Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Hidroteknik

STUDI PERENCANAAN PIPA TRANSMISI DALAM PEMANFAATAN SUMBER MATA AIR UMBULAN UNTUK KOTA SURABAYA Indra Cahya Purnama; Nadjadji Anwar; Wasis Wardoyo
Jurnal Hidroteknik Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.959 KB) | DOI: 10.12962/jh.v1i1.1662

Abstract

Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Timur berencana untuk memanfaatkan sumber air artesis di Umbulan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakatnya. Air tersebut akan dialirkan melalui pipa ke beberapa daerah, yaitu Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, dan Kota Gresik. Pipa yang akan terbentang dari Umbulan hingga Kota Gresik ini akan dibangun oleh Pemprov Jawa Timur. Pemprov Jawa Timur akan menyediakan offtake pada setiap kota yang dilewati pipa tersebut. Selanjutnya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masing-masing kota akan mengelola air tersebut dan didistribusikan kepada masyarakat. PDAM Surya Sembada Kota Surabaya direncanakan menerima debit 1000 liter/detik dari proyek ini. Saat ini Surabaya memiliki enam instalasi penjernihan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih warganya. Instalasi tersebut tersebar di dua tempat yaitu tiga unit di Ngagel dan tiga unit di Karang Pilang. Kapasitas dari instalasi tersebut adalah 10.830 liter/detik. Studi ini dilakukan terhadap pipa transmisi yang akan dibangun oleh PDAM Surya Sembada Kota Surabaya dalam pemanfaatan sumber mata air Umbulan. Analisanya meliputi perhitungan debit kebutuhan air di wialayah rencana pelayanan, dimensi pipa, volume reservoir, pemilihan tipe pompa dan analisa perkiraan biaya untuk membangun pipa transmisi tersebut. Dari hasil studi didapat pipa transmisi yang efisien dalam mengalirkan air umbulan ini adalah pipa steel berdiameter 500 dengan pompa bertekanan 70,23 meter.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI SALURAN IRIGASI MATARAM Titis Haryani; Wasis Wardoyo; Abdullah Hidayat
Jurnal Hidroteknik Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.422 KB) | DOI: 10.12962/jh.v1i2.1672

Abstract

Saluran Irigasi Mataram adalah saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo di Yogyakarta sebelah Barat dan Sungai Opak di Yogyakarta sebelah Timur. Meskipun letaknya strategis, namun potensi aliran air di Saluran Irigasi Mataram belum dimanfaatkan secara maksimal dalam hal pembangkit listrik tenaga air. Menurut kapasitas daya yang dihasilkan, ada beberapa macam pembangkit listrik tenaga air, salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro adalah pembangkit listrik skala kecil dengan daya kurang dari 100 KW. Tenaga air yang digunakan dapat berupa aliran sungai yang dibendung, air terjun, dan aliran air pada sistem irigasi. Ditinjau dari ketersediaan air di Saluran Irigasi Mataram, yaitu debit andalan 85% sebesar 1,7 m³/detik dan beda tinggi sebesar 3,56 meter, Saluran irigasi Mataram berpotensi untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ini berdasarkan pada studi literatur, survei lapangan, dan analisa data. Dari perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ini akan menghasilkan daya sebesar 59,37 kW dan energi listrik yang dihasilkan sebesar 358938, 69 KWH per tahun
EVALUASI JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH WILAYAH ZONA 2 PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM SURYA SEMBADA KOTA SURABAYA DENGAN PROGRAM WATERGEMS V8I Evieq Riyanto; Wasis Wardoyo
Jurnal Hidroteknik Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jh.v3i2.14036

