Justitia Vox Dei Hattu
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Klarifikasi nilai dan pencegahan radikalisme dalam dunia pendidikan (sekolah menengah) di Indonesia Hattu, Justitia Vox Dei
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.466

Abstract

This article discusses the risks of (religious) radicalism infiltrating formal education in Indonesia, particularly in middle and high schools. The value clarification approach popularized by Louis Rahts, Sidney B. Simon, Leland W. Howe, and Howard Kirschenbaum is used in this article to examine this problem by showing that educational design, which is dominated by indoctrinating model, opens up a place for radicalism to grow faster since it does not open an adequate space for students to question and discuss the values, they have learned in the learning process. This article argues that the value clarification approach helps teachers and students choose appropriate learning models to create an adequate space for students to understand, talk, and consider the values they are learning. In order to prevent the student from and minimize radicalism in school, then, in the end, based on the value clarification model, this article offers the three tasks of preventing students from radicalism, which are sharpening intelligence, sharpening the sense and sensitivity, and improving the way we are working with others.  AbstrakArtikel ini membahas tentang bahaya radikalisme (atas nama agama) yang sudah merambahi dunia pendidikan formal, secara khusus pada level sekolah menengah di Indonesia. Pendekatan klarifikasi nilai (value clarification) yang dipopulerkan oleh Louis Rahts, Sidney B. Simon, Leland W. Howe, dan Howard Kirschenbaum dipakai untuk menelaah persoalan ini dengan memperlihatkan bahwa pembelajaran yang masih didominasi oleh model indoktrinasi membuka ruang bagi bertumbuhnya paham radikalisme karena tidak tersedia “ruang” yang memadai bagi para siswa untuk mempertanyakan dan mendiskusikan nilai-nilai yang diterima dalam proses pembelajaran. Pendekatan klarifikasi nilai dapat menolong para guru dan juga siswa memilih model pembelajaran yang tepat sehingga tersedia ruang yang memadai bagi para siswa untuk memahami, mempercakapkan, dan mempertimbangkan dengan baik apa yang mereka pelajari. Sebagai upaya mencegah dan meminimalisir bahaya radikalisme di sekolah, dengan berbasis pada konteks dan juga pendekatan klarifikasi nilai, maka bagian akhir artikel ini menawarkan tritugas pencegahan radikalisme, yaitu mengasah kecerdasan, mengasah rasa dan kepekaan, serta meningkatkan kerja bersama dengan mereka yang berbeda.
Berteologi bersama anak korban radikalisme agama di Indonesia: Studi kasus di Gereja Kristen Pasundan, jemaat Dayeuhkolot Hattu, Justitia Vox Dei; Tuasuun, Magyolin Carolina
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.985

Abstract

This article focuses on the narratives of children, members of the Pasundan Christian Church in Dayeuhkolot, who were victims of religious radicalism. These children have experienced certain acts of violence, such as verbal and physical violence, that have affected their lives, specifically their minds and behavior toward others who are different from them. As a result, these children did not have enough space to express and discuss what they had experienced. In this research, we have conducted interviews with three children to get the narratives about their experiences of intolerance and violence. At the same time, we do a literature review to explore the concept of theologizing with children. The results show that children's experiences of violence influence their theological perspective and understanding of God, others, and their relationships with others. By adopting the making meaning model proposed by Tanya Marie Eustace Campen, we argue that the four stages of this model, namely engage, recognize, claim, and respond, can be used as a model of doing theology with (victimized) children. AbstrakArtikel ini berfokus pada narasi warga jemaat anak Gereja Kristen Pasundan Jemaat Dayeuhkolot yang menjadi korban radikalisme agama. Anak-anak ini mengalami tindakan kekerasan verbal dan fisik yang memengaruhi kehidupan mereka, terutama pola pikir dan perilaku mereka terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Akibatnya, anak-anak tersebut tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan dan mendiskusikan apa yang mereka alami. Dalam penelitian ini kami melakukan wawancara dengan tiga anak untuk mendapatkan narasi tentang pengalaman intoleransi dan kekerasan yang dialami oleh mereka dan juga melakukan studi literatur untuk mendalami konsep berteologi bersama anak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengalaman intoleransi dan kekerasan yang dialami anak-anak memengaruhi pemahaman teologis mereka tentang Tuhan, manusia, dan hubungan antarmanusia. Dengan mengadopsi model making meaning yang dikemukakan oleh Tanya Marie Eustace Campen, kami beragumen bahwa empat tahap dari model ini, yakni: terlibat (engage), mengenali (recognize), mengklaim (claim), dan menanggapi (respond), dapat dipakai sebagai model berteologi bersama anak korban radikalisme agama.