Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana perbedaan dalam memahami kebenaran muncul dan berkembang dalam konteks individu, sosial, dan budaya. Kajian diarahkan pada empat aspek epistemologis utama, yaitu sumber munculnya perbedaan pandangan, proses terbentuknya perbedaan tersebut, karakteristik inheren dari perbedaan, serta sikap individu dalam meresponsnya. Urgensi penelitian terletak pada meningkatnya keragaman perspektif dan kompleksitas arus informasi di masyarakat modern yang sering kali memunculkan polarisasi, misinformasi, dan konflik pemaknaan. Pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana perbedaan klaim kebenaran terbentuk diperlukan untuk memperkuat literasi kritis, sikap toleransi, dan kemampuan dialog lintas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis literatur yang dipadukan dengan interpretasi konseptual. Kriteria pemilihan literatur didasarkan pada relevansi dengan kajian epistemologi dan studi kebenaran, pembahasan mengenai sumber dan dinamika konstruksi pengetahuan, berasal dari publikasi ilmiah yang kredibel dan terkini, serta memberikan kontribusi teoretis dalam memahami fenomena sosial terkait perbedaan klaim kebenaran. Melalui sintesis terhadap berbagai sumber filsafat, kajian sosial, dan fenomena kehidupan kontemporer, penelitian ini menemukan bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman hidup, nilai personal, dan lingkungan sosial-budaya menjadi fondasi utama munculnya keragaman pemahaman mengenai kebenaran. Hasil utama dari sintesis menunjukkan bahwa perbedaan tersebut terbentuk melalui proses komunikasi, pembentukan makna, serta interaksi sosial yang memengaruhi cara individu menafsirkan realitas. Secara karakteristik, perbedaan dapat menjadi sarana pengayaan pemikiran apabila dihadapi melalui dialog terbuka dan saling menghargai. Sebaliknya, perbedaan dapat memicu konflik ketika diperkuat oleh prasangka, intoleransi, atau bias kognitif. Penelitian ini menegaskan bahwa respons ideal terhadap keragaman pandangan tentang kebenaran meliputi keterbukaan berpikir, penghargaan terhadap perbedaan, serta komitmen menjaga harmoni sosial. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman epistemologis yang komprehensif terhadap perbedaan perspektif kebenaran tidak hanya memperkaya wacana teoretis mengenai epistemologi dan multikulturalisme, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi penguatan pendidikan karakter, literasi kritis, dan pengembangan masyarakat yang lebih inklusif.