Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

BENDA ASING ESOFAGUS DI BAGIAN/SMF THT-KL BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 - DESEMBER 2014 Marasabessy, Siti N.; Mengko, Steward K.; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7390

Abstract

Abstract: Esophageal foreign body is sharp or blunt objects or food stuck and stuck in the esophagus due to ingested, either deliberately or accidentally. Esophagoscopy extraction is the common treatment. This study aimed to obtain the occurance of foreign bodies in esophagus in the THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado during period January 2010-December 2014, and the pattern of age, gender, and type of foreign bodies that impact esophageal foreign bodies. This study used descriptive-retrospective. Samples were all patients who seek treatment in the THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado diagnosed as esophageal foreign body, during period January 2010-December 2014. Fivety-two patients had diagnose with esophageal foreign bodies during period January 2010. The group of age 0-10 years had a highest number of patients with 17 cases (32.7%). There was no different between male (25 patients) and female (27 patients). The most common esophageal foreign bodies in all patient was dentures with 25 cases (48.1%) and coins become the second most common foreign bodies in 18 cases (34.6%). Conclusion: The number of patients with esophageal foreign bodies was a small part of the total number of THT-KL cases because these cases were more incidental.Keywords: foreign bodies. esophagus. esophagoscopy.Abstrak: Benda asing esofagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Penatalaksaan yang lazim adalah esofagoskopi ekstraksi untuk mengeluarkan benda asing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian benda asing esofagus di Bagian/SMF THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado mulai bulan Januari 2010-Desember 2014 dan untuk mengetahui jenis kelamin, golongan umur dan jenis benda asing tersering dalam kasus benda asing esofagus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-retrospektif. Sampel penelitian adalah semua penderita yang berobat di Bagian/SMF THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang terdiagnosis sebagai benda asing esofagus, mulai bulan Januari 2010-Desember 2014. Lima puluh tiga pasien telah terdiagnosis sebagai benda asing esofagus selama periode Januari 2010-Desember 2014. Golongan umur 0-10 tahun adalah yang paling banyak menjadi pasien benda asing esofagus dengan 17 kasus (32,7%). Tidak ada perbedaan yang cukup berarti antara pasien pria (25 pasien) dan perempuan (27 pasien). Benda asing tersering yang menjadi penyebab benda asing esofagus adalah gigi palsu dengan 25 kasus (48,1%) dan uang logam menjadi benda asing tersering kedua dengan 18 kasus (34,6%). Simpulan : Penderita benda asing esofagus memiliki jumlah yang sedikit dari jumlah keseluruhan kasus THT-KL, karena kasus ini lebih bersifat insiden.Kata kunci: benda asing, esofagus, esofagoskopi
KESEHATAN HIDUNG SISWA SEKOLAH DASAR INPRES 10/73 PANDU Legoh, Andre M.; Mengko, Steward K.; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10940

Abstract

Abstract: Environmental factors have great effects on human health. Physiologically, nose is one of our organs in that protect us from unfavorable environment. This study aimed to obtain the nose health status among students of Inpres 10/73 Pandu Elementary School. This was a descriptive observational study with a cross sectional approach. Respondents were students of Inpres 10/73 Pandu Elemntary School. There were 18 respondents consisted of 8 boys and 10 girls. The nose examination showed normal nose in 14 children and abnormalities in 4 children. The examination of the nasal conchae showed hyperemia 5.1% meanwhile hyperemia associated by edema 22.22%. The examination of the nasal mucosa revealed hyperemia 11.11%. The examination of nasal secretion showed mucoid secretion 11.11%, serous secretions 5.56%, and purulent secretion 5.56%. Conclusion: Most of the students had normal nose health status.Keywords: health survey, nose examinationAbstrak: Faktor lingkungan berperan sangat besar terhadap kesehatan manusia. Hidung merupakan salah satu organ yang secara fisiologik menjadi pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres 10/73 Pandu. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif survei dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian ialah siswa-siswi Sekolah Dasar Inpres 10/73 Pandu. Jumlah responden yang mengikuti penelitian ialah 18 anak, terdiri dari 8 laki-laki dan 10 perempuan. Pada hasil pemeriksaan hidung didapatkan hasil normal pada 14 anak dan kelainan pada 4 anak. Pada pemeriksaan konka nasal, persentase hiperemis 5,1% dan persentase hiperemis disertai udim 22,22%. Pada pemeriksaan mukosa nasal, persentase hiperemis 11,11%. Pada pemeriksaan sekret, persentase sekret mukoid 11,11%, sekret serous 5,56%, dan sekret purulen 5,56%. Simpulan: Sebagian besar responden mempunyai status kesehatan hidung yang normal.Kata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan hidung
POLA PENDERITA RAWAT INAP THT-KL DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2012 Kandouw, Christo E.; Palandeng, Ora I.; Mengko, Steward
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.10564

