Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Potensi Limbah Pertanian Indonesia sebagai Agen Antidiabetes: Studi Kasus Rambut Jagung dan Kulit Jeruk Wenny; Aning Ayucitra
SAINTEK : Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi Industri Vol. 3 No. 2 (2019): JISTIN Vol 3 No 2
Publisher : Universitas Katolik Musi Charitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32524/saintek.v3i2.119

Abstract

Agricultural by-products such as corn silk and kaffir limepeels have not been utilized well. Since every part of a plant contains phenolicscompounds as a result of their secondary metabolism, it is possible that these two wastes can be used as a source of natural antioxidants. Therefore in this study, we investigated the phenolic content in corn silk and citrus peel and assess the ability of the extracts to reduce the conversion of starch to sugar in antidiabetic assessment. Research procedures include raw materialpreparation, extraction, activity assessment and loading the extract into the nanomaterialpores. The results showed that corn silk and kaffir lime peels have different total phenolic contents. Specifically for corn silk, it can be seen clearly that the plant varietycontribute to the amount of total phenolic content. Corn silk from P11 variety has the largest phenolic content up to 1.58 mg GAE/g. Therefore this materialexhibited the highest antioxidant activity against DPPH free radicals, but it has a relatively low for antidiabetic activity. For citrus, this study showed that peels of lemon, lime and kaffir lime exhibited different content of phenolicswith kaffir lime peels extract had the highest phenolics, up to 23.36 mg GAE/g, while the extract of lemon and lime peels were 7.94 and 9.71 mg GAE/g, respectively. In addition, extract of kaffir lime peels has the highest phenolics content compared to other parts such as leaves and juice. The use of different solvents provides different antidiabetic activity. The loading of kaffir lime peels extract into nanomaterial pores was successful, promising future application in the field of drug delivery. However, other studies are still required to improve the effectiveness of diabetes therapy using natural products.
EKSTRAKSI SENYAWA FENOLIK DAUN SIRIH UNTUK ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI DENGAN BANTUAN ULTRASONIKASI Amelia Rahardio; Felicia Salim; Nani Indraswati; Aning Ayucitra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Daun sirih mengandung senyawa fenolik yang dapat digunakan sebagai bahan antioksidan dan antibakteri. Dalam penelitian ini daun sirih diekstraksi untuk mendapatkan senyawa fenoliknya dengan bantuan ultrasonikasi (ultrasound-assisted extraction/UAE). Tujuan penelitian ini adalah menentukan perolehan dan kandungan fenolik total (TPC) ekstrak daun sirih pada proses ekstraksi dengan bantuan ultrasonikasi untuk berbagai variasi konsentrasi etanol dan perbandingan padatan/pelarut. Kapasitas antioksidan (IC50) serta aktivitas antibakteri pada ekstrak daun sirih untuk ekstrak dengan perolehan fenolik terbesar juga dipelajari. Daun sirih terlebih dahulu dicuci, dikeringkan, dan dikecilkan ukurannya hingga menjadi serbuk, lalu diekstraksi dengan bantuan ultrasonikasi. Setelah ekstraksi, dilakukan analisis perolehan dan TPC pada filtrat. TPC dinyatakan dalam mg ekuivalen asam galat (GAE)/mL ekstrak. Filtrat dengan nilai TPC tertinggi untuk setiap konsentrasi etanol dievaporasi dan dikeringkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi etanol dan perbandingan padatan/pelarut, maka perolehan fenolik yang dihasilkan juga semakin besar. Pelarut etanol 96% dan perbandingan padatan/pelarut 1/20 menghasilkan perolehan fenolik terbesar (263,3 mg GAE/g daun sirih) dengan kualitas ekstrak terbaik yaitu TPC sebesar 219,2 mg GAE/g ekstrak, IC50 sebesar 0,51 mg ekstrak/mL etanol, dan memiliki daya hambat bakteri terbesar. Kata kunci: daun sirih, ekstraksi, ultrasonikasi, antioksidan, antibakteri Abstract ULTRASOUND-ASSISTED EXTRACTION OF PHENOLIC COMPUNDS FROM BETEL LEAF AS ANTIOXIDANT AND ANTIBACTERIAL. Betel leaf contains phenolic compounds that may be used as antioxidant and antibacterial. In this study, betel leaves were extracted to obtain its phenolic compounds by using ultrasound assisted extraction method. The purpose of this study was to determine the effect of ethanol concentration as solvent and solid to liquid solvent ratio to the yield and Total Phenolic Content (TPC) of extracts. Antioxidant (IC50) and antibacterial activity of extracts were also studied using DPPH and disk diffusion method, respectively. After extraction, the filtrate was analysed its yield and TPC. TPC was expressed as mg Gallic Acid Equivalent/mL extract (mg GAE/mL extract). Filtrates with the highest TPC for every ethanol concentration were dried to obtain extract powder. In this study, the greater concentration of ethanol and solid to liquid ratio, the yield of phenolic produced was even greater. Ethanol concentration of 96% and solid to liquid ratio of 1:20 produced the largest phenolic yield (263.3 mg GAE/g of betel leaves) and the best quality of extract had TPC of 219.2 mg GAE/g extract and IC50 value of 0.51 mg extract/mL ethanol, and showed the highest antibacterial activity. Keywords: betel leaves, extraction, ultrasound assisted extraction, antioxidant, antibacterial
Pemanfaatan Kulit Buah Matoa Sebagai Kertas Serat Campuran Melalui Proses Pretreatment dengan Bantuan Gelombang Mikro dan Ultrasonik Hendry Kurniawan; Calvin Hardi Garchia; Aning Ayucitra; . Antaresti
Widya Teknik Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v16i1.963

