Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PELIBATAN STAKEHOLDERS DALAM PROSES INPRES MORATORIUM IZIN PERKEBUNAN SAWIT 2016-2017: SEBUAH TINJAUAN STAKEHOLDER-BASED POLICY PUBLIC PROCESS Riaty Raffiudin
JIPAGS (Journal of Indonesian Public Administration and Governance Studies) Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JIPAGS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31506/jipags.v1i2.1983

Abstract

This article discusses the involvement of stakeholders in the process of Instruksi Presiden Moratorium for palm oil plantation permits between 2016 and 2017 using the stakeholder-based public policy process from Altman and Petkus (1994) to answer the research question that has been posed, which is, "Has there been any involvement of stakeholders since the Instruksi Presiden Moratorium for palm oil plantation permits set up by the government in 2016?” This qualitative study using secondary data is a preliminary study for more comprehensive research. The findings of this research are the three stakeholders in the palm oil industry, the Environmental NGOs, the government as the policy maker and the palm oil business- owners including GAPKI, do not have the same definition of problems and agree on the same agenda as the first stage in response to problems in the palm oil industry. This has meant that the Instruksi Presiden Moratorium for palm oil plantation permits set by the government in 2016 has not yet been implemented. Keywords: 2016 Instruksi Presiden Moratorium for palm oil plantation permits, stakeholders involvement, stakeholder-based public policy process, palm oil 
Dominasi Oligarki dan Ketidakhadiran Partai Politik Hijau di Indonesia Luthfi Hasanal Bolqiah; Riaty Raffiudin
Nakhoda: Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol 19 No 2 (2020)
Publisher : Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/njip.v19i2.112

Abstract

Contemporary, environmental destruction and its impacts in Indonesia still not adequate to transforms to the platform of a political party as it appears in other countries. Studies have used a liberal framework and prosecuting collective consciousness and civic participation to control environmental issues, not the urgency of green political representation. Furthermore, perspectives of constitusionalism and intitutionalism are too idealistic because inattentive to the individuals interests who are profit-oriented. Consequently, this article attempts to analyze the causes of environmental problems and the absence of formal representation of environmental discourse using oligarchy and political representation theory.  Using qualitative descriptive studies with interview methods and literature studies discovered: (1) green political discourse in Indonesia was scaterred all over the election promises by candidates or political parties, (2) the concentration of natural resources is a sustainable source of income for the oligarchs, (3) the absence of green political platform gave room to live and breathe for oligarch agenda, whereas (4) consolidation of green political platform hampered by internal such as the pros and cons of establishing a political party and external factors such as the party system and Engineering Electoral Systems.
Keterlibatan Jaringan Muslimat NU dalam Memenangkan Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 Silkania Swarizona; Riaty Raffiudin
LITERATUS Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Literatus
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/lit.v3i1.119

Abstract

In the election for the Governor of East Java in 2018, Khofifah Indar Parawansa finally succeeded in becoming the Governor of East Java after losing in two previous East Java election. Khofifah Indar Parawansa's victory this time could not be separated from the influence of the East Java NU Muslimat network, where Khofifah was the chairman of the NU Muslimat organization. The purpose of this study is to see how the involvement of the Muslimat NU network as a civil society organization and to help Khofifah in winning the East Java election in 2018. This research uses qualitative research methods, with the object of research being Muslimat NU. The results of this study indicate that the NU Muslimat Network can be put to good use by Khofifah Indar Parawansa to make him the Governor of East Java in 2018. This can be seen from two aspects, first is that Khofifah Indar Parawansa has a considerable influence in the Muslimat NU organization. Second, the adherence of NU's Muslimat supporters to Khofifah shows her dominance in the organization. With Khofifah's already strong influence and dominance among Muslimat NU, the Muslimat NU network can implement a resource mobilization strategy to ensure Khofifah Indar Parawansa's victory in the gubernatorial election.
Democratic regression in Indonesia: Police and low-capacity democracy in Jokowi's administration (2014–2020) Sarah Nuraini Siregar; Riaty Raffiudin; Firman Noor
JSP (Jurnal Ilmu Sosial dan ilmu Poltik) Vol 26, No 2 (2022): November
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsp.72129

