Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BODY SHAMING, CITRA TUBUH IDEAL DAN KAUM MUDA KAMPUS: STUDI FENOMENOLOGI TERHADAP MAHASISWA UNS Dian Yustika Sari; Yuyun Sunesti
Journal of Development and Social Change Vol 4, No 2 (2021): Volume 4 no. 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v4i2.50718

Abstract

Body shaming merupakan perbuatan mengolok-olok tubuh seseorang yang dinilai tidak sesuai dengan kriteria tubuh ideal menurut masyarakat luas. Tuntutan untuk mencapai tubuh ideal ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan, namun juga laki-laki, serta dialami oleh berbagai usia, mulai dari usia anak, remaja, hingga dewasa. Meskipun banyak penelitian terdahulu yang menemukan bahwa body shaming terbukti berdampak negatif pada kehidupan sosial dan kesehatan psikologis korban, namun tindak body shaming ini nyatanya masih terus terjadi sampai sekarang. Penelitian ini dilakukan di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), yang mana seorang mahasiswa dituntut untuk dapat menghargai segala perbedaan yang ada, salah satunya perbedaan bentuk fisik seseorang. Namun nyatanya, tindak body shaming ini pun masih terjadi pada mahasiswa UNS. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman body shaming yang dialami oleh mahasiswa UNS. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teori Tubuh Sosial Anthony Synnott dipilih untuk menjelaskan pemaknaan tubuh ideal dan faktor penyebab terjadinya body shaming, serta teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer dipilih untuk menjelaskan respon korban dalam menghadapi body shaming. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh ideal dimaknai sebagai tubuh yang tinggi dengan berat badan proporsional, berkulit putih atau sawo matang, wajah tidak berjerawat, dan rambut rapih, serta dapat membuat diri sendiri merasa nyaman, memiliki kepercayaan diri, dan pembawaan yang bahagia. Kemudian, faktor penyebab terjadinya body shaming yang dialami oleh mahasiswa UNS yaitu karena adanya konstruksi tubuh ideal dan ketidakpekaan sosial. Selanjutnya, bentuk-bentuk body shaming yang diterima oleh mahasiswa UNS terbagi ke dalam 2 kategori yaitu; (1) Ucapan, dan (2) Ucapan sekaligus tindakan. Kemudian, respon yang diberikan oleh korban body shaming yaitu; (1) Mengabaikan, (2) Melawan pelaku, (3) Menanggapi dengan candaan, dan (4) Memberikan pengertian.
Putri Muslimah Indonesia 2014: Redefining Indonesian Muslim Women Identity Yuyun Sunesti
Jurnal Sosiologi Agama Vol 6, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.572 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2014.%x

Abstract

Tulisan ini mengungkap berjalinkelindannya kesalehan, kecantikan dan industri yang ditampilkan oleh kontes kecantikan Putri Muslimah Indonesia 2014 yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia pada pertengahan Mei tahun ini. Melalui tagline yang dipilih “menjadi perempuan Indonesia sejati”, kontes ini diadakan untuk memilih perempuan muslimah, berjilbab, cantik dan juga memiliki bakat entertainer yang akan diproyeksikan menjadi sosok entertainer yang menarik sekaligus religius. Fenomena kontes kecantikan Islami yang menjamur beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya gejala gerakan kesalehan baru di ruang publik di Indonesia dimana perempuan mampu menampilkan dirinya sekaligus sebagai yang religius dan modern. Gejala ini juga membantah prediksi Peter L Berger yang meyakini bahwa masyarakat dunia pasca modern akan mengalami penurunan minat pada hal-hal yang berbau agamis.
Peran Inovasi Digital Melalui Program KRENOVA sebagai Strategi Ketahanan Sosial Urban di Kota Surakarta Oktovia Putri Ramadhani; Nugraheni Dwi Hastuti; Yuyun Sunesti
Jurnal Bengawan Solo Pusat Kajian Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Surakarta Vol. 4 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Bengawan Solo
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58684/jbs.v4i2.202

Abstract

The economic crisis affecting urban communities has created complex social challenges, such as rising unemployment, economic inequality, and declining community solidarity. This study aims to examine the role of digital innovation integrated into the Community Creativity and Innovation Program (KRENOVA) as a strategy for strengthening social resilience in urban areas, specifically in Surakarta City. Using a literature study method and a descriptive-analytical approach, this research provides a comprehensive understanding of how digital innovation can enhance social connectivity, citizen participation, and community-based economic empowerment. The findings show that digital initiatives—such as online public service platforms, MSME digitalization, and community communication channels—help sustain social networks during crises. KRENOVA, facilitated by the Regional Research and Innovation Agency (BRIDA), also promotes the development of adaptive solutions rooted in local wisdom. The synergy between technology, community participation, and public policy effectively shapes a resilient, inclusive, and sustainable social system. This study emphasizes the importance of collaborative approaches in building urban social resilience that responds to the economic and social dynamics of urban life.
The Commodification of Piety: Negotiating Zuhud and Consumerist Subjectivities among Students in Modern Islamic Boarding Schools Ratnasih Ratnasih; Aris Arif Mundayat; Yuyun Sunesti
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 10 No. 2 (2025): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v10i2.6744

Abstract

Modern Islamic boarding schools (pesantren) in Indonesia have traditionally instilled the value of zuhud—simplicity and detachment from worldly materialism—as a core principle of Islamic spirituality. However, modern pesantren increasingly enroll students from upper-middle-class families, who bring exposure to consumer culture, creating a fundamental tension between religious teachings that emphasize zuhud and the pervasive influence of consumerism, which celebrates material acquisition and social status. This study examines how female students (santri) at modern pesantren navigate the tension between Islamic values of zuhud and the pressures of contemporary consumer culture. This research addresses a critical gap in understanding how young religious women actively negotiate these competing influences, rather than passively accepting either religious doctrine or consumer messages. It reveals how female students (santri) reconstruct their religious identity to create contemporary forms of religiosity relevant to modernity. Using Baudrillard's theory of consumer society and Bourdieu's theory of field, habitus, and social capital, a case study was conducted at Assalaam Modern Islamic Boarding School in Sukoharjo through in-depth interviews with 15 female students who had lived there for 3-6 years and came from upper-middle-class economic backgrounds. The findings identified three negotiation types: Minimalist-Pragmatic Students, who maintain simplicity through structured consumption; Selective Negotiator Students, who develop religious justifications to legitimize consumption; and Adaptive Consumer Students, who are highly influenced by peer groups and social media. All respondents acknowledged the influence of social media, with the Fear of Missing Out (FOMO) being the primary driver for purchasing expensive items. Brand dominance (Rabbani hijabs, Adidas, Nike, Corkcicle) creates conformity pressure. The research reveals that female students (santri) actively reconstruct religious identity to accommodate modern realities, creating contemporary zuhud—a reinterpretation of simplicity as religiously responsible consumption rather than complete material rejection. Female students (santri) are active agents constructing a blend of religious-consumer identities, creating a new form of religiosity relevant to modernity.