This Author published in this journals
All Journal Buletin Palma
Nurhaini Mashud
Balit Palma

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Ukuran Anakan Terhadap Pertumbuhan Bibit Sagu Ronny Bernhard Maliangkay; Nurhaini Mashud; Engelbert Manaroinsong; Yulianus Matana
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.211 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan sagu adalah penyediaan bibit dalam jumlah yang banyak. Untuk mendapatkan bibit-bibit tersebut, ukuran anakan sagu akan dijadikan bibit perlu diketahui. Oleh karena itu, telah dilakukan penelitian pengaruh ukuran anakan terhadap pertumbuhan bibit, di desa Tatengesan, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara pada bulan April sampai Juni tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan ukuran anakan sagu yang memiliki daya tumbuh yang tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah ukuran anakan sagu, yang terdiri atas         (1) ukuran besar (3.1 kg – 5. kg), (2) ukuran sedang (2.1 kg – 3,0 kg) dan (3) ukuran kecil (0.5 kg – 2 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakan sagu berukuran sedang memiliki daya tumbuh yang tinggi dari pada anakan berukuran besar dan kecil.
Pemanfaatan Arang Tempurung dan Debu Sabut Kelapa Sebagai Pupuk Organik / The Utilization of Charcoal and Coconut Dust as Organic Fertilizer Yulianus Rompah Matana; Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.46-53

Abstract

The increasing of an organic fertilizer price causing utilization of alternative fertilizer, namely organic fertilizer. Charcoal and coconut dust  have potency as an organic fertilizer because it contents some nutrients. The utilization of charcoal and coconut dust as organic fertilizer more economic than anorganic fertilizer. The utilization of charcoal and coconut dust promote the government program regarding organic farming in 2010. The impact of utilization of organic fertilizer are increasing the farmers income and environmental health and safety   RINGKASAN Pencabutan subsidi pupuk oleh pemerintah menyebabkan nilai jual pupuk anorganik meningkat. Keadaan ini menyebabkan penggunaan pupuk-pupuk alternatif yaitu pupuk organik sebagai pengganti pupuk anorganik. Arang tempurung dan debu sabut berpotensi sebagai pupuk organik karena kandungan unsur hara yang terdapat dalam kedua bahan tersebut. Penggunaan arang tempurung dan debu sabut kelapa sebagai pupuk organik lebih ekonomis dari pada pupuk anorganik. Pemanfaatan arang tempurung dan debu sabut menunjang program pemerintah tentang menuju pertanian organik pada tahun 2010. Dampak yang akan dirasakan adalah peningkatan pendapatan petani dan mutu lingkungan tetap terjaga.
Stomata dan Klorofil Dalam Hubungannya dengan Produksi Kelapa Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.52-59

Abstract

Stomata (mulut daun) dan klorofil merupakan komponen biologi yang sangat menentukan sintesis awal senyawa organik yang digunakan untuk proses-proses fisiologis  sepanjang daur  hidup tanaman. Stomata dan klorofil berperan langsung dalam proses fotosintesis  menghasilkan senyawa organik sebagai asimilat dari senyawa anorganik  dengan bantuan cahaya matahari. Senyawa organik ini akan digunakan oleh tanaman yang bersangkutan untuk kelangsungan hidupnya, yaitu untuk tumbuh dan berkembang termasuk menghasilkan buah kelapa. Hubungan stomata dengan produksi kelapa tidak berdiri sendiri tetapi bersama-sama dengan organ fotosintetik lainnya, yaitu klorofil dan senyawa an organik  seperti O2. dan CO2  yang terlibat dalam proses fotosintesis.  Besarnya cahaya yang diserap daun menentukan aktifitas fotosintesis, yang pada akhirnya akan menentukan besarnya asimilat (karbohidrat) yang dihasilkan.
Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon sp.) di Lahan Pasang Surut Engelbert Manaroinsong; Ronny Bernhard Maliangkay; Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Tanaman sagu sangat potensial dikembangkan karena merupakan sumber karbohidrat sehingga dapat berfungsi sebagai pangan alternatif sesudah beras. Disamping itu sagu dapat diolah sebagai bahan baku industri makanan, industri kimia dan farmasi. Sebagian besar areal sagu di Indonesia masih dalam bentuk hutan sagu. Eksploitasi hutan sagu tanpa diiringi dengan usaha pemulihan populasi akan berdampak negatif bagi masyarakat yang mengandalkan sagu sebagai sumber pokok pangan. Meskipun tanaman sagu dapat tumbuh pada lahan rawa dan daerah pasang surut akan tetapi teknik budidaya pada lahan pasang surut belum diterapkan oleh petani atau masyarakat luas. Tulisan ini diharapkan dapat dipedomani oleh masyarakat dalam pengusahaan budidaya sagu dilahan pasang surut.
Transplantasi Embrio Kelapa / Coconut Embryo Transplantation Nurhaini Mashud; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.19-27