Abstract

Discussions about democratisation have often revolved around the strengthening or weakening phenomenon/notion of democracy. This research is a continuation of previous studies on democratic regression in Indonesia. Charles Tilly (2007) examined democratic regression from democracy and de-democratization theory through the concept of low-capacity democracy. Tilly's perspective argues a low-capacity democratic process occurred during the Joko Widodo administration in Indonesia from 2014 to 2020 when the state implemented the Police as a political instrument to maintain power. As a result, the character of the Police deviated from democratic principles, leading to a problem for police professionalism. The study employs qualitative methods, in which the primary data is obtained from in-depth interviews with several key informants. The secondary data is gathered from scientific works of literature and news in online media. This study indicates how low-capacity democracy developed through: first, the Indonesian regime's intervention and exercise of control by involving and appointing police officers to civilian positions; second, police repression against civil liberties; and third, the Police's justification for their authority and power. Thus, this study confirms Tilly's argument that a low-capacity democratic process occurs when democratic countries pursue undemocratic methods by manipulating the Police as an instrument to strengthen the power of the regime. The recommendation of this study is to strengthen democracy in terms of law enforcement by the supervision of parliament and supervisory institutions to retain the Police’s role as an independent law enforcement institution.
PENGARUH FAKTOR PILIHAN RASIONAL TERHADAP TINGGINYA JUMLAH VOTERS ABSTENTION DI KOTA MEDAN PADA PEMILIHAN GUBERNUR SUMATERA UTARA 2018 Christian Deswinta Bangun; Riaty Raffiudin
JISIPOL | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 6 No. 3 (2022): JURNAL JISIPOL VOL. 6. NO. 3, NOVEMBER 2022
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.258 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari Anthony Downs (1985) yang memandang perilaku pemilih yang melihat utilitas dari kandidat pemilu. Utilitas yang dilihat oleh pemilih, dijelaskan lebih lanjut oleh Kiewiet (1985) dan Fiorina (1982), berasal dari kinerja ekonomi dari pemerintah yang sedang menjabat. Riker dan Ordeshook (1968) menyatakan bahwa pemilih memiliki kewajiban berwarganegara dimiliki oleh setiap orang sebagai kapabilitas politiknya. Blais (2000) dan Moon (1992) menyatakan Rasionalitas pemilih juga muncul dari biaya yang dikalkulasi pemilih berdasarkan teknis kepemiluan. Penelitian ini menggunakan kasus kota Medan yang partisipasi memilih pada Pilkada Serentak Gubernurnya rendah. Permasalahan yang terjadi di Kota Medan adalah kondisi ekonomi yang cenderung negatif dibanding kota/kabuapten lain di Provinsi Sumatera Utara. Kasus Korupsi pejabat di kota Medan memberikan kesempatan bagi penelitian ini untuk menguji perasaan kewajiban warganegara pemilih. Terdapat biaya yang dikalkulasi oleh pemilih seperti keterjangkauan dan pengetahuan pemilih soal TPS yang sangat rendah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sampel yang diambil merupakan pemilih yang tidak hadir ke TPS, sejumlah 204 dengan Margin of Error sebesar 7 persen. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor evaluasi ekonomi politik berpengaruh signifikan terhadap tingginya voters abstention di Kota Medan Pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018. Peniliaian signifikan pemilih mengacu pada “kesenjangan yang masih terjadi di antara yang kaya dan miskin” dan “kondisi perekonomian Sumatera Utara 2013-2018”. Faktor efikasi politik dan biaya memilih tidak menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap tingginya jumlah voters abstention di Kota Medan. Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah menjelaskan rendahnya partisipasi memilih berdasarkan pendekatan pilihan rasional. Teori retrospective voting Fiorina (1982) mengarahkan pemilih pada penilaian kinerja petahana sebagai pertimbangan untuk memilih kandidat petahana sebagai hadiah dan memilih lawannya sebagai hukuman. Penelitian ini juga mampu mengarahkan asumsi hukuman tersebut dengan wujud tidak memilih. Petahana yang tidak mencalonkan diri pada Pilgub 2018 membuat pemilih menjadikan kinerja ekonomi pemerintah sebelumnya sebagai pertimbangan untuk tidak memilih.
Praktik Oligarki dalam Pertambangan Pasir Laut Pada Reklamasi Makassar New Port Suhardi; Riaty Raffiudin
Vox Populi Vol 6 No 1 (2023): VOX POPULI
Publisher : ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/vp.v6i1.39018

