Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Profile of Fruit Consumption and Utilization of Jamu by Housewives in Cicanir and Jatipamor Villages in the Era of Germas and Fit with Jamu Djunaedi, Diah Dhianawaty; Heryaman, Henhen -; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna; Dahlan, Anisah -
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v6i2.13119

Abstract

Healthy Lifestyle (Germas) and Fit with Jamu action (Bude Jamu) are the programs to improve health, which promote physical activities, consumption of fruits and vegetables, and the utilization of jamu. The figure of the mother in the family comes in the role of regulating a good diet for the family. In connection with these two programs, study was conducted to determine the profile of fruits consumption and utilization of jamu among housewives in Cicanir and Jatipamor villages, using the cross-sectional design with the number of respondents based on the number of minimum requirements in its activities. 150 Housewives were involved and given questions about the frequency of buying fruit, the favorite fruit, the habit of drinking jamu. The results were that most respondents bought fruit twice a week, their favorite fruits included orange, banana. People who drank jamu in Cicanir and Jatipamor were 40.79% and 25.86%, with the aim of disease prevention was 96.77% and treatment disease was 46.66%. Jamu gendong was the main source of jamu that was utilized, besides that the expertise in making jamu was still practiced and maintained by some respondents. In conclusions, fruit consumption in Cicanir and Jatipamor was quite good. Housewives in Cicanir and Jatipamor used jamu for the purpose of preventing and treating diseases. Jamu gendong was the most widely used source of jamu and the expertise in making jamu is still maintained. These all showed that the culture of Germas and Bude jamu have been applied in the lives of respondents.
Kesadaran Masyarakat untuk Melakukan Penapisan Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Cilayung dan Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Farhan Refyaldiza Ridwan; Henhen Heryaman; Maya Kusumawati
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.648 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22986

Abstract

Jawa Barat memiliki jumlah penyandang undiagnosed diabetes tertinggi di Indonesia. Sumedang merupakan salah satu wilayah yang memiliki prevalensi Diabetes Melitus (DM) tipe 2 yang tinggi di Jawa Barat. Penapisan merupakan salah satu upaya baik yang dilakukan untuk deteksi dini penyakit DM tipe 2 dan pencegahan komplikasinya demi mencapai kualitas hidup optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesadaran masyarakat dalam melakukan penapisan DM tipe 2 di Desa Cilayung dan Cipacing Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah penduduk Desa Cilayung dan Cipacing. Responden dipilih melalui simple random sampling dengan jumlah sampel minimal 147 orang. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2018 sampai April 2019. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan Awareness Score. Skor ≤10 = buruk dan >10 = baik. Analisis data dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan dari 147 responden, 91 (61,5%) responden memiliki skor ≤10. Simpulan dari penelitian ini adalah tingkat kesadaran masyarakat Desa Cilayung dan Cipacing untuk melakukan penapisan DM masih buruk. Peningkatan edukasi dan sosialisasi mengenai diabetes perlu dilakukan.Kata Kunci: Diabetes Melitus, Kesadaran, Penapisan
Peran Program Prolanis dalam Penurunan Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Jatinangor Anjar Raraswati; Henhen Heryaman; Nanny Soetedjo
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): Volume 4 Nomor 2 Desember 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.917 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i2.20687

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit tidak menular metabolik yang jumlah penderita meningkat seiring berjalannya waktu. Indonesia menempati peringkat ke 6 di dunia dan prevalensi DMT2 di Sumedang lebih tinggi dibandingkan di Jawa Barat.2,3 DMT2 menghabiskan biaya kesehatan yang banyak, sehingga pemerintah membentuk Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).5 Prolanis merupakan program untuk para penyandang penyakit kronis yang bertujuan mendorong pasien untuk mencapai kualitas hidup optimal, menurunkan risiko komplikasi, dan diharapkan dapat memanfaatkan biaya kesehatan secara efektif dan rasional.5,6 Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran program Prolanis dalam penurunan kadar gula darah puasa (GDP) pasien DM tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observational dengan desain penelitian studi potong lintang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dan didapatkan 40 subjek penelitian. Data didapatkan melalui rekam medis pasien tahun 2017 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan wawancara langsung kepada beberapa pasien. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar GDP pasien DMT2 belum lengkap, home visit dan sms gate-away belum dilaksanakan tetapi program prolanis yang lainnya telah dilaksanakan. Simpulan dari penelitian adalah Prolanis di Puskesmas Kecamatan Jatinangor belum berjalan dengan baik dan harus ditingkatkan pengelolaannya.Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) , Gula Darah Puasa (GDP), Program Pengelolaan penyakit Kronis (Prolanis)
Clinical Manifestation of Peripheral Artery Disease in Type 2 Diabetes Melitus with Ankle Branchial Index Measurement Winny W Nasution; Henhen Heryaman; Januar W Martha; Apen A Ridwan
Journal of Medicine and Health Vol. 2 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.215 KB) | DOI: 10.28932/jmh.v2i3.1224

