Megi Primagara
Universitas Muhammadiyah Tangerang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBINGKAIAN BERITA TENTANG KASUS PENYELUNDUPAN BARANG MEWAH DI PESAWAT GARUDA INDONESIA NOMOR GA9721 Megi Primagara; Firna Dwi Septiani
KOMUNIKATA57 Vol 2 No 1 (2021): KOMUNIKATA57
Publisher : FISIP IBI-K57 Prodi Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.764 KB) | DOI: 10.55122/kom57.v2i1.195

Abstract

Bulan Nopember 2019, media massa di Indonesia ramai memberitakan kasus penyelundupan barang mewah, yaitu onderdil motor Harley Davidson dan sepeda Brompton produksi tahun 1972. Barang-barang mewah itu diselundupkan melalui penerbangan pesawat Garuda Indonesia nomor GA9721 yang terbang dari Perancis hingga Indonesia. Tempo.co dan Kompas.com termasuk dua media digital yang turut memberitakan kasus penyelundupan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana berita Tempo.co dan Kompas.com membingkai kasus penyelundupan barang mewah pada pesawat Garuda Indonesia nomor GA9721. Penelitian ini menggunakan kajian pembingkaian berita model Robert N. Entman. Metode penelitian menggunakan metode analisis framing Robert N. Entman, yaitu menurut Eriyanto (2018) framing dapat dilihat dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu. Sementara unit analisis penelitian adalah berita Tempo.co dan Kompas.com mengenai kasus penyelundupan barang mewah di pesawat Garuda Indonesia nomor GA9721.Hasil penelitian menggambarkan bahwa berita-berita Tempo.co dan Kompas.com membingkai kasus penyelundupan di pesawat Garuda nomor GA9721 dengan menyajikan narasi perlunya pelaku penyelundupan ini jika terbukti bersalah untuk dihukum sesuai hukum yang berlaku. Serta jika pelaku merupakan bagian dari BUMN maskapai Garuda Indonesia agar diberhentikan dari jabatan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyalahgunaan jabatan.
REPRESENTASI KONSTRUKSI REALITAS KARAKTER HAN SORA DALAM FILM FOLLOWING (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Rizqina Rachmania; Dian Nurvita Sari; Megi Primagara; Hamidi Hamidi
AGUNA: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2: Juli (2026)
Publisher : AGUNA: Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35671/aguna.v7i2.3452

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena manipulasi identitas di media sosial yang mewajibkan batas antara fakta dan citra. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis representasi konstruksi realitas pada karakter Han Sora dalam film Following (2024). Tujuan penelitian ini adalah untuk membedah mekanisme naratif dan sinematik yang digunakan subjek dalam membangun identitas artifisial, serta dampaknya terhadap krisis identitas individu di era post-truth . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes dan teori konstruksi realitas sosial dari Peter L. Berger serta Burhan Bungin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi realistis Han Sora dibangun secara sistematis melalui integrasi elemen naratif berupa manipulasi bahasa "transparansi" dan elemen sinematik seperti digital overlay dokumen administrasi serta rekayasa mise-en-scène yang menciptakan mitos transparansi digital. Melalui mekanisme massa media, fabrikasi ini menciptakan perasaan menyata ( sense of the real ) dan konfirmasi kolektif dari masyarakat siber, yang pada akhirnya melahirkan kondisi hiperrealitas. Penemuan penting dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proses dialektika realitas yang awalnya bertujuan untuk validasi sosial berakhir pada tahap internalisasi yang destruktif, di mana subjek mengalami keterasingan diri dan terjebak dalam penjara kesadaran yang tercipta sendiri akibat dorongan deprivasi psikologis relatif dalam budaya siber. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan literasi media masyarakat agar lebih kritis terhadap tanda visual digital.Kata-kata Kunci: Konstruksi Realitas, Semiotika, Film, Hiperrealitas, Post-Truth