Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Kejadian Stunting Anak Usia 12-59 Bulan Evy Noorhasanah; Nor Isna Tauhidah
Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol. 4 No. 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jika.v4i1.959

Abstract

Stunting berdampak pada pertumbuhan fisik anak. Penyebab stunting diantaranya faktor gizi, pemberian ASI eksklusif, tingkat pendidikan, pengetahuan ibu dan riwayat BBLR. Dukungan asupan gizi yang baik untuk anak memerlukan kemampuan ibu dalam memberikan pengasuhan pada anak. Latar belakang pendidikan orang tua juga merupakan unsur penting dalam menentukan status gizi anak. Tujuan penelitian mengidentifikasi hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting anak usia 12-59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 88 dengan teknik sampling yang digunakan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 55,7% responden dengan pola asuh buruk memiliki anak pendek dan sangat pendek dan terdapat  hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting anak usia 12-59 bulan dengan p-value  0,01. Saran kepada pihak instansi pendidikan, puskesmas, dan ibu yang memiliki balita hendaknya saling bersinergi untuk meningkatkan status gizi balita yang dimulai dari menambah wawasan atau pengetahuan pentingnya pola asuh yang baik agar mengurangi resiko stunting.  
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TATAH MAKMUR KABUPATEN BANJAR Evy Noorhasanah; Nor Isna Tauhidah; Musphyanti Chalida Putri
Journal of Midwifery and Reproduction Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35747/jmr.v4i1.559

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan sebuah kondisi di mana tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Kejadian anak stunting di Kalimantan Selatan khususnya di Kab Banjar masih berada pada angka kejadian yang sangat tinggi 13.3% dan di Puskesmas Tatah Makmur 38,06%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi, riwayat imunisasi dasar, riwayat ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tatah Makmur Kabupaten Banjar.Penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah ibu yang mempunyai balita mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Tatah Makmur Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar tahun 2018 sebanyak 537 orang. Sampel berjumlah 50 orang dengan teknik pengambilan accidental sampling. Analisis data melalui uji Spearman Rank. Hasil penelitian sebagian besar memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 26 orang (52%), telah mendapatkan imunisasi lengkap sebanyak 32 orang (64%), pemberian MP-ASI sebagian besar cukup 32 orang (64%), riwayat pemberian ASI parsial 40 orang (80%) dan balita sebagian besar pendek sebanyak 33 orang (66%). Terdapat hubungan riwayat penyakit infeksi, kelengkapan imunisasi, pemberian MP-ASI, riwayat ASI eksklusif dengan kejadian Stunting. Puskesmas hendaknya meningkatkan pemberian informasi kepada ibu hamil tentang faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya Stunting sehingga bahwa faktor risiko dapat dikendalikan lebih dini. Kata Kunci : Imunisasi Dasar, Penyakit Infeksi, Pemberian MP-ASI, ASI eksklusif, Stunting ABSTRACT Stunting is a condition in which a person's height turns out to be shorter than the height of another person's age. Stunting in Banjar District by 13.3% and in Tatah Makmur Health Center 38.06%.The purpose of this study was to determine the relationship between infectious diseases and basic immunization against the incidence of stunting in infants in Tatah Makmur Health Center. The study design was an analytic survey with cross sectional approach. The population is mothers who have toddlers stunted in Tatah Makmur Health Center in 2018 as many as 537 people. Samples amounted to 50 people with a purposive sampling technique. Analysis of data through the Spearman Rank. The results of the study of toddlers mostly have a history of infectious diseases as many as 26 people (52%), have received complete immunization as many as 32 people (64%) and toddlers are mostly short as many as 33 people (66%). There is a relationship between the history of infectious diseases, the completeness of immunization with the incidence of stunting. Health centers should increase the provision of information to pregnant women about factors that influence the occurrence of stunting so that risk factors can be controlled earlier. Keywords: History of Basic Immunization, History of Infectious Diseases, Stunting
TERAPI MODALITAS SENAM LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI DESA SUNGAI TANDIPAH RT 3 Dewi Kartika Wulandari; Nor Afni Oktavia; Evy Noorhasanah
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i2.355

Abstract

Proses penuaan terjadi secara alami dan proses alami tersebut menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada lansia, yaitu dari segi kondisi fisik atau biologis, kondisi psikologis, kondisi sosial, serta kondisi ekonomi. Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan yang secara terus menerus yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Salah satu senam untuk menjaga kesehatan lansia yang paling murah dan mudah dilakukan adalah senam bugar lansia. Senam Lansia di lakukan untuk mencegah kenaikan tekanan darah. Senam lansia di lakukan selama 1 hari selama 20 menit. Terjadi penurunan pada tekanan darah pada lansia. Senam lansia harus terus di laksanakan berkesinambungan agar tekanan darah lansia tetap terkontral.
Analysis of Nursing Care in Adolescents with Anemia with the Application of Monitoring and Education Interventions for Giving Blood Added Tablets at Teluk Dalam Health Center Banjarmasin Eka Rani Norlailasari; Mariani Mariani; Evy Noorhasanah
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2023): July 2023
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v2i2.687