Abstract

Abstract: Indonesia is currently in the middle of the epidemiological transition in which non-communicable diseases have increased dramatically while infectious diseases are still the major causes of disease. Epidemiological transition, which is marked by the growing of degenerative diseases and certain diseases associated with throat-ear-nose head and neck Surgery (ENT-HNS) that can not besolved completely. This study aimed to assess the pattern of hospitalized patients of the ENT-HNS in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study. Samples were all patients hospitalized in the ENT-HNS Department of Prof. Dr. RD Kandou Hospital Manado from January 2010 to December 2012. The results showed that based on the types of diseases there were 239 cases of throat infection (55.97%), 163 cases of nasal diseases (38.17%) and 25cases (5.85%) of ear diseases. The highest percentage of types of disease was acute pharyngitis with 75 cases (17.48%) and the lowest ones were laryngeal abscess, tongue abscess, adenotonsilitis, cancer of nasal cavity, cvancer of left external ear, acute epiglottis, infiltrated peritonsilar, tonsilectomy, polyps, tumors of the tongue, vocal cords tumors, ear tumors, and tumors of tonsil and pharyng each of 1 case (0.23%). Conclusion: There were 48 types of diseases and the 10 diseases with the highest percentages consecutively were acute pharyngitisis, epistaxis, polyps of nasal cavity nasopharyngeal cancer, tumors coli, larynx tumors, tonsilopharyngitis, laryngitis, and sinusitis.Keywords: ENT-HNS diseases, hospitalized patientsAbstrak: Indonesia saat ini berada pada pertengahan transisi epidemiologi dimana penyakit tidak menular meningkat drastis sementara penyakit menular masih menjadi penyebab penyakit yang utama. Transisi epidemiologis, yang di tandai dengan semakin berkembangnya penyaki degeneratif dan penyakit tertentu temasuk penyakit yang berhubungan dengan Telinga Hidung Tengorokan Bedah Kepala Leher (THT-KL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penyakit penderita rawat inap SMF THT-KL di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2012. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif restropektif. Populasi penelitian ialah penderita rawat inap di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Sampel ialah seluruh penderita rawat inap di SMF THT-KL di RSU Prof. dr. R. D. Kandou Manado dari periode Januari 2010 - Desember 2012. Hasil penelitian memperlihatkan jenis penyakit berdasarkan penyakit tenggorokan ada 239 kasus (55,97%), penyakit hidung 163 kasus (38,17%) dan penyakit telinga 25 kasus (5,85%). Jenis penyakit terbanyak ialah faringitis akut dengan 75 kasus ( 17,48% ) dan terendah abses laring, abses lidah, adenotonsilitis, Ca cavum nasi, Ca MAE Sinistra, epiglottis akut, infiltrat peritonsiler, polip tonsiltektomi, tumor lidah, tumor plika vokalis, tumor telinga, dan tumor tonsil faringitis masing-masing 1 kasus ( 0,23% ). Simpulan: Dari pasien rawat inap periode 2010-2012 berdasarkan jenis penyakit, didapatkan 48 jenis penyakit dengan 10 penyakit THT-KL terbanyak, yaitu berturut-turut: faringitis akut, epistaksis, tonsilitis, polip nasi, Ca nasofaring, tumor coli, tumor laring, tonsilofaringitis, laringitis, dan sinusitis.Kata kunci: THT-KL, penderita rawat inap
SURVEI KESEHATAN TELINGA MASYARAKAT PESISIR PANTAI BAHU Gosal, Rian; Palandeng, Ora I.; Pelealu, Olivia
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8775

