Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sebatik

PERBEDAAN PERILAKU MEMBERIKAN TEMPAT DUDUK ANTARA PENUMPANG PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI REMAJA AKHIR DI KRL JABODETABEK Aries Yulianto; Jihan Marwa Salsabil Permana
Sebatik Vol 25 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.045 KB) | DOI: 10.46984/sebatik.v25i2.1652

Abstract

Kepadatan penumpang KRL Jabodetabek masih terjadi, meskipun dalam kondisi pandemi COVID-19. Dengan adanya kepadatan di KRL, mendapat tempat duduk merupakan suatu keuntungan bagi penumpang. Memberikan tempat duduk bagi penumpang lain merupakan salah satu perilaku menolong karena memberikan keuntungan bagi orang lain. Di sisi lain, remaja akhir diharapkan telah mencapai kematangan moral dan emosi, termasuk perilaku menolong. Studi-studi sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan perilaku menolong antara perempuan dan laki-laki berusia remaja akhir, namun belum ada yang meneliti tentang perilaku menolong di KRL. Penelitian ini ingin mengetahui apakah ada perbedaan perilaku menolong memberikan tempat duduk antara perempuan dan laki-laki berusia remaja akhir di KRL rute Jakarta-Bogor. Penelitian dilakukan pada 389 responden (193 perempuan dan 196 laki-laki) berusia 15-20 tahun, minimal 3 kali menggunakan KRL di saat jam kerja, dan minimal pernah satu kali memberikan tempat duduk kepada penumpang lain. Pengukuran perilaku menolong menggunakan Skala Guttman dengan menanyakan mana saja dari 8 jenis penumpang KRL yang pernah diberikan tempat duduk. Hasil analisis data menunjukkan diketahui adanya urutan perilaku memberikan tempat duduk dalam tingkat kebutuhan, namun ada perbedaan antara remaja akhir laki-laki dan perempuan. Hasil uji beda juga menunjukkan perilaku menolong remaja akhir laki-laki lebih tinggi dari perempuan.
STUDI DIFERENSIAL PERILAKU MENOLONG PENUMPANG BERUSIA DEWASA AWAL DI KRL JABODETABEK DALAM MEMBERIKAN TEMPAT DUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN Aries Yulianto; Irene Miramis Asmara
Sebatik Vol 26 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v26i2.2114

Abstract

Dengan penumpang kereta rel listrik yang memadati di seluruh rute Jabodetabek, maka mendapatkan tempat duduk bagi seorang penumpang merupakan suatu kenyamanan yang jarang didapatkan. Perilaku memberikan tempat duduk kepada penumpang lain termasuk salah satu bentuk perilaku menolong di KRL karena merupakan perilaku membantu orang lain. Perilaku memberikan tempat duduk ini diduga memiliki urutan berdasarkan tingkat keterbutuhan korban. Di lain pihak, kelompok penumpang berusia dewasa awal merupakan kelompok jumlah penumpang KRL Jabodetabek yang terbesar serta memiliki karakteristik perilaku menolong yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada perbedaan perilaku menolong dalam memberikan tempat duduk antara penumpang KRL Jabodetabek berjenis kelamin laki-laki dengan perempuan yang berusia dewasa awal. Penelitian ini memakai strategi penelitian non-eksperimental dengan desain penelitian diferensial. Partisipan penelitian merupakan penumpang KRL Jabodetabek sebanyak 390 orang (190 perempuan dan 200 laki-laki) berusia 20-40 tahun. Skala Guttman digunakan untuk mengetahui urutan perilaku menolong dalam memberikan tempat duduk di KRL. Hasil penelitian ditemukan bahwa perilaku menolong penumpang berusia dewasa awal di KRL Jabodetabek berjenis kelamin laki-laki lebih banyak memberikan tempat duduk di KRL dibandingkan penumpang perempuan. Penumpang berusia dewasa baik laki-laki dan perempuan pada penelitian ini memiliki persepsi yang sama bahwa ibu hamil sebagai penumpang yang paling membutuhkan tempat duduk. Penumpang laki-laki cenderung lebih sering memberi tempat duduk kepada penumpang lain sedangkan pada penumpang perempuan memberikan tempat duduk kepada penumpang lain tergantung dari tingkat keterbutuhan penumpang yang ingin diberi pertolongan.
MODERASI JENIS KELAMIN DAN USIA PADA PENGARUH CELEBRITY WORSHIP TERHADAP SUBJECTIVE WELL-BEING PENGGEMAR K-POP Isril, Thalia Lunaadhara; Yulianto, Aries
Sebatik Vol. 28 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v28i1.2459