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that has a high prevalence in Asia, including Indonesia. One of the complications of DM is Peripheral Artery Disease (PAP). Ankle Brachial Index (ABI) measurement is a simple and non-invasive methods that can be used for PAP evaluation. This study aims to provide an overview of the clinical manifestations of PAP and the value of ABI as early detection of PAP in patients with type-2 DM. This research uses quantitative descriptive design studies. The research variables used to assess PAP were ABI values, age, sex, duration of diabetes mellitus, hypertension, and clinical manifestations of PAP such as pain, intermittent claudication, muscle atrophy, skin discoloration, sweating, wound healing impairment, and gangrene. This study involved 92 research subjects. From the study we found out that the normal ABI value and the ABI value of the PAP category in patients with type 2 diabetes were 91.3% and 7.6%. The ABI value of the PAP category in DM patients is more commonly found in women (6.5%), adult patients (5.4%), duration of DM up to 2 years (5.4%), and with hypertension (5.4%) . Pain and numbness are the most common clinical manifestations of PAP in DM patients. Keywords: diabetes mellitus, ankle brachial index, peripheral artery disease.
Clinical Manifestation of Peripheral Artery Disease in Type 2 Diabetes Melitus with Ankle Branchial Index Measurement Winny W Nasution; Henhen Heryaman; Januar W Martha; Apen A Ridwan
Journal of Medicine and Health Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v2i3.1224

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that has a high prevalence in Asia, including Indonesia. One of the complications of DM is Peripheral Artery Disease (PAP). Ankle Brachial Index (ABI) measurement is a simple and non-invasive methods that can be used for PAP evaluation. This study aims to provide an overview of the clinical manifestations of PAP and the value of ABI as early detection of PAP in patients with type-2 DM. This research uses quantitative descriptive design studies. The research variables used to assess PAP were ABI values, age, sex, duration of diabetes mellitus, hypertension, and clinical manifestations of PAP such as pain, intermittent claudication, muscle atrophy, skin discoloration, sweating, wound healing impairment, and gangrene. This study involved 92 research subjects. From the study we found out that the normal ABI value and the ABI value of the PAP category in patients with type 2 diabetes were 91.3% and 7.6%. The ABI value of the PAP category in DM patients is more commonly found in women (6.5%), adult patients (5.4%), duration of DM up to 2 years (5.4%), and with hypertension (5.4%) . Pain and numbness are the most common clinical manifestations of PAP in DM patients. Keywords: diabetes mellitus, ankle brachial index, peripheral artery disease.
Survey Rumah Tangga Determinan Kejadian Tuberkulosis Paru di Desa/Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan: Survey Rumah Tangga Determinan Kejadian Tuberkulosis Paru di Desa/Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan Heryaman, Henhen; Rahmawati, Ema; Chrysanti
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok dengan kerentanan sosial dan biologis tertentu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB pada masyarakat, meliputi karakteristik demografis, sosial ekonomi, riwayat kesehatan, paparan kontak, dan status gizi. Metode penelitian ini menggunakan survey rumah tangga pada penderita TB mulai Bulan Desemeber 2024-Januari 2025 dengan pendekatan potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami TB, dengan kelompok usia 41–60 tahun sebagai penderita terbanyak. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan rendah, berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga, serta memiliki pendapatan di bawah standar. Riwayat sakit sebelumnya ditemukan pada 47,2% responden dan riwayat kontak erat serumah sebesar 76%, menunjukkan kontribusi kuat paparan rumah tangga. Komorbid seperti hipertensi (19,05%) juga ditemukan, sementara sebagian besar responden memiliki status gizi baik (71,43%). Temuan ini menekankan perlunya pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan deteksi riwayat TB  dan penanganan kontak erat satu rumah dalam pengendalian TB