Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Literatus

Perlindungan Pembela HAM atas Hak Kesehatan di Jawa Tengah Helen Intania; Rizky Amelia
LITERATUS Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i1.731

Abstract

Pembela Hak Asasi (HAM] atau yang lebih dikenal dengan sebutan Human Rights Defenders (HRD), sebenarnya adalah istilah yang tidak terlampau asing di Indonesia. Bekerja dalam menegakkan hak-hak perempuan menimbulkan kerentanan bagi para pembela HAM. Akumulasi kronis stres fisik, psikologis, ekonomi, dan sosial yang disebabkan oleh risiko tinggi, ancaman, kekerasan, dan kerentanan menyebabkan WHRD mengalami berbagai masalah kesehatan antara lain kanker payudara, kanker ovarium, kanker otak, stroke, keguguran, lahir mati dan kematian saat melahirkan. Kebanyakan WHRD tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga mereka atau keluarganya harus membayar sendiri biaya pengobatannya. Kondisi khusus dan kerentanan WHRD sebagaimana tersebut di atas belum terakomodasi. Oleh karena itu, ketika risiko kesehatan tersebut di atas terjadi, WHRD merasa kesulitan untuk melaporkan situasi mereka dan mendapatkan akses untuk dukungan dan perlindungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, menemukan, dan menganalisis pembela HAM atas hak kesehatan di Jawa Tengah beserta meknaisme perlindungannya. Penelitian ini akan dilakukan di Jawa Tengah menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode pendekatan yuridis empiris. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui riset lapangan dan riset perpustakaan. Semua data yang diperoleh akan dianalisis dan disusun secara teratur dan sistematis dalam bentuk laporan penelitian untuk ditarik kesimpulan secara induktif. Luaran yang ditargetkan dalam penelitian ini adalah accepted pada jJurnal terakreditasi.
Analisis Penanganan Kekerasan Seksual berbasis Online dalam Konstruksi Hukum di Indonesia Helen Intania; Wahyu Satria WPW
LITERATUS Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Internasional Sosial dan Budaya
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v4i2.729

Abstract

During the pandemic, most of the community's activities were carried out at home by doing work from home and school from home . At the beginning of 2021 internet users in Indonesia reached 202.6 million people or 73.3% of the total population of Indonesia. The more massive communication via online does not rule out the greater the possibility of online gender-based violence (KBGO) in social media. In the last 3 years, cases of online-based sexual violence (KSBO), which is a form of KBGO, have continued to increase in Indonesia, including during the Covid period. From 2019 and 2020, Komnas Perempuan has recorded 455 cases of onlinebased violence against women reported through victim service agencies. The existence of the Law on Criminal Acts of Sexual Violence (UU TPKS) is important to protect sexual violence, including KSBO. The TPKS Law is expected to adequately regulate KSBO not only in its form but also in the protection of victims of KSBO. This research uses normative juridical research with a qualitative case approach. Based on the results of the research, there are 9 forms and patterns of online-based sexual violence, which consist of: 1) Undesirable production of sexualnuanced Electronic Material/Information; 2) Modification of sexually nuanced material/information; 3) Threats of Dissemination of Sexual Material/Information; 4) Dissemination of material/electronic information with sexual nuances; 5) Selling material/electronic information with sexual nuances; 6) Sexual Harassment; 7) Sexual Exploitation; 8) Sexual Bullying and 9) Sexual stalking. This KSBO mode varies; both the media used and the purpose/motivation of the actions taken. The complexity of handling KSBG cases is caused by layered and continuous barriers in assisting victims of online-based sexual violence