Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

KAJIAN GAS KARBON MONOKSIDA (CO) KENDARAAN BERMOTOR PADA RENCANA JALUR MODA RAYA TERPADU SURABAYA Novirina Hendrasarie; Hilda Dinda Octarika
Prosiding ESEC Vol. 1 No. 1 (2020): Seminar Nasional (ESEC) 2020
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.012 KB)

Abstract

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu penyumbang pencemaran udara yang berasal dari sektor transportasi. Dilakukan analisis pada jalan-jalan yang direncakan akan menjadi jalur monorail dan tram di surabaya . Analisis data terdiri dari dua tahap yaitu pertama menghitung kendaraan menggunakan survei traffic counting digunakan untuk menghitung emisi menggunakan software Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation Model sehingga dapat diketahui nilai emisi gas CO yang dihasilkan dan menggunakan alat CO Aeroqual untuk menghitung kualitas udara ambien. Diperoleh hasil bahwa ada 2 ruas jalan dengan rata – rata diatas 10000 kendaraan yang melintas di jalan Joyoboyo dan jalan Mayjen Sungkono menghasilkan emisi karbon monoksida (CO) yang rata - rata lebih dari 5,0 kg/jam total karbon monoksida (CO), sedangkan kualitas udara ambien yang dihasilkan oleh kedua jalan tersebut melebihi dari baku mutu udara ambien yang ada di Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 yaitu 30,000 µg / Nm3. Dengan begitu kedua jalan tersebut dapat dipertimbangkan menjadi rute MRT Surabaya. Untuk simulasi emisi CO yang dihasilkan oleh monorail dan tram sebesar 17.775,80 ton CO/tahun.
STUDI KEMAMPUAN HAND SANITIZER TERHADAP PENURUNAN BAKTERI-JAMUR DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN KULIT MANUSIA Ayu Candra Puspita; Novirina Hendrasarie
Prosiding ESEC Vol. 1 No. 1 (2020): Seminar Nasional (ESEC) 2020
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.9 KB)

Abstract

Kebutuhan hand sanitizer meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pasien positif COVID-19. Banyak hand sanitizer yang dijual tidak memiliki BPOM, sehingga diragukan manfaat dan dampaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan hand sanitizer dalam menurunkan total bakteri dan jamur, mengetahui jenis bakteri dan jamur yang masih tersisa, dan dampak penggunaan hand sanitizer. Menggunakan 8 jenis hand sanitizer dengan bahan dasar alkohol 60–70%. Pengambilan sampel bakteri dan jamur pada panelis menggunakan teknik swab. Metode yang digunakan untuk menghitung jumlah koloni adalah metode total plate count. Hasil yang didapatkan adalah, hand sanitizer E menunjukkan angka tertinggi dalam penurunan jumlah koloni bakteri, sedangkan hand sanitizer D menunjukkan angka tertinggi dalam penurunan jumlah koloni jamur. Jenis bakteri yang masih tersisa adalah coliform dan streptococcus. Jenis jamur yang masih tersisa adalah khamir dan kapang. Ditinjau dari dampak jangka panjang, hand sanitizer D menjadi yang terbaik dalam golongan penambahan tanaman, sedangkan hand sanitizer F menjadi yang terbaik dalam golongan tanpa penambahan tanaman.
EFEKTIVITAS DESINFEKTAN AEROSOL TERHADAP PENGURANGAN BAKTERI-JAMUR DAN DAMPAKNYA TERHADAP KULIT MANUSIA Ericke Nandita Maharani; Novirina Hendrasarie
Prosiding ESEC Vol. 1 No. 1 (2020): Seminar Nasional (ESEC) 2020
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.365 KB)

Abstract

Pandemi di Indonesia menyebabkan dilakukannya penyemprotan desinfektan secara masif. Desinfektan memiliki efektivitas pengurangan bakteri-jamur dan dampak pada kulit yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas desinfektan aerosol terhadap pengurangan jumlah bakteri, dan jamur dan dampaknya terhadap kulit manusia. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: Pengambilan 6 jenis desinfektan yang berbahan dasar Sodium hipoklorit, Benzalkonium klorida, Chloroxylenol, dan Pine oil. Pengambilan sampel bakteri dan jamur pada tangan responden menggunakan teknik swab. Desinfektan disemprotkan pada jarak 2 m, 1 m, dan 0,5 m. Hasil yang didapatkan, ditinjau dari bahan yang efektif yaitu Desinfektan A (NaOCl 0,3% dan C8H9OCl 0,01%), mengurangi 99% bakteri, 80% jamur pada jarak 0,5 m. Desinfektan dengan efektivitas terrendah pada B (C6H5CH2N(CH3)2RCl 0,02%), mengurangi 84% bakteri, 67% jamur pada jarak 0,5 m. Dampaknya yaitu rasa gatal, pada desinfektan B (C6H5CH2N(CH3)2RCl 0,02%) 1 menit setelah penyemprotan, C (NaOCl 0,005%; C10H18O 0,002%; C6H5CH2N(CH3)2RCl 0,0015%) 5 menit setelah penyemprotan, dan F (NaOCl 0,01%; C10H18O 0,05%) 3 menit setelah penyemprotan.
PELATIHAN PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH RUMAH MAKAN DAN TINJA Novirina Hendrasarie; Edison RP
ABDIMAS UNWAHAS Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/abd.v6i2.5687

