Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Selimut Aluminium Foil Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Pada Pasien Hipotermia Pasca Anestesi Di Recovery Room Di RSUD Ajibarang Diah Febri Cahyani; Roro Lintang Suryani; Tophan Heri Wibowo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.221

Abstract

Hipotermia pasca anestesi sering terjadi dan dapat menyebabkan komplikasi seperti masalah jantung, infeksi, dan masa inap yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh selimut aluminium foil terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien hipotermia pasca-anestesi di RSUD Ajibarang. Penelitian ini menerapkan desain pra-eksperimen (one-group pre-test post-test) dengan sampel 20 responden yang diambil melalui purposive sampling. Data dikumpulkan lewat kuesioner dan observasi, lalu dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebanyak 95% responden (19 orang) mengalami hipotermia ringan. Berdasarkan uji Wilcoxon (p = 0,000), ditemukan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan selimut aluminium foil. Kesimpulannya, selimut ini terbukti efektif dalam menaikkan suhu tubuh pasien pasca anestesi di RSUD Ajibarang.
Hubungan Hipotensi Dengan Kejadian Intraoperative Nausea And Vomiting (IONV) Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal Di RSUD Pandega Pangandaran Achmad Alfan Asyrofi; Martyarini Budi Setyawati; Roro Lintang Suryani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.237

Abstract

Hipotensi yang terjadi pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal beresiko menyebabkan mual dan muntah yang disebabkan pengurangan aliran darah ke batang otak dan pengaruh pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipotensi dengan kejadian intraoperative nausea and vomiting (IONV) pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal di Rsud Pandega Pangandaran. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 93 pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal di RSUD Pandega Pangandaran. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara hipotensi dan IONV. Dari 93 pasien, sebanyak 50 responden (53,8%) berusia 26–35 tahun dan 44 responden (47,3%) memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori Obesitas Tingkat I (25–29,9). Sebanyak 59 pasien (63,4%) mengalami hipotensi dan 24 pasien (25,8%) mengalami IONV. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara hipotensi dan kejadian IONV (p = 0,019 atau <0,05). Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara kejadian hipotensi dengan mual dan muntah intraoperatif (IONV) pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal. Temuan ini menekankan pentingnya penatalaksanaan hipotensi untuk mencegah IONV.
Gambaran Cost Of Anesthesia Berdasarkan Jenis Anestesi, Jenis Pembedahan Dan Durasi Pembedahan Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedirman Kebumen Kinara Ayu Armonica; Martyarini Budi Setyawati; Roro Lintang Suryani; Kevin Al Kautsar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.265

Abstract

Biaya anestesi merupakan salah satu komponen utama dalam operasional rumah sakit, teruntuk prosedur bedah, sehingga pengelolaannya penting untuk meningkatkan efisiensi layanan dan menjaga kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengidentifiksi komponen berdasarkan jenis anestesi yang digunakan (general anestesi, regional anestesi, dan lokal anestesi), jenis pembedahan (ringan, sedang, dan besar), dan durasi operasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel terdiri dari 326 tindakan anestesi selama Februari 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya anestesi tertinggi terjadi pada pembedahan besar dengan GA (ETT) dan durasi >120 menit (Rp3.296.605,54), sedangkan biaya terendah pada pembedahan ringan dengan lokal anestesi dan durasi <60 menit (Rp395.997,00). Total biaya anestesi selama satu bulan mencapai Rp480.393.769,48. Biaya anestesi tergantung oleh jenis anestesi, jenis pembedahan, durasi operasi, dan faktor-faktor yag mempengaruhi biaya anestesi lainnya.
EDUKASI HIPERTENSI DAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI PANTI WREDA BUDI DHARMA KASIH Putri Elviningsih Zendrato; Tophan Heri Wibowo; Roro Lintang Suryani
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 4 (2024): Vol. 1 No. 4 Edisi Oktober 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i4.301

Abstract

Elderly or elderly is the final stage of life characterized by physiological changes that are increasingly declining, one of which is in cardiovascular disease. Hypertension is a chronic condition characterized by increased blood pressure on the walls of arterial blood vessels. Based on a pre-survey at Panti Wreda Budi Dharma Kasih, it was found that more than half of the elderly experienced hypertension due to a lack of elderly knowledge about hypertension. This community service activity aims to educate the elderly about hypertension and invite the elderly to have a good lifestyle. This activity was carried out at Panti Wreda Budi Dharma Kasih attended by 27 participants. The PKM method is carried out by checking the blood pressure of the elderly using a sphygmomanometer and stethoscope. Screening of PKM participants is elderly people with a minimum age of 60 years who can hear and see. The provision of education is carried out by lecture method using power points containing the definition of hypertension and elderly causative factors and ways to prevent hypertension, then a question and answer session is held. Data collection on the level of knowledge was carried out using pre-education and post-education questionnaires. The results of this activity show an increase in knowledge in the elderly after providing education for 3 meetings.  
PERBEDAAN MEAN ARTERIAL PRESSURE (MAP) PADA GENERAL ANESTESI TIVA DAN SPINAL ANESTESI: STUDI DESKRIPSI Nur Kholiqin; Rahmaya Nova Handayani; Roro Lintang Suryani
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 4 (2024): Vol. 1 No. 4 Edisi Oktober 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i4.316