Abstract

Abstract: Ear is the part of human’s organs that gives important contribution in hearing and balance process. Ear absorbs 20% of information in daily life. The result of National Health Survey in 7 provinces in 1993-1996 showed that there was a high prevalence (16.8%) of morbidity on ear disturbance. Indonesia is an archipelago country since 70% of its area is sea. This study aimed to obtain the ear health profile of people that live along the Bahu beach. This was a descriptive observasional study with a cross sectional design. Samples were 31 people. Data were obtained from external meatus acusticus examination by ear-nose-throat specialists. The results showed that the most frequent was cerumen in 7 people in right and left ears. Perforation of tympanic membrane of right and left ears were found in 2 people. Conclusion: The ear health status of most people living along Bahu beach was good. However, perforation of tympanic membranes were still found in a small number.Keywords: ear health, ear examinationAbstrak: Telinga adalah organ tubuh yang berperan penting pada proses pendengaran dan keseimbangan. Telinga merupakan salah satu indra yang menyerap sebesar 20% informasi dari kehidupan sehari-hari. Hasil Survei Nasional Kesehatan di 7 provinsi tahun 1993-1996, prevalensi morbiditas telinga yang paling tinggi yaitu gangguan pendengaran sebesar 16,8%. Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan yang hampir 70% wilayahnya terdiri dari laut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data survei mengenai gambaran kesehatan telinga pada masyarakat pesisir pantai Bahu. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 31 orang. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan meatus austikus eksternus oleh dokter spesialis THT-KL. Hasil. penelitian memperlihatkan yang terbanyak ialah serumen pada 7 orang di telinga kanan dan telinga kiri. Pada pemeriksaan membran timpani ditemukan perforasi telinga kanan dan kiri sebanyak 2 orang. Simpulan: Status kesehatan telinga sebagian besar masyarakat pesisir pantai Bahu sudah baik. Walaupun demikian, perforasi membran timpani masih ditemukan pada sebagian kecil masyarakat.Kata kunci: kesehatan telinga, pemeriksaan telinga
Kesehatan hidung pada siswa sekolah dasar Kema III Minahasa Utara Habibuw, Amelia; Mengko, Steward; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.13733

Abstract

Abstract: Physiologically, nose has important functions for protecting the body against the disadvantageous condition from our surroundings. This study aimed to obtain the nose health status of students at Sekolah Dasar Inpres Kema III. This was a descriptive study with a cross sectional design. Nose health status was determined by examining the nasal cavity, conchae, mucous layer, secret, septum, and post nasal drip. The results showed that most of the students had normal nose health examination. Conclusion: Most of the students at Sekolah Dasar Inpres Kema III had good nose health status. Keywords: health survey, nose examination Abstrak: Secara fisiologik hidung mempunyai beberapa fungsi seperti sebagai penyaring dan pertahanan lini pertama dan pelindung tubuh terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada siswa Sekolah Dasar Inpres Kema III. Jenis penelitian ialah deskriptif survei desain potong lintang. Gambaran kesehatan hidung setiap responden dilihat dengan memeriksa kavum nasi, konka, mukosa, sekret, septum, dan post nasal drip. Hasil pemeriksaan hidung menunjukan bahwa sebagian besar gambaran kesehatan hidung pada Siswa Sekolah Dasar Inpres Kema III Minahasa Utara normal. Simpulan: Sebagian besar siswa di Sekolah dasar Inpres Kema III Minahasa Utara memiliki status kesehatan hidung yang baik.Kata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan hidung
SURVEI KESEHATAN HIDUNG PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI BAHU Tumbol, Andreas R.; Tumbel, R. E. C.; Palandeng, Ora I.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6512

