Anna Ulfah Rahajoe
Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rasio Tinggi Titik J/Gelombang R Sebagai Prediktor Kejadian Kardiovaskular Pasca IMA Inferior Anna Ulfah Rahajoe
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 2 Mei - Agustus 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.v30i2.165

Abstract

Elektrokardiografi (EKG) merupakan alat yang paling sering digunakan untuk menegakkan diagnosis dini dan stratifikasi risiko pada pasien infark miokard akut (IMA). Iskemia derajat I digambarkan sebagai gelombang T yang tinggi disertai elevasi segmen ST < 0.1 mV. Pada iskemia derajat II terlihat elevasi segmen ST dengan gelombang T yang positif tanpa distorsi terminal QRS. Sedangkan pada derajat III tampak elevasi segmen ST, dengan gelombang T yang positif disertai distorsi bagian akhir kompleks QRS, yang berakhir dengan infark miokard lebih luas dan ancaman kematian yang lebih besar. Kejadian kardiovaskular yang sering menyertai IMA inferior adalah hipotensi, bradikardi, blok atrioventrikular (AV) derajat 3 (blok AV total), henti jantung, takikardi atau fibrilasi ventrikel. Semakin proksimal sumbatan, semakin luas infark yang terjadi, maka semakin tinggi pula angka kejadian kardiovaskular tersebut.
Bedah Fontan dan Permasalahannya Anna Ulfah Rahajoe
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 28, No. 5 September 2007
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.v28i5.216

Abstract

Ketika bedah Fontan baru diperkenalkan pada tahun 1970, para ahli menaruh harapan besar. Mereka beranggapan sirkulasi Fontan merupakan ide besar, yang mampu mengatasi berbagai variasi penyakit jantung bawaan (PJB) dengan fisiologi ventrikel tunggal. Tetapi 20 tahun kemudian, mulailah Fontan dkk mengenali kelemahan prosedur yang ia inisiasi. Dari evaluasi jangka panjang yang ia lakukan terbukti bahwa, meskipun pada bedah Fontan yang sempurna, dalam jangka panjang kapasitas fungsional pasen menurun, dan ini tak berkaitan dengan masalah lain kecuali sirkulasi Fontan.Beberapa penelitian jangka menengah dan jangka panjang lainnya juga menemukan berbagai masalah, misalnya disfungsi hati, gangguan koagulopati yang berakibat tromboemboli, protein loosing enteropathy(PLE) yang menimbulkan hipoalbuminemia dengan segala akibatnya, aritmia, obstruksi pada jalur Fontan, fistula arteriovenous pulmonal dan lain-lain. Semua masalah ini tentu saja mengakibatkan berkurangnya kesintasan pasen-pasen tersebut.
Tatalaksana Medis Protein-Losing Enteropathy Pasca Bedah Total Cavo Pulmonary Connection Syarief Hidayat; Anna Ulfah Rahajoe; Kurniawan Iskandarsyah
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 28, No. 5 September 2007
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.v28i5.222

Abstract

Sebelum bedah Fontan diperkenalkan, penyakit jantung bawaan (PJB) kompleks yang tidak ideal untuk reparasi biventrikular dilakukan bedah paliatif pulmonar y ar ter y banding (PAB)atau systemic-to-pulmonary shunt. PAB adalah upaya untuk memperkecil lumen ar teri pulmonal sehingga alirannya berkurang, dengan memasang ikatan melingkari arteri pulmonal cabang utama.Sedangkan bedah systemic-to-pulmonar y shunt adalah memasang saluran penghubung antara cabang cranial aorta ke arteri pulmonal. Tetapi harapan hidup pasen-pasen ini hanya berlangsung dua hingga tiga dekade saja.