Abstract

Young women, who tend to become mothers will be more affected by anemia because they tend to get pregnant and give birth. blood supplement tablet supplementation program for young women, one of the government's efforts to ensure adequate iron intake to prevent anemia. Before administering Blood Supplement Tablets, adolescents should be given information about anemia in Blood Supplement Tablets, as well as guidance or supervision during the administration of Blood Supplement Tablets. The purpose of this research is to describe the results of monitoring and educating the administration of blood supplement tablets. The writing method is in the form of case studies on adolescents with anemia. The results of this case study showed an increase in hemoglobin and hematocrit levels. The control card is filled in according to the date of taking the medicine and signed by the parents. With this case study, it is hoped that nursing interventions related to the method of increasing hemoglobin levels in young women with anemia can be developed.
TERAPI MODALITAS SENAM LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI DESA SUNGAI TANDIPAH RT 3 Dewi Kartika Wulandari; Nor Afni Oktavia; Evy Noorhasanah
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v2i2.355

Abstract

Proses penuaan terjadi secara alami dan proses alami tersebut menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada lansia, yaitu dari segi kondisi fisik atau biologis, kondisi psikologis, kondisi sosial, serta kondisi ekonomi. Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan yang secara terus menerus yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Salah satu senam untuk menjaga kesehatan lansia yang paling murah dan mudah dilakukan adalah senam bugar lansia. Senam Lansia di lakukan untuk mencegah kenaikan tekanan darah. Senam lansia di lakukan selama 1 hari selama 20 menit. Terjadi penurunan pada tekanan darah pada lansia. Senam lansia harus terus di laksanakan berkesinambungan agar tekanan darah lansia tetap terkontral.
Hubungan Paparan Sinar Matahari dan Aktivitas Fisik dengan Pertumbuhan Remaja di SMP Negeri 3 Banjarmasin Vidia Nasya Nalurita; Mariani Mariani; Evy Noorhasanah; Noor Isna Tauhidah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24803

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a period of growth characterized by rapid physical development, particularly in height and changes in body composition. Environmental factors such as sunlight exposure and physical activity play an important role in supporting the growth process through vitamin D synthesis and stimulation of growth hormones. Insufficient sunlight exposure and suboptimal physical activity may negatively affect optimal adolescent growth. This study aimed to determine the relationship between sunlight exposure and physical activity with adolescent growth at SMP Negeri 3 Banjarmasin. This study employed a quantitative analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 89 adolescents selected using proportional stratified random sampling. Sunlight exposure was measured using the Sunlight Exposure Questionnaire (SEQ), physical activity was assessed using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and adolescent growth was evaluated based on height-for-age (HFA) and body mass index-for-age (BMI-for-age) indicators. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the Spearman Rank test. The results showed a significant relationship between sunlight exposure and adolescent height (p = 0.000; r = 0.802), indicating a very strong and positive correlation. Sunlight exposure was also significantly associated with body mass index (p = 0.017; r = 0.252), demonstrating a moderate and positive correlation. In addition, physical activity was significantly related to adolescent height (p = 0.011; r = 0.269) and body mass index (p = 0.018; r = 0.251), both indicating moderate and positive correlations. Sunlight exposure and physical activity have a significant relationship with adolescent growth at SMP Negeri 3 Banjarmasin. Adequate sunlight exposure and optimal physical activity play an important role in supporting height growth and nutritional status among adolescents. Keywords: Sunlight Exposure, Physical Activity, Adolescent Growth.  ABSTRAK Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik, terutama tinggi badan dan perubahan komposisi tubuh. Faktor lingkungan seperti paparan sinar matahari dan aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menunjang proses pertumbuhan melalui sintesis vitamin D dan stimulasi hormon pertumbuhan. Kurangnya paparan sinar matahari dan aktivitas fisik yang tidak optimal dapat berdampak pada pertumbuhan remaja yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan sinar matahari dan aktivitas fisik dengan pertumbuhan remaja di SMP Negeri 3 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 89 remaja yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Paparan sinar matahari diukur menggunakan Sunlight Exposure Questionnaire (SEQ), aktivitas fisik menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), dan pertumbuhan remaja dinilai berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan sinar matahari dengan tinggi badan remaja (p = 0,000; r = 0,802) yang menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif. Paparan sinar matahari juga berhubungan signifikan dengan indeks massa tubuh remaja (p = 0,017; r = 0,252) dengan kekuatan hubungan cukup dan positif. Selain itu, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan tinggi badan remaja (p = 0,011; r = 0,269) serta dengan indeks massa tubuh (p = 0,018; r = 0,251), yang menunjukkan hubungan cukup dan positif. Paparan sinar matahari dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan remaja di SMP Negeri 3 Banjarmasin. Paparan sinar matahari yang cukup dan aktivitas fisik yang optimal berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan dan status gizi remaja. Kata Kunci: Paparan Sinar Matahari, Aktivitas Fisik, Pertumbuhan Remaja.