Agus Purwantoro
Lecturer Of Faculty Of Art And Design, Universitas Sebelas Maret

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Perkembangan Pertunjukan Wayang Beber Kontemporer Di Era Modernisasi Muhammad Nur Hariyadi; Narsen Afatara; Agus Purwantoro
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Bahasa Rupa April 2018
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v1i2.208

Abstract

Research discussed regarding the development of contemporary puppet some in a society now. A puppet beber contemporary some years previously had broken by giving alternative forms of a new and exhibited more simple but is interesting, Shorter performances , and use just taken a figure from real life now. The story delivered also adopt issues is in vogue in the days of the modernization of right now. The puppet beber is one of cultural heritage in Indonesia. A puppet beber some which was a live used for events great kraton, the event ruwatan, clean village, healing the sick, and important event specified java. Now puppet classical considered rarely staged and slightly experienced various a setback in terms of staging, because some years previously had broken puppet classic staged as a means of ritual and rarely staged important as entertainment for the urban nowadays. The puppet beber contemporary appear in order to provide new perspective, so people know back puppet show some years previously had broken who became inherited from an ancestor java.
Desain meja dan kursi sistem modular berbasis active learning untuk siswa sekolah dasar Achmad Zainudin; Rahmanu Widayat; Agus Purwantoro
PRODUCTUM Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.875 KB) | DOI: 10.24821/productum.v3i3.1876

Abstract

Improve of learning quality of elementary school in Indonesia are many ways. One of them is repairing table-chair as long as growing of learning method. Nowadays, active learning is one of method that improving learning quality. There are many ways in actions to realize active learning, started from curriculum repaired to study time at school. Too poor, the government forgetting one thing, that is table-chair, the product in daily using. This research intend to given argument to all of person or institution about repairing table-chair of elementary school as fit as active learning method by modular concept. Research method in this field is descriptive qualitative. Research location is Kedung District Jepara Regency Central Java, by three sample of class table-chair 6th elementary school in SD Negeri 1 Jondang, MI Matholiul Huda Bugel and SD Negeri III Menganti. The object is design of table-chair elementary school based of active learning. Data collection technique is library study, observation and interview. The data in collection tested in validity by triangulation technic. Research result is showing that table-chair in the data not representative to active learning. Generally, the table-chair is difficult to using in active learning. Table-chair design by modular concept is fit to cluster model/V group and U that ergonomic and functional, so easy to driven and support active learning. Key words: design, elementary school table-chair, active learning, modular concept 
PENCIPTAAN WAYANG GODHONK BERBAHAN LIMBAH DAUN KERING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN SENI BUDAYA Dr. Agus Purwantoro, M.Sn; Narsen Afatara; Soepono Sasongko; Jazuli Abdin Munib
Texture:Art and Culture Journal Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1417.565 KB) | DOI: 10.33153/texture.v4i2.3701

Abstract

Traditional art is more hereditary and follows the existing standards, while modern art is more towards novelty and longs for fresh works. Creative artists will produce works that can be enjoyed both visually and conceptually. The art of wayang godhong performance is one of the mediums of expression about the traditions and lives of tobacco farmers in treading their lives. Wayang godhong is expected to be asustainable art and can also be included as contemporary art that combines tradition and contemporary art. Wayang godhong is indeed a unique and interesting work of art that combines performances and works of art that are embodied in the figures of the puppet forms. The works of art that are displayed become a puppet. Wayang godhong already has a lot of fans, besides that wayang godhong can also be used as an effective communication medium other than as a medium of education, especially knowledge of art and culture. In this study, the author uses an interactive art creation methodology with children, and effective two-way communication occurs so that art and culture knowledge education for children in Kalisak, Salaman, Magelang can be achieved.
KATURANGGANING KUTUT Abda Lucky Sanjaya; Agus Purwantoro; Novita Wahyuningsih
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 2 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1985.523 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v19i2.149

Abstract

Karya Seni Lukis berjudul Katurangganing Kutut terinspirasi dari pengalaman memelihara burung perkutut dan legenda Falsafah Jawa tentang Katuranggan burung Perkutut. Permasalahannya dibahas melalui pendekatan; Apa yang menjadi dasar ” Katuranggan burung Perkutut “ diangkat menjadi sumber ide dan konsep penciptaankarya seni ? Bagaimana merumuskan konsep karya seni berdasarkan gagasan “ Katuranggan burung Perkutut ” dalam implementasinya, Karakteristik dan figure burung Perkutut sesuai dengan Katuranggannya, diolah kembali secara kreatif dan memunculkan nuansa yang sesuai dengan imajinasi penulis, dengan menggunakan media kayu yang dipahat, karena dalam menggunakan media ini penulis merasa nyaman dan lebih berekplorasi pada proses berkarya. Karya ini dipahat menyerupai ukiran dengan finishing menggunakan polytur untuk penyajian akhirnya menciptakan suasana kejawen dengan membuat sangkar burung sebagai tempat karya dengan bahan kayu.
Body As Media In Action Drawing Titled Metamorposer 6 Luna Dian Setya Avissa; Agus Purwantoro
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 3 (2018): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i3.533

