitorus; Dini Tsuawabeh
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 1 No. 3 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.483 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v1i3.66

Abstract

Dekubitus merupakan masalah akut yang sering terjadi pada situasi perawatan pemulihan. Gangguan ini terjadi pada individu yang mengalami tirah baring lama serta mengalami gangguan tingkat kesadaran. Ketika dekubitus terjadi maka lama perawatan dan biaya perawatan rumah sakit akan meningkat. Hasil penelitian di beberapa Rumah Sakit pemerintah di Indonesia kejadian dekubitus pada pasien tirah baring 15,8% sampai 38,18%. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi gambaran risiko terjadinya dekubitus berdasarkan tingkat ketergantungan pasien minimal care, partial care, dan total care. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Sampel berjumlah 88 orang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi menurut Teori Orem: Self Careuntuk mengkaji tingkat ketergantungan pasien dan Skala Braden untuk prediksi luka tekan. Hasil penelitian gambaran risiko terjadinya dekubitus berdasarkan tingkat ketergantungan pasien minimal caresebesar 88,24% atau hampir seluruhnya tidak memiliki risiko untuk terjadinya dekubitus, partial caresebesar 45,95% atau hampir setengahnya yang berisiko terjadinya dekubitus dan total caresebesar 44,12% atau hampir setengahnya yang memiliki risiko tinggi terjadinya dekubitus. Hasil Penelitian dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) pencegahan dekubitus khususnya pada pasien yang berisiko sampai dengan total care. Sehingga perawat khususnya perawat klinik dapat mengantisipasi risiko terjadinya dekubitus sesuai dengan SOP yang sudah ada.Kata kunci: Dekubitus, orem, skala Braden, tingkat ketergantungan pasien AbstractThe incidence of decubitus is one of the most acute problems in recovery phase. This problem occurred to individual who has long-term bed rest period and has alteration of consciousness. Previous studies in public hospitals in Indonesia showed that the incidences of decubitus among the bed-rest patients are 15.8% to 38.1%. The aim of this study is to identify the risk of incidence of decubitus based on patients’ dependency level: minimal care, partial care, and total care. This study used descriptive quantitative design with 88 patients as the research samples. Observational check-list which is developed from Orem’s theory is used as the research instrument. Self-care is used to assess level of patients’ dependency and Braden Scale is used to predict the decubitus. The result shows that most of the patients at minimal care level (88.24%) do not have the risk of decubitus wound; almost half of patients at partial care level (45.95) have the risk of decubitus; while almost half of patients at total care level (44.12%) have the high risk of developing decubitus. This result can be considered to develop Standard Operational Procedure (SOP) of decubitus prevention, particularly for patients with total care who are at risk of developing decubitus. Therefore, nurses in the ward can prevent the incidence of decubitus among patients. Key words: Braden scale, decubitus, orem, patients’ dependency level
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica) PADA KETAHANAN MUKOSA LAMBUNG (GASTROPROTEKTIF) TIKUS YANG MENGALAMI STRES IMMOBILISASI Okatiranti Okatiranti
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.336 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8344

Abstract

One of the traditional medicinal plants are believed to be as anti-ulcer effect is pegagan (Centella asiatica), pegagan extract thought can protect the gastric mucosa exposed to ethanol by increasing the integrity of the mucosal line of defense. This study aimed to determine the effect of Centella asiatica on rats gastric mucosal resistance (gastroprotective) which experience stress immobilizing. This research is experimental in vivo studies, conducted with 5 groups of male wistar rats treated with 6 replications. Group I is the normal diet control group; group II, normal diet control group mixed Centella asiatica 1 g / mm day; group III was a control group of mice that immobilization stress without giving prior pegagan, Group IV and V is the group that previously received pegagan diet for 3 days prior to immobilization stress with gotu kola concentration of 0.5 g / day and 1.0 g mm / dd day. After 2 days of treatment immobilization stress were measured both in the macroscopic parameters of extensive ulceration and bleeding and microscopic scores for parameters of edema, leukocyte infiltration, and necrosis of rat gastric tissue. The results of macroscopic observations showed that the area of ulceration and bleeding scoring groups I, II, III, there are differences in microscopic bemakna and proven for the parameters of edema, leukocyte infiltration and necrosis are also significant differences. As for group III, IV and V at all test parameters no significant difference.
Persetujuan Daring (Virtual Consent) untuk Mendukung Kolaborasi Antar Mitra Masyarakat dalam Meningkatkan Serapan Layanan Kesehatan Posbindu PTM Okatiranti, Okatiranti; Sahputra , Anggi; Mubarok, Ade
Jurnal Sosial & Abdimas Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Sosial & Abdimas
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jsa.v7i1.1964

