This Author published in this journals
All Journal Buletin Palma
Yulianus Rompah Matana
Balit Palma

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Teknik Budidaya Kelapa Organik / The Organic Coconut Cultivation Technique R B Maliangkay; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.37-45

Abstract

The awareness of the impact of agricultural development to the quality of environment has leaded the coconut cultivation technique to produce organic coconut products. There is no use of anorganic fertilizer and chemical pesticide in organic farming system. As a result, the uses of coconut product that free from any chemical substance, such as botanical pesticide, and wasted coconut parts have been intensified. Agricultural products using organic label have certain markets and consumers and high price as well. Some countries such as Pantai Gading Sri Lanka have intensively used wasted coconut parts as organic fertilizer. Organic coconut products can be obtained by applying organic coconut cultivation technique.   RINGKASAN Menyadari dampak pembangunan pertanian terhadap mutu lingkungan maka pengusahaan kelapa harus berorientasi terhadap mutu lingkungan dengan mendorong terciptannya produkproduk kelapa organik melalui teknik budidaya kelapa organik. Pertanian organik tidak menggunakan input luar berupa pupuk buatan (anorganik) dan pestisida kimia. Teknologi tersebut meliputi penggunaan produk kelapa yang berasal dari tanaman yang bebas pengaruh bahan kimia, seperti penggunaan pupuk organik, penggunanan pestisida nabati dan pengolahan limbah dari tanaman kelapa sebagai bahan organik yang nantinya akan digunakan sebagai pupuk pada tanaman kelapa. Produk pertanian yang memiliki label organik memiliki nilai jual yang tinggi serta mempunyai pasar dan konsumen tersendiri. Di beberapa negara seperti Pantai Gading dan Sri Langka pemanfaatan bagian dari limbah tanaman kelapa sudah dilaksanakan sebagai pupuk organik. Dengan menerapkan teknik budidaya kelapa organik dapat menghasilkan produk kelapa organik.
Pemanfaatan Arang Tempurung dan Debu Sabut Kelapa Sebagai Pupuk Organik / The Utilization of Charcoal and Coconut Dust as Organic Fertilizer Yulianus Rompah Matana; Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.46-53

Abstract

The increasing of an organic fertilizer price causing utilization of alternative fertilizer, namely organic fertilizer. Charcoal and coconut dust  have potency as an organic fertilizer because it contents some nutrients. The utilization of charcoal and coconut dust as organic fertilizer more economic than anorganic fertilizer. The utilization of charcoal and coconut dust promote the government program regarding organic farming in 2010. The impact of utilization of organic fertilizer are increasing the farmers income and environmental health and safety   RINGKASAN Pencabutan subsidi pupuk oleh pemerintah menyebabkan nilai jual pupuk anorganik meningkat. Keadaan ini menyebabkan penggunaan pupuk-pupuk alternatif yaitu pupuk organik sebagai pengganti pupuk anorganik. Arang tempurung dan debu sabut berpotensi sebagai pupuk organik karena kandungan unsur hara yang terdapat dalam kedua bahan tersebut. Penggunaan arang tempurung dan debu sabut kelapa sebagai pupuk organik lebih ekonomis dari pada pupuk anorganik. Pemanfaatan arang tempurung dan debu sabut menunjang program pemerintah tentang menuju pertanian organik pada tahun 2010. Dampak yang akan dirasakan adalah peningkatan pendapatan petani dan mutu lingkungan tetap terjaga.
Transplantasi Embrio Kelapa / Coconut Embryo Transplantation Nurhaini Mashud; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.19-27