Abstract

The artist observe her own life and choose metamorphosis of butterfly as a metaphor. The idea of a visual artwork entitled Metamorposer 6 particulary taken from the phase of metamorphosis called pupa stage, the work is about the artist who needs to be alone like a caterpillar in a chrysalis to contemplate her selfish side and the desire to devote to her family. Action of drawing as a form of art is chosen to represent the process of making a distance with the surrounding environment and building a space of seclusion. The artist tried to improve her way of creation through media exploration, she also make some conventional result-oriented drawing on the transparant media prior to her action drawing. The idea is communicated not only through strokes of pigment on the transparent panel but also through a process that unifies the space, time and body as media in action drawing. The blank field on the panel is filled with drawings made analogously by the artist throuh manipulating the alkohol-based permanent marker with her right hand and the execution takes about 16 hours in total. The performance in this action drawing displays the drawing lines that slowly covered the body of the artist in a vitrine or transparent case constructed on a table. The present of the body in the action drawing as one of the media being compared with other previous works of notorious artist in an effort to conclude its meaning, function and experience.Seniman mengamati kehidupannya sendiri dan memilih metamorfosis kupu-kupu sebagai metafora. Ide karya seni visual yang berjudul Metamorposer 6 secara partikular berfokus pada fase metamorfosis yang disebut pupa, karya adalah tentang seniman yang perlu sendirian seperti ulat di dalam kepompong untuk merenungkan sisi egoisnya dan keinginan untuk berbakti kepada keluarganya . Action drawing sebagai sebuah bentuk seni dipilih untuk mewakili proses pembuatan jarak dengan lingkungan sekitar dan membangun ruang pengasingan. Sang seniman berusaha memperbaiki cara kreasinya melalui eksplorasi media, ia juga membuat beberapa gambar berorientasi hasil pada media transparan sebelum action drawing. Idenya dikomunikasikan tidak hanya melalui goresan pigmen pada panel transparan tetapi juga melalui proses yang menyatukan ruang, waktu dan tubuh sebagai media dalam aksi menggambar. Bidang kosong pada panel diisi dengan gambar yang dibuat secara analog oleh seniman yang memanipulasi marker permanen berbasis alkohol dengan tangan kanannya. Eksekusi karya memakan waktu sekitar 16 jam secara total. Seniman melalui action drawing menampilkan garis gambar yang perlahan-lahan menutupi tubuhnya yang dipajang dalam vitrine atau kotak transparan yang biasa untuk menyajikan benda seni. Kehadiran tubuh dalam action drawing sebagai salah satu media perlu dibandingkan dengan karya seniman terkenal lainnya yang berbasis aksi dan tubuh guna menemukan makna, fungsi dan menjabarkannya sebagai sebuah pengalaman. 
Perkembangan Pertunjukan Wayang Beber Kontemporer Di Era Modernisasi Muhammad Nur Hariyadi; Narsen Afatara; Agus Purwantoro
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Bahasa Rupa April 2018
Publisher : Prahasta Publisher (manage by: DRPM Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v1i2.208

Abstract

Research discussed regarding the development of contemporary puppet some in a society now. A puppet beber contemporary some years previously had broken by giving alternative forms of a new and exhibited more simple but is interesting, Shorter performances , and use just taken a figure from real life now. The story delivered also adopt issues is in vogue in the days of the modernization of right now. The puppet beber is one of cultural heritage in Indonesia. A puppet beber some which was a live used for events great kraton, the event ruwatan, clean village, healing the sick, and important event specified java. Now puppet classical considered rarely staged and slightly experienced various a setback in terms of staging, because some years previously had broken puppet classic staged as a means of ritual and rarely staged important as entertainment for the urban nowadays. The puppet beber contemporary appear in order to provide new perspective, so people know back puppet show some years previously had broken who became inherited from an ancestor java.
Idoru: Idola Favorit Musik Populer dalam Penciptaan Seni Patung Andari Rizky Putrisyani; Agus Purwantoro; Desy Nurcahyanti
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 27, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v27i2.7569

Abstract

Imajinasi dan pengalaman dari menggemari idola favorit dalam musik populer menjadi sumber ide dalam penciptaan seni patung ini. Berisikan tentang konsep penciptaan karya seni patung dengan mewujudkan berbagai visualisasi dari konsep idola favorit dalam musik populer menggunakan teknik modelling dengan bahan epoxy clay dan beberapa bahan lainnya dengan wujud visual patung figuratif dengan melewati proses penciptaan yang meliputi tahapan visualisasi gagasan, pemilihan teknik, media, alat dan bahan, referensi objek, pembuatan sketsa, finishing dan tahap penyajian karya. Esesnsi dari pemilihan sumber ide ini yaitu adanya keterpikatan atau daya tarik dari penampilan dan performa idola favorit di atas panggung melalui pengalaman dan imajinasi yang dirasakan.
Wayang Godhong Karya Guspur Milinia Fitri Ramadani; Agus Purwantoro; Novia Nur Kartikasari
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 27, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v27i2.8087

Abstract

Wayang godhong merupakan seni kontemporer hasil karya Agus Purwantoro atau biasa dikenal dengan Guspur. Wayang godhong adalah karya seni berbentuk wayang yang berbahan dasar daun. Wayang godhong hadir sebagai seni pertunjukan yang out of the box. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui wayang godhong karya Guspur secara mendalam. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumupulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wayang godhong tercipta atas permasalahan resistensi petani tembakau yang dijadikan media untuk menyampaikan pendapat. Selain itu kecintaan seniman akan lingkungan mendasari terciptanya wayang ini. Wayang godhong berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Bentuk viasual yang dari wayang godhong terdiri dari manusia, binatang, dan tokoh pewayangan. Wayang godhong memiliki tujuan untuk menyadarkan manusia untuk lebih menghargai alam dan Kembali pada hakikat daun yang sebenarnya.