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi oligarki dalam bentuk aliansi predatoris dalam pertambangan pasir laut pada reklamasi Makassar New Makassar (MNP). Vedi Hadiz dan Robison, yang menggambarkan oligarki sebagai sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan konsentrasi kekayaan dan otoritas serta pertahanan kolektifnya. Penelitian ini menggunakan teori oligarki Robison-Hadiz dan Winters untuk memahami pengakumulasian kapital dan pertahanan kekayaan (wealth defense). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan cara mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam dan analisis dengan data sekunder melalui kajian literatur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa oligarki dalam bentuk aliansi predatoris ini terjadi karena adanya relasi politik dan ekonomi (pemerintah dan pengusaha) dengan tujuan menguasai dan mempertahankan sumber daya alam yang bertumpu pada regulasi kebijakan politik. Peruntukan reklamasi yang dicanangkan mencakup kepentingan pengusaha yang mempunyai koneksi dengan pemerintah daerah dan memanfaatkannya untuk bisnis. Sumber daya kekuasaan dari pemerintah dengan mudah memberikan suatu hak monopoli, konsesi, dan perlindungan keamanan. Dengan demikian, relasi oligarkis politik dan bisnis menciptakan konfigurasi kekuasaan yang digunakan sebagai instrumen pertahanan kekayaan.
Pengaruh Informasi Kinerja Incumbent Terhadap Partisipasi Pemilih Milenial Dalam Pilkada Medan 2020 Perangin-Angin, M. Ichsan Bayunta; Raffiudin, Riaty
Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan Vol 9, No 2 (2023): (November) Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jipp.v9i2.5224

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena telah terjadi peningkatan yang signifikan pada tingkat partisipasi dalam Pilkada langsung Walikota Kota Medan tahun 2020 setelah lima belas tahun mengalami penurunan partisipasi. Kandidat pesaing Bobby Afif Nasution yang merupakan generasi milenial dan menantu Presiden Joko Widodo berhasil mengalahkan petahana Akhyar Nasution dengan selisih 46,55% dan Bobby menang 53,45%. Peningkatan tingkat partisipasi yang signifikan ini merupakan fenomena baru dalam sejarah Pilkada Kota Medan yang patut untuk ditelaah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kinerja incumbent terhadap partisipasi milenial dalam Pilkada Kota Medan 2020 dengan menggunakan teori perilaku pemilih rasional Anthony Downs (1957). Penelitian ini menggunakan survei, sebagai salah satu jenis metode kuantitatif, menggunakan sampel sebanyak 204 responden dengan tingkat kepercayaan 93% dan Margin of Error (MoE) 7%. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab peningkatan partisipasi pemilih dan kekalahan petahana adalah pengetahuan dan evaluasi kinerja petahana di sektor infrastruktur yang dianggap buruk oleh milenial dalam Pilkada Kota Medan 2020 dengan hasil nilai chi square sebesar 0,020 sebagai indikator pertama, 0,022 sebagai indikator kedua dan 0,003 sebagai indikator ketiga. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap teori yang digunakan. Dalam teori perilaku pemilih rasional, faktor kinerja incumbent menunjukkan pengaruh yang signifikan dan signifikan pada Pilkada Medan 2020. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab peningkatan partisipasi pemilih dan kekalahan petahana adalah pengetahuan dan evaluasi kinerja petahana di sektor infrastruktur yang dianggap buruk oleh milenial dalam Pilkada Kota Medan 2020 dengan hasil nilai chi square sebesar 0,020 sebagai indikator pertama, 0,022 sebagai indikator kedua dan 0,003 sebagai indikator ketiga. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap teori yang digunakan. Dalam teori perilaku pemilih rasional, faktor kinerja incumbent menunjukkan pengaruh yang signifikan dan signifikan pada Pilkada Medan 2020. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab peningkatan partisipasi pemilih dan kekalahan petahana adalah pengetahuan dan evaluasi kinerja petahana di sektor infrastruktur yang dianggap buruk oleh milenial pada Pilkada langsung Kota Medan 2020 dengan hasil nilai chi square sebesar 0,020 sebagai indikator pertama, 0,022 sebagai indikator kedua dan 0,003 sebagai indikator ketiga. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap teori yang digunakan. Dalam teori perilaku pemilih rasional, faktor kinerja incumbent menunjukkan pengaruh yang signifikan dan signifikan pada Pilkada Medan 2020. Kinerja sektor infrastruktur yang dinilai kurang baik oleh kaum milenial pada Pilkada Kota Medan 2020 dengan hasil nilai chi square 0,020 sebagai indikator pertama, 0,022 sebagai indikator kedua dan 0,003 sebagai indikator ketiga. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap teori yang digunakan. Dalam teori perilaku pemilih rasional, faktor kinerja incumbent menunjukkan pengaruh yang signifikan dan signifikan pada Pilkada Medan 2020. Kinerja sektor infrastruktur yang dinilai kurang baik oleh kaum milenial pada Pilkada Kota Medan 2020 dengan hasil nilai chi square 0,020 sebagai indikator pertama, 0,022 sebagai indikator kedua dan 0,003 sebagai indikator ketiga. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap teori yang digunakan. Dalam teori perilaku pemilih rasional, faktor kinerja incumbent menunjukkan pengaruh yang signifikan dan signifikan pada Pilkada Medan 2020.
Gender Stereotype and the Voting Behavior of the Balinese Society in the 2014 Legislative Election Apriani, Kadek Dwita; Raffiudin, Riaty
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 11 No. 1 (2019): Politeia : Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/politeia.v11i1.674