Abstract

Coconut embryo transplantation is a new technique which is done for producing new coconut plant from zygotic embryo. In this technique, the isolated embryo from donor nuts insert to surrogate nuts after removal of its embryos. The coconut embryo transplantation  has been done in the University of Queensland, Australia. The result of this research indicated that whether embryo or endosperm cylinder can be transplanted to the surrogate nut. Nevertheless, it is difficult to transplant the endosperm cylinder because cork borer with endosperm inside can go into surrogate nut. It caused contamination and there is not good contact between endosperm cylinder from donor nut and endosperm of surrogate nut. This technique could be an alternative  to be used in the national and international collection and exchange of coconut germplasms which is using embryo culture protocol with some problems, especially in ex vitro condition and the high cost of in vitro technique, so far. This technique can be also utilized to multiply mutant coconut type , such as kopyor (Indonesia), Makapuno (Philippine) and Dikiri  (Sri Lanka). The coconut germplasm will be sent in form of embryos or endosperm plugs which are preparing aseptically using embryo culture protocol. At the destination base, the surrogate nuts are prepared aseptically to receive the isolated embryo or endosperm cylinder. The transplanted nut is then let to germinate naturally under  room temperature in protected environmental condition. RINGKASAN Transplantasi embrio kelapa adalah suatu teknik baru yang dilakukan untuk menghasilkan tanaman baru dari embrio zigotik. Teknik ini menggunakan embrio yang diisolasi secara aseptik dari donor nut dan ditransplantasikan pada surrogate nut. Transplantasi embrio kelapa telah dilakukan di School of Land and Food Science, University of Queensland. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik embrio maupun siinder endosperm yang berisi embrio dapat ditransplantasikan ke surrogate nut. Namun transplantasi dalam bentuk silinder endosperm sulit dilakukan, karena cork borer (alat pengambil silinder endosperm) yang berisi endosperm akan masuk ke dalam surrogate nut. Keadaan ini menyebabkan mudah terjadinya kontaminasi dan tidak terjadi kontak yang baik antara silinder endosperm dari donor nut dengan endosperm dari surrogate nut. Teknik ini dapat menjadi alternatif dan mempunyai peluang dimanfaatkan dalam kegiatan koleksi dan pertukaran plasma nutfah kelapa nasional dan internasional yang selama ini menggunakan teknik kultur embro yang masih menghadapi beberapa masalah, terutama pada kondisi ex vitro dan tingginya biaya teknik in vitro. Transplantasi embrio dapat diaplikasikan untuk perbanyakan kelapa mutan, seperti kopyor di Indonesia, Makapuno di Filipina dan Dikiri di Sri Lanka. Dalam kegiatan ini, plasma nutfah dikirim dalam bentuk embrio atau embrio yang terbungkus dengan endosperm (silinder endosperm) yang dipersiapkan secara aseptik menggunakan protokol kultur embrio. Di laboratorium tujuan, surrogate nut dipersiapkan untuk menjadi media tumbuh plasma nutfah tersebut baik dalam bentuk embrio maupun plug endosperm. Embrio yang ditransplantasi ini akan berkecambah secara alami pada kondisi yang relatif terkontrol.
Observasi Produksi Nira Aren (Arenga pinnata) di Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa Induk, Provinsi Sulawesi Utara / Palm Neera Production of Sugar Palm (Arenga pinnata) at Langowan Sub District, Minahasa Induk District, North Sulawesi Province Engelbert Manaroinsong; R B Maliangkay; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.111-115

Abstract

Sugar palm (Arenga pinnata) is a potential plant which can be developed because of the high economic value. The research was the conducted on July until November 2005 with survey method. The parameter observed were production of toddy per palm per month and rainfall data in three different locations i.e. Manembo village, Atep village and Palamba village, sub district of Langowan. Result of research shown that the high production of toddy was found in Atep village, whereas the lower production of toddy in Manembo village i.e. 18 liter/day and 13.6 liter/day, respectively. The maximum rain fall was and 393 mm at that time.  RINGKASANAren (Arenga pinnata) merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Nopember tahun 2005. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei. Peubah yang diamati adalah produksi nira pada tandan pertama dan data curah hujan dari statison klimatologi Kecamatan Langowan pada 3 lokasi, yaitu Desa Manembo, Desa Atep dan Desa Palamba, Kecamatan Langowan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didesa Atep didapatkan produksi nira tertinggi sedangkan produksi nira terendah terdapat didesa Manembo, berturut turut jumlah produksi nira adalah 18 l/hari, 13.6 l/hari. Pada saat pengamatan curah hujan pada bulan sebesar 393 mm.