Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MENINGKATKAN PROFESIONALITAS LULUSAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM M. Jamil Yusuf
At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam Vol 5, No 1 (2022): Jurnal At-Taujih
Publisher : Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dawah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/taujih.v5i1.12724

Abstract

Profesionalitas sebagai suatu keterampilan untuk mampu bertindak secara professional adalah sebuah tuntutan yang wajib dikuasai oleh seseorang lulusan S-1 sesuai dengan bidang kesarjanaannya. Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan pendidikan akademik (Sarjana Konseling Islam)  dan sedang berjuang untuk dapat menyelenggarakan pendidikan profesi (Konselor Islam) secara otomatis memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas lulusannya mencakup kompetensi akademik dan kompetensi profesional sebagai satu keutuhan.  Prodi BKI dalam mengemban tugas ini juga menghadapi tantangan yang bersifat internal mengenai terbatasnya sumber daya tenaga pendidik berkualitas dan linier dengan bidang ilmu yang dikembangkannya. Di samping itu, Prodi BKI juga menghadapi tantangan eksternal di era disrupsi yang amat sukar diprediksi arah perkembangannya. Solusi yang ditawarkan di sini adalah uji kompetensi terhadap para lulusan dengan pendekatan analisis SWOT dan difokuskan ketika mereka hendak memasuki dunia kerja. Kepada para lulusan  diajukan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan factor kekuatan (S) dan kelemahan (W) yang ada pada dirinya, serta factor peluang (O) dan factor ancaman (T) yang terbentang di hadapan diri mereka. Dengan hasil ujia kompetensi ini diharapkan Pengelola Prodi BKI dapat menyusun strategi pemantapan kekuatan (S) dan memperbesar peluang (O), serta membenahi factor-faktor kelemahan (W) dan mengurangi factor-faktor ancaran/hambatan (T) untuk diterapkan dalam pengelolaan program studi, sekaligus diharapkan para lulusan dapat memasuki dunia kerja sesuai kompetensi akademik dan kompetensi profesionalnya.
KONSELING KRISIS DALAM PERSPEKTIF ISLAM M. Jamil Yusuf
At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam Vol 5, No 2 (2022): Jurnal At-Taujih
Publisher : Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dawah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/taujih.v5i2.16111

Abstract

Krisis merupakan musibah yang menimpa seseorang atas ketentuan Allah Swt dan tidak bisa ditolak, misalnya kematian anggota keluarga, kecelakaan lalu lintas, kebakaran, gempa atau banjir yang menghancurkan harta benda, dan sebagainya. Meskipun diakui bahwa pada kasus-kasus tertentu dapat diantisipasi dengan program pencegahan, seperti hati-hati dalam berlalu lintas atau menjauhkan diri dari kebakaran. Faktor kontribusi krisis secara internal dipengaruhi oleh proses berpikir negatif klien dan secara eksternal di era disrupsi ini dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dengan sistem digitalnya, di mana peran tenaga kerja diganti sistem dan peran robot lebih dominan. Dampak paling parah adalah hilangnya harapan hidup, rasa putus asa dan klien merasa tidak punya daya untuk memecahkan krisis yang dihadapinya. Konseling krisis dalam perspektif Islam, di mana klien  harus dimantapkan pemahamannya bahwa krisis (musibah) itu bagian dari kasih-sayangnya Allah kepadanya karena musibah itu berfungsi sebagai ujian, pengampunan dosa, pemaafan, atau bisa jadi sebagai pembalasan atas kesalahan-kesalahannya. Tugas utama konselor menumbuhkan kesadaran klien bahwa ia adalah hamba dan khalifah Allah di bumi dan harus berkomitmen mewujudkan perubahan, perbaikan dan penyempurnaan diri.
PURNABAKTI DALAM PERSPEKTIF KONSELING ISLAM M. Jamil Yusuf
At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam Vol 6, No 1 (2023): Jurnal At-Taujih
Publisher : Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dawah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/taujih.v6i1.18743

Abstract

Setiap orang yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara, karyawan dan pekerja sesuai peraturan perundangan yang berlaku wajib menerima pada purna bakti atau pensiun dengan segala hak yang melekat padanya. Memasuki masa pensiun berarti mengakhiri masa bertugas/bekerja dan kembali menjadi warga masyarakat biasa untuk meneruskan pengabdiannya kepada keluarga dan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Pada sebagian pensiunan bahwa memasuki masa purna bakti adalah sebuah kebahagiaan, namun pada sebagian lainnya bisa mengalami masalah-masalah berat seperti berkurangnya keuangan, menurunnya kesehatan, merasa kesepian dan sebagainya. Pada sebagian pensiunan yang mengalami masalah sangat mungkin yang bersangkutan dapat menangani sendiri masalahnya, namun pada sebagian lainnya dipandang perlu mendapat layanan bantuan, termasuk layanan konseling Islam. Dalam perspektif konseling Islam adalah beberapa hal yang ditawarkan, yakni: (1) memunculkan asumsi bahwa para pensiunan itu haus akan kasih sayang dan penerimaan anggota keluarga. Lalu konseling Islam harus mengakomudir dua hal ini serta  mengembangkan tujuan hidup yang bermakna; (2)  sebagai konselor Muslim harus mengedepankan banyak mendengar tentang masalah dan konsep hidup bermakna yang didambakan klien di hari-hari tuanya hingga menemukan kesepakatan yang bermakna; dan (3) indikator kualitas diri seseorang klien amat ditentukan oleh kualitas ketabahan dan kesabaran. Semakin tangguh seseorang menghadapi masalah, maka semakin kuat dalam mengharungi kesulitan-kesulitan hidup di hari tuanya.
Peranan Pendamping Sosial dalam Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Anak pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Maulida, Maulida; Yusuf, M. Jamil; Indra, Syaiful
Indonesian Journal of Counseling and Development Vol. 2 No. 1 (2020): July 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ijcd.v2i01.871