Abstract

Peningkatan kapasitas layanan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) perlu dukungan kerjasama antara mitra masyarakat. Jalinan kerjasama antara kader Posbindu dan pemuda karang taruna sangat diperlukan untuk mendorong minat kaum muda terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, untuk itu persetujuan daring dirancang untuk menjadi jembatan bagi kaum muda terlibat aktif sebagai navigator lansia untuk berkunjung ke Posbindu PTM di lingkungan Rukun Warga (RW) 13 Babakansari, Bandung. Persetujuan daring atau Virtual Consent (VC) adalah format sederhana yang disisipkan ke group Whatapps warga sebelum pelaksanaan Posbindu, untuk mengetahui apakah format ini dapat digunakan secara terintegrasi sebagai media komunikasi warga. Serangkaian langkah dilakukan untuk mengetahui aksetabilitas dan praktikalitas format VC, mulai dari wawancara 13 pemangku kepentingan, ketua RW, kader Posbindu PTM, lansia dan keluarga dan pemuda karang taruna. Pelatihan kader dan pemuda karang taruna juga diperlukan untuk mendekatkan mereka dalam program yang sama. Disamping itu, pelaksanaan Posbindu yang menggunakan VC dilakukan untuk mengetahui apakah format ini dapat digunakan secara terintegrasi sebagai media komunikasi warga. Kemudian kepuasan warga terhadap format VC ini akan diketahui lewat survei kepuasan konsumen setelah kegiatan Posbindu PTM selesai dilaksanakan. Diharapkan dengan media komunikasi yang simpel dan sederhana ini maka serapan layanan kesehatan pada Posbindu PTM dapat ditingkat demi mendukung kesetaraan kesehatan untuk semua. Kata kunci : virtual consent, Posbindu PTM, Kader, Karang Taruna
Persetujuan Daring (Virtual Consent) untuk Mendukung Kolaborasi Antar Mitra Masyarakat dalam Meningkatkan Serapan Layanan Kesehatan Posbindu PTM Okatiranti, Okatiranti; Sahputra , Anggi; Mubarok, Ade
Jurnal Sosial & Abdimas Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sosial & Abdimas
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jsa.v7i1.1964

Abstract

Peningkatan kapasitas layanan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) perlu dukungan kerjasama antara mitra masyarakat. Jalinan kerjasama antara kader Posbindu dan pemuda karang taruna sangat diperlukan untuk mendorong minat kaum muda terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, untuk itu persetujuan daring dirancang untuk menjadi jembatan bagi kaum muda terlibat aktif sebagai navigator lansia untuk berkunjung ke Posbindu PTM di lingkungan Rukun Warga (RW) 13 Babakansari, Bandung. Persetujuan daring atau Virtual Consent (VC) adalah format sederhana yang disisipkan ke group Whatapps warga sebelum pelaksanaan Posbindu, untuk mengetahui apakah format ini dapat digunakan secara terintegrasi sebagai media komunikasi warga. Serangkaian langkah dilakukan untuk mengetahui aksetabilitas dan praktikalitas format VC, mulai dari wawancara 13 pemangku kepentingan, ketua RW, kader Posbindu PTM, lansia dan keluarga dan pemuda karang taruna. Pelatihan kader dan pemuda karang taruna juga diperlukan untuk mendekatkan mereka dalam program yang sama. Disamping itu, pelaksanaan Posbindu yang menggunakan VC dilakukan untuk mengetahui apakah format ini dapat digunakan secara terintegrasi sebagai media komunikasi warga. Kemudian kepuasan warga terhadap format VC ini akan diketahui lewat survei kepuasan konsumen setelah kegiatan Posbindu PTM selesai dilaksanakan. Diharapkan dengan media komunikasi yang simpel dan sederhana ini maka serapan layanan kesehatan pada Posbindu PTM dapat ditingkat demi mendukung kesetaraan kesehatan untuk semua. Kata kunci : virtual consent, Posbindu PTM, Kader, Karang Taruna