Abstract

Abstract: Human’s health can be affected by environment and human’s behaviour. Nose is an important part of human that can be a shield of environmental disadvantages. Thisa study aimed to obtain nose health of people of Bahu coastal area. This was a descriptive observasional study with a cross sectional design. The subjects of this study were people living at Bahu coastal area. There were 31 respondents consisting of 12 men and 19 women. Nose examination showed normal result in 19 respondents and abnormality in 12 respondents. In nasal passage examination, 3.2% respondents showed narrow nasal cavities. In nasal turbinate examination, swollen conchae were found in 6.5% of respondents; swollen and pale conchae 6.5%; swollen, pale, and hypertrophic conchae in right turbinate 3.2% meanwhile in left turbinate 6.5%; and swollen, hyperemic, and hypertrophic conchae in right and left turbinate 3.2%. Hypertrophic conchae in right turbinate was 3.2% while in left turbinate was 6.5%. Pale and hypertrophic conchae in right and left turbinate was 3.2%. In nasal mucosa examination, hyperemic mucosa was 3.2% and bluish mucosa was 16.1%. In secretion examination, serous and mucoid secretion was found among 3.2% of respondents. In nasal septum examination, septum deviation was found 6.5% to the right and 3.2% to the left. Conclusion: Most of the respondents showed normal resultKeywords: health survey, nose examinationAbstrak: Kesehatan pada manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku manusia. Hidung merupakan salah satu organ penting yang menjadi pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada masyarakat pesisir pantai Bahu. Desain yang digunakan ialah penelitian deskriptif survei dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian ialah masyarakat pesisir pantai Bahu. Jumlah responden yang mengikuti penelitian ini 31 orang, terdiri dari 12 laki-laki dan 19 perempuan. Pada hasil pemeriksaan hidung didapatkan hasil normal pada 19 orang dan kelainan pada 12 orang. Pada pemeriksaan kavum nasal, kavum sempit ditemukan 3,2%. Pada pemeriksaan konka nasal, udim konka nasal 6,5%; udim dan pucat pada konka nasal 3,2%; udim, pucat, dan hipertrofi konka nasal kanan 3,2% dan konka nasal kiri 6,5%; udim, hiperemis, dan hipertrofi konka nasal 3,2%; hipertrofi konka nasal kanan 3,2% dan konka nasal kiri 6,5%; pucat dan hipertrofi konka nasal 3,2%. Pada pemeriksaan mukosa nasal, hiperemis mukosa 3,2%, dan livide mukosa 16,1%. Pada pemeriksaan sekret, serous dan mukoid 3,2%. Pada pemeriksaan septum nasal, deviasi septum ke kanan 6,5% dan ke kiri 3,2%. Simpulan: Sebagian besar responden penelitian ini memperlihatkan hasil normalKata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan hidung
Kesehatan telinga siswa Sekolah Dasar Inpres 1073 Pandu Demmasabu, Sylvester B.; Palandeng, Ora I.; Pelealu, Olivia C.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12148

Abstract

Abstract: Ear is very important in hearing and balancing. This study aimed to obtain the ear health status of students of Inpres 10/73 Elementary School at Pandu. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Subjects were students of 10/73 Pandu Elementary School. The results showed that from the 18 respondents of this study there were 8 male and 10 female students. The examination of earlobe resulted in all (100%) students had normal ear lobes. The ear canal examination showed that 88.89% of students had normal ear canals, and 11.11% of students had cerumen. The examination of tympanic membranes showed that 61.11% of students had normal tympanic membrane, meanwhile 38.89% of students had perforated or retracted tympanic membrane. Conclusion: Most of the students had normal ear health status, Keywords: ear health, ear examination Abstrak: Telinga adalah organ tubuh yang berperan penting pada proses pendengaran dan keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan telinga pada siswa-siswi SD Inpres 10/73 Pandu. Jenis penelitian ini deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ialah siswa-siswi kelas V SD Inpres 10/73 Pandu. Jumlah responden 18 siswa/i terdiri dari 8 anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Pada pemeriksaaan daun telinga didapatkan 100% normal. Pada pemeriksaan liang telinga didapatkan 88,89% normal dan 11,11% terdapat serumen. Pada pemeriksaan membran timpani persentase normal 61,11% dan persentase anak yang terdapat perforasi dan retraksi 38,89%. Simpulan: Sebagian besar siswa/i mempunyai kesehatan telinga normal.Kata kunci: kesehatan telinga, pemeriksaan telinga
Gambaran Gangguan Pendengaran Pada Penyelam Walangitan, Angelina C.; Palandeng, Ora I.; Runtuwene, Joshua
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31868

Abstract

Abstract: Hearing loss is the inability to hear sounds in one or both ears. Being a diver carries a high risk of harm, which can lead to hearing loss. This study  aimed to determine the description of hearing loss in divers. The research method used is literature review (literature study) with data search using three databases, namely Pubmed, Google Scholar and Clinical Key. The results of the study literature review conducted on eleven literature indicated that divers were very susceptible to hearing loss. In conclusion, hearing loss can occur in divers. In addition, the hearing loss most often experienced by a divers is mild deafness and ear barotrauma.Keywords: hearing loss, divers  Abstrak: Gangguan Pendengaran merupakan ketidakmampuan mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Menjadi seorang penyelam memiliki tingkat risiko bahaya yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada penyelam. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review (studi pustaka) dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Google Scholar dan Clinical Key. Hasil penelitian literature review yang dilakukan pada sebelas literatur menunjukkan bahwa penyelam sangat rentan terhadap terjadinya gangguan gangguan pendengaran. Sebagai simpulan, gangguan pendengaran dapat terjadi pada penyelam. Selain itu juga gangguan pendengaran yang paling sering dialami seorang penyelam yaitu tuli ringan dan barotrauma telinga.Kata Kunci: gangguan pendengaran, penyelam