Joas Adiprasetya, Joas
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Alasdair MacIntyre and Martha Nussbaum on Virtue Ethics Adiprasetya, Joas
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 15 No. 1 (2016): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.79 KB) | DOI: 10.26551/diskursus.v15i1.16

Abstract

Abstract: Alasdair MacIntyre and Martha C. Nussbaum are two prominent contemporary moral philosophers who attempt to rehabilitate Aristotles conception of virtues. Although both agree that virtue ethics can be considered as a strong alternative to our search for commonalities in a pluralistic society such as Indonesia, each chooses a very different path. While MacIntyre interprets Aristotle from his traditionalist and communitarian perspective, Nussbaum construes the philosopher in a non-relative and essentialist point of view using the perspective of capability. Consequently, MacIntyre construes a more particularistic view of virtue ethics, whereas Nussbaum presents a more universalistic view of virtue ethics. Applying virtue ethics to the Indonesian context, this article argues that each approach will be insufficient to address the highly pluralistic societies such as Indonesia. Therefore, we need to construct a virtue ethics proper to the Indonesian context that takes both approaches into consideration. Keywords: Virtue, virtue ethics, community, capability, incommensurability. Abstrak: Alasdair MacIntyre dan Martha C. Nussbaum merupakan dua orang filsuf moral terkemuka pada masa kini, yang berusaha merehabilitasi konsep Aristoteles mengenai keutamaan. Sekalipun keduanya sepakat bahwa etika keutamaan dapat dipertimbangkan sebuah sebuah alternatif yang memadai bagi usaha kita dalam mencari kesamaan di tengah sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, masing-masing memilih jalan yang sangat berbeda. Sementara MacIntyre menafsirkan Aristoteles dari perspektif tradisionalis dan komunitarian, Nussbaum memahami sang filsuf dari sebuah sudut pandang esensialis dan nonrelatif dengan memakai pendekatan kapabilitas. Akibatnya, MacIntyre mengkonstruksi sebuah pandangan yang lebih partikular atas etika keutamaan, sementara Nussbaum lebih menghadirkan sebuah pandangan yang lebih universal atas etika keutamaan. Mengaplikasikan etika keutamaan pada konteks Indonesia, artikel ini berpendapat bahwa masing-masing pendekatan tidak akan memadai untuk menjadi masyarakat yang sangat pluralistis seperti Indonesia. Untuk itu, kita perlu mengkonstruksi sebuah etika keutamaan yang kontekstual di Indonesia yang mempertimbangkan dan memanfaatkan kedua pendekatan tersebut. Kata-Kata Kunci: Keutamaan, etika keutamaan, komunitas, kapabilitas, inkomensurabilitas.
Kepurnakalaan dan Kepurnasthanaan: Merancang Pendidikan demi Masa Depan Adiprasetya, Joas
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i2.278

Abstract

This article aims to bring together Wendell Berry's educational concept and the concept of timefulness and placefulness based on the idea of the flourishing of life. Wendell Berry's educational theory and ecological philosophy will be used analytically and in dialogue with the theology of flourishing life. The conjoining of these two streams of thought will give rise to a futuristic model of education directed toward the future, which offers a sustainability perspective within the model of humanism and ecologism. Such a model of education is an alternative to an education controlled by technological innovation and political security. Artikel ini bertujuan untuk memperjumpakan konsep pendidikan Wendell Berry dan konsep kepurnakalaan dan kepurnasthanaan berbasis ide mengenai kehidupan yang mekar. Teori pendidikan dan filsafat ekologi Wendell Berry akan dipergunakan secara analitis dan didialogkan dengan teologi kemekaran hidup.  Perjumpaan kedua arus pemikiran ini akan memunculkan sebuah model pendidikan yang terarah ke masa depan, yang berperspektif keberlanjutan di dalam model humanisme dan ekologisme. Model pendidikan semacam ini menjadi sebuah alternatif bagi sebuah pendidikan yang dikendalikan oleh inovasi teknologi dan keamanan politik. 
Polidoksi, polipati, dan polipraksis di dalam hidup menggereja yang elastis Adiprasetya, Joas
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.893

Abstract

Beranjak dari realitas pemisahan teologi, spiritualitas, dan praksis, artikel ini ingin menegaskan pentingnya reintegrasi ketiganya melalui sebuah modifikasi atas model integrasi teologi-spiritualitas yang disebut model poros-roda, yang diusulkan oleh Philip Sheldrake. Artikel ini berargumen bahwa reintegrasi teologi, spiritualitas, dan praksis sebagai tiga dimensi iman yang komunal mengandaikan sebuah model gereja sebagai menggereja-elastis, yang di dalamnya ketiga dimensi tersebut bertumbuh dalam multiplisitas sebagai polidoksi, polipati, dan polipraksis. Cara berpikir “poli” yang diusulkan merupakan alternatif bagi dikotomi “ortho” versus “hetero” yang selama ini dihidupi oleh gereja.
Menakar Ulang Gairah Relevansi Gereja Adiprasetya, Joas
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 17 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36588/sundermann.v17i2.169

Abstract

This article aims to examine the myth of relevance lived by churches in Indonesia, which understands that the church must be relevant to the life issues in the world. This article takes a different path, namely, to critically question the assumption of relevance and proposing a different spiritual and ecclesial approach. Such an approach suggests that the church must be irrelevant to the world, in order to maintain its identity and calling received from the Triune God. The study is characteristically more conceptual than contextual, therefore a review of the context of churches in Indonesia is not specifically presented. A comparative study of the thoughts of Henri J. M. Nouwen, Timothy Radcliffe, Jonathan Menezes, and Mark Sayers is carried out analytically, which is then summarized through James Hunter's thoughts on the concept of “faithful presence,” which helps churches to maintain the tension between their identity and their relationship with the world.