Articles
Pengembangan Museum Bahari Di Kota Ende
Shirly Wunas;
Petrus Jhon Alfred Depa Dede;
Arnoldus Lurachman Reku
TEKNOSIAR Vol. 7 No. 1 (2013): April
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (230.623 KB)
Indonesia merupakan negara maritim, dimana sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan, dengan perbandingan 2/3 laut dan 1/3 daratan . Bahkan total garis pantai Indonesia terpanjang di dunia. Berpijak pada kenyataan bahwa laut Indonesia lebih luas dari pada daratan, maka masa depan kita akan lebih banyak ditentukan pada kemampuan kita memberdayakan sumber daya laut. Dengan kata lain, bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari dengan hamparan laut yang luas, merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumber daya laut yang memiliki keragaman, baik sumber daya hayati maupun sumber daya lainnya. Kabupaten Ende sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi kekayan alam, khususnya dibidang kebaharian sudah seharusnya memiliki wadah yang dapat menampung berbagai kekayaan alam kebaharian agar dilindungi kelestariannya, sehingga dapat dinikmati oleh generasi penerus secara berkesinambungan.Maka penulis melakukan perencanaan dan perancangan musem bahari dengan menerapkan filosofi kura-kura pada bentuk bangunan museum serta penataan lansecape yang memberikan kesan estetika dan mencirikan fungsi bangunan sebagai sebuah museum bahari, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung baik dalam hal rekreasi maupun dalam hal penunjang pendidikan bagi generasi selanjutnya.
Perancangan Gedung Bank Nusa Tenggara Timur Cabang Ende Sebagai Bangunan Hemat Energi
Shirly Wunas;
Petrus Jhon Alfred Depa Dede;
Kalixtus Tani
TEKNOSIAR Vol. 8 No. 2 (2014): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (164.134 KB)
Pertumbuhan ekonomi telah merosot tajam dan diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif yang cukup besar. Laju inflasi meningkat cepat dan jauh melampaui dari yang biasa dialami pada tahun – tahun sebelum krisis. Kondisi perbankan semakin rawan dan kepercayaan masyarakat semakin merosot, khususnya sejak pencabutan ijin usaha 16 bank pada bulan Nopember 1997 lalu. Bank NTT cabang Ende terus mengadakan pengembangan usaha baik dengan penambahan sarana maupun dengan peningjkatan mutu pelayanannya. Seiring dengan kebutuhan diatas maka bank NTT cabang Ende bermaksud mendirikan gedung baru yang menggantikan serta dapat menampung kegiatan bank NTT yang diraskan perlu adanya peningkatan sarana fisik(bangunan) mengingat pesatnya kemajuan perekonomian di Kabupaten Ende. Gedung hemat energi adalah gedung yang menggunakan lebih sedikit energi tanpa mengurangi kualitas layanan energi. Melalui implementasi hemat energi (pada desain dan operasional bangunan), pengelola bangunan akan meraih keuntungan finansial besar, ikut membantu mengurangi emisi GRK, dan terlibat aktif menjaga suplai listrik di Kabupaten Ende.
Kinerja Pencahayaan Alami Pada Bangunan Eco House
Petrus Jhon Alfred Depa Dede
TEKNOSIAR Vol. 8 No. 1 (2014): April
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (915.895 KB)
Bangunan membutuhkan distribusi pencahayaan alami yang memadai untuk kenyamanan visual dan produktivitas sehari-hari. Terkait dengan kondisi langit dan lingkungan di daerah tropis lembab maka dibutuhkan distribusi pencahayaan alami dengan menggunakan nilai illuminance dan daylight factor (DF) untuk melihat performa ruang dalam bangunan. Namun sering timbul permasalahan pada bangunan seperti pengaruh dimensi, bahan, orientasi bukaan, overhang, dan obstruction. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi lingkungan dan kinerja pencahayaan alami dalam bangunan Eco House. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metoda studi lapangan, yaitu melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur dan hasilnya disesuaikan dengan standar kenyamanan visual untuk ruang kerja. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa nilai iluminan berada dibawah standar pencahayaan alami (SNI 03-2396-2001) dan nilai daylight factor pada tiap ruang tidak seragam. Nilai daylight factor yang didapatkan pada tiap ruang berbeda-beda karena pengaruh dari reflektan interior seperti penggunaan bahan, material dan warna yang diterapkan.
