Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Desain Bahan Dasar Campuran Bata Ringan dari Limbah Tambang Emas Pongkor Majid, Abdul; Rohman, Abdul; Isda, Raiyyan Rahmi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 17 No 1 (2018): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.769 KB) | DOI: 10.26874/jt.vol17no1.45

Abstract

Hasil limbah dari tambang emas Pongkor yang berupa tailing diteliti pemanfaatannya sebagai bahan dasar campuran bata ringan. Variasi perbandingan rasio volume semen dengan tailing adalah 1 : 2, 1 : 4, dan 1 : 6 dengan waktu pengerasan 7, 14, 21, dan 28 hari. Parameter pengujian yang dilakukan meliputi densitas (dry density), penyerapan air (water absorption), kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur. Pencampuran tailing sebagai bahan dasar campuran bata ringan menggunakan metode Cellular Lightweight Concrete (CLC) dengan variasi komposisi yang memenuhi syarat ASTM C 969 yaitu densitas < 700 kg/m3, penyerapan air < 25%, dan kuat tekan > 1.4 MPa. Sedangkan untuk kuat tarik belah > 0.25 MPa, yaitu sekitar 10-15% dari kekuatan tekan (Nawy 1998:41) dan kuat lentur > 0,59 MPa (Yothin Ungkoon, 2007). Dari hasil penelitian variasi dengan campuran 1 : 2 (1 semen dan 2 tailing) dengan waktu pengeringan selama 28 hari memiliki hasil pengujian terbaik dan memenuhi semua yang disyaratkan. Pada komposisi tersebut, bata ringan yang dihasilkan memiliki densitas 692 kg/m3, penyerapan air 20,81%, kuat tekan 3,77 MPa, kuat tarik belah 0,48 MPa, dan kuat lentur 0,65 MPa.
Analisis Pilin Struktur Balok Baja Berpenampang I dengan Metode Elemen Hingga Isda, Raiyyan Rahmi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 16 No 2 (2017): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.216 KB) | DOI: 10.26874/jt.vol16no2.46

Abstract

Struktur baja berprofil tertutup seperti profil lingkaran atau persegi mempunyai kemampuan yang relatif cukup baik dalam menahan torsi (St. Venant  torsion). Sedangkan untuk baja berpofil penampang terbuka, seperti penampang I, T, L, C, maupun Z mempunyai alur tegangan geser yang tidak menerus, sehingga sangat memungkinkan terjadinya torsi dan juga pilin (warping). Kasus-kasus instabilitas umumnya ditangani dengan menggunakan pengaku (bracing atau stiffeners). Hal ini menjadi topik utama dalam penelitian ini. Profil I yang berpenampang terbuka dipilih untuk dianalisis secara linier elastis terhadap stabilitas komponen dengan penggunaan pengaku. Metode elemen hingga digunakan sebagai model diskrit sistem struktur, menggunakan elemen persegi empat yang mengakomodasi ragam lentur dan ragam membran. Analisis struktur dituliskan dalam formulasi matriks dan dituangkan dalam satu paket program komputer yang dituliskan dalam bahasa Fortran. Program kemudian digunakan untuk melakukan analisis sistem struktur dengan atau tanpa menggunakan balok pengaku, baik pengaku vertikal maupun diagonal. Kedua hasil kemudian dibandingkan untuk menarik kesimpulan mengenai pengaruh penggunaan komponen pengaku terhadap perilaku sistem struktur balok. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan komponen pengaku mempengaruhi kekakuan sistem balok, baik dalam ragam lentur, aksial, maupun ragam torsi dan pilin.
Desain Bahan Dasar Campuran Bata Ringan dari Limbah Tambang Emas Pongkor Abdul Majid; Abdul Rohman; Raiyyan Rahmi Isda
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 17 No 1 (2018): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol17no1.45

Abstract

Hasil limbah dari tambang emas Pongkor yang berupa tailing diteliti pemanfaatannya sebagai bahan dasar campuran bata ringan. Variasi perbandingan rasio volume semen dengan tailing adalah 1 : 2, 1 : 4, dan 1 : 6 dengan waktu pengerasan 7, 14, 21, dan 28 hari. Parameter pengujian yang dilakukan meliputi densitas (dry density), penyerapan air (water absorption), kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur. Pencampuran tailing sebagai bahan dasar campuran bata ringan menggunakan metode Cellular Lightweight Concrete (CLC) dengan variasi komposisi yang memenuhi syarat ASTM C 969 yaitu densitas < 700 kg/m3, penyerapan air < 25%, dan kuat tekan > 1.4 MPa. Sedangkan untuk kuat tarik belah > 0.25 MPa, yaitu sekitar 10-15% dari kekuatan tekan (Nawy 1998:41) dan kuat lentur > 0,59 MPa (Yothin Ungkoon, 2007). Dari hasil penelitian variasi dengan campuran 1 : 2 (1 semen dan 2 tailing) dengan waktu pengeringan selama 28 hari memiliki hasil pengujian terbaik dan memenuhi semua yang disyaratkan. Pada komposisi tersebut, bata ringan yang dihasilkan memiliki densitas 692 kg/m3, penyerapan air 20,81%, kuat tekan 3,77 MPa, kuat tarik belah 0,48 MPa, dan kuat lentur 0,65 MPa.
Analisis Pilin Struktur Balok Baja Berpenampang I dengan Metode Elemen Hingga Raiyyan Rahmi Isda
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 16 No 2 (2017): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol16no2.46