Abstract

Biogas dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk energi alternatif yang dapat diterapkan kepada masyarakat sebagai bentuk efisiensi penggunaan bahan bakar minyak ataupun gas dalam keperluan rumah tangga. Bahan bakunya diambil dari bahan yang mudah didapat dan sudah tidak dapat dipakai lagi, tetapi dapat di recycle menjadi biogas yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.  Salah satu bahan yang melimpah, murah dan mudah didapat dalam kehidupan sehari-hari adalah limbah sisa makanan maupun tinja. Kedua bahan tersebut merupakan limbah organik yang dapat dimanfaatkan menjadi biogas. Desa Penataran, mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani, dengan bahan baku biogas yang melimpah di daerahnya, maka berpotensi sebagai penghasil biogas.  Pelatihan pembuatan biogas di desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, ini bertujuan memberikan bekal kepada masyarakat, tentang pemanfaatan limbah yang sehari-hari ada di sekitar kita, menjadi biogas. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan gambaran berupa metode pembuatan biogas, bahannya yang berasal dari limbah yang bisa ditemui sehari-hari, sehingga  dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan bakar dan penerangan. Generator listrik bisa memanfaatkan energi yang bersumber dari biogas Metode dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah ceramah dan pengaplikasian teknik pembuatan secara langsung. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah modul pembuatan biogas berbahan dasar limbah  yang mudah ditemui sehari-hari. Penggunaan peralatan untuk pembuatan biogas, terbuat dari peralatan sehari-hari yang mudah untuk didapatkan. Kata kunci: biogas, limbah rumah makan, tinja sapi, tinja manusia, gas metan
PEMANFAATAN LIMBAH PRODUK KAYU SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BIOETANOL Novirina Hendrasarie; Dwi Kurniawan
EnviroUS Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal EnviroUs
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/envirous.v3i1.111

Abstract

Bioethanol is one of biomass based alternative energy. Biomass sources that can be used is lignocellulose from wood product waste. Consumption of paper and cardboard, which is one of wood product, of the world in 2015 reach 410,7 million tons. In this research, bioethanol is produced from raw material that is originated from wood product waste such as HVS paper, cardboard, and sawdust. Delignification is done to 50 grams of raw materials, than add 500 mL of H2SO4 10% for 2 hours and 100 °C. Hydrolysis with 5 grams of cellulase enzyme is done with 500 mL of water on pH 4 and 50 °C temperature for 4 hours. Fermentation in this bioethanol production use Saccharomyces cerevisiae with fermentation time variation of 8, 10, and 12 days. Furthermore, there are 2 stages distillation – adsorption process with adsorbent variation, zeolite 4A and silica gel for 60 minutes. Highest result is reached by sawdust raw material, 10 days of fermentation time, and zeolite 4A as adsorbent, with ethanol content 44,78 %.
PENURUNAN KANDUNGAN ZAT PENCEMAR ORGANIK PADA LIMBAH RUMAH POTONG AYAM DENGAN BIOFILTER AEROB MENGGUNAKAN MEDIA KULIT KERANG Novirina Hendrasarie; Evi Wahyu Ardhi
EnviroUS Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal EnviroUs
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/envirous.v3i1.134

Abstract

Liquid waste in the Chicken Slaughterhouse (RPA) has a high organic pollutant, as well as contains various microorganisms that can be pathogenic. In this study, the processing unit used was an aerobic biofilter with a batch system, using Neptunea Cumingii skin and Anadara Granosa skin adhesive media, at contact times of 12, 24, 36, 48 hours. This study aims to determine the type of media and the best contact time and microorganisms that play a role in reducing the content of BOD, COD, TSS, and Ammonia. The results showed that the most optimal result was using Anadara Granosa skin media with a contact time of 48 hours, it could reduce the concentration of BOD 96.24%, COD 90.27%, TSS 98.18% and Ammonia 98.86%. Microorganisms that play a role in degrading organic content in chicken slaughterhouse waste on Neptunea Cumingii skin media are Comamonas testosterone, Anadara Granosa skin media are Aeromonas sobria and Salmonella spp.
PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI BENANG MENGGUNAKAN KOMBINASI FILTRASI MEDIA BIOCHAR DAN CONSTRUCTED WETLANDS Novirina Hendrasarie; Nurma Syitoh
EnviroUS Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal EnviroUs
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/envirous.v3i1.168