Abstract

Kulit buah matoa memiliki potensi untuk menggantikan kayu sebagai bahan baku utama pembuatan kertas. Kulit buah matoa mengandung selulosa sehingga dapat diolah menjadi kertas. Dalam penelitian ini, proses pembuatan kertas dari kulit buah matoa melalui beberapa tahapan yaitu pemasakan, pencucian, pencampuran antara pulp kulit matoa dengan pulp kertas koran bekas, dan pencetakan kertas. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh metode pretreatment (dengan bantuan gelombang mikro dan ultrasonik), rasio volume asam asetat dengan massa kulit matoa, serta waktu paparan gelombang terhadap perolehan α-selulosa dari kulit matoa. Penelitian ini juga mempelajari pengaruh rasio pulp kulit matoa dan pulp koran bekas serta metode pretreatment terhadap karakteristik kertas serat campuran yang dihasilkan seperti daya tembus (bursting strength), kekuatan tarik (tear strength), gramatur (grammage), fleksibilitas/kekakuan (stiffness), dan ketebalan (thickness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment dengan gelombang mikro dan gelombang ultrasonik dapat meningkatkan perolehan kadar α-selulosa kulit buah matoa dalam kisaran variabel yang dipelajari. Rasio antara kulit buah matoa dan asam asetat 1:15 dan total waktu paparan 10 menit merupakan kondisi terbaik karena mampu memberikan kadar α-selulosa tertinggi yaitu 77,16% untuk gelombang mikro dan 74,86% untuk gelombang ultrasonik. Kertas serat campuran dari pulp kulit matoa hasil pretreatment dengan gelombang mikro memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan kertas serat campuran dari pulp hasil pretreatment dengan gelombang ultrasonik. Kertas tersebut memiliki karakteristik daya tembus sebesar 1,55 kPa/cm2, kekuatan tarik sebesar 706,5 mN, gramatur sebesar 390,95 g/m2, fleksibilitas sebesar 85 g/cm, dan ketebalan sebesar 1679,5 mikron. Berdasarkan nilai tiga parameter utama kertas (grammage, tear strength, dan stiffness), pretreatment dengan gelombang mikro dengan rasio pulp kulit buah matoa dan pulp kertas koran 1:1 dapat menghasilkan tipe kertas karton dupleks sesuai SNI 0123:2008. Kata kunci : kulit matoa, microwave, ultrasound, kertas serat campuran
Isolasi Pati dari Pisang Kepok dengan Menggunakan Metode Alkaline Steeping Philip Wibowo; Julius Adi Saputra; Aning Ayucitra; Laurentia Eka Setiawan
Widya Teknik Vol. 7 No. 2 (2008)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v7i2.1266