Kinerja Termal Rumah Niang Di Dataran Tinggi Tropis Lembab
Petrus Jhon Alfred Depa Dede
TEKNOSIAR Vol. 9 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (444.078 KB)
Rumah Niang merupakan salah satu dari sepuluh ragam Arsitektur Tradisional di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada di dataran tinggi Kabupaten Manggarai (800 - 1200 dpl) dengan kekhasan yang dimilikinya yaitu denah yang berbentuk lingkaran dan atap berbentuk kerucut. Rumah Niang tumbuh dari rakyat dengan segala macam tradisi serta memanfaatkan berbagai potensi-potensi lokal seperti material, teknologi dan pengetahuan yang ada. Namun potensi-potensi lokal seperti penggunaan material lightweight tersebut menimbulkan permasalahan di daerah dataran tinggi yang cenderung dingin karena sifat termal dari material lightweight mudah lepas dan mengalir keluar sehingga dapat berpotensi menciptakan kondisi underheating dan mempengaruhi kondisi kenyamanan dalam bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh desain rumah Niang dalam merespon kondisi termal di dataran tinggi dan menganalisa perilaku material dari elemen desain yang berpengaruh terhadap kinerja termal rumah Niang. Penelitian dilakukan dengan metoda observasi dan simulasi dengan bantuan software ARCHIPAK versi 5.0. Hasil akhir dalam penelitian ini menunjukkan bahwa desain rumah Niang belum dapat memberikan kenyamanan termal yang memadai terutama pada malam hingga pagi hari, dimana kondisi bangunan cenderung mengalami underheating dalam periode yang cukup lama. Dari simulasi juga dapat diketahui bahwa lantai dan atap merupakan elemen yang paling kritis terhadap pelepasan panas.
Respon Pengunjung dan Pedagang Terhadap Kondisi Lingkungan Termal (Suhu Udara) Di Pasar Wolowona Kota Ende
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa
TEKNOSIAR Vol. 13 No. 1 (2019): Volume 13 Nomor 1 April 2019
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (523.367 KB)
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v13i1.226
Pasar Wolowona merupakan salah satu pasar yang ada di Kota Ende yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dengan aneka jenis jualan. Aktifitas jual beli di pasar ini sangat itens. Kenyamanan lingkungan (suhu udara) di pasar di saat terjadinya aktifitas jual beli merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil penjualan dan daya tarik pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu tentang bagaimana respon dari para pengunjung dan penjual terhadap kondisi suhu udara di pasar Wolowona sebagai bagian dari kenyamanan termal dalam desain arsitektur. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif diskriptif. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan survey, observasi dan studi literatur. Jumlah responden yang di wawancara adalah 30 orang, terdiri dari 13 orang pedagang, 13 orang pengunjung dan 4 orang petugas, yang berusia 15 - 60 tahun. Waktu wawancara dilakukan pada pagi, siang dan sore hari yaitu pada pukul 09:00, pukul 13:00 dan pukul 17:00. Kuesioner respon diambil menggunakan indeks PMV (Predicted Mean Vote) dengan 7 poin skala sensasi termal, yaitu -3 (Dingin), -2 (Sejuk), -1 (Agak sejuk), 0 (Netral), 1 (Agak hangat), 2 (Hangat), dan 3 (Panas). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa para pengunjung dan penjual merasa tidak pus dengan kondisi kenyamanan (suhu udara) yang ada. Data dari 30 orang responden yang di wawancara hanya 5 orang responden yang merasakan nyaman/ netral dan 12 orang merasakan hangat serta 13 orang lainya merasakan panas. Oleh karena itu diperlukan tindakan dengan menata kembali lingkungan dan desain pasar.
Pendekatan Arsitektur Tropis Pada Bangunan SMAK Syuradikara Ende
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa;
Siso, Silvester Masias;
Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 1 (2020): Volume 14 Nomor 1 April 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v14i1.1131
Bangunan kolonial di Indonesia merupakan fenomena yang unik, percampuran budaya antara penjajah dan budaya Indonesia yang tidak terdapat ditempat lain serta disesuaikan dengan kondisi iklimnya yaitu iklim tropis lembab. Kota Ende pada masa lalu menjadi salah satu daerah tujuan para pedagang dan pelayar dari Jawa, Makassar, dan Ternate. Karena menjadi salah satu titik transit para pedagang maka sejarah keagamaan dan kepentingan-kepentingan Kolonialisme bermain di daerah-daerah pelabuhan di Kota Ende. Bangunan bernilai sejarah yang masih bertahan dan memiliki ciri arsitektur kolonial di Kota Ende, salah satunya adalah bangunan Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Syuradikara, yang keberadaannya tanpa disadari beradaptasi dengan iklim tropis. Untuk mengetahui sejauh mana kondisi iklim tropis (pendekatan arsitektur tropis) dapat mempengaruhi desain bangunan SMAK Syuradikara di Kota Ende, maka penulis melakukan kajian. Kajian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pendekatan terhadap iklim tropis yang dikaji meliputi orientasi bangunan, bukaan dan material yang digunakan. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menguraikan elemen desain bangunan SMAK Syuradikara yang berkaitan erat dengan iklim tropis. Dalam melakukan kajian ini pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, survey, observasi dan studi literatur. Dari hasil kajian ditemukan bahwa orientasi bangunan secara keseluruhan menghadap dan memanjang kearah utara dan selatan. Permukaan bangunan yang menghadap arah datang dan terbenam matahari hanya sedikit yang menerima panas matahari. Aliran angin di sekitar bangunan datang dari arah timur dan barat dan ruangan yang mendapatkan aliran angin yang baik adalah ruang kelas. Orientasi peletakan jendela lebih dominan menghadap ke arah utara dan selatan. Keberadaan teras disepanjang bangunan untuk mengantisipasi sinar matahari langsung yang mengenai dinding bangunan, serta hempasan dari air hujan. Material lantai dari keramik dan tegel yang belum dipoles dengan permukaan sedikit kasar sehingga menyerap panas, ruangan cenderung lebih dingin. Dinding bangunan terbuat dari susunan bata yang diplester, tebal dinding antara 30 sampai 40 centimeter, sehingga dapat mereduksi udara panas yang ada dalam ruangan.
