Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Peningkatan Keterampilan Servis Backhand bulutangkis Melalui Media Audio Visual di SMPN 1 Mataram Soemardiawan Soemardiawan; Intan Primayanti; Aminullah Aminullah; Indri Susilawati
Abdi Masyarakat Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.027 KB) | DOI: 10.36312/abdi.v1i1.962

Abstract

Pelatihan pengembangan media pembelajaran multimedia dengan pemanfaatan Media audio meningkatkan keterampilan servis  backhand dan forehand bulutangkis visual Peralatan audio visual bertujuan untuk memberikan ketrampilan dalam pembuatan media pembelajaran multimedia audio visual yang menarik dengan cara yang relatif mudah. Dengan dikuasainya media pembelajaran multimedia oleh para guru penjas diharapkan akan pemicu minat siswa untuk lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran, dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah Metode Presentasi mengenai pengenalan software, media audio visual, kemanfaataannya, dan penerapannya dalam pembuatan media pembelajaran interaktif, Metode Demonstrasi mengenai pengoperasionalisasian program dan Metode Praktik yaitu pembuatan media pembelajaran secara langsung oleh peserta sesuai dengan mata  pelajaran masing-masing dengan pemanfaatan programMedia audio visual. Metode evaluasi dengan mengamati perbedaan kemampuan guru sebelum dan setelah pelatihan. Dari hasil yang  dicapai terlihat peningkatan kemampuan yang cukup signifikan dibanding dengan sebelum dilatih, sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil meningkatkan kemampuan peserta. Evaluasi hasil dilihat dari penilaian tugas praktik yang menggambarkan keberhasilan materi yang telah disajikan.Selain itu juga dicermati kinerja dan partisipasi para peserta.Di akhir kegiatan Tim menjaring data kebermaknaan program pada para peserta.Diharapkan agar program pelatihan ini terus diadakan karena sangat dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran media audia visual memungkinkan menggunakan gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar
Pelatihan Massage Bayi Dan Anak Balita Pada Ibu-Ibu Perumahan Muhajirin Asri 2 Desa Terong Tawah Kecamatan Labu Api Kabupaten Lombok Barat Indri Susilawati; Balkis Ratu Nurul Laela Esser; Muhamad Satria Mulyajaya
Abdi Masyarakat Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.143 KB) | DOI: 10.36312/abdi.v1i2.975

Abstract

Massage merupakan tindakan instingtif untuk meringankan sakit, letih, lesu, terlebih apabila dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya. Massage merupakan salah satu bentuk dari terapi sentuh yang berfungsi sebagai salah satu teknik pengobatan penting. Massage bayi merupakan seni perawatan kesehatan dan pengobatan yang dikenal sejak awal manusia diciptakan di dunia serta telah dipraktekkan sejak berabad-abad tahun silam secara turun temurun oleh dukun bayi. Massage bayi merupakan suatu kegitan yang dilakukan oleh orang tua sebagai tindakan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sentuhan dan pandangan mata antara orang tua dan bayi mampu mengalirkan kekuatan jalinan kasih sayang diantara keduanya yang merupakan dasar komunikasi untuk memupuk cinta kasih secara timbal balik, mengurangi kecemasan, meningkatkan kemampuan fisik serta rasa percaya diri. Karena massage bayi ditujukan untuk memijat bayi, maka sebelum memijat perlu diketahui terlebih dahulu susunan (anatomi) dan tata kerja (fisiologi) dari organ manusia. Beberapa organ yang perlu diketahui adalah otot, peredaran darah, saraf, alat dalam dan kelenjar. Otot kerangka biasanya dikaitkan pada dua tempat tertentu, yaitu tulang, tulang rawan, ligament dan kulit.
Implementasi Kegiatan Posyandu sebagai Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan untuk Bayi dan Lansia Erna Fitriatun; Sukarman Sukarman; Indri Susilawati; Muhammad Satria Mulyajaya; Sri Erny Muliyani; Muhsan Muhsan
Jurnal Ilmiah Pengabdian dan Inovasi Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Ilmiah Pengabdian dan Inovasi (Juni)
Publisher : Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jilpi.v4i4.818

