Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pendidikan Intregrasi Di Pondok Pesantren Ulil Albab, Nganjuk Wasito Wasito; Makhfud Makhfud
Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Vol. 1 No. 3 (2020): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, November, 2020
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v1i3.1641

Abstract

The development of the implementation of education in Indonesia towards the concept of integration in all fields of science. This practice was also carried out at the Ulil Albab Islamic Boarding School, Ngronggot Nganjuk. This study uses a qualitative method by interviewing all stakeholders in the Ulil Albab Islamic Boarding School. The results of this study indicate. First, integrated infrastructure. Second. Institutional integrity. Third, curriculum integration. Fourth, management integration. Fifth, the integration of traditions. While the target to be achieved is, "to be individuals who are good in body, good in mind, and kind in the heart (Healthy outer and inner), have a managerial system that is both solid and strong, has adequate educational facilities and varied unit institutions. While the efforts being made to achieve the target are; optimization of activities, optimization of management and supervision, institutional development, and development of infrastructure.
Gerakan Sosial Modern Masyarakat Islam di Indonesia Wasito Wasito
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 27 No. 2 (2016): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v27i2.268

Abstract

Artikel ini membahas tentag perkembangan gerakan modernisasi Islam yang terjadi di Indonesia mulai masa pra kemerdekaan hingga masa pasca kemerdekaan. Diantara gerakan-gerakan sosial modern Islam yang ada di indonesia meliputi Gerakan Serikat Islam, Gerakan Muhammadiyyah, dan Gerakan Nahdlatul Ulama. Agama Islam muncul pada Abad ke-6 M kemudian masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan mulai berkembang pada abad ke-13 M. Perkembangan Islam di Indonesia hampir di seluruh Kepulauan Indonesia. Bertolak dari kenyataan tersebut, Islam banyak menghasilkan peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia yang sangat beraneka ragam. Peninggalan-peninggalan itu antara lain, tempat ibadah, keraton, batu nisan, kaligrafi, seni pahat, seni pertunjukan, tradisi upacara, dan karya sastra.
Penerapan Budaya Religius di SD al Mahrusiyah Wasito Wasito; Moh. Turmudi
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 29 No. 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v29i1.560

Abstract

Penelitian ini berusaha mendiskripsikan dan memaknai penerapan budaya religius di SD al Mahrusiyah. Hal ini karena krisis moral yang melanda bangsa ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan bagi semua kalangan. Bagaimana tidak dari maraknya kasus korupsi yang tidak pernah surut bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Di sisi lain krisis ini menjadi komplek dengan berbagai peristiwa yang cukup memilukan seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan yang disertai pembunuhan. Fenomena ini sesungguhnya sangat berseberangan dengan suasana keagamaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Jika krisis ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut apalagi dianggap sesuatu yang biasa maka segala kebejatan moralitas akan menjadi budaya. Sekecil apapun krisis moralitas secara tidak langung akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan, yaitu; 1). Bentuk-bentuk budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi belajar baca tulis al-Qur`an dan tadarrus, pemakaian busana muslim, pelaksanaan shalat jamaah di sekolah, kegiatan madin, pembiasaan senyum, sapa dan salam, berperilaku sopan santun kepada semua warga sekolah, dan doa bersama, serta peringatan hari-hari besar agama Islam. 2). Model penerapan budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi 4 (empat) model, yaitu: pertama model struktural (melalui kebijakan dan peraturan), kedua, model formal (menanamkan commitment dan dedikasi untuk menjalankan ajaran agama), ketiga, model mekanik (membangun dan membiasakan berperilaku sopan dan santun terhadap sesame), dan keempat, model organik (melalui internalisasi dan transformasi pengetahuan tentang ajaran agama yang bersumber pada al Quran dan Hadits).
Program Musyawarah dalam Mengembangkan Kemampuan Kognitif Siswa Madrasah Diniyah Haji Ya'qub Muhammad Al-Qodhi Abi Saidil Mahzumi; Wasito Wasito
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 30 No. 1 (2019): Jurnal Tribakti
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v30i1.664

Abstract

Transinternalisasi Pendidikan Pondok Lirboyo Terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam di Masyarakat Sekitar Muhammad Zainal Abidin; Wasito Wasito
Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES) Vol. 2 No. 1 (2019): Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES)
Publisher : Faculty of Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.245 KB) | DOI: 10.33367/ijies.v2i1.893

