Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : TEKNOSIAR

Tata Zonasi Permukiman Adat Di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende Fabiola T.A. Kerong
TEKNOSIAR Vol. 9 No. 1 (2015): April
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.618 KB)

Abstract

Permukiman adat di Desa Nggela merupakan salah satu permukiman adat yang masih bertahan keasliannya di Kabupaten Ende-Flores dan merupakan tempat tinggal dari para pemimpin adat dan terdapat juga zona-zona yang membagi permukiman adat ini menjadi beberapa wilayah. Penelitian ini akan mencari tentang relasi antara struktur masyarakat dan tata zonasi di permukiman adat ini dan faktor-faktor lain yang mendukung relasi antara kedua hal tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan secara naturalistik hasil penelitian ini menemukan adanya tata zonasi permukiman adat. Selain dari pada itu, ada faktor-faktor lain yang berpengaruh pada tata zonasi yaitu faktor kosmologi, sejarah, proteksi, aktivitas, dan teritori elemen-elemen sakral.
Panti Asuhan Anak Naungan Kasih St. Elisabeth Dengan Pendekatan Arsitektur Neo – Vernacular Ende Lio Di Kota Ende Fabiola T.A. Kerong; Stefanus Sepa Kooro
TEKNOSIAR Vol. 9 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1546.168 KB)

Abstract

Panti Asuhan Anak Naungan Kasih St. Elisabeth sebagai tempat bernaung anak-anak terlantar perlu ditata ulang guna melengkapi fasilitas-fasilitas yang masih terbatas untuk mendukung kegiatan anak-anak pada panti asuhan ini untuk beberapa tahun ke depan mengingat masih banyak anak-anak yatim-piatu dan anak telantar yang tak tertampung dan terbina, karena sebagai suatu wadah atau rumah, panti asuhan anak Naungan. Dengan konsep pendekatan perancangan arsitektur Neo-Vernacular Ende-Lio, Panti Asuhan menghadirkan Fasilitas-fasilitas baru guna mendukung aktivitas yang ada pada Panti Asuhan ini, Fasilitas-fasilitas Utama dan Fasilitas Penunjang yang ada ditata sedemikian rupa sesuai dengan Konsep Arsitektur Neo-vernacular yang diterapkan pada ruang dalam dan ruang luar bangunan. Pola tata letak bangunan serta sirkulasi pada ruang dalam bangunan dan ruang luar bangunan dengan mendekatkan konsep vernacular Ende-Lio.
Pengembangan Kawasan Wisata Hutan Mangrove Di Desa Nira Nusa Kecamatan Maurole Kabupaten Ende (Dengan Pendekatan Tema Ekowisata) Pande, Guaredini Karlos Paso; Mochdar, Dian Fitriawati; Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 13 No. 2 (2019): Volume 13 Nomor 2 Oktober 2019
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.449 KB) | DOI: 10.37478/teknosiar.v13i2.236

Abstract

Desa Nira Nusa Kecamatan Maurole Kabupaten Ende merupakan desa yang terletak di wilayah pesisir pantai laut Flores. Desa ini memiliki potensi ekowisata yang besar terutama ekosistem mangrove. Desa Nira Nusa memiliki banyak potensi sumberdaya wisata namun belum diteliti lebih lanjut dari aspek-aspek yang mendukung daerah ini untuk dikembangkan menjadi objek wisata mangrove, sehingga data dan informasinya masih bersifat umum. Untuk pengembangan wisata suatu daerah diperlukan kajian mendalam dari berbagai aspek. Maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui potensi dan daya tarik wisata mangrove yang ada di Desa Nira Nusa serta menghitung nilai keindahan dari potensi tersebut sehingga dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata yang mendukung kelestarian alam serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat stempat. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dan wawancara secara langsung dengan responden untuk memberikan penilaian terhadap keindahan potensi wisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa potensi dan daya tarik objek wisata mangrove di Desa Nira Nusa adalah ekosistem mangrove, view ke arah pantai laut Flores, dan budaya serta potensi kearifan lokal. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah berwisata, fotografi, memancing, pengamatan burung (bird watching), dan menikmati sunset. Potensi dan daya tarik wisata mangrove Desa Nira Nusa berdasarkan ruang lingkup site yang berada di area pesisir pantai laut Flores.
Pendekatan Arsitektur Tropis Pada Bangunan SMAK Syuradikara Ende Dede, Petrus Jhon Alfred Depa; Siso, Silvester Masias; Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 1 (2020): Volume 14 Nomor 1 April 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v14i1.1131

