Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kompetensi Pemimpin Membangun Ruh Al-Jama’ah Dalam Sistem Manajemen Pendidikan Islam Ahmad Syukri Saleh; Kasful Anwar US; M. Kamal
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol 6 No 2 (2019): (Oktober 2019)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v6i2.136

Abstract

Sulitnya menemukan sosok pemimpin yang ideal, salah satumya disebabkan oleh anggapan bahwa jabatan dianggap sebagai “anugerah” yang didapat dengan sedikit perjuangan atau dengan cara-cara yang tidak terhormat. Sosok pemimpin yang dapat menyelesaikan berbagai gejolak yang muncul, yaitu seorang pemimpin yang berkarakter. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain, berwibawa, dan visioner. Ada enam fungsi secara integral yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin, yaitu: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara kesinambungan generasi, memelihara harta, dan memelihara kehormatan. Mengelola organisasi dengan pendekatan prilaku manusia (human behavior aproach) perlu dilakukan. Dalam pendekatan keperilakuan (behavioral approach) mencoba mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya untuk mempengaruhi anggota-anggota kelompok atau pengikutnya. Perilaku pemimpin ini dapat berorientasi pada tugas keorganisasian ataupun pada hubungan dengan anggota kelompoknya. Perilaku kepemimpinan yang berorientasi pada orang (Concern for People) merupakan fokus bahasan yang penulis anggap memiliki kedekatan makna dan fungsi secara operasional pada upaya pemimpin membangun ruh al-jama’ah (spirit kerjasama tim/team work). Keberhasilan organisasi mencapai tujuannya sangat dipengaruhi oleh kapabilitas pemimpin dalam mengelola sumber daya manusia dengan spirit kerjasama tim (ruhul jama’ah). Untuk meningkatkan efektifitas kepemimpinannya, pemimpin dapat menggunakan pengaruh: (a) rational persuasion, (b) exchange tactics, (c) legitimate request, (d) pressure tactics, dan (e) personal appeals. Termasuk juga; (f) memperhatikan kebutuhan bawahan (teori Abraham Maslow), (g) menciptakan suasana saling percaya antar bawahan dengan pimpinan dan bawahan dengan bawahan, (g) menaruh simpati terhadap bawahan sebagai bagian dari organisasi, (h) memperlihatkan sisi persahabatan dengan bawahan, (i) dan mengutamakan pengarahan diri, mendisiplin diri, mengontol diri.
Reconstruction of Islamic Educational Leadership: Integrating Moral Responsibility and Structural Authority in the Perspective of the Qur’an and Hadith Zulfa Rahmat Hidayati; Ahmad Syukri Saleh; Ahmad Husein Ritonga
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v13i1.17704

Abstract

This study examines the concept of Islamic education leadership in the perspective of the Qur'an and Hadith. This research is motivated by the imbalance between managerial ability and moral integrity of leaders in a number of modern Islamic educational institutions, as well as the tendency of previous studies that are more normative and have not provided an applicative framework to contemporary leadership challenges. This research aims to analyze the concept of Islamic educational leadership, identify the relationship between the dimensions of authority and responsibility, and reconstruct Islamic education leadership models that are relevant to the needs of today's educational institutions. This research uses a qualitative approach with the type of library research. The main sources of research include classical texts such as Al-Mawardi's Al-Ahkām as-Sulthāniyyah and Al-Ghazali's Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, as well as the thought of modern figures such as Ibn Taymiyyah, Muhammad Abduh, and Fazlur Rahman. Data was analyzed using descriptive-analytical techniques through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing with the theoretical framework of Islamic transformative leadership. The results of the study show that the ideal leadership of Islamic education requires a balance between al-quwwah (managerial capacity and professionalism) and al-amānah (moral integrity and spiritual responsibility), as reflected in Q.S. Al-Qashash verse 26 and Q.S. Al-Baqarah verse 30. The study also found that the synthesis between classical and contemporary thought resulted in a transformative Islamic leadership model that was able to address the challenges of professionalism, institutional governance, and social change in modern Islamic education. This study makes a new contribution in the form of the formulation of an Islamic educational leadership model that integrates the spiritual and managerial dimensions applicatively.