Abstract

This research explains the relationships between gender stereotypes that live inside patriarchal culture among Balinese with voting behaviour of female candidates in the 2014 legislative election. Using quantitative method, the number of the samples are 800 which are proportionally spread in all Bali regencies and cities. The margin of error of this research is 3% at 95% confidence level. The sampling technique used is multi stage random sampling. The research findings suggest that in the 2014 legislative election, only 4% of the Balinese respondents voted for female candidates. This is due to the gender stereotyping factor, where there are very few issues or policies that are considered more capable of being resolved by female politicians. Almost all the issues that become problems in the daily life of the Balinese people are considered by the respondents to be better resolved by male politician
Dominasi Oligarki Sumber Daya Alam: Studi Kasus Ketergantungan Indonesia Terhadap Industri Batu Bara Di Masa Pemerintahan Joko Widodo Ayubi, Sholahudin Al; Raffiudin, Riaty
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 7, No 3 (2023): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v7i3.5513

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk memahami bagaimana dominasi oligarki sumber daya alam yang terjadi di sektor industri ekstraktif batu bara pada masa pemerintahan Jokowi. Melalui metode penelitian kualitatif, fokus penelitian ditujukan dengan menganalisis beberapa indikator berdasarkan toeri oligarki Winters, diantaranya masih terkonsentrasinya kekayaan oligarki di Indonesia, dan meningkatnya kekayaan individu yang bersumber dari penguasaan atas konsesi tambang batu bara. Besarnya kekayaan ini sekaligus telah memperkuat pengaruh oligarki sumber daya alam terhadap kebijakan dan sistem politik yang ada. Di periode pemerintahan Jokowi, keterkaitan bisnis yang kuat antara oligarki batu bara dan elit politik telah membuat Indonesia berada pada kondisi ketergantungan yang ekstrim terhadap industri batu bara, para ahli melabeli kondisi ini sebagai rezim ekstraktivisme. Salah satu dampak buruk rezim ekstraktivisme ini adalah meningkatnya potensi korupsi politik, yang berujung pada state capture atau pembajakan negara. Salah satu indikator terjadinya state capture adalah rendhnya indeks persepsi korupsi di Indonesia.
Gender Stereotype and the Voting Behavior of the Balinese Society in the 2014 Legislative Election Apriani, Kadek Dwita; Raffiudin, Riaty
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 11 No. 1 (2019): Politeia : Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.561 KB) | DOI: 10.32734/politeia.v11i1.674

Abstract

This research explains the relationships between gender stereotypes that live inside patriarchal culture among Balinese with voting behaviour of female candidates in the 2014 legislative election. Using quantitative method, the number of the samples are 800 which are proportionally spread in all Bali regencies and cities. The margin of error of this research is 3% at 95% confidence level. The sampling technique used is multi stage random sampling. The research findings suggest that in the 2014 legislative election, only 4% of the Balinese respondents voted for female candidates. This is due to the gender stereotyping factor, where there are very few issues or policies that are considered more capable of being resolved by female politicians. Almost all the issues that become problems in the daily life of the Balinese people are considered by the respondents to be better resolved by male politician