Muhammad Suryadi
Linguistics Department, Faculty Of Humanities, Diponegoro University.

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Penggunaan Varian Kode Bermakna Permintaan Tolong dalam Tuturan Mahasiswa Rantau Bawean di Surabaya Maret Arie Mashitoh; Muhammad Suryadi
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 17, No 4: November 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.17.4.370-383

Abstract

The use of several languages about asking for help in the form of communication, Bawean overseas students have a worrying phenomenon about the variation of the language they use. The occurrence of variations in the language they use has an influence on the use of language. This study has a problem formulation, What is the form of the variants of languange about asking for help on Bawean overseas students in Surabaya? and What factors which influence the variants of languange used by Bawean overseas students in Surabaya. The purpose of this study is to describe the variants of asking for help languages on bawean overseas student in surabaya and the factors that influence the existence the variants of language that Bawean overseas students in Surabaya use when communicating. The method that use in this study is a qualitative descriptive method with data collection by observing and taking notes. The theory used by the researcher is code mixing by (Muysken, 2000) and code switching by (Suwito, 1983). The results showed that there were 4 variations language used by Bawean overseas students in Surabaya for asking for help, namely, Bawean language, Javanese language with Surabaya's dialect, Indonesian, and English. Factors that influence the variants of languages of bawean overseas students in Surabaya in the communication asked for help are the origin area of the speech, environmental factors, and familiarity factors.
VARIASI BAHASA CERBONAN PADA MASYARAKAT PESANTREN (Cerbonan Language Variety in Islamic Boarding School Community) Vina Uctuvia; Muhammad Suryadi
SAWERIGADING Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v28i1.939

Abstract

Penggunaan bahasa Cirebon pada Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kaupaten Cirebon memiliki banyak variasi bahasa yang digunakan oleh penuturnya. Variasi bahasa tersebut diakibatkan oleh terbaginya masyarakat di daerah tersebut ke dalam masyarakat pesantren dan masyarakat non-pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana variasi bahasa muncul pada wilayah tersebut dengan menggunakan pendekan dialektologi. Melalui pendekatan dialektologi, bisa diketahui persebaran varian leksikon yang tergolong dalam bahasa Cirebon, selain itu kelebihan dengan menggunakan pendekatan ini adalah dapat menentukan pemetaan dan pendistribusian varian leksikon yang tersebar di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) dan interview. Teknik hubung banding menyamakan (HBS), teknik hubung banding memperbedakan (HBB), dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP) digunakan untuk analisis data yang sudah terkumpul. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya tiga variasi bahasa Cirebon yang digunakan oleh masyarakat pesantren dan non-pesantren yang ada di wilayah penelitian, yaitu variasi bahasa dalam tataran dialek, variasi bahasa dalam tataran leksikon, dan variasi bahasa dalam tataran tingkat tutur.
KRITIK SOSIAL PRAKTIK KEAGAMAAN DALAM CERPEN ”ROBOHNYA SURAU KAMI”: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK Dewi Umi Kulsum; Ken Widyatwati; Muhammad Suryadi
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 2 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/kj3fta41

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh asumsi bahwa agama di Indonesia berperan penting dalam membentuk etika sosial dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, praktik keagamaan masa kini cenderung bergeser menjadi lebih formalistik dan ritualistik, mengikis aspek sosial dan empati. Realitas ini juga dipotret dalam karya sastra, yang mengangkat isu-isu sosial keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kritik sosial terhadap praktik keagamaan dalam cerpen  “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan dasar teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan fokus pada analisis struktur intrinsik cerita, konteks sosial pascakolonial, serta pandangan dunia tokoh sebagai cerminan kesadaran kolektif. Hasil penelitian menemukan pembacaan baru terhadap cerpen ini, yang menampilkan kritik terhadap formalistik dan fatalistik religius, serta rendahnya kepedulian sosial. Ketegangan antara tradisi lama dan keberagamaan progresif yang digambarkan melalui tokoh dan narasi, mengisyaratkan perubahan kesadaran kolektif menuju agama yang lebih kontekstual, sosial, dan humanistik sebagai respons atas realitas Indonesia tahun 1950-an. Analisis ini menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi cerminan dari dinamika sosial dan intelektual di masyarakat. KATA KUNCI: Kritik Sosial; Praktik keagamaan; Sosiologi  Sastra; Sztrukturalisme genetik   SOCIAL CRITICISM OF RELIGIOUS PRACTICES IN THE SHORT STORY “ROBOHNYA SURAU KAMI”: A GENETIC STRUCTURALISM STUDY   ABSTRACT: This study is based on the assumption that religion in Indonesia plays an important role in shaping social ethics and human values. However, current religious practices tend to shift towards being more formalistic and ritualistic, eroding social aspects and empathy. This reality is also portrayed in literary works, which raise socio-religious issues. This study aims to analyze social criticism of religious practices in the short story  “Robohnya Surau Kami” by A.A. Navis using a sociological approach to literature based on Lucien Goldmann's Genetic Structuralism theory. The method used is descriptive qualitative with a focus on analyzing the intrinsic structure of the story, the postcolonial social context, and the characters' worldviews as a reflection of collective consciousness. The results of the study reveal a new reading of this short story, which presents a critique of religious formalism and fatalism, as well as a lack of social awareness. The tension between old traditions and progressive religiosity, as depicted through the characters and narrative, suggests a shift in collective consciousness toward a more contextual, social, and humanistic religion in response to the realities of 1950s Indonesia. This analysis demonstrates how literary works can reflect the social and intellectual dynamics of society. KEYWORDS: Social criticism; Religious practices; Sociology of literature; Genetic structuralism Diterima: 23 September 2025 Direvisi: 28 September 2025 Disetujui: 1 Oktober 2025 Dipublikasi: 30 Oktober 2025 Pustaka  : Kulsum, D. U., Widyatwati, K., & Suryadi, M. (2025). Kritik sosial praktik keagamaan dalam cerpen "Robohnya Surau Kami": Kajian strukturalisme genetik. Jurnal Fon Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2), 566-580.  Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.  
Unggah-Ungguh sebagai Etika Jawa: Analisis Sosiologi Sastra dalam Film Kartini Karya Hanung Bramantyo Nur Khasanatun Ni'mah; Ken Widyatwati; Muhammad Suryadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8341

