Jannes Freddy Pardede
Universitas Kristen indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEACHING INDONESIAN SONGS' MELODY IN TEACHING ESL/EFL CLASSROOM Jannes Freddy Pardede
Proceedings of ISELT FBS Universitas Negeri Padang Vol 3 (2015): Proceedings of 3nd International Seminar on English Language Teaching (ISELT)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.055 KB)

Abstract

Young leamers sometimes get bored even frustrated to learn English. There are many reasons why they feel like this. One of them is an inappropriate method of teaching. Psychologically, children usually like to play, relax, and have fun. They tend to be so dynamic and easily change their ccncentration from one to another. This situation also occurs in learning English. Therefore, teachers of English should be more creative in creating and applying various kinds of games, songs and any other activities. In this paper, the writer would like to show the influence of Indonesian songs' melody in learning English for young learners. Based on the writer's experience, teaching English songs is an effective way in attracting young leamer's concentration in learning English. In teaching, the writer translates some Indonesian songs' lyrics such as Bangun Tidur and Burung Kakak tua into English lyrics first. Through this way, learners can more focus on English words without getting difficulties in learning melody or rhythm of the scngs anymore because most of them have already been familiar with the songs in Indonesian version. The followings are some benefits of teaching English songs for young learners: l). Young learners become more active and enjoyful in learning English, 2) they can learn vocabulary with fun, 3) they can pronounce rvords nearly look like native speakers, 4) they can learn grammatical forms unconsciously, and 5) they can be more alert on spelling and corrected sounds.
Program Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Pengungsi dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika: Studi Kasus di Bogor dan Jakarta Susanne A.H. Sitohang; Devina Christania; Jannes Freddy Pardede; Lea Maria Moningka; Yeni Masus; Yepsan
ACITYA BHAKTI Vol. 6 No. 1 (2026): ACITYA BHAKTI
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/acb.v6i1.59037

Abstract

Bahasa merupakan pintu masuk bagi terciptanya koherensi budaya dan kesetaraan dalam kehidupan. Hal inilah yang melandasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Fakultas Sastra dan Bahasa (FSB) untuk memberikan pembelajaran bahasa Indonesia bagi para pengungsi asal Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika yang bernaung di Cipayung, Puncak, Bogor. Melalui artikel ini, ditunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia bagi pengungsi tersebut memberikan manfaat terutama dalam menumbuhkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia ini memberikan pembelajaran kosakata hingga kalimat sederhana untuk berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara menyenangkan dengan metode collaborative dan active learning untuk memberikan kesempatan pada pengungsi untuk saling berkenalan, bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan sesama pengungsi maupun orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Sebagian besar pengungsi belajar kosakata untuk meningkatkan kepercayaan diri, tampil, dan memperkenalkan identitasnya. Dari kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia ini dapat ditunjukkan bahwa mempelajari bahasa Indonesia dapat memberikan kesempatan luas untuk mengenal budaya Indonesia sekaligus membuka ruang selebar-lebarnya bagi pengungsi untuk mengekspresikan diri dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam bergaul dengan masyarakat--mengubah stigma bahwa pengungsi merupakan kelompok yang rentan untuk menjadi manusia seutuhnya yang setara dan diterima.