Abstract

Surabaya memiliki pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur yg pesat. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan fasilitas umum maka kebutuhan air bersih akan meningkat. Sebagai contoh kasus di wilayah Surabaya Timur sering terjadi kekurangan air pada saat jam puncak. Wilayah Surabaya Timur dan sekitarnya termasuk dalam zona 2 PDAM Kota Surabaya . IPAM Ngagel III sebagai penyedia air bersih di wilayah zona 2 memiliki kapasitas produksi 1750 lt/dt dengan cakupan pelayanan 92.65 % dan kehilangan air 24.79 %. Dalam penelitian ini akan ditinjau kebutuhan air di wilayah zona 2 untuk 20 tahun ke depan.Untuk mencapai tujuan penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: analisa pertumbuhan penduduk, analisa kebutuhan air, dan analisa hidraulik dari jaringan yang sudah ada. Analisa pertumbuhan penduduk digunakan 3 metode yaitu aritmatik, geometrik, dan least square. Analisa kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan air domestik, non domestik dan kehilangan air. Untuk analisa parameter hidraulik menggunakan software WaterGEMS v8i.Hasil dari analisa penduduk digunakan metode geometrik dengan pertumbuhan penduduk 1.88 % didapatkan jumlah  penduduk pada tahun 2036 sebesar 897867 jiwa. Kebutuhan harian rata-rata air bersih pada tahun 2016 adalah 1931.83 lt/dt dan pada tahun 2036 kebutuhan harian rata-rata sebesar 2816.47 lt/dt. Dari analisa menggunakan debit pelanggan  dan jaringan pipa eksisting didapatkan besarnya tekanan pada saat jam puncak   (-1.19 atm – 3.32 atm) dan kecepatan aliran  (0.04 m/dt – 3.86  m/dt).
PENGARUH SEDIMENTASI TERHADAP KOEFISIEN DEBIT PADA MODEL ALAT UKUR FAIYUM Dede Rianto; Wasis Wardoyo; Danayanti Azmi Dewi Nusantara
Jurnal Hidroteknik Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jh.v3i2.14041

Abstract

Alat ukur ambang lebar tipe Faiyum mulai banyak dikenal dan digunakan di jaringan Irigasi di Indonesia. Perbedaan alat ukur Faiyum dengan alat ukur ambang lebar terletak pada posisi bangunan ukur yang dipasang langsung melintang saluran tanpa adanya saluran pengarah seperti pada alat ukur ambang lebar.Setiap alat ukur yang dipasang di jaringan irigasi di Indonesia seharusnya memenuhi standarisasi jenis alat ukur yang dikeluarkan oleh pihak Pemerintah dalam Standard Perencanaan Irigasi Departemen PU, 1986 dan memenuhi ISO Standart Hanbook 16 tahun 1983. Sedangkan alat Ukur Faiyum baik penggunaan maupun alatnya belum ada ketentuan peraturan yang memuat.Maka dari itu perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai penerapan penggunaan alat ukur tipe Faiyum, terutama pada penetapan koefisien debit (Cd) yang digunakan. Semakin besar nilai Cd yang di dapatkan makan semakin efektif pula alat ukur tersebut. Besarnya koefisien debit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi geometri penampang dan sedimen yang ada pada alat ukur. Sehingga dilakukan suatu studi dengan membuat model eksperimental dilaboratorium dengan skala 1 : 2.667 beserta dengan kondisi sedimentasi yang terjadi. Model tersebut dibuat dengan mengacu pada kondisi di lapangan sehingga duharapkan model tersebut dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Selanjutnya dilakukan perbandingan antara hasil koefisien debit alat ukur Faiyum dengan alat lain yaitu dengan alat ukut Thompson. Alat ukur Thompson juga berfungsi sebagai kalibrator untuk mengetahui keakuratan dari alat ukur Faiyum karena selain sudah terkalibrasi dengan baik, letak alat ukur Thompson sejajar dan tidak terlalu jauh (satu saluran)  dengan alat ukur Faiyum.
SIMULASI KESTABILAN KONSOLIDASI-DAM DI HILIR SYPHON LEMURUNG KALI KONTO TERHADAP FUNGSI BEBAN STATIS DAN DINAMIS Ahmad Na’im Musyafiq; Wasis Wardoyo; Danayanti Azmi Dewi Nusantara
Jurnal Hidroteknik Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jh.v3i1.14031