Abstract

Bangunan kolonial di Indonesia merupakan fenomena yang unik, percampuran budaya antara penjajah dan budaya Indonesia yang tidak terdapat ditempat lain serta disesuaikan  dengan kondisi iklimnya yaitu iklim tropis lembab. Kota Ende pada masa lalu menjadi salah satu daerah tujuan para pedagang dan pelayar dari Jawa,  Makassar,  dan  Ternate.  Karena  menjadi  salah  satu  titik  transit  para  pedagang  maka  sejarah keagamaan dan kepentingan-kepentingan Kolonialisme bermain di daerah-daerah pelabuhan di Kota Ende. Bangunan bernilai sejarah yang masih bertahan dan memiliki ciri arsitektur  kolonial di Kota Ende, salah satunya adalah bangunan Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Syuradikara, yang keberadaannya tanpa disadari beradaptasi dengan iklim tropis. Untuk mengetahui sejauh mana kondisi iklim tropis (pendekatan arsitektur tropis) dapat mempengaruhi desain bangunan SMAK Syuradikara di Kota Ende, maka penulis melakukan  kajian.  Kajian  ini  dilakukan  dengan  menggunakan    metode  kualitatif  deskriptif.  Pendekatan terhadap iklim tropis yang dikaji meliputi orientasi bangunan, bukaan dan material yang digunakan. Metode kualitatif  deskriptif  digunakan  untuk  menguraikan  elemen  desain  bangunan  SMAK  Syuradikara  yang berkaitan  erat  dengan  iklim  tropis.  Dalam  melakukan  kajian  ini  pengumpulan  data  dilakukan  dengan wawancara,  survey,  observasi  dan studi literatur.  Dari hasil kajian ditemukan  bahwa orientasi  bangunan secara keseluruhan menghadap dan memanjang kearah utara   dan selatan. Permukaan bangunan yang menghadap arah datang dan terbenam matahari hanya sedikit yang menerima panas matahari. Aliran angin di sekitar bangunan datang dari arah timur dan barat dan ruangan yang mendapatkan  aliran angin yang baik adalah ruang kelas. Orientasi peletakan jendela lebih dominan menghadap ke arah utara dan selatan. Keberadaan  teras  disepanjang  bangunan  untuk  mengantisipasi  sinar  matahari  langsung  yang  mengenai dinding bangunan, serta hempasan dari air hujan. Material lantai dari keramik dan tegel yang belum dipoles dengan  permukaan  sedikit  kasar  sehingga  menyerap  panas,  ruangan  cenderung  lebih  dingin.  Dinding bangunan terbuat dari susunan bata yang diplester, tebal dinding antara 30 sampai 40 centimeter, sehingga dapat mereduksi udara panas yang ada dalam ruangan.
Pusat Pengelolahan Bambu Di Kabupaten Nagekeo Dengan Tema Eko Arsitektur Nggala, Irenius Sines; Dede, Petrus Jhon Alfred Depa; Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 2 (2020): Volume 14 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v14i2.1151

Abstract

Sejalan dengan perkembangan jaman, kebutuhan kayu untuk konstruksi dan mebel semakin langka dan mahal. Maka dari itu muncul ide-ide dasar untuk mencari alternatif pengganti kayu untuk konstruksi dan mebel. Bambu adalah alternatifnya. Namun perlu di lakukan proses pengawetan agar menghasilkan bambu yang kuat dan tahan lama. VSD (Vertical Soak Diffusion) merupakan proses pengawetan bambu dengan menggunakan borax yang ramah lingkungan. Selain VSD, sekarang sering dijumpai produk-produk bambu komposit atau lebih dikenal bambu laminasi. Bambu laminasi merupakan proses pembuatan bilah-bilah bambu menjadi balok-balok bambu dengan menggunakan mesin-mesin tertentu. Kabupaten Nagekeo adalah salah satu daerah agro-industri bambu di Pulau Flores. Sebagai daerah agro-industri bambu, pemerintah Kabupaten Nagekeo harus bisa memanfaatkan potensi bambu di wilayahnya sendiri agar bisa bermanfaat bagi mereka sendiri, baik untuk peningkatan pendapatan daerah maupun penyediaan lapangan pekerjaan. Sehingga perlu ada sebuah wadah milik pemerintah untuk mengelolah bambu di Kabupaten Nagekeo. Dalam ilmu arsitektur, pemanfaatan potensi dalam suatu wilayah sering di sebut eko-arsitektur. Eko-artsitektur secara umum merupakan disiplin ilmu perancangan arsitektur yang berwawasan lingkungan dan pemanfaatan potensi wilayah. Perencanaan dan perancangan pusat pengelolahan bambu di Kabupaten Nagekeo dengan tema eko-arsitektur ini penulis menggunakan metode penelitian berupa wawancara, observasi, studi pustaka/literature dan studi banding. Pada hasil rancangannya, pusat pengelolahan bambu di Kabupaten Nagekeo dengan tema eko-arsitektur ini menerapkan beberapa kaidah-kaidah eko-arsitektur yakni penekanan pada penggunaan material bambu, pemanfaatan sumber air sungai sekitar tapak sebagai sumber air bersih, penggunaan solar panel untuk energi listrik, pemanfaatan material ramah lingkungan dan tetap membiarkan kontur dalam keadaan alami.
Pendekatan Arsitektur Vernakular Dalam Desain Fasilitas Obyek Wisata Jasmani - Rohani Mengeruda di Kecamatan Soa Kabupaten Ngada Rato, Gusti; Dede, Petrus Jhon Alfred Depa; Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 15 No. 1 (2021): Volume 15 Nomor 1 April 2021
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v15i1.1199

