Sugiono, Sugiono
Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara Ungaran

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

TRANSFORMASI PENGHARAPAN ESKATOLOGIS ANAK-ANAK ALLAH DI TENGAH PENDERITAAN: KAJIAN EKSEGETIS ATAS ROMA 8:18–30 Tresya Tresya; Sugiono Sugiono
Alucio Dei Vol 10 No 1 (2026): Alucio Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i1.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna transformasi pengharapan anak-anak Allah di tengah penderitaan berdasarkan Roma 8:18–30. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika eksegetis historis-kritis, penelitian ini menafsirkan teks untuk memahami pandangan Paulus tentang relasi antara penderitaan dan pengharapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, melainkan bagian dari proses menuju kemuliaan bersama Kristus. Dalam konteks modern yang sarat penderitaan eksistensial, sosial, dan rohani, pengharapan eskatologis berfungsi bukan hanya sebagai penghiburan, tetapi juga sebagai kekuatan pembentuk ketekunan dan transformasi iman. Roh Kudus berperan aktif meneguhkan orang percaya dalam menghadapi penderitaan, mengarahkan mereka pada partisipasi dalam rencana keselamatan Allah yang kekal.
Membangun Identitas Diri di Tengah Maraknya Persekusi: Analisa Teks Alkitab Berdasarkan Surat 1 Petrus 2:11-17 Stefany Sabrina Tanani; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.359

Abstract

Building self-identity amidst widespread persecution is very important.  The aim of this writing is to find a way to build self-identity in the midst of widespread persecution of Christians through analysis of the letter 1 Peter 2:11-17.  This research was written using a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach. From the findings obtained, building self-identity amidst widespread persecution is as follows; Recognizing oneself as a foreigner and foreigner, avoiding destructive worldly desires, living a life that is tested in the midst of the world, obeying government authorities, living as a servant of God, respecting all people and kings.  The letter 1 Peter 2:11-17 provides important guidance for Christians in facing persecution by building a strong self-identity.  So that Christians can continue to hold firmly to their faith.AbstrakMembangun identitas diri di tengah maraknya persekusi sangatlah penting.  Tujuan dari penulisan ini ialah menemukan cara membangun identitas diri di tengah maraknya persekusi terhadap orang Kristen melalui analisa surat 1 Petrus 2:11-17.  Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan ilmu hermeneutik. Dari hasil temuan diperoleh membangun identitas diri di tengah maraknya persekusi sebagai berikut; mengakui diri sebagai orang asing dan pendatang, menghindari keinginan duniawi yang merusak, menjalani kehidupan yang teruji di tengah dunia, taat pada otoritas pemerintah, hidup sebagai hamba Allah, menghormati semua orang dan raja.  Surat 1 Petrus 2:11-17 memberikan panduan penting bagi orang Kristen dalam menghadapi persekusi dengan membangun identitas diri yang kokoh.  Sehingga orang Kristen dapat terus berpegang teguh pada iman kepercayaannya.
Baptisan Roh Kudus yang Alkitabiah: Upaya Menjawab Perbedaan Pendapat di Kalangan Denominasi Gereja Daniel Setiawan Giamulia; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.310

Abstract

The aim of writing in this scientific journal is to obtain a comprehensive picture of the Biblical baptism of the Holy Spirit.  The term baptism in the Holy Spirit is not a new term for churches, especially for Pentecostal churches.  Understandings of the teachings of the baptism of the Holy Spirit are very diverse.  Each church has a different dogma.  This resulted in quite a lot of division among believers.  These differences in views and opinions became the impetus for the author to investigate the Bible data regarding Spirit baptism.  The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach and inductive interpretation. The result obtained is that the baptism of the Holy Spirit has the meaning of entering believers into the Body of Christ. Jesus Christ who baptized the Holy Spirit. There are two ways in which the baptism of the Holy Spirit occurs, namely without the laying on of hands and with the laying on of hands.  The result of the baptism in the Holy Spirit is receiving the gift of the Holy Spirit, becoming a member of the Body of Christ and becoming one in the death, burial and resurrection of Christ.AbstrakTujuan penulisan dalam jurnal ilmiah ini ialah bermaksud untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai baptisan Roh Kudus yang Alkitabiah.  Istilah baptisan Roh Kudus bukan merupakan istilah yang baru bagi Gereja-gereja khususnya bagi Gereja beraliran Pentakosta.  Pemahaman tentang ajaran baptisan Roh Kudus begitu beragam.  Setiap gereja memiliki dogma yang berbeda.  Hal ini mengakibatkan cukup banyak perpecahan di antara orang-orang percaya.  Perbedaan pandangan dan pendapat tersebut menjadi dorongan untuk penulis menyelidiki data-data Alkitab mengenai baptisan Roh.  Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan Tafsiran Induktif. Hasil yang diperoleh ialah Baptisan Roh Kudus memiliki pengertian yakni memasukkan orang percaya kedalam Tubuh Kristus. Yesus Kristus yang membaptis Roh Kudus. Cara terjadinya baptisan Roh Kudus ada dua yaitu tanpa penumpangan tangan dan dengan penumpangan tangan.  Akibat dari baptisan Roh Kudus menerima karunia Roh Kudus, menja dianggota Tubuh Kristus dan menjadi satu dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus.
Peran Diakonia Gereja dalam Mengatasi Ketimpangan Sosial di Era Globalisasi: Telaah Teologis Surat Roma 15:22–27 Lourentino Gabriel Ismoyo; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.399

Abstract

This study aims to analyze the role of the church in eradicating social inequality by using Romans 15:22-27 as the theological basis. Using the qualitative exposition method, this text shows how Paul encouraged the churches in Macedonia and Achaia to help the poor congregation in Jerusalem through fundraising, which reflects the principles of solidarity, the unity of the body of Christ, and social responsibility across communities. This study highlights the importance of integration between theology and social practices of the church and the need for an interdisciplinary approach between theology, sociology, and economics to strengthen the role of the church in facing the challenges of globalization in a relevant and transformative manner. The results of the study show that today's church can emulate the pattern of solidarity in Romans 15:22–27 by strengthening the role of social diaconia through fundraising, economic empowerment of the congregation, and advocacy for marginalized groups.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gereja dalam mengentaskan ketimpangan sosial dengan menjadikan Roma 15:22-27 sebagai dasar teologis. Dengan menggunakan metode ekposisi pendekatan kualitatif  Teks ini menunjukkan bagaimana Paulus mendorong gereja-gereja di Makedonia dan Akhaya untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem melalui penggalangan dana, yang mencerminkan prinsip solidaritas, kesatuan tubuh Kristus, dan tanggung jawab sosial lintas komunitas. Kajian ini menyoroti pentingnya integrasi antara teologi dan praktik sosial gereja serta perlunya pendekatan interdisipliner antara teologi, sosiologi, dan ekonomi guna memperkuat peran gereja dalam menghadapi tantangan globalisasi secara relevan dan transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja masa kini dapat meneladani pola solidaritas dalam Roma 15:22–27 dengan memperkuat peran diakonia sosial melalui penggalangan dana, pemberdayaan ekonomi jemaat, dan advokasi terhadap kelompok marginal.