Abstract

Gunung Kelud yang berada di wilayah Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pasca erupsi pada awal tahun 2014, Gunung Kelud menyisakan sejumlah material vulkanik yang masih tertahan di lereng gunung berupa abu, pasir, pasir dan kerikil. Material tersebut apabila bercampur dengan air akan membentuk suatu aliran yang disebut lahar dingin. Bangunan konsolidasi dam di hilir syphon lemurung merupakan salah satu upaya menghindari bencana yang diakibatkan oleh bahaya aliran lahar Gunung Kelud yang melewati aliran Kali Konto. Dari hasil analisa didapatkan kapasitas volume tampngan sedimen maksimum konsolidasi dam syphon lemurung adalah 30926,25 m3. Laju sedimen pada kali konto adalah 67,1875 m3/hari. Waktu untuk memenuhi tampungan sedimen adalah u460 hari. Dari hasil simulasi kestabilan diketahui semakin tinggi massa jenis material (W) maka semakin rendah kestabilan bangunan. Syarat kestabilan mempengaruhi  ketinggian tampungan sedimen pada kondisi kritis. Dari hasil simulasi rasio kelangsingan didapatkan dimensi rencana yang memenuhi syarat kestabilan adalah tinggi dam (h1) = 1m – 5m dan lebar dam (b) = 8m - 10m. Sehingga dimensi eksisting konsolidasi dam syphon lemurung merupakan dimensi yang sudah efektif.
PERENCANAAN ULANG SALURAN SEKUNDER BABATAN SURABAYA Fitranda Firdaus; Wasis Wardoyo
Jurnal Hidroteknik Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jh.v3i2.14040

Abstract

Kawasan Surabaya Barat terutama daerah Menganti, Babatan UNESA dan Babatan Indah merupakan daerah yang sering terjadi banjir. Hal ini terjadi karena pengalihan tata guna lahan terutama untuk pembangunan pemukiman baru. Pembangunan pemukinan tersebut mengakibatkan limpasan air menuju sistem drainase meningkat dan membuat saluran eksisting tidak dapat menampung air yang mengalir. Terutama di kawasan padat sekitar Saluran Sekunder Babatan.Untuk itu dilaksanakan perencanaan ulang sistem drainase di wilayah Saluran Sekunder Babatan. Perencanaan ulang diawali dengan pengambilan data kondisi eksisting dan data hujan disaluran. Data kondisi eksisting digunakan untuk mengetahui titik-titik genangan dan kapasitas saluran eksisiting. Data hujan digunakan untuk mendapatkan debit inflow yang masuk disaluran. Debit inflow dihitung dengan menggunakan analisa hidrologi sedangkan kapasitas eksisting dihitung menggunakan analisa hidrolika. Disaat kapasitas saluran eksisting melebihi debit yang masuk, maka saluran eksisting tidak bermasalah. Jika kapasitas eksisting kecil dari debit yang masuk, akan ada genangan dan ditanggulangi dengan pembangunan kolam tampung dan perbaikan saluran. Pada analisa awal beberapa saluran eksisting tidak dapat menampung debit yang masuk sehingga dilakukan perbaikan untuk daerah saluran tersier dan penambahan kolam tampung di kawasan sekunder. Perencanaan kolam tampung dilengkapi menggunakan tambahan pompa, dan dalam operasional kolam tampung dilengkapi dengan pintu air.Dari hasil analisa didapatkan luas kolam tampung yang didesain sebesar 40 m x 400 m x 1.8 m. Kolam tampung juga didesain dilengkapi dengan 2 pompa dengan kecepatan 1 m3/dtk dan 1.5 m3/dtk. Pintu air direncanakan memiliki lebar 2.2 m, tinggi 1.2 m dan tinggi bukaan 0.47 m.