Abstract

Kabupaten Ngada adalah salah satu Kabupaten yang memiliki banyak sekali potensi wisata yang mampu menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negri yang ingin berwisata baik untuk jasmani maupun rohani. Salah satunya yaitu “Obyek Wisata Jasmani-Rohani Mengeruda”, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Ngada, bekerja sama dengan Paroki Salip Suci, Soa. Obyek wisata ini berada 28 km ke arah timur dari pusat Kota Bajawa tepatnya di Desa Mengeruda Kecamatan Soa Kabupaten Ngada. Obyek Wisata Jasmani - Rohani Mengeruda memiliki 2 (dua) faktor andalan, yaitu Sumber Mata Air Panas Alam (Hoot Sprin) dan Taman Fatima (Place Of Pilgrimage) yaitu tempat Ziarah bagi Umat ber-agama Katolik. Namun ada beberapa permasalahan yang membuat obyek wisata ini tidak terlalu optimal, seperti: kurangnya perawatan terhadap fasilitas-fasilitas yang sudah ada, kurangnya fasilitas fasilitas utama, dan penunjang sebagai pendukung citra dari obyek wisata ini. Alasan pemilihan tema dengan pendekatan Arsitektur Vernakuler dalam desain kawasan Wisata Jasmani-Rohani Mengeruda ini karena berada dalam lingkungan masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi baik dari segi arsitektural maupun kehidupan sosialnya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara; studi literatur, wawancara, dan observasi. Dari data yang dikumpulkan dilakukan analisis. Metode analisis data dilakukan dengan; analisa kuantitatif, analisa kualitatif, dan komparatif, Setelah melakukan analisis, tahap selanjutnya adalah menyusun konsep perencanaan dan perancangan sesuai dengan output dan analisis yang telah dilkakukan. Hasil perancangan dengan pendekatan arsitektur vernakuler dapat menjadikan tempat wisata ini bukan hanya dijadikan tempat rekreasi semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran atau mengenalkan budaya ke wisatawan luas dengan cara menunjukan/menonjolkan identitas kebudayaan masyarakatnya, dan dapat memberikan dampak edukatif bagi wisatawan.
Relasi Antara Ritual Lobo Keda Dan Pola Permukiman Adat Di Desa Nggela Kabupaten Ende Kerong, Fabiola T. A.; Kurniawan, DVX. Deddy; Toy, Melky
TEKNOSIAR Vol. 17 No. 1 (2023): Volume 17 Nomor 1 April 2023
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v17i1.3015

Abstract

The Lobo Keda ritual is an inauguration of Sao Keda (which is a meeting place) for Mosalaki, traditional leaders of the traditional settlement in Nggela Village. There are seventeen Mosalaki inhabiting 15 traditional houses who continuously maintain their unique indigenous culture. This primary study aims to look at a Lobo Keda ritual process by observing community behaviour and a relationship between Mosalaki and traditional settlement patterns. The research was conducted by qualitative descriptive research method. The results reveal data on how the Lobo Keda ritual and traditional settlement patterns in Ngela Village influences one another, as well as explain how other factors may be influencing such as history, beliefs, cosmology, orientation, sacred elements and social structure.
Objek Wisata Air Terjun Tiwu Papa Di Desa Raburia Kecamatan Ende Kabupaten Ende (Dengan Pendekatan Arsitektur Vernakular) Mochdar, Dian Fitriawati; Wara, Damoses; Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 17 No. 1 (2023): Volume 17 Nomor 1 April 2023
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v17i1.3123

