Agung Dewanto
Department Of Obstetrics And Gynecology, Faculty Of Medicine, Public Health And Nursing, Universitas Gadjah Mada, Jl. Farmako, Sekip Utara,Yogyakarta 55281

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Pendahuluan tentang Perspektif Ilmuwan Islam dan Katolik dalam Dilema Etika Surplus Embrio serta Opsi Pemecahan Masalahnya Agung Dewanto; Ita Fauzia Hanoum; Diany Ayu Suryaningtyas; Shofwal Widad; Ihsan Yudhitama; Galuh Dyah Fatmala; Ahmad Muzakky
Jurnal Etika Kedokteran Indonesia Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Majelis Kehormatan Etik Indonesia PBIDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.484 KB) | DOI: 10.26880/jeki.v2i2.20

Abstract

Latar Belakang: Teknologi reproduksi berbantu sudah berkembang di Indonesia dan banyak membantu masyarakat dalam memperoleh kehamilan. Surplus embrio dari proses simpan beku merupakan konsekuensi kemajuan teknologi ini sendiri. Dilema etika muncul tentang bagaimana sebaiknya mengelola surplus embrio. Di sisi lain, peraturan perundangan di Indonesia saat ini hanya memperbolehkan untuk memperpanjang masa penyimpanan atau membuang surplus embrio.Metode: Metode penelitian menggunakan Participant of observation dengan purposive sampling. Penelitian ini merupakan intisari pemikiran dari ilmuwan dan pegiat bioetika di Indonesia yang dikemukakan dalam Seminar dan Diskusi Bioetika dalam Pelayanan Teknologi Reproduksi Berbantu, Agustus 2016 di Yogyakarta.Hasil: Pertimbangan etika tentang bagaimana sebaiknya surplus embrio diperlakukan dibahas oleh tiga ilmuwan dengan latar belakang agamawan, Prof. Jenie dan Prof. Almirzanah beragama Islam sedangkan Dr. Kusmaryanto beragama Katolik. Ketiganya berpendapat bahwa solusi manajemen surplus embrio sangat erat kaitannya dengan diskursus agama. Ketiganya menyatakan bahwa status moral dari embrio penting dipahami sebagai landasan sikap terhadap surplus embrio. Pemusnahan embrio dianggap tidak etis oleh ketiga ilmuwan. Ketiganya menyetujui donasi embrio untuk pasangan infertil lain dengan penyesuaian aturan terhadap kearifan lokal Indonesia. Selanjutnya, Prof. Umar dan Prof. Almirzanah memandang penggunaan surplus embrio untuk penelitian masih kontroversial namun tidak menutup kemungkinan diperbolehkan dengan berbagai syarat dan memperhatikan konteks serta asas kemanfaatan. Sedangkan Dr. Kusmaryanto menyatakan ketidaksetujuan surplus embrio untuk penelitian atas dasar interpretasi bahwa embrio mempunyai makna intrinsik yang harus dilindungi.Kesimpulan: Latar belakang agama mempengaruhi persepektif ilmuwan tentang bagaimana memandang status embrio dan pilihan tindakan terhadap surplus embrio. Perlu dilakukan penelitian mendalam multidisipliner dari klinisi, agamawan, ilmuwan, pakar hukum dan pasien untuk mengakomodasi pilihan tindakan terhadap surplus embrio di Indonesia.
Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Endometriosis Pascaoperasi sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Hormonal Dian Novitasari; Agung Dewanto; Ahsanudin Attamimi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.75116