Pusat Pengelolahan Bambu Di Kabupaten Nagekeo Dengan Tema Eko Arsitektur
Nggala, Irenius Sines;
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa;
Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 2 (2020): Volume 14 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v14i2.1151
Sejalan dengan perkembangan jaman, kebutuhan kayu untuk konstruksi dan mebel semakin langka dan mahal. Maka dari itu muncul ide-ide dasar untuk mencari alternatif pengganti kayu untuk konstruksi dan mebel. Bambu adalah alternatifnya. Namun perlu di lakukan proses pengawetan agar menghasilkan bambu yang kuat dan tahan lama. VSD (Vertical Soak Diffusion) merupakan proses pengawetan bambu dengan menggunakan borax yang ramah lingkungan. Selain VSD, sekarang sering dijumpai produk-produk bambu komposit atau lebih dikenal bambu laminasi. Bambu laminasi merupakan proses pembuatan bilah-bilah bambu menjadi balok-balok bambu dengan menggunakan mesin-mesin tertentu. Kabupaten Nagekeo adalah salah satu daerah agro-industri bambu di Pulau Flores. Sebagai daerah agro-industri bambu, pemerintah Kabupaten Nagekeo harus bisa memanfaatkan potensi bambu di wilayahnya sendiri agar bisa bermanfaat bagi mereka sendiri, baik untuk peningkatan pendapatan daerah maupun penyediaan lapangan pekerjaan. Sehingga perlu ada sebuah wadah milik pemerintah untuk mengelolah bambu di Kabupaten Nagekeo. Dalam ilmu arsitektur, pemanfaatan potensi dalam suatu wilayah sering di sebut eko-arsitektur. Eko-artsitektur secara umum merupakan disiplin ilmu perancangan arsitektur yang berwawasan lingkungan dan pemanfaatan potensi wilayah. Perencanaan dan perancangan pusat pengelolahan bambu di Kabupaten Nagekeo dengan tema eko-arsitektur ini penulis menggunakan metode penelitian berupa wawancara, observasi, studi pustaka/literature dan studi banding. Pada hasil rancangannya, pusat pengelolahan bambu di Kabupaten Nagekeo dengan tema eko-arsitektur ini menerapkan beberapa kaidah-kaidah eko-arsitektur yakni penekanan pada penggunaan material bambu, pemanfaatan sumber air sungai sekitar tapak sebagai sumber air bersih, penggunaan solar panel untuk energi listrik, pemanfaatan material ramah lingkungan dan tetap membiarkan kontur dalam keadaan alami.
Pengembangan Kawasan Wisata Air Panas Nggela Dengan Pemanfaatan Landscape Sebagai Acuan Desain
Sumbi, Anselinus Afendi;
Siso, Silvester M.;
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 2 (2020): Volume 14 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v14i2.1194
Kabupaten Ende adalah salah satu kabupaten yang saat ini sedang gencar-gencarnya berusaha untuk meningkatkan kualitas sebuah kabupaten dengan berbagai strategis pembangunan. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor andalan yang mampu meningkatkan pendapatan daerah, mengingat daerah ini memiliki banyak sekali potensi – potensi wisata yang mampu menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Wisata yang di ambil tepat di desa Nggela, kecamatan Wolojita, kabupaten Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur, permasalahan yaitu kurangnya sarana dan prasarana yang memadai dan penataan Landscape yang belum teratur sehingga kawasan tersebut tidak mampu menampung wisatawan yang datang untuk beraktivitas, dengan ini perlu adanya pengembangan serta memanfaatan Landscape sebagai acuan desain serta dilengkapi dengan sarana dan prasarana agar kawasan ini mampu menampung segala aktivitas yang terjadi. Metode yang digunakan dalam pengembangan kawasan Air Panas yaitu dengan metode pengumpulan data dan metode analisis data dengan teori-teori Arsitektur untuk mendukung dan sebagai pedoman ketika merancang melalui pemanfaatan Landscape.Ha sil desain dari Pengembangan Kawasan Wisata Air Panas Nggela yaitu konsep-konsep perancangan dengan gambar desain serta menerapkan pemanfaatan Landscape agar Obyek ini diharapkan dapat menjadi tempat wisata yang memiliki suasana yang berbeda dengan objek wisata yang lain pada umumnya di kabupaten Ende.