Abstract

This study aims to describe the manners of Javanese nobility in the Kartini film. Using qualitative methods, with a sociology of literature approach based on Ian Watt's theory and semiotics according to Charles Sanders Peirce. Data collection techniques include observing and taking notes. Primary data was obtained from the film in the form of dialogue, visual expressions, and interactions between characters, while secondary data came from various supporting literature. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, interpretation of visual-verbal signs, and drawing conclusions. The results of the study show that the character Kartini represents a Javanese noble figure who still holds fast to the values of manners despite having a critical view of customs that limit the role of women. The character Kartini does not fight tradition head-on, but chooses a dialogical path by continuing to carry out aristocratic ethics such as sembah, ndodhok, and timpuh. This attitude reflects that manners are a cultural awareness that plays a role in maintaining social harmony, not just a formality. Thus, the Kartini film emphasizes that tradition does not have to be a barrier to change, but can be a dialectical space between respect for cultural heritage and the courage to think progressively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unggah-ungguh bangsawan Jawa dalam film Kartini. Menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Ian Watt dan semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data berupa simak dan catat. Data primer diperoleh dari film dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan interaksi antartokoh, sedangkan data sekunder bersumber dari berbagai literatur pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi tanda visual-verbal, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kartini merepresentasikan sosok bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh nilai unggah-ungguh meskipun memiliki pandangan kritis terhadap adat yang membatasi peran perempuan. Tokoh Kartini tidak melawan tradisi secara frontal, tetapi memilih jalan dialogis dengan tetap menjalankan etika aristokratik seperti sembah, ndodhok, dan timpuh. Sikap ini mencerminkan bahwa unggah-ungguh merupakan kesadaran budaya yang berperan menjaga harmoni sosial, bukan sekadar formalitas. Dengan demikian, film Kartini menegaskan bahwa tradisi tidak harus menjadi penghalang perubahan, melainkan dapat menjadi ruang dialektika antara penghormatan terhadap warisan budaya dan keberanian untuk berpikir progresif.
Variasi Leksikon sebagai Penanda Status Sosial dalam Komunikasi Adat Masyarakat Wabula, Sulawesi Tenggara Istiqamah Idrus Sere; Muhammad Suryadi
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/kls.v11i1.15142

Abstract

This study aims to describe the lexical variation of Wabula Community in Southeast Sulawesi as amarker of social status in their traditional communication. This research is motivated by the limitednumber of studies that specifically examine the relationship between the choice of traditional lexiconand the social hierarchical structure in Wabula community interactions. We use a qualitative descriptivemethod with data collection through observation and interviews with traditional leaders, religiousfigures, and local communities. Data are analyzed by identifying lexicon that appears in speech andexamining its social function based on the speaker's intention adjusted to the context. This analysis usesLabov's theory on language variation and social strata, which views power relations and social statusas phenomena that influence language. In Wabula traditional practices, the choice of lexical formsfunctions as a social marker that indicates status, respect, and role in the traditional hierarchy. Theresults show that lexicons such as tabea, mande, and amanto, which are used for parabhela, imam, andthe general public, respectively, have different social functions. This variation confirms that languageserves as a marker of hierarchy, politeness, identity, and social relations in Wabula society.