Abstract

Di dunia yang sempurna, anestesi umum akan memberikan sejumlah manfaat, termasuk induksi yang tenang, hilangnya kesadaran yang diperkirakan, keadaan intraoperatif yang stabil, efek samping yang sedikit, serta pemulihan refleks dan keterampilan motorik yang cepat dan tanpa rasa sakit. Sejak diperkenalkan pada praktik klinis, anestesi umum telah berevolusi dan berubah secara signifikan, bersama dengan anestesi intravena total (TIVA), kami menetapkan untuk membandingkan Mean Arterial Pressure (MAP) anestesi spinal dengan TIVA anestesi umum. Sebuah studi kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif adalah teknik analisis yang dipilih. Empat puluh orang berpartisipasi dalam penelitian ini sebagai bagian dari metode total sampling. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa 28 pasien, atau 70% dari total pasien, termasuk dalam kelompok usia 19-45 tahun. Mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 27 (67,5%) pasien. Berdasarkan jenis pembedahan mayorits bedah umum sebanyak 22 (55%) pasien. Bredasarkan durasi pemebedahan mayoritas < 1 jam sebesar 22 (55%) pasien. Dan berdasarkan status fisik ASA mayoritas 24 (60%) pasien semua dari jumlah responden 40 pasien.Berdasarkan tingkat MAP dapat diketahui bahwa mayoritas pasien pada general anestesi TIVA mengalami tingkat MAP mayoritas nilai maximum 120 terdapat responden 8 (20%) repondendengan persentase sebesar 100%. Berdasarkan spinal anestesi tingkat MAP mayoritas nilai rata-rata 85,83 terdapat responden 15 (37,5%) dengan menunjukkan bahwa mayoritas pasien dengan pembiusan general anestesi dan spinal anestesi tidak mengalami perubahan MAP atau perubahan hemodinamik yang segnifikan di rumah sakit dedy jaya. Tingkat Mean Arterial Pressure (MAP) berdasarkan sebelum dilakukan pembiusan dan sesuadah pembiusan Sebelum dilakukan pembiusan Variabel MAP dari reponden 40 didapatkan nilai standar deviasi 13,190 lebih kecil dari pada mean yaitu 87.65 artinya sebaran data semakin mendekatin nilai mean. Nilai maksimum dan minimum dari variabel ini adalah 48 dan 108.
Hubungan Perilaku Caring Penata Anestesi dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operasi : The Relationship between Caring Behavior of Anesthesia Nurses and Praoperative Anxiety Levels in Patients Nurul Kharisma Yoisangadji; Roro Lintang Suryani; Amin Susanto
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.212

Abstract

Pendahuluan: Sikap caring penata anestesi pada pasien sangat penting dilakukan sehingga pasien akan merasa diperhatikan, merasa aman dari situasi yang mengancam atau situasi yang dapat menyebabkan stress. Kondisi pra operasi dapat meningkatkan kecemasan pasien dan sikap caring dari seorang penata anestesi ini dapat memberi rasa nyaman dan membantu pasien dalam meningkatkan perasaan percaya atas tindakan operasi yang akan dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku caring penata anestesi dengan tingkat kecemasan pasien pra operasi di RSUD Labuang Baji Sulsel. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien  yang akan dilakukan operasi  di RSUD Labuang Baji Sulawesi Selatan yang berjumlah 92 responden, teknik pengambilan sampel purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil: analisis univariat variabel pelayanan caring paling banyak adalah penata anestesi selalu caring sebanyak 41 orang (44,6%), tingkat kecemasan paling banyak adalah cemas ringan sebanyak 55 orang (59,8%), dan hasil uji chi square exact didapatkan nilai p=0,000 (p<α=0.05) Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pelayanan caring penata anestesi dengan tingkat kecemasan pasien pra operasi.
Incidence of Post-Dural Puncture Headache in Post-Caesarean Section Patients with Spinal Anesthesia Roro Lintang Suryani; Khofifah Tresno Putri; Dwi Novitasari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.4169