Pendekatan Arsitektur Vernakular Dalam Desain Fasilitas Obyek Wisata Jasmani - Rohani Mengeruda di Kecamatan Soa Kabupaten Ngada
Rato, Gusti;
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa;
Kerong, Fabiola T.A.
TEKNOSIAR Vol. 15 No. 1 (2021): Volume 15 Nomor 1 April 2021
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v15i1.1199
Kabupaten Ngada adalah salah satu Kabupaten yang memiliki banyak sekali potensi wisata yang mampu menarik minat wisatawan baik dalam maupun luar negri yang ingin berwisata baik untuk jasmani maupun rohani. Salah satunya yaitu “Obyek Wisata Jasmani-Rohani Mengeruda”, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Ngada, bekerja sama dengan Paroki Salip Suci, Soa. Obyek wisata ini berada 28 km ke arah timur dari pusat Kota Bajawa tepatnya di Desa Mengeruda Kecamatan Soa Kabupaten Ngada. Obyek Wisata Jasmani - Rohani Mengeruda memiliki 2 (dua) faktor andalan, yaitu Sumber Mata Air Panas Alam (Hoot Sprin) dan Taman Fatima (Place Of Pilgrimage) yaitu tempat Ziarah bagi Umat ber-agama Katolik. Namun ada beberapa permasalahan yang membuat obyek wisata ini tidak terlalu optimal, seperti: kurangnya perawatan terhadap fasilitas-fasilitas yang sudah ada, kurangnya fasilitas fasilitas utama, dan penunjang sebagai pendukung citra dari obyek wisata ini. Alasan pemilihan tema dengan pendekatan Arsitektur Vernakuler dalam desain kawasan Wisata Jasmani-Rohani Mengeruda ini karena berada dalam lingkungan masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi baik dari segi arsitektural maupun kehidupan sosialnya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara; studi literatur, wawancara, dan observasi. Dari data yang dikumpulkan dilakukan analisis. Metode analisis data dilakukan dengan; analisa kuantitatif, analisa kualitatif, dan komparatif, Setelah melakukan analisis, tahap selanjutnya adalah menyusun konsep perencanaan dan perancangan sesuai dengan output dan analisis yang telah dilkakukan. Hasil perancangan dengan pendekatan arsitektur vernakuler dapat menjadikan tempat wisata ini bukan hanya dijadikan tempat rekreasi semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran atau mengenalkan budaya ke wisatawan luas dengan cara menunjukan/menonjolkan identitas kebudayaan masyarakatnya, dan dapat memberikan dampak edukatif bagi wisatawan.
Perancangan Kantor Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Sikka Dengan Pendekatan Arsitektur Post-Moderen
Dede, Petrus Jhon Alfred Depa
TEKNOSIAR Vol. 16 No. 1 (2022): Volume 16 Nomor 1 April 2022
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/teknosiar.v16i1.2098
The building of youth education office and sport of Sikka District is currently located in the Nasiona l Housing complex on Jalan Mawar. This Kantor building has a simple building and only one floor. The area of the location is very small and there are minimal supporting facilities. In addition, this office is also locatedin a residential area with a fairly high density. Based on the author's initial observations and studies, it needs to be proposed to be relocated to a new place, namely on Eltari Street. The reason for choosing the location with consideration is that the location is the office area of the Sikka Regency Government. Thus, it can facilitate and optimize access to services and relationships between government offices. The planning and design of this office is expected to reflect the fusion and mixing of local architectural values with today's architecture. Therefore, the selection and approach used as a design concept is Post-Modern Architecture.This method in designing is carried out by analyzing the data by means of; 1). quantitative analysis, 2). qualitative analysis, and 3). comparative analysis. Data collection is carried out in the following ways; 1). literature study, 2). interviews, 3). observation. Post-Modern Architecture applied to the concept of designis; a). mcontaining elements of communication that are local or popular, b). urban context, c). metaphorical form, d). is eclectic, e). reflects general aspirations, and f). reapply the technique of ornamentation.