Abstract

One of the natural tourism objects in Ende Regency which is currently starting to appear and be arranged is the Tiwu Papa Waterfall, as one of the natural tourist objects in Raburia Village, Ende District, Ende Regency, East Nusa Tenggara Province. The Tiwu Papa Waterfall Tourism Object has great potential to be reorganized because of its beautiful place and increasing visits. However, this high potential is still not supported by the availability of main facilities and supporting facilities. The method used is a qualitative and quantitative descriptive analysis method. The concept of the approach is the concept of Vernacular Architecture as a design reference because of the importance of preserving local uniqueness and uniqueness of the area which can be embodied in tourist attraction buildings by considering the local climate, techniques and materials as an effort to maintain the richness of local culture. Design analysis includes site and environmental analysis, actor analysis, spatial scale analysis, form analysis and outdoor space analysis as well as utility analysis. The results obtained from the design of the Tiwu Papa Waterfall Tourism Object refer to the Vernacular Architecture Concept as a design reference, namely by utilizing the land around the waterfall tourist object and to attract the attention of recreational tourists and bathing in the waterfall pool. The facilities built at this tourist attraction consist of main facilities including management buildings, bathing pools, recreational rides, wooden bridges, and supporting facilities including parking, gazebos, as well as bathrooms and changing rooms.
Relasi Antara Ritual Joka Ju Dan Pola Permukiman Adat Di Desa Nggela, Kabupaten Ende-Flores Kerong, Fabiola T. A.; Siso, Silvester M.; Toy, Melky
TEKNOSIAR Vol. 17 No. 2 (2023): Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v17i2.3407

Abstract

The traditional settlements in Nggela Village every year carry out the Joka Ju ritual or ritual of rejecting evil which involves the entire community. This ritual is carried out to ward off all bad luck and all forms of disease and is generally carried out after getting the harvest. This research will look at the process of this traditional ritual from the preparation process to the peak ritual, and the space in the traditional settlement pattern inhabited by traditional leaders (Mosalaki) of which there are 17 people in 15 traditional houses. The research method used is a qualitative method with a naturalistic approach. In this research, the relationship between the Joka Ju ritual and traditional settlement patterns in cosmology, traditional settlement boundaries, orientation and sacred zones/cultural spaces and beliefs can be seen.
Perancangan Homestay Moni Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende (Tema Arsitektur Neo Vernakuler) Babo, Dominggus Piterson; Mochdar, Dian Fitriawati; Kerong, Fabiola T. A.
TEKNOSIAR Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1 April 2024
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v18i1.4047

Abstract

ABSTRACT DOMINGGUS PITERSON BABO 2018320320. Moni Homestay Design, Kelimutu District, Ende Regency (Neo Vernacular Architecture Theme). Faculty of Engineering, University of Flores, Ende, 2023.. Mobile Number : 081339344579, E-mail : babosoni@gmail.com supervisor I : Ir. Dian Fitriawati Mochdar, ST., MT. supervisor II : Fabiola T.A, Kerong. ST., MT. Moni Kelimutu tourist destinations include culinary tourism, shopping tourism, and recreational tourism. This has a positive impact because the number of tourists coming is increasing. Therefore Homestay lodging is a very important element to support the existing potential. Homestay has an important role to introduce the character of each region. Ende Regency is one of the districts with many tribes and precisely in the Kelimutu sub-district, the local community highly respects customs and habits, so Moni's homestay is designed with the Neo Vernacular theme which aims to strengthen the identity and character of the local indigenous tribes. The application of this theme is dominated by wood elements as an aesthetic element of the building both in the facade of the building and in the atmosphere of the building space. Wood is the main material for building traditional Lio houses. So that the Homestay is designed to have the feel of the local environment so that people who stay at this Homestay feel the character of the local area. The methods used in this planning and design are 1). data collection methods include primary data (observation, documentation and interviews) and secondary data (literature studies and comparative studies); 2). The analysis method explains each analysis which contains field data, design criteria (theory), alternative analysis (alternative 1 and alternative 2), and responses (alternative selection). Analysis methods include analysis of design objects; site analysis; functional analysis (space organization, namely the organizational structure of actors, analysis of activities and space requirements (analysis of actors and actors' activities), room analysis (conditions, circulation, organization, relationships, size and zoning of space), shape analysis and analysis of building mass placement patterns; analysis building systems (structure and utilities); as well as analysis of regional regulations. 3). The design method includes design ideas and design concepts, namely the concept of neo vernacular architecture. The results obtained from designing Moni's homestay are based on a neo vernacular architectural approach which emphasizes more on building materials and site processing. The facilities built include the main facilities in the form of accommodation (suite room and standard type homestay), management building, as well as supporting facilities in the form of a cafeteria, photo spot, outdoor room and service area, parking. Keywords: Tourism, Homestay, Neo Vernacular Architecture