Abstract

Besides being able to provide knowledge, culture, arts, skills and be able to think creatively, Islamic boarding school education can also form human beings who have noble character, have faith, have personality, have morality, and are devoted to God Almighty. However, some pesantren have not been able to bring the surrounding community as well as bringing the students into a deep understanding of religion. To deal with the above problems, it is very necessary to do research using qualitative research methods through a descriptive approach about the transinternalisation of Islamic religious education values ​​to the surrounding community. Based on the results of the study it can be seen that: For the process of Transinternalisation of education to the community three stages namely: a. Adabtasi students and Islamic boarding schools to the surrounding community. b. Creating (Goal) educational goals to be able to contribute more change to the surrounding community. c. Integration, a pesantren system and policy must regulate the relationship between students and the community. d. Pattern maintenance (latency). Pesantren must complete, maintain, and renew individual motivation and cultural patterns that create and maintain that motivation. Pendidikan Pondok Pesantren selain dapat memberikan ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesenian, skill serta keterampilan berfikir kreatif, juga dapat membentuk manusia yang mempunyai akhlak yang mulia, beriman, berkepribadian, bermoral, dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Akan tetapi sebagian pesantren belum bisa membawa masyarakat sekitar seperti halnya membawa para santri ke dalam pemahaman agama yang mendalam. Untuk menghadapi permasalahan diatas sangat perlu dilakukannya penelitian dengan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan diskriptif tentang transinternalisasi nilai-nilai pendidikan agama islam terhadap masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa : Untuk proses Transinternalisasi pendidikan terhadap masyarakat tiga tahapan yakni: a. Adabtasi santri-santri dan pondok pesantren terhadap masyarakat sekitarnya. b. Menciptakan (Goal) tujuan pendidikan untuk dapat memberikan kontribusi perubahan yang lebih terhadap masyarakat sekitar. c. Integrasi, suatu sistem dan kebijakan pesantren harus mengatur antar hubungan antara santri dan masyarakat. d. Pemeliharaan pola (latensi). Pesantren harus melengkapi, memelihara, dan memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut.
Gerakan Sosial Modern Masyarakat Islam di Indonesia Wasito Wasito
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 27 No. 2 (2016): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v27i2.268

Abstract

Artikel ini membahas tentag perkembangan gerakan modernisasi Islam yang terjadi di Indonesia mulai masa pra kemerdekaan hingga masa pasca kemerdekaan. Diantara gerakan-gerakan sosial modern Islam yang ada di indonesia meliputi Gerakan Serikat Islam, Gerakan Muhammadiyyah, dan Gerakan Nahdlatul Ulama. Agama Islam muncul pada Abad ke-6 M kemudian masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M dan mulai berkembang pada abad ke-13 M. Perkembangan Islam di Indonesia hampir di seluruh Kepulauan Indonesia. Bertolak dari kenyataan tersebut, Islam banyak menghasilkan peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia yang sangat beraneka ragam. Peninggalan-peninggalan itu antara lain, tempat ibadah, keraton, batu nisan, kaligrafi, seni pahat, seni pertunjukan, tradisi upacara, dan karya sastra.
Penerapan Budaya Religius di SD al Mahrusiyah Wasito Wasito; Moh. Turmudi
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 29 No. 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v29i1.560

Abstract

Penelitian ini berusaha mendiskripsikan dan memaknai penerapan budaya religius di SD al Mahrusiyah. Hal ini karena krisis moral yang melanda bangsa ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan bagi semua kalangan. Bagaimana tidak dari maraknya kasus korupsi yang tidak pernah surut bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Di sisi lain krisis ini menjadi komplek dengan berbagai peristiwa yang cukup memilukan seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan yang disertai pembunuhan. Fenomena ini sesungguhnya sangat berseberangan dengan suasana keagamaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Jika krisis ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut apalagi dianggap sesuatu yang biasa maka segala kebejatan moralitas akan menjadi budaya. Sekecil apapun krisis moralitas secara tidak langung akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan, yaitu; 1). Bentuk-bentuk budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi belajar baca tulis al-Qur`an dan tadarrus, pemakaian busana muslim, pelaksanaan shalat jamaah di sekolah, kegiatan madin, pembiasaan senyum, sapa dan salam, berperilaku sopan santun kepada semua warga sekolah, dan doa bersama, serta peringatan hari-hari besar agama Islam. 2). Model penerapan budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi 4 (empat) model, yaitu: pertama model struktural (melalui kebijakan dan peraturan), kedua, model formal (menanamkan commitment dan dedikasi untuk menjalankan ajaran agama), ketiga, model mekanik (membangun dan membiasakan berperilaku sopan dan santun terhadap sesame), dan keempat, model organik (melalui internalisasi dan transformasi pengetahuan tentang ajaran agama yang bersumber pada al Quran dan Hadits).
Program Musyawarah dalam Mengembangkan Kemampuan Kognitif Siswa Madrasah Diniyah Haji Ya'qub Muhammad Al-Qodhi Abi Saidil Mahzumi; Wasito Wasito
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 30 No. 1 (2019): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v30i1.664