Abstract

Delivery via caesarean section can lead to complications, one of which is Post-Dural Puncture Headache (PDPH). PDPH occurs within 3 days, with 66% of PDPH cases emerging within the first 48 hours post-puncture. Although PDPH manifestations may spontaneously recover within one week or after the leak seals, PDPH disrupts the care provided by the mother for her baby. The purpose of this study to determine the incidence of PDPH in post-caesarean section patients with spinal anesthesia at RSUD Kardinah Tegal City. This quantitative research utilized a descriptive design with a cross-sectional approach. The sample size was 35, selected through total sampling, with the sample characteristics being patients aged 17-45 years, ASA 1-2, and 48 hours post-operation. The data was collected through observations using the International Headache Society questionnaire (IHS). Data analyzed with univariate analysis aimed at seeing a picture of the frequency distribution of each variable. The results indicate that PDPH occurred in 2 respondents (5.7%) at 48 hours post-caesarean section with spinal anesthesia, and in 3 respondents (8.6%) at 72 hours. The highest percentage of PDPH incidence at RSUD Kardinah Tegal City was observed within the first 72 hours post-caesarean section with spinal anesthesia. Based on these results, it is evident that post-caesarean section patients can experience PDPH on the third day, which can be used for evaluation and care planning for these patients.
Gambaran Kelengkapan Dokumentasi Assessment Pra Induksi di Rumah Sakit Jatiwinangun Yuniani Candrasari; Roro Lintang Suryani; Madyo Maryoto; Aris Nur Rahmat
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11911

Abstract

ABSTRAK Assessment pra induksi merupakan tahapan penting sebelum tindakan anestesi dan pembedahan untuk memastikan kondisi pasien serta meminimalkan risiko komplikasi perioperatif. Dokumentasi assessment pra induksi yang lengkap berfungsi sebagai sumber informasi medis, sarana komunikasi antar tenaga kesehatan, serta bukti pelayanan kesehatan. Dalam pelaksanaannya kelengkapan dokumentasi masih belum memenuhi standar 100% sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi di Rumah Sakit Jatiwinangun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap 106 dokumen rekam medis pasien anestesi umum periode Juli–Agustus 2025 menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dokumen berasal dari pembedahan elektif sebanyak 96 dokumen (90,6%), sedangkan pembedahan cito sebanyak 10 dokumen (9,4%). Pada pembedahan elektif, tingkat kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi sebesar 54% dan ketidaklengkapan sebesar 46%. Sementara pada pembedahan cito, tingkat kelengkapan dokumentasi sebesar 40% dan ketidaklengkapan sebesar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi pada pembedahan cito lebih rendah dibandingkan dengan pembedahan elektif. Secara keseluruhan, kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi belum mencapai standar 100% sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. ABSTRACT Pre-induction assessment is a crucial step before anesthesia and surgery to ensure patient condition and minimize the risk of perioperative complications. Complete pre-induction assessment documentation serves as a source of medical information, a means of communication between healthcare professionals, and evidence of healthcare services. In practice, the completeness of documentation still does not meet 100% standards according to the hospital's Minimum Service Standards (SPM). This study aims to determine the completeness of pre-induction assessment documentation at Jatiwinangun Hospital. This study used a quantitative descriptive method with a retrospective approach. Data were collected through observation of 106 medical records of general anesthesia patients from July to August 2025 using a total sampling technique. Data analysis was performed univariately in the form of frequency distribution and percentage. The results showed that the majority of documents came from elective surgery (96 documents (90.6%)), while 10 documents came from emergency surgery (9.4%). In elective surgery, the completeness of pre-induction assessment documentation was 54% and incompleteness was 46%. Meanwhile, in emergency surgery, the completeness of documentation was 40% and incompleteness was 60%. This indicates that the level of completeness of pre-induction assessment documentation in emergency surgery is lower than in elective surgery. Overall, the completeness of pre-induction assessment documentation has not reached 100%, as per the Hospital Minimum Service Standards (SPM).
Hubungan Status Fisik Asa Dengan Waktu Pulih Sadar Pasien Pasca Anestesi Umum Di Rumah Sakit Jatiwinangun Purwokerto Salsabilla Regina Putri Ummayah; Roro Lintang Suryani; Madyo Maryoto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1232

Abstract

Tindakan pembedahan dengan anestesi umum dapat menimbulkan perubahan fisiologis pada tubuh pasien, terutama pada fase pasca operasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah keterlambatan waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Kondisi ini dapat mempengaruhi stabilitas hemodinamik, fungsi pernapasan, dan keselamatan pasien. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan waktu pulih sadar adalah status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar pasien pasca anestesi umum di RS Jatiwinangun Purwokerto. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 44 responden. Data karakteristik responden (usia, jenis kelamin, dan lama operasi) diperoleh dari rekam medis, sedangkan status fisik ASA dinilai menggunakan lembar observasi preoperatif. Waktu pulih sadar diukur menggunakan lembar observasi Aldrete Score yang meliputi aktivitas, pernapasan, sirkulasi, kesadaran, dan warna kulit. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Kendall’s tau-b. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki status fisik ASA II sebanyak 18 responden (40,9%) dan waktu pulih sadar kategori cepat sebanyak 27 responden (61,4%). Hasil uji Kendall’s tau-b menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,973 yang berarti terdapat hubungan sangat kuat dan positif antara status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Semakin tinggi status fisik ASA pasien, maka waktu pulih sadar cenderung semakin lama. Penelitian ini menunjukkan bahwa status fisik ASA berhubungan signifikan dengan waktu pulih sadar pasien pasca anestesi umum di RS Jatiwinangun Purwokerto.