Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Kurios

Konsep trinitarian pneumatologis sebagai landasan teologi agama-agama Butarbutar, Rut Debora; Pakpahan, Binsar Jonathan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.205

Abstract

The research explored the use of a pneumatological trinitarian theology as a basis of the theology of religions in the Indonesian context of diversity. We can develop a new basis of the theology of religions that goes beyond exclusivism and pluralism by using the trinitarian approach towards God’s saving act in the Holy Spirit that moves beyond the church's wall. The research used Veli-Mati Kärkkäinen’s pneumatological trinitarian theology. Kärkkäinen explained that God’s saving grace through the Holy Spirit, in the perichoretic movement, moved towards human boundaries, to call humans to experience God’s saving act. At the end of the research, we would find that this specific theological approach is more suitable for Christians in understanding the Triune God but would be problematic to be understood by the people outside of Christianity. AbstrakTulisan ini mengangkat pendekatan trinitarian pneumatologis yang bisa digunakan sebagai dasar landasan teologi agama-agama dalam konteks keberagaman di Indonesia. Dengan menggunakan pemahaman teologi trinitarian dengan penekanan kepada karya keselamatan Allah dalam Roh Kudus yang melampaui batas gereja, sebuah teologi agama-agama dibangun atas basis baru yang melampaui eksklusivisme atau pluralisme. Penelitian ini akan menggunakan pemikiran teologi trinitarian pneumatologis Veli-Mati Kärkkäinen dengan metode penelitian kepustakaan. Kärkkäinen menjelaskan bahwa karya keselamatan Allah dalam Roh Kudus, yang tidak terlepas dari gerak perikoresis, bergerak melampaui sekat yang dibuat manusia, untuk memanggil manusia kepada karya keselamatan Allah. Pada akhirnya, pandangan trinitarian pneumatologis lebih khusus untuk orang Kristen sendiri dalam memahami Allah Trinitas namun mungkin akan lebih sulit untuk dipahami oleh orang di luar kekristenan.
Partisipasi aktif dalam ibadah online sebagai tanda persekutuan Pakpahan, Binsar Jonathan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.467

Abstract

This article aims to explain the differences between the online community and fellowship (church) through the dimensions of active participation in online worship. A fellowship is a community of baptized who confessed their faith and are actively involved in their calling. In a local church, members are united by common culture, language, and history. It is feared that online worship carried out during the Covid-19 pandemic will reduce the meaning of fellowship. Through descriptive qualitative method plus observation, with the theory from Alan Rathe and F. Gerrit Immink regarding active participation, this study found three indicators that could help churches prepare their worship to invite active participation as a sign of fellowship. The three indicators are “in” which refers to the common ground, namely initiation in the Triune God; "with" which refers to the congregation's togetherness to follow and participate both in terms of time and ability to interact; and "by" that is doing something together such as singing and responding to the same ritual. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan komunitas dan persekutuan (gereja) online melalui dimensi partisipasi aktif dalam ibadah secara online. Persekutuan adalah komunitas orang-orang yang dibaptis yang memiliki pengakuan iman, dan terlibat aktif dalam tugas panggilannya. Dalam bentuk gereja lokal, anggota diikat oleh kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah. Ibadah online yang dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan mengurangi makna persekutuan. Melalui metode kualitatif deskriptif ditambah observasi, dengan teori dari Alan Rathe dan F. Gerrit Immink mengenai partisipasi aktif dalam ibadah, penelitian ini menemukan tiga indikator yang mengukur partisipasi jemaat dalam ibadah. Ketiga indikator itu adalah “dalam” yang merujuk kepada kesamaan landasan yaitu inisiasi dalam Allah Tritunggal; “bersama” yang merujuk kepada kebersamaan jemaat mengikuti dan berpartisipasi baik dari sisi waktu maupun kemampuan berinteraksi; dan “dengan cara” yaitu melakukan sesuatu bersama seperti bernyanyi dan merespons tata ibadah yang sama.
Analisis teologis dan historis pemahaman tohonan sebagai jabatan dan ordinasi di Huria Kristen Batak Protestan Binsar Jonathan Pakpahan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.570

Abstract

The Protestant Batak Christian Huria's understanding of the theology of office has received particular attention since the 2002 Church Order and Administration which was made after the Godang Reconciliation Synod. Church office, translated with the word tohonan are wrongly translated as tahbisan or ordination. The inconsistency influences direct or indirect the conclusion that the pastor??"s ordination, one of the offices in HKBP, represents Christ??"s office. By conducting a theological and historical analysis of HKBP??"s church office and ordination, this research will prove that the HKBP's understanding of tohonan is inconsistent. The inconsistency of understanding church offices is influenced by contextual needs that made the church add ecclesiastical offices during the development of the church, mistranslations, and incorrect theological understandings of offices and ordination. To restore the spirit of the royal priesthood that was echoed by the reformer Martin Luther, HKBP must revisit its understanding of the tohonan (office) and the relationship between officeholders.AbstrakPemahaman Huria Kristen Batak Protestan mengenai teologi jabatan mendapat perhatian khusus sejak Tata Gereja dan Tata Laksana 2002 yang dibuat setelah Sinode Godang Rekonsiliasi. Jabatan gereja yang diterjemahkan dengan kata tohonan ternyata diterjemahkan secara inkonsisten sebagai tahbisan atau ordinasi. Perubahan tersebut juga secara tidak langsung mendorong kesimpulan bahwa tohonan pendeta, sebagai salah satu jabatan di HKBP, mencakup semua tohonan Kristus. Melalui penelitian kepustakaan dan analisis historis dan teologis, penelitian menelusuri terminologi mengenai tohonan sebagai jabatan gereja dan ordinasi. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman HKBP mengenai hierarki jabatan disertai oleh pemahaman tohonan tidak konsisten antara jabatan gereja dan ordinasi. Inkonsistensi pemahaman tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan kontekstual pelayanan dari masa ke masa yang membuat gereja menambah jabatan gerejawi dengan fungsi khusus. Penambahan jabatan gereja, yang juga diberikan dengan ordinasi. Selain faktor utama tersebut, ada juga kesalahan penerjemahan serta pemahaman teologi yang tidak tepat mengenai jabatan dan ordinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa HKBP perlu mengembalikan semangat reformasi imamat am yang rajani yang kembali didengungkan oleh Martin Luther.