Abstract

This community service program aimed to implement Posyandu (Integrated Health Service Post) activities as a preventive and promotive strategy to improve the health status of infants and older adults. The program was initiated in response to the need for accessible primary healthcare services, particularly for vulnerable populations such as infants and the elderly. Infants require regular growth and developmental monitoring to facilitate the early detection of health problems, while older adults benefit from routine health assessments to identify risk factors for non-communicable diseases and maintain their overall quality of life. The program employed a participatory and educational approach that emphasized community involvement in preventive and health-promoting activities. The target participants included infants, their parents or caregivers, and older adults. The implementation consisted of four stages: preparation, implementation, evaluation, and follow-up. Activities for infants included weight and height measurements, documentation of health records in child health monitoring books, and health education on exclusive breastfeeding, balanced nutrition, immunization, and growth and developmental monitoring. For older adults, activities included blood pressure screening, health interviews to identify current health concerns, documentation of examination results, and health education on healthy lifestyles, light physical activity, and the prevention of degenerative diseases. The findings indicate that the implementation of Posyandu served as an effective platform for the early detection of health conditions, enhanced community knowledge, and strengthened community participation in maintaining the health of infants and older adults. Participants demonstrated high levels of engagement throughout the program and gained a better understanding of the importance of routine health examinations, continuous monitoring of child growth and development, and the adoption of healthy lifestyle practices during older adulthood.
SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN KADER DALAM IDENTIFIKASI FRAILTY PADA LANSIA RUMAH SENJA LOMBOK TIMUR Lalu Suprawesta; Indri Susilawati; Ni Ketut Dewita Putri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36443

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menimbulkan tantangan serius dalam bidang kesehatan masyarakat, salah satunya adalah kondisi frailty atau kerapuhan. Rumah Senja di Lombok Timur, yang menaungi lebih dari 100 lansia, belum memiliki sistem skrining rutin, dan kader pendamping belum mampu mngidentifikasi frailty secara mandiri. Program pengabdian masyarakat berbasis penelitian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mengidentifikasi frailty menggunakan instrumen fungsional sederhana. Metode pengabdian yang dilakukan adalah community-based research (CBR) dengan tahapan persiapan, pelaksanaan pendampingan, lalu monitoring dan evaluasi. Kegiatan dilakukan selama empat minggu, yang diikuti oleh 10 orang kader dan dihadiri oleh 49 lansia. Hasil pemeriksaan dengan pendampingan menunjukkan bahwa 28 lansia (57,1%) berada pada kategori frail, 16 lansia (32,7%) dalam kategori pre-frail, dan hanya 5 lansia (10,2%) tergolong robust. Pemahaman kader tentang frailty meningkat dari rata-rata 85 menjadi 87 poin, serta persepsi terhadap pencegahan melalui olahraga, nutrisi, dan dukungan sosial naik dari 85,7% menjadi 90,9%. Sebanyak 81,8% kader merekomendasikan skrining bulanan, sedangkan 18,2% menyarankan minimal dua kali setahun. Temuan ini menunjukkan prevalensi frailty di Rumah Senja cukup tinggi. Pelatihan kader dengan instrumen sederhana terbukti efektif meningkatkan kapasitas deteksi dini. Model skrining frailty berbasis komunitas ini memiliki potensi besar untuk dijadikan contoh di wilayah lain sebagai bagian dari strategi nasional mendukung penuaan sehat di Indonesia.Kata kunci: Frailty; Identifikasi; Instrumen Fungsional; Kader Kesehatan; Lanjut Usia. ABSTRACTThe increasing number of elderly people in Indonesia poses serious challenges in public health, one of which is the condition of frailty. Rumah Senja in East Lombok had more than 100 elderly individuals, currently lacks a regular screening system, and its field cadres are unable to independently identify frailty. This research-based community service project aims to enhance the capacity of cadres in identifying frailty using simple functional assessment tools. The method applied is community-based research (CBR) through stages of preparation, implementation of fascilitation, and monitoring and evaluation. The activities were conducted over four weeks, involving 10 cadres and 49 elderly participants. Screening results with guidance showed that 28 elderly (57.1%) were classified as frail, 16 (32.7%) as pre-frail, and only 5 (10.2%) as robust. Cadres’ understanding of frailty improved from an average of 85 to 87 points, and their perception of prevention through exercise, nutrition, and social support increased from 85.7% to 90.9%. A total of 81.8% of cadres recommended monthly screenings, while 18.2% suggested at least twice a year. These findings indicate a high prevalence of frailty at Rumah Senja. This community-based frailty screening model has significant potential to be replicated in other regions as part of a national strategy to support healthy aging in Indonesia. Keywords: Frailty; Identification; Functional Instrument; Health’s Cadres; Elderly.