Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SELEKSI ISOLAT ORCHID MYCORRHIZA PADA BIBIT ANGGREK Phalaenopsis amabilis PADA MEDIA COCOPEAT DAN ARANG SEKAM SAAT AKLIMATISASI Silfi Indrasari; Maria Viva Rini; Mas Achmad Syamsul Arif; Ainin Niswati
Jurnal Agrotek Tropika Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Agrotek Tropika Vol 8, Januari 2020
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2434.343 KB) | DOI: 10.23960/jat.v8i1.3672

Abstract

Orchid mycorrhiza merupakan suatu bentuk asosiasi mutualistik antara akar tanaman anggrek dengan fungi tertentu yang berfungsi sebagai biofertilizer (pupuk hayati).  Fungi ini akan menginfeksi anggrek melalui akar yang ditandai dengan adanya struktur hifa yang berbentuk lilitan padat pada korteks yang disebut dengan peleton.  Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan apakah empat isolat Orchid mycorrhiza yang diuji mampu menginfeksi dan bersimbiosis dengan akar anggrek P. amabilis, (2) menentukan media tanam yang terbaik untuk aklimatisasi tanaman anggrek P. amabilis, (3) mengetahui apakah respon tanaman anggrek terhadap pemberian Orchid mycorrhiza dipengaruhi oleh media tanam yang digunakan, dan (4) menentukan media tanam yang terbaik untuk empat jenis isolat Orchid mycorhhiza.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan yang disusun secara faktorial (5x2).  Faktor pertamaadalah jenis isolat Orchid mycorrhiza (M) yaitu kontrol tanpa Orchid mycorrhiza(m0), isolat Orchid mycorrhiza M1 (m1), isolat Orchid mycorrhiza M9 (m2), isolat Orchid mycorrhiza M12 (m3), dan isolat Orchid mycorrhiza M14 (m4). Faktor kedua yaitu media tanam (T) yang terdiri dari dua level yaitu cocopeat (t1) dan arang sekam (t2).  Setiap perlakuan diulang 4 kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 2 bibit anggrek.Bibit anggrek dikelompokkan menjadi 4 berdasarkan jumlah daun.Data yang diperoleh diujihomogenitas ragamnya dengan uji Bartlett dan aditivitasnya dengan uji Tukey.Data dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat yang diuji M1, M9, M12, dan M14 merupakan Orchid mycorrhiza karena mampu menginfeksi dan bersimbiosis dengan akar anggrek P. amabilis dan membentuk peleton di dalam sel korteks akar.Media tanam cocopeat dan arang sekam menghasilkan respon yang sama terhadap pertumbuhan tanaman anggrek P. amabilis saat aklimatisasi.Respon tanaman anggrek terhadap pemberian Orchid mycorrhiza tidak dipengaruhi oleh media tanam yang digunakan.Media tanam cocopeat dan arang sekam menghasilkan respon yang sama terhadap keempat jenis isolat Orchid mycorrhiza.
Interaksi Fe3+ dan pH terhadap Dispersibilitas Klei Tipe 1:1 pada Tanah Sawah di Kabupaten Bogor R Ayu Chairunnisya; Retno Purnama Sari; Silfi Indrasari; Retno L Lubis; Yaumil Khairiyah; Khairun Purgawa; Iskandar; Dyah Tjahyandari Suryaningtyas
Berkala Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v8i3.53714

Abstract

Klei tipe 1:1 seperti kaolinit umumnya memiliki kestabilan dispersi yang tinggi karena muatan permukaan yang relatif rendah, namun keberadaan ion multivalen seperti Fe³⁺ dalam lingkungan tanah dapat memengaruhi perilaku dispersinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi konsentrasi ion Fe³⁺ dan pH terhadap tingkat dispersi klei 1:1 pada tiga jenis tanah, yaitu DRM1, GSR1, dan GSDR1. Metode yang digunakan meliputi pencampuran suspensi tanah dengan larutan FeCl₃ pada berbagai konsentrasi (0,01 M hingga 0,10 mmol L-1) dan pada kisaran pH 5,5–6,5, diikuti dengan pengukuran nilai transmisi menggunakan spektrofotometer sebagai indikator tingkat flokulasi. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi Fe³⁺ tidak secara konsisten menurunkan nilai transmisi. Pada DRM1 dan GSDR1, peningkatan konsentrasi Fe³⁺ justru menyebabkan kenaikan transmisi pada pH tertentu, menunjukkan terjadinya dispersi akibat pembentukan kompleks Fe hidroksi bermuatan negatif. Sementara itu, pada GSR1, penurunan transmisi yang lebih stabil diamati, menunjukkan respons tanah yang lebih sesuai dengan teori flokulasi. Temuan ini menunjukkan bahwa ion Fe³⁺ tidak selalu berfungsi sebagai agen flokulan yang efektif bagi klei 1:1, tergantung pada kondisi kimia tanah. Implikasi dari hasil ini penting bagi pengelolaan lahan pertanian, khususnya dalam mencegah degradasi struktur tanah akibat dispersi klei. Pengaturan pH, penambahan amelioran, dan manajemen irigasi yang tepat menjadi strategi penting dalam mempertahankan stabilitas agregat tanah.