Abstract

Struktur baja berprofil tertutup seperti profil lingkaran atau persegi mempunyai kemampuan yang relatif cukup baik dalam menahan torsi (St. Venant torsion). Sedangkan untuk baja berpofil penampang terbuka, seperti penampang I, T, L, C, maupun Z mempunyai alur tegangan geser yang tidak menerus, sehingga sangat memungkinkan terjadinya torsi dan juga pilin (warping). Kasus-kasus instabilitas umumnya ditangani dengan menggunakan pengaku (bracing atau stiffeners). Hal ini menjadi topik utama dalam penelitian ini. Profil I yang berpenampang terbuka dipilih untuk dianalisis secara linier elastis terhadap stabilitas komponen dengan penggunaan pengaku. Metode elemen hingga digunakan sebagai model diskrit sistem struktur, menggunakan elemen persegi empat yang mengakomodasi ragam lentur dan ragam membran. Analisis struktur dituliskan dalam formulasi matriks dan dituangkan dalam satu paket program komputer yang dituliskan dalam bahasa Fortran. Program kemudian digunakan untuk melakukan analisis sistem struktur dengan atau tanpa menggunakan balok pengaku, baik pengaku vertikal maupun diagonal. Kedua hasil kemudian dibandingkan untuk menarik kesimpulan mengenai pengaruh penggunaan komponen pengaku terhadap perilaku sistem struktur balok. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan komponen pengaku mempengaruhi kekakuan sistem balok, baik dalam ragam lentur, aksial, maupun ragam torsi dan pilin.
Evaluation of Pile Cap Reinforcement Design Using Conventional and Finite Element with Strut and The Method Based on SNI 2847-2019 Fajri Yusmar; Isda, Raiyyan Rahmi
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.01.4

Abstract

The Strut and Tie Method (STM) is one effective method for predicting the ultimate strength, failure modes, and behavior of reinforced concrete pile caps. However, the use of the strut and tie method in pile cap design in Indonesia is not as popular as the use of conventional methods. This study aims to evaluate the reinforcement design of pile caps using conventional methods and the finite element method (FEM) approach, utilizing the strut and tie method specified in SNI 2847 2019. The analysis results show that the required area of longitudinal reinforcement in the conventional method does not meet the criteria when evaluated using the STM method. The deficiency in the longitudinal reinforcement area amounts to 40.13% compared to the design results obtained using the STM method. Meanwhile, the use of the FEM method results in a required reinforcement area that exceeds the required area for the STM method. The difference in reinforcement is even greater, reaching up to 7.85% for the FEM method.
Evaluasi Kerapuhan Seismik Gedung Fakultas Teknik UNJANI Menggunakan Metode HAZUS Isda, Raiyyan Rahmi; Laode Azan Muzahab; Akmal Maulana; Desi Gumelarsari; Isma Nurul Rohmah; Syachril Saputra Roswandi; Prima Sukma Yuana
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 25 No 1 (2026): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55893/jt.vol25no1.834

Abstract

Evaluasi kerapuhan seismik pada bangunan pendidikan menjadi penting karena Indonesia memiliki tingkat kegempaan yang tinggi. Evaluasi juga diperlukan untuk mendukung mitigasi risiko dan keberlanjutan fungsi bangunan pascagempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kerapuhan seismik Gedung Fakultas Teknik UNJANI sebagai bangunan pendidikan melalui integrasi analisis statik nonlinier pushover dan Metode HAZUS. Dengan bantuan perangkat lunak berbasis elemen hingga, bangunan dimodelkan tiga dimensi hingga memperoleh output berupa kurva kapasitas, performance point, dan perpindahan spektral. Kemudian dengan Metode HAZUS diperoleh tingkat kerusakan bangunan (damage states): slight, moderate, extensive, dan complete. Hasil analisis menunjukkan bahwa gedung termasuk tipe struktur rangka beton bertulang tingkat menengah (C1M) dengan level seismisitas tinggi. Kinerja struktur berada pada level Immediate Occupancy baik pada arah X maupun Y, yang menunjukkan bahwa struktur masih memiliki kapasitas yang baik setelah menerima beban gempa rencana. Probabilitas kerusakan untuk arah X adalah 0,0% complete, 10,0% extensive, 99,6% moderate, dan 100,0% slight, sedangkan untuk arah Y adalah 0,0% complete, 16,0% extensive, 99,9% moderate, dan 100,0% slight. Dengan demikian, kerusakan dominan berada pada kategori ringan (slight) hingga sedang (moderate). Penelitian selanjutnya disarankan mempertimbangkan analisis dinamik untuk memperkuat validasi hasil.