Abstract

Processing wastewater filtration systems and Constructed Wetlands systems have been widely used with the use of natural materials to reduce waste content and have aesthetic value which is the main attraction of this research. This study aims to determine the effectiveness of the filter media in the form of biochar husk and anthracite and the types of plants (Zantedeschia aethiopica and Epipremnum aureum) used in the Constructed Wetlands. The main parameters used are COD, TSS, Ammonia, and color. Reactor wetlands have residence times ranging from 3 days, 6 days, 9 days, 12 days to 15 days. The residence time of the waste filtration process is 5 hours. The best filtration using anthracite filter media has an efficiency of removal of COD, TSS, Ammonia, Color of 40.86%, respectively; 31.71%; 15.8%; 9.78%. The best Constructed Wetlands system is in a reactor containing an Epipremnum aureum inlet plant from anthracite filtration effluent which has an efficiency of removing COD, TSS, Ammonia, and color parameters of 77.4%; 86.43%; 91.38%; 97.7%.
Pengaruh Rasio C/N dan Penambahan Mikronutrien (Molybdenum, Mangan, dan Nikel) terhadap Kadar Gas Metan Biogas Novirina Hendrasarie; Santika Octaviana Putri Br Purba
Prosiding ESEC Vol. 3 No. 1 (2022): Seminar Nasional (ESEC) 2022
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas is a waste teratment technology that uses natural microorganisms to produce energy that is placed in an airtight space. In biogas production, it is necessary to add nutrients to correct the composition of the organic fraction in the waste to approach its ideal composition. The objective of this study is to determine the effect of adding micronutrients molybdeman 1 mg/L, manganese 1 mg.L, nickel 1 mg/L, and a mixture of three micronutrients 1 mg/L in the biogas formation process. The research was conducted on the mixing of cow dung, vegetable waste, hudrilla verticillate, and water in a batch reactor with a capacity of 5 liters. The parameters used in this research are methane gas content and C/N ratio. The best methane gas contwnt and C/N ratio in this study were obtained in the variation of the assition of a mixture of the three micronutrients for 30 days with values of 68.33% and 29.774% respectively.
Pemanfaatan Biokoagulan Gambas Kering sebagai Pengolahan Limbah Cair Batik Novirina Hendrasarie; Raden Kokoh Haryo Putro; Farhan Athallah Ajiputra
Prosiding ESEC Vol. 3 No. 1 (2022): Seminar Nasional (ESEC) 2022
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik wastewater comes from the dyeing process of batik fabrics. Reactive dyestuffs are synthetic dyes that are often used. Reactive dyes that are often used are Methyl Orange (MO) and Methyl Blue. Only 5% of the dyestuffs are used in batik dyeing, the remaining 95% will be discarded. The content of dyestuffs used causes batik liquid waste to have alkaline, cardiogenic properties, difficult to decompose and contain high organic substances. So that batik wastewater treatment is needed before it is discharged into water bodies, coagulation is one of the waste treatment methods that can be used. The purpose of this study is to determine the decrease in pollutant parameters in the form of TSS and color by the biocoagulant of dried luffa cylindrica. This study was conducted by varying the dose of coagulants and pH of coagulants with a stirring speed of 200 rpm for 2 minutes and a stirring speed in the flocculation process of 60 rpm with a time of 40 minutes. The highest removal of color content and Total Suspendid Solid (TSS) occurred in the use of biocoagulant at a dose of 3500 mg / l pH 6, namely 76% and 75% respectively.
Pengaruh Aktivitas Masyarakat Terhadap Kualitas Sungai Brantas Novirina Hendrasarie; Risma Indah Salsabila
Prosiding ESEC Vol. 4 No. 1 (2023): Seminar Nasional (ESEC) 2023
Publisher : Prosiding ESEC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The growth of population, agriculture and industries sector rapidly increaased in Branta  river area causes an increase in use of river water so the risk of pollution increases. Some of parameter such as BOD, COD and TSS could be able to affect the water quality. With secondary data of BOD, COD and TSS from some of Brantas river’s checkpoint, Some points were obtained that exceeded the quality standard that is on first point located in Surabaya River with 320 mg/l of TSS, seond point located in Tengah River with 28,2 mg/l of COD, third point located in Porong River with 390 mg/l TSS and fourth point located in Brantas river  with 15,6 mg/l of BOD. This is caused by the activities of the people around who pay little attention to the cleanliness of the river environment, such as throwing garbage on the banks of the river.