Abstract

Abstrak. Kekerasan terhadap anak dapat diartikan sebagai setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, mental, seksual, psikilogis, termasuk penelantaran dan merendahkan martabat anak Dalam menjalankan kehidupannya, banyak diantara anak-anak yang mendapatkan haknya dan dapat tumbuh berkembang dengan baik, namun masih ada anak-anak yang tidak terpenuhi haknya sehingga mereka mengalami tindak kekerasan, maka untuk itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut peranan pendamping sosial dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kompetensi pendamping sosial pada P2TP2A Kabupaten Aceh Selatan; (2) bentuk-bentuk kekerasan yang dihadapi oleh anak pada P2TP2A Kabupaten Aceh Selatan; (3) prosedur pendampingan sosial yang harus dilakukan oleh pendamping sosial dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak pada P2TP2A Kabupaten Aceh Selatan. penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi deskriptif untuk menggali informasi supaya dapat memenukan penjelasan mengenai peranan pendamping sosial dalam penanganan kasus KTA. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini berjumlah dua orang dengan rincian satu orang kutua devisi pendidikan dan pelayanan pendampingan kasus dan satu orang pendamping sosial yang ada di P2TP2A Kabupaten Aceh Selatan ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik pengolahan data dan analisis data dilakuakan dengan tiga langkah yaitu: data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) kompetensi pendamping sosial ditinjau dari segi jenjang pendidikan, standar kompetensi seorang pendamping sosial belum tercapai karena latar belakang pendidkan; (2) bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak yang terjadi di P2TP2A adalah kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran, kasus inilah yang sering pendamping sosial damping; (3) Prosedur pendampingan yang di berikan oleh pihak P2TP2A terhadap korban/klien sudah berjalan dengan baik, dilihat dari prosedur dan layanan yang diberikan oleh pendamping sosial terhadap klien dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi klien tersebut. Maka dari itu dapat dikatakan bahwasanya perenan pendamping sosial sangat dibutuhkan untuk membantu klien dalam menyelesaikan permasalahannya.
Identifikasi Sikap Empati Pengasuh pada Anak Binaan Panti Asuhan Ulya, Rauzatul; Yusuf, M. Jamil; Indra, Syaiful
Indonesian Journal of Counseling and Development Vol. 2 No. 1 (2020): July 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ijcd.v2i01.874

Abstract

Abstrak. Empati adalah kemampuan merasakan emosi orang lain baik secara fisiologis maupun mental yang terbangun pada berbagai keadaan batin orang lain. Perubahan biologis ini akan muncul ketika individu berempati dengan orang lain. Hal yang tidak sesuai dengan diharapkan adanya pengasuh yang cuek, tidak peduli dan antipati, sehingga membuat anak asuh tidak berani berkomunikasi langsung dengan pengasuhnya sehingga membuat anak asuh kurang nyaman dan betah tinggal di panti asuhan. Oleh karena itu yang menjadi tujuan umum penelitian ini yaitu: untuk mengetahui identifikasi sikap empati pengasuh pada anak binaan pada Panti Asuhan Bumi Moro Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan tujuan khususnya yaitu: untuk mengetahui bentuk-bentuk empati pengasuh dalam pengasuhan anak binaan, untuk mengetahui sikap pengasuh yang menunjukkan empati pada anak binaan dilihat dari verbal dan non verbal, untuk mengetahui respon anak binaan terhadap empati yang diberikan oleh pengasuh. Metode yang digunakan adalah deskriptif pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara dengan teknik purposive sampling dengan 5 kriteria dan 7 orang responden, teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil yang di peroleh dalam penelitian ini meliputi: (1) Bentuk-bentuk empati pengasuh dalam pengasuhan anak binaan sudah berhasil dilakukan dengan cara memeluk, meranggkul dan mengusap kepala anak asuh ketika mendengarkan persoalan yang dialami anak asuh di panti asuhan. (2) Sikap pengasuh yang menunjukkan empati pada anak binaan dilihat dari verbal dan non verbal pengasuh sudah memberikan perhatikan terhadap anak asuh dengan cara menjenguk anak asuh ke kamar, duduk bersama anak asuh, ikut makan bersama dan sebagainya sehingga anak asuh merasa ada yang peduli terhadap dirinya. (3) Respon anak binaan terhadap empati yang diberikan oleh pengasuh diketahui bahwa anak asuh bahagia dan nyaman tinggal di panti asuhan karena memiliki pengasuh yang lemah lembut dan perhatian terhadap diri anak asuh. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sikap empati pengasuh dapat membantu mengetahui perasaan dan kondisi yang dialami oleh anak binaan.