Abstract

Perkembangan budaya Korea semakin tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu budaya Korea yang paling populer di Indonesia adalah K-Pop. Penggemar K-Pop di Indonesia tersebar pada berbagai kelompok usia, didominasi oleh remaja dan dewasa awal, serta didominasi oleh jenis kelamin perempuan. Sejauh mana penggemar melakukan aktivitas mengagumi selebriti K-Pop favoritnya menentukan bagaimana subjective well-being yang dialaminya. Hasil penelitian-penelitian sebelumnya ditemukan hasil yang tidak konsisten bagaimana pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being pada penggemar K-Pop. Penelitian ini juga mengenai peran jenis kelamin dan usia dalam memoderasi pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being pada penggemar K-Pop. Jumlah partisipan penelitian ini adalah sebanyak lima ratus tiga belas penggemar K-Pop berjenis kelamin perempuan dan laki-laki yang berusia remaja hingga dewasa awal. Untuk mengukur subjective well-being, digunakan alat ukur Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE). Sedangkan, untuk mengukur celebrity worship digunakan alat ukur Celebrity Attitude Scale (CAS). Peneliti menggunakan uji regresi linear untuk mengetahui pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being, serta moderasi dari jenis kelamin dan usia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa celebrity worship berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective well-being pada penggemar K-Pop. Selain itu, ditemukan bahwa jenis kelamin tidak memoderasi pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being pada penggemar K-Pop. Berbeda dengan jenis kelamin, usia memoderasi pengaruh celebrity worship terhadap subjective well-being pada penggemar K-Pop. Pada dewasa awal, celebrity worship berpengaruh positif terhadap subjective well-being, sedangkan hal ini tidak terjadi pada remaja.
PENGARUH CELEBRITY WORSHIP DAN JENIS KELAMIN TERHADAP COMPULSIVE BUYING PADA PENGGEMAR K-POP BERUSIA EMERGING ADULTHOOD Tristan, Risqika Naputi Ananda; Yulianto, Aries
Sebatik Vol. 28 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v28i1.2462

Abstract

K-Pop digemari oleh bermacam-macam kalangan usia, dimana didominasi oleh kelompok berusia 18 – 25 tahun (emerging adulthood). Seseorang yang menggemari selebriti akan menunjukkan perilaku celebrity worship dan mereka akan merasa terikat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan selebriti favoritnya yang dapat diwujudkan dengan membeli segala hal yang berhubungan dengan selebriti tersebut sehingga dapat menimbulkan compulsive buying. Pada penggemar K-pop dapat memiliki compulsive buying apabila melakukan pembelian yang tidak normal yang dilakukan secara tidak terkontrol, berulang kali, dan memiliki dorongan kuat untuk membeli agar mengurangi perasaan negatif. Di sisi lain, sejumlah studi menunjukkan bahwa perempuan lebih menunjukkan compulsive buying dibandingkan laki-laki. Tujuan penelitian ini dilaksanakan guna melihat pengaruh celebrity worship terhadap compulsive buying pada emerging adulthood penggemar K-Pop. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 348 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur celebrity worship adalah Celebrity Attitude Scale (CAS), sedangkan untuk compulsive buying adalah Compulsive Buying Scale (CBS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linear sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan celebrity worship dan jenis kelamin terhadap compulsive buying, R2=0,724, F= 190,304, p<0,001. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi celebrity worship yang dimiliki oleh emerging adulthood penggemar K-Pop, maka menyebabkan semakin tinggi juga compulsive buying. Selain itu, faktor jenis kelamin juga memiliki pengaruh terhadap compulsive buying, dimana laki-laki memiliki compulsive buying yang lebih tinggi.
The Effect of Attachment Styles on Celebrity Worship in K-Pop Fans with Age as a Moderator Jayanti, Irnawati; Yulianto, Aries
Sebatik Vol. 29 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v29i1.2597

Abstract

The increasing popularity K-Pop in Indonesia has captured the attention of diverse age groups, especially in adolescents and young adults. Fans’ attachment to K-Pop idols can be understood by the concept of celebrity worship. Celebrity worship consists of three levels; from entertainment social, as the low level, intense personal, as the moderate one, and bordeline pathological, as the highest. Adolescents and young adult had differences in celebrity worship, On the other hand, attachment styles develop from childhood to form attachment patterns that occur when a person reach adulthood. There are four types of attachment style, i.e.: fearful, dismissing, preoccupied, and secure. We believe celebrity worship can be affected by attachment styles in adolescent and young adult K-pop fans. This quantitative study aims to investigate the effect of attachment style on celebrity worship, with age as a moderating variable. The study involved adolescent and young adult K-Pop fans, using the Celebrity Attitude Scale (CAS) and the Attachment Style Questionnaire (ASQ) as measurement tools. Data were analyzed using two-way ANOVA. This study found that age moderates the effect of attachment style on celebrity worship. Dismissing attachment styles influenced the entertainment-social dimension in young adults but not in teenagers. These results highlight the importance of the developmental stage in understanding the effect of attachment style on celebrity worship.