Abstract

Latar belakang: Endometriosis merupakan penyakit yang ditandai adanya jaringan endometrium di luar cavum uterus, yang menimbulkan reaksi peradangan kronis. Gejala endometriosis paling sering adalah nyeri pelvis dan infertilitas. Endometriosis berpengaruh terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, bisa menghambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kombinasi dari terapi operatif dan medikamentosa efektif untuk menurunkan rekurensi, mengurangi nyeri dan meningkatkan fertilitas pada pasien dengan endometriosisTujuan: Membandingkan kualitas hidup dan skor nyeri pasien pasca operasi endometriosis sebelum dan sesudah pemberian terapi hormonalMetode: Kualitas hidup pada pasien endometriosis yang telah menjalani laparoskopi ataupun laparotomi dievaluasi dengan metode kohort prospektif menggunakan kuesioner Endometriosis Health Profile-30 (EHP-30). Kuesioner diberikan sebelum terapi hormonal dan diulang lagi setelah selesai terapi hormonal. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai masing-masing domain dari kuesioner inti dan kuesioner moduler sebelum dan sesudah terapi hormonal.Hasil: Total responden adalah 73 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Terapi hormonal pada pasien endometriosis dapat memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan dengan rerata skor 29,89 (SD ± 17,80) menjadi 16,5 (SD ± 16,7) (p <0,001) sebelum mendapatkan terapi hormonal. Terdapat perbaikan pada semua domain kuesioner inti, dengan nilai yang bermakna secara statistik pada domain nyeri dengan rerata 41,73 (SD ± 27,08) menjadi 13,70 (SD ± 22,39) (p <0,001), domain kendali & ketidakberdayaan; rerata 34.21 (SD ± 25,63) menjadi 16,66 (SD ± 19,58) (p <0,001), domain kesehatan emosional rerata 29,84 (SD ± 21,18) menjadi 19,11 (SD ± 19,22) (p <0,001); dan domain dukungan sosial rerata 26,97 (SD ± 20,70) menjadi 20,30 (SD ± 22,37) (p=0,006), sedangkan pada domain citra diri tidak terdapat perbaikan secara signifikan. Pada kuesioner modular terdapat perbaikan signifikan pada domain pekerjaan dengan rerata 30,37 (SD ± 24,99) menjadi 13,57 (SD ± 18,62) p <0,001, domain hubungan dengan anak rerata 13,82 (SD ± 20,13) menjadi 9,58 (SD ± 17,08) dan nilai p=0,017; dan domain perasaan terhadap infertilitas rerata 45,96 (SD ± 29,80) menjadi 36,67 (SD ± 29,77) p=0,001, sedangkan pada domain hubungan seksual, hubungan dengan tenaga kesehatan dan perasaan terhadap terapi tidak terdapat perubahan yang signifikan.Kesimpulan: Kualitas hidup setelah pemberian terapi hormonal lebih baik bila dibandingkan sebelum pemberian terapi hormonal pada pasien endometriosis pascaoperasi
Soy Protein Diet Improves Nutritional Status of Offspring with Intrauterine Growth Restriction: A Scoping Review Rimonta F Gunanegara; Rafhani Rosyidah; Agung Dewanto; Sunarti Sunarti
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6175

Abstract

The intake of a low-protein diet during pregnancy can lead to alteration of fetal programming with long-term postnatal consequences exposing offspring with malnutrition to metabolic syndrome in adulthood. Accordingly, a more affordable alternative source of protein, such as soy, is used to improve nutrition. The objective of this study was to examine the advantages and disadvantages of soy as an alternative protein source to improve offspring nutrition with Intrauterine Growth Restriction (IUGR). The method used was a scoping review, and the design was selected to provide coverage on a certain topic with the concepts from available literature. Systematic searches were performed in six databases: PubMed, EBSCO, ScienceDirect, SCOPUS, Sage Journals, and Cochrane Library. Data collection included reports published from January 2013 to January 2023. Nine articles meeting the inclusion criteria were obtained and analyzed for review. Protein from a plant source is considered a good alternative in restoring nutrition to malnourished offspring in early life. Furthermore, the dietary deficiency of soy can be corrected with close monitoring. As a conclusion, the quality of life of offspring with IUGR is improved through a well-planned supplementation.
Soy Protein Diet Improves Nutritional Status of Offspring with Intrauterine Growth Restriction: A Scoping Review Rimonta F Gunanegara; Rafhani Rosyidah; Agung Dewanto; Sunarti Sunarti
Journal of Medicine and Health Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v5i2.6175

Abstract

The intake of a low-protein diet during pregnancy can lead to alteration of fetal programming with long-term postnatal consequences exposing offspring with malnutrition to metabolic syndrome in adulthood. Accordingly, a more affordable alternative source of protein, such as soy, is used to improve nutrition. The objective of this study was to examine the advantages and disadvantages of soy as an alternative protein source to improve offspring nutrition with Intrauterine Growth Restriction (IUGR). The method used was a scoping review, and the design was selected to provide coverage on a certain topic with the concepts from available literature. Systematic searches were performed in six databases: PubMed, EBSCO, ScienceDirect, SCOPUS, Sage Journals, and Cochrane Library. Data collection included reports published from January 2013 to January 2023. Nine articles meeting the inclusion criteria were obtained and analyzed for review. Protein from a plant source is considered a good alternative in restoring nutrition to malnourished offspring in early life. Furthermore, the dietary deficiency of soy can be corrected with close monitoring. As a conclusion, the quality of life of offspring with IUGR is improved through a well-planned supplementation.