Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Neurona

Neurointervensi Prabowo, Fajar
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 41 No 4 (2025): Volume 41 Nomor 4, September 2025
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v41i4.842

Abstract

Sejarah Neurointervensi dimulai pertama kali oleh Prof. Egas Moniz, seorang kebangsaan Portugese yang mendapatkan perhargaan Nobel kedokteran melakukan penemuan prosedur angiografi pada tahun 1928 kemudian berkembang menjadi suatu prosedur minimal invasive. Prosedur ini dilakukan pada pasien dengan kelainan pembuluh darah otak dan medula spinalis seperti, stroke, aneurisma, malformasi pembuluh darah dan tumor otak. Di Indonesia, prosedur neurointervensi dilakukan oleh seorang neurologist, radiologist dan neurosurgeon yang telah menyelesaikan pendidikan tambahan fellowship neurointervensi vaskular, neuroradiologi atau bedah saraf vaskular. Khusus perkembangan neurointervensi di Indonesia tidak lepas dari perjuangan dr.Fritz Sumantri Usman pada tahun 2008 yang telah menyelesaikan pendidikannya dari Egas Moniz Neurointervention dan Stroke Fellowship di Sir Ganga Ram Hospital New Delhi India, kemudian dari seorang diri menjadi 10 orang pada tahun 2011, hingga pada tahun 2025 ini telah terdapat 152 neurointervensionis yang tersebar di seluruh Indonesia. Pendidikan fellowship yang ditempuh saat ini tidak hanya berasal dari India, tetapi juga dari Korea Selatan, Vietnam, Cina, Austria dan terdapat 8 Rumah Sakit di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan fellowship neurointervensi vaskular. Berbagai tindakan endovakular yang dilakukan seorang neurointervensionist seperti mekanikal trombektomi telah menjadi standar pelayanan dalam penanganan stroke akut, begitu juga dengan berbagai prosedur endovaskular lainya dengan minimal invasif menawarkan keuntungan dibandingankan tindakan operasi. Semoga neurointervensi Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Sesuai yang tercantum dalam mars derap neurointervensi, mula cita menanjak dan mendaki, bukan mudah satukan langkah kaki, tekad baja demi ibu pertiwi, bangun Neurointervensi. Jaya Neurointervensi.
Sejarah Neurointervensi di Indonesia Prabowo, Fajar
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 42 No 2 (2026): Volume 42, No 2 - Maret 2026 (in Press)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The history of neurointervention began with Prof. Egas Moniz, a Portuguese Nobel Prize-winning physician who discovered angiography in 1928. It later evolved into a minimally invasive procedure. This procedure is performed on patients with cerebral and spinal cord vascular disorders such as stroke, aneurysm, vascular malformation, and brain tumors. In Indonesia, neurointervention procedures are performed by neurologists, radiologists, and neurosurgeons who have completed additional fellowships in vascular neurointervention, neuroradiology, or vascular neurosurgery. The development of neurointervention in Indonesia is inseparable from the efforts of Dr. Fritz Sumantri Usman, who completed his Egas Moniz Neurointervention and Stroke Fellowship at Sir Ganga Ram Hospital in New Delhi, India, in 2008. The team then grew from one person to 10 in 2011, and by 2025, there were 152 neurointerventionists across Indonesia. Fellowship programs currently being pursued come not only from India, but also from South Korea, Vietnam, China, and Austria. Eight hospitals in Indonesia offer fellowship programs in vascular neurointervention. Various endovascular procedures performed by neurointerventionists, such as mechanical thrombectomy, have become the standard of care in acute stroke management. Other minimally invasive endovascular procedures offer advantages over surgery. Hopefully, Indonesian neurointervention will continue to grow and provide the best healthcare for the Indonesian people. As stated in the neurointervention march, "From the beginning, the goal is to climb and climb, it is not easy, unite your steps, with a strong determination for the sake of the motherland, build Neurointervention. Glory to Neurointervention."