This Author published in this journals
All Journal Buletin Palma
Engelbert Manaroinsong
Balit Palma

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Ukuran Anakan Terhadap Pertumbuhan Bibit Sagu Ronny Bernhard Maliangkay; Nurhaini Mashud; Engelbert Manaroinsong; Yulianus Matana
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.211 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan sagu adalah penyediaan bibit dalam jumlah yang banyak. Untuk mendapatkan bibit-bibit tersebut, ukuran anakan sagu akan dijadikan bibit perlu diketahui. Oleh karena itu, telah dilakukan penelitian pengaruh ukuran anakan terhadap pertumbuhan bibit, di desa Tatengesan, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara pada bulan April sampai Juni tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan ukuran anakan sagu yang memiliki daya tumbuh yang tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah ukuran anakan sagu, yang terdiri atas         (1) ukuran besar (3.1 kg – 5. kg), (2) ukuran sedang (2.1 kg – 3,0 kg) dan (3) ukuran kecil (0.5 kg – 2 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakan sagu berukuran sedang memiliki daya tumbuh yang tinggi dari pada anakan berukuran besar dan kecil.
Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon sp.) di Lahan Pasang Surut Engelbert Manaroinsong; Ronny Bernhard Maliangkay; Nurhaini Mashud
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Tanaman sagu sangat potensial dikembangkan karena merupakan sumber karbohidrat sehingga dapat berfungsi sebagai pangan alternatif sesudah beras. Disamping itu sagu dapat diolah sebagai bahan baku industri makanan, industri kimia dan farmasi. Sebagian besar areal sagu di Indonesia masih dalam bentuk hutan sagu. Eksploitasi hutan sagu tanpa diiringi dengan usaha pemulihan populasi akan berdampak negatif bagi masyarakat yang mengandalkan sagu sebagai sumber pokok pangan. Meskipun tanaman sagu dapat tumbuh pada lahan rawa dan daerah pasang surut akan tetapi teknik budidaya pada lahan pasang surut belum diterapkan oleh petani atau masyarakat luas. Tulisan ini diharapkan dapat dipedomani oleh masyarakat dalam pengusahaan budidaya sagu dilahan pasang surut.
Teknologi Kultur Embrio untuk Pengembangan Kelapa Kopyor Nurhaini Mashud; Engelbert Manaroinsong
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.37-44

Abstract

Kelapa berbuah kopyor merupakan salah satu jenis kelapa unik, karena karakteristik endospermnya (daging buah) yang hancur dan sebagian besar tidak melekat lagi pada tempurung.Walaupun memiliki endosperm yang abnormal, tetapi embrio kelapa kopyor normal.   Buah kopyor ini diduga berasal dari tanaman kelapa yang mengalami mutasi genetik secara alami. Sebagai hasil mutasi alami, jumlah tanaman kelapa berbuah kopyor sangat sedikit dibanding dengan tanaman kelapa berbuah normal. Oleh karena endospermnya yang abnormal, kelapa kopyor tidak dapat diperbanyak secara konvensional melalui biji. Tanaman kelapa kopyor hanya dapat diperbanyak menggunakan teknik kultur embrio. Dengan teknik ini embrio kopyor yang normal dikulturkan pada media tumbuh buatan dalam keadaan aseptik. Tanaman kelapa kopyor yang diperbanyak dengan teknik kultur embrio berpotensi menghasilkan buah kopyor sebanyak 90%. Di Indonesia terdapat dua tipe kelapa kopyor, yaitu tipe Dalam dan tipe Genjah. Bibit kopyor tipe Dalam harus ditanam pada hamparan yang terisolasi dari tanaman kelapa lainnya untuk  mencegah terjadinya perkawinan silang dengan kelapa normal. Bibit kelapa kopyor tipe Genjah hasil kultur embrio diperkirakan dapat dikembangkan pada areal yang relatif sempit  pada lahan pekarangan  tanpa harus diisolasi  secara ketat karena sifat tanaman kelapa Genjah yang menyerbuk sendiri.  Kelapa kopyor tipe Genjah dapat berbuah dalam umur yang relatif pendek ±5 tahun. Diharapkan dengan pengembangan kelapa kopyor tipe Genjah hasil kultur embrio dapat mengatasi kebutuhan bibit kelapa kopyor dari petani produsen yang dapat dikembangkan secara ekonomis.
Observasi Produksi Nira Aren (Arenga pinnata) di Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa Induk, Provinsi Sulawesi Utara / Palm Neera Production of Sugar Palm (Arenga pinnata) at Langowan Sub District, Minahasa Induk District, North Sulawesi Province Engelbert Manaroinsong; R B Maliangkay; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.111-115

Abstract

Sugar palm (Arenga pinnata) is a potential plant which can be developed because of the high economic value. The research was the conducted on July until November 2005 with survey method. The parameter observed were production of toddy per palm per month and rainfall data in three different locations i.e. Manembo village, Atep village and Palamba village, sub district of Langowan. Result of research shown that the high production of toddy was found in Atep village, whereas the lower production of toddy in Manembo village i.e. 18 liter/day and 13.6 liter/day, respectively. The maximum rain fall was and 393 mm at that time.  RINGKASANAren (Arenga pinnata) merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Nopember tahun 2005. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei. Peubah yang diamati adalah produksi nira pada tandan pertama dan data curah hujan dari statison klimatologi Kecamatan Langowan pada 3 lokasi, yaitu Desa Manembo, Desa Atep dan Desa Palamba, Kecamatan Langowan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didesa Atep didapatkan produksi nira tertinggi sedangkan produksi nira terendah terdapat didesa Manembo, berturut turut jumlah produksi nira adalah 18 l/hari, 13.6 l/hari. Pada saat pengamatan curah hujan pada bulan sebesar 393 mm.