Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kebolehan Suami Memukul Istri Karena Nusyuz (Studi Terhadap Pemahaman Masyarakat Tentang Surat al-Nisa’ ayat 34 di Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu) Suryani Suryani; Zurifah Nurdin
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 9, No 1 (2020): Juni
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jpkth.v9i1.2717

Abstract

In al-Qur'an, it is stated that there is the ability of a husband to beat his wife when he is defieding, that skill is sometimes used as a legitimacy for domestic violence, without understanding that ability has the terms and conditions set by the Qur'an and hadith. There are even people who do not know that there is a verse that allows the beating, what if the wife of Husband with the existing provisions, they only determine that the husband is the leader and head of the family that must be obeyed, therefore the husband does not have the right to beat the wife. This study tries to uncover the community's understanding of the verse that melts the husband who hits an incoherent wife with the household problems that exist in the community by using a sociological and psychological approach and a text approach with the study of family fiqh. The results showed there was no relevance between violence or beating of the wife with the understanding of ayat Q.S: al-Nisa ': 34:, because the violence occurred by itself because of ego factors, lack of knowledge and understanding of religious teachings, lack of education and culture or culture or tradition
WAWASAN AL QUR’AN TENTANG DAKWAH Zurifah Nurdin
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 5, No 1 (2016): Juni
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.576 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v5i1.1122

Abstract

Dakwah dan eksistensinya bagi Islam agar dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka perlu rujukan sebagai pedoman dan pegangan yang tepat. Rujukan dan pedoman itu adalah al-Qur’an yang harus dikaji dengan mendalam, mengingat al Qur’an memiliki ruh pembangkit, dan berfungsi sebagai penguat serta berperan sebagai penjaga, penerang, dan penjelas yang universal bagi umat manusia.Memberikan tuntunan dan pedoman serta jalan hidup yang harus dilalui dan dihindari oleh manusia agar  mendapat petunjuk dan terhindar dari kesesatan. Mengubah dan memperbaiki keadaan orang atau masyarakat dari yang tidak baik kepada yang baik. Memberi pengaharapan akan sesuatu nilai agama yang didakwakan itu sehingga dirasakan oleh seseorang atau masyarakat, sebagai suatu kebutuhan yang vital dalam kehidupannya
PELESTARIAN BUDAYA PERKAWINAN SUKU LEMBAK DI KOTA BENGKULU (Studi Analisis Pemahman Ushul Fiqh) Zurifah Nurdin
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 3, No 1 (2018): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.929 KB) | DOI: 10.29300/ttjksi.v3i1.1555

Abstract

Aturan-aturan hukum adat perkawinan di berbagai daerah di Indonesia berbeda-beda dikarenakan sifat kemasyarakatan, adat istiadat, agama dan kepercayaan masyarakat yang berbeda beda, serta  adanya kemajuan dan perkembangan jaman. Perkawinan dalam hukum adat pada umumnya di Indonesia bukan hanya berarti sebagai perikatan perdata saja, tapi juga perikatan adat dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan. Ini menunjukan bahwa ikatan perkawinan selain membawa akibat pada hak dan kewajiban suami isteri, harta bersama, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, juga menyangkut hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan ketetanggaan serta menyangkut upacara-upacara adat dan keagamaan. Guna mengatur tata tertib perkawinan di kalangan masyarakat adat terdapat kaidah-kaidah hukum yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan yang pada masing-masing lingkungan masyarakat adat terdapat perbedaan prinsip dan asas-asas perkawinan yang berlaku. Seperti dalam kegiatan lamaran, juga ijob qobul dan walimahan. Oleh karena itulah penelitian ini bermaksud melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan bagaimana cara  suku lembak di kota Bengkulu dalam melestarikan adat istiadat  perkawinan.
UNDERSTANDING OF THE LINTANG TRIBE SOCIETY ABOUT WOMEN WHO ARE HARAM TO BE MARRIED ON ISLAMIC LAW PERSPECTIVE Zurifah Nurdin
AGENDA: Jurnal Analisis Gender dan Agama Vol 3, No 1 (2021): AGENDA: Jurnal Analisis Gender dan Agama
Publisher : State Institute of Islamic Studies Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.915 KB) | DOI: 10.31958/agenda.v3i1.2593

Abstract

The Lintang tribal people who are predominantly embracing Islam, with a patrilineal family system, have a different understanding of women who are forbidden to marry, therefore this paper reveals the understanding of the Intang tribe community about women who are haram to marry from the perspective of Islamic law. In terms of description, the writer finds that the understanding of the Lintang tribe about women who are haram to marry is in line with the maqashid syri'ah, namely in order to maintain the safety of religion, reason and safety of soul even though there are differences from those in the books of fiqh. The indication of maintaining the three matters of maqashid syari'ah is maintaining the marriage guardian order, maintaining the offspring to be physically and mentally healthy, intelligent both socially and spiritually and not physically or mentally defective. Therefore the understanding as found in the Lintang Tribe community needs to be preserved because it is part of the Islam of the Archipelago