Abstract

Coconut embryo transplantation is a new technique which is done for producing new coconut plant from zygotic embryo. In this technique, the isolated embryo from donor nuts insert to surrogate nuts after removal of its embryos. The coconut embryo transplantation  has been done in the University of Queensland, Australia. The result of this research indicated that whether embryo or endosperm cylinder can be transplanted to the surrogate nut. Nevertheless, it is difficult to transplant the endosperm cylinder because cork borer with endosperm inside can go into surrogate nut. It caused contamination and there is not good contact between endosperm cylinder from donor nut and endosperm of surrogate nut. This technique could be an alternative  to be used in the national and international collection and exchange of coconut germplasms which is using embryo culture protocol with some problems, especially in ex vitro condition and the high cost of in vitro technique, so far. This technique can be also utilized to multiply mutant coconut type , such as kopyor (Indonesia), Makapuno (Philippine) and Dikiri  (Sri Lanka). The coconut germplasm will be sent in form of embryos or endosperm plugs which are preparing aseptically using embryo culture protocol. At the destination base, the surrogate nuts are prepared aseptically to receive the isolated embryo or endosperm cylinder. The transplanted nut is then let to germinate naturally under  room temperature in protected environmental condition. RINGKASAN Transplantasi embrio kelapa adalah suatu teknik baru yang dilakukan untuk menghasilkan tanaman baru dari embrio zigotik. Teknik ini menggunakan embrio yang diisolasi secara aseptik dari donor nut dan ditransplantasikan pada surrogate nut. Transplantasi embrio kelapa telah dilakukan di School of Land and Food Science, University of Queensland. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik embrio maupun siinder endosperm yang berisi embrio dapat ditransplantasikan ke surrogate nut. Namun transplantasi dalam bentuk silinder endosperm sulit dilakukan, karena cork borer (alat pengambil silinder endosperm) yang berisi endosperm akan masuk ke dalam surrogate nut. Keadaan ini menyebabkan mudah terjadinya kontaminasi dan tidak terjadi kontak yang baik antara silinder endosperm dari donor nut dengan endosperm dari surrogate nut. Teknik ini dapat menjadi alternatif dan mempunyai peluang dimanfaatkan dalam kegiatan koleksi dan pertukaran plasma nutfah kelapa nasional dan internasional yang selama ini menggunakan teknik kultur embro yang masih menghadapi beberapa masalah, terutama pada kondisi ex vitro dan tingginya biaya teknik in vitro. Transplantasi embrio dapat diaplikasikan untuk perbanyakan kelapa mutan, seperti kopyor di Indonesia, Makapuno di Filipina dan Dikiri di Sri Lanka. Dalam kegiatan ini, plasma nutfah dikirim dalam bentuk embrio atau embrio yang terbungkus dengan endosperm (silinder endosperm) yang dipersiapkan secara aseptik menggunakan protokol kultur embrio. Di laboratorium tujuan, surrogate nut dipersiapkan untuk menjadi media tumbuh plasma nutfah tersebut baik dalam bentuk embrio maupun plug endosperm. Embrio yang ditransplantasi ini akan berkecambah secara alami pada kondisi yang relatif terkontrol.
Teknologi Kultur Embrio untuk Pengembangan Kelapa Kopyor Nurhaini Mashud; Engelbert Manaroinsong
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.37-44

Abstract

Kelapa berbuah kopyor merupakan salah satu jenis kelapa unik, karena karakteristik endospermnya (daging buah) yang hancur dan sebagian besar tidak melekat lagi pada tempurung.Walaupun memiliki endosperm yang abnormal, tetapi embrio kelapa kopyor normal.   Buah kopyor ini diduga berasal dari tanaman kelapa yang mengalami mutasi genetik secara alami. Sebagai hasil mutasi alami, jumlah tanaman kelapa berbuah kopyor sangat sedikit dibanding dengan tanaman kelapa berbuah normal. Oleh karena endospermnya yang abnormal, kelapa kopyor tidak dapat diperbanyak secara konvensional melalui biji. Tanaman kelapa kopyor hanya dapat diperbanyak menggunakan teknik kultur embrio. Dengan teknik ini embrio kopyor yang normal dikulturkan pada media tumbuh buatan dalam keadaan aseptik. Tanaman kelapa kopyor yang diperbanyak dengan teknik kultur embrio berpotensi menghasilkan buah kopyor sebanyak 90%. Di Indonesia terdapat dua tipe kelapa kopyor, yaitu tipe Dalam dan tipe Genjah. Bibit kopyor tipe Dalam harus ditanam pada hamparan yang terisolasi dari tanaman kelapa lainnya untuk  mencegah terjadinya perkawinan silang dengan kelapa normal. Bibit kelapa kopyor tipe Genjah hasil kultur embrio diperkirakan dapat dikembangkan pada areal yang relatif sempit  pada lahan pekarangan  tanpa harus diisolasi  secara ketat karena sifat tanaman kelapa Genjah yang menyerbuk sendiri.  Kelapa kopyor tipe Genjah dapat berbuah dalam umur yang relatif pendek ±5 tahun. Diharapkan dengan pengembangan kelapa kopyor tipe Genjah hasil kultur embrio dapat mengatasi kebutuhan bibit kelapa kopyor dari petani produsen yang dapat dikembangkan secara ekonomis.