Transformasi digital dan transisi hijau semakin menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional tetapi penyebaran manfaatnya belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Dengan mempertimbangkan adanya perbedaan kapasitas antarprovinsi, penelitian ini menganalisis perkembangan sektor ekonomi unggulan yang berkaitan dengan digitalisasi dan ekonomi hijau di delapan provinsi terpilih. Menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS), studi ini menerapkan analisis Location Quotient (LQ) serta Shift Share (SS) dalam menentukan sektor basis, mengukur kontribusi peningkatan ekonomi regional, serta menelusuri potensi efek spillover antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa provinsi inti masih mendominasi sektor-sektor strategis sehingga menghasilkan penyebaran manfaat yang terbatas. Dari hasil studi literatur, penelitian ini menggunakan delapan provinsi sebagai objek utama penelitian yang dilakukan. Provinsi yang dipilih pada penelitian ini yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Bali, Papua Barat, Jakarta, dan Sulawesi Selatan. Provinsi DKI Jakarta merepresentasikan provinsi DKI Jakarta dengan tiga kawasan penunjang yang meliputi Provinsi Jawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Sumatera Selatan. Di sisi lain, Provinsi Sulawesi Selatan merepresentasikan Provinsi Sulawesi Selatan dan tiga daerah pendukung yakni Provinsi Kalimantan Barat, Bali, dan Papua Barat. Temuan ini menunjukan pentingnya penguatan konektivitas ekonomi dan pemerataan pusat pertumbuhan dalam rangka memaksimalkan dampak transformasi digital dan transisi hijau di Indonesia.