Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena manipulasi identitas di media sosial yang mewajibkan batas antara fakta dan citra. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis representasi konstruksi realitas pada karakter Han Sora dalam film Following (2024). Tujuan penelitian ini adalah untuk membedah mekanisme naratif dan sinematik yang digunakan subjek dalam membangun identitas artifisial, serta dampaknya terhadap krisis identitas individu di era post-truth . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes dan teori konstruksi realitas sosial dari Peter L. Berger serta Burhan Bungin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi realistis Han Sora dibangun secara sistematis melalui integrasi elemen naratif berupa manipulasi bahasa "transparansi" dan elemen sinematik seperti digital overlay dokumen administrasi serta rekayasa mise-en-scène yang menciptakan mitos transparansi digital. Melalui mekanisme massa media, fabrikasi ini menciptakan perasaan menyata ( sense of the real ) dan konfirmasi kolektif dari masyarakat siber, yang pada akhirnya melahirkan kondisi hiperrealitas. Penemuan penting dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proses dialektika realitas yang awalnya bertujuan untuk validasi sosial berakhir pada tahap internalisasi yang destruktif, di mana subjek mengalami keterasingan diri dan terjebak dalam penjara kesadaran yang tercipta sendiri akibat dorongan deprivasi psikologis relatif dalam budaya siber. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan literasi media masyarakat agar lebih kritis terhadap tanda visual digital.Kata-kata Kunci: Konstruksi Realitas, Semiotika, Film, Hiperrealitas, Post-Truth