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi program musyawarah dengan memanfaatkan konsep konstruktivisme sosial untuk menjelaskan perkembangan kognitif siswa di Madrasah Diniyah Haji Ya’qub (MDHY) Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Penelitian ini beranjak dari dua pertanyaan penelitian, “Apakah program musyawarah di MDHY masih berlangsung secara tradisional atau mengarah pada kontekstualisasi? bagaimana praktik program musyawarah dalam mengembangkan perkembangan kognitif siswa?” Dengan dua pertanyaan itu, hasil penelitian ini menemukan bahwa program musyawarah tengah mengalami perubahan menjadi musyawarah konstruktif dengan membentuk program Musyawah Gabungan Sughra (MGS) yang berlangsung di luar jadwal pelajaran resmi dan dikelola langsung oleh MDHY. Hambatan belajar siswa diatasi secara bertahap dengan mengarahkan suasana belajar aktif dan mendorong interaksi belajar yang memaksimalkan interaksi sosial secara menyeluruh
Transinternalisasi Pendidikan Pondok Lirboyo Terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam di Masyarakat Sekitar Muhammad Zainal Abidin; Wasito Wasito
Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES) Vol. 2 No. 1 (2019): Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES)
Publisher : Faculty of Tarbiyah Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijies.v2i1.893

Abstract

Besides being able to provide knowledge, culture, arts, skills and be able to think creatively, Islamic boarding school education can also form human beings who have noble character, have faith, have personality, have morality, and are devoted to God Almighty. However, some pesantren have not been able to bring the surrounding community as well as bringing the students into a deep understanding of religion. To deal with the above problems, it is very necessary to do research using qualitative research methods through a descriptive approach about the transinternalisation of Islamic religious education values ​​to the surrounding community. Based on the results of the study it can be seen that: For the process of Transinternalisation of education to the community three stages namely: a. Adabtasi students and Islamic boarding schools to the surrounding community. b. Creating (Goal) educational goals to be able to contribute more change to the surrounding community. c. Integration, a pesantren system and policy must regulate the relationship between students and the community. d. Pattern maintenance (latency). Pesantren must complete, maintain, and renew individual motivation and cultural patterns that create and maintain that motivation. Pendidikan Pondok Pesantren selain dapat memberikan ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesenian, skill serta keterampilan berfikir kreatif, juga dapat membentuk manusia yang mempunyai akhlak yang mulia, beriman, berkepribadian, bermoral, dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa. Akan tetapi sebagian pesantren belum bisa membawa masyarakat sekitar seperti halnya membawa para santri ke dalam pemahaman agama yang mendalam. Untuk menghadapi permasalahan diatas sangat perlu dilakukannya penelitian dengan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan diskriptif tentang transinternalisasi nilai-nilai pendidikan agama islam terhadap masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa : Untuk proses Transinternalisasi pendidikan terhadap masyarakat tiga tahapan yakni: a. Adabtasi santri-santri dan pondok pesantren terhadap masyarakat sekitarnya. b. Menciptakan (Goal) tujuan pendidikan untuk dapat memberikan kontribusi perubahan yang lebih terhadap masyarakat sekitar. c. Integrasi, suatu sistem dan kebijakan pesantren harus mengatur antar hubungan antara santri dan masyarakat. d. Pemeliharaan pola (latensi). Pesantren harus melengkapi, memelihara, dan memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut.
Pendidikan Intregrasi Di Pondok Pesantren Ulil Albab, Nganjuk Wasito Wasito; Makhfud Makhfud
Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Vol. 1 No. 3 (2020): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, November, 2020
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v1i3.1641

Abstract

The development of the implementation of education in Indonesia towards the concept of integration in all fields of science. This practice was also carried out at the Ulil Albab Islamic Boarding School, Ngronggot Nganjuk. This study uses a qualitative method by interviewing all stakeholders in the Ulil Albab Islamic Boarding School. The results of this study indicate. First, integrated infrastructure. Second. Institutional integrity. Third, curriculum integration. Fourth, management integration. Fifth, the integration of traditions. While the target to be achieved is, "to be individuals who are good in body, good in mind, and kind in the heart (Healthy outer and inner), have a managerial system that is both solid and strong, has adequate educational facilities and varied unit institutions. While the efforts being made to achieve the target are; optimization of activities, optimization of management and supervision, institutional development, and development of infrastructure.