Abstract

Tanaman pisang merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis dan memiliki banyak manfaat mulai dari bagian bawah (bonggol) hingga bagian atasnya (daun). Pisang memiliki kandungan gizi dan pati yang cukup tinggi. Metode isolasi dalam penelitian ini dilakukan dengan perendaman dalam larutan basa (alkaline steeping method), pada berbagai variasi pelarut dan waktu perendaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan pati yang terdapat dalam buah pisang, kandungan air (moisture content), solubility-swelling power, amilosa-amilopektin, dan protein dari pati yang didapatkan dengan variasi pelarut dan waktu perendaman. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai ekonomi pisang kepok, karena pati yang diambil dapat diaplikasikan dalam tepung pisang yang kaya akan pati. Contoh aplikasi dari tepung pisang ini biasanya adalah sebagai makanan bayi yang kaya akan karbohidrat. Yield maksimum pati diperoleh pada waktu perendaman 6 jam untuk semua variasi pelarut, dan perendaman dengan aquades memberikan nilai lebih tinggi dibandingkan dengan perendaman basa. Yield pati dengan perendaman aquades yaitu 34,18%. Rasio amilosa dari pati dengan perendaman basa lebih tinggi daripada pati dengan perendaman aquades yaitu 23,4% untuk perendaman NaOH dan 19,2% untuk perendaman dengan aquades. Sebaliknya amilopektin pada pati dengan perendaman basa lebih rendah dibandingkan dengan aquades yaitu 76,6% untuk perendaman dengan NaOH dan 80,8% untuk perendaman dengan aquades. Kandungan protein pada pati dengan perendaman basa lebih kecil dibandingkan dengan perendaman dengan aquades yaitu 0,76% untuk perendaman dengan NaOH dan 1,05% untuk perendaman dengan aquades.
Koagulasi Protein dari Ekstrak Biji Kecipir dengan Metode Pemanasan Welly Surya Naga; Berlian Adiguna; Ery Susiany Retnoningtyas; Aning Ayucitra
Widya Teknik Vol. 9 No. 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v9i1.1292

Abstract

Dalam rangka penyediakan tambahan gizi bagi kehidupan manusia diperlukan produk makanan yang mengandung protein. Daging merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung protein kadar tinggi. Daging dapat berasal dari hewan (hewani) maupun biji-bijian (nabati). Biji kecipir dapat digunakan sebagai bahan pembuatan daging nabati. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkoagulasi protein dari biji kecipir sebagai bahan pembuatan daging nabati. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh waktu, suhu, dan tekanan pada koagulasi protein biji kecipir dan mencari kondisi proses yang relatif baik. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi serbuk biji kecipir seberat 30 gram dengan menggunakan 300 ml akuades di dalam tangki yang dilengkapi pengaduk. Slurry dalam tangki diaduk dengan kecepatan 150 rpm selama 60 jam pada suhu 60oC dan ekstraksi dilakukan sebanyak 4 tahap. Filtrat hasil ekstraksi diambil 100 ml untuk dilakukan proses koagulasi. Variabel yang diteliti adalah suhu (50–70oC), waktu (1–3 jam), dan tekanan (vakum dan 1 atm). Jumlah protein dalam padatan protein dianalisis memakai makro kjeldahl. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pada kisaran 50-60oC yield protein semakin meningkat, tetapi pada suhu 70oC dan tekanan 1 atm yield protein berkurang. Selain itu, semakin lama waktu yang digunakan untuk koagulasi dan semakin rendah tekanan yang digunakan, maka yield protein yang didapat semakin besar.
Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Alami Ekstrak Fenolik Biji Pepaya Ivonne Christalina; Tiatira Erlona Susanto; Aning Ayucitra; . Setiyadi
Widya Teknik Vol. 12 No. 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v12i2.1455

Abstract

Kondisi kota-kota besar sangat rawan menebarkan bibit-bibit penyakit atau gangguan pada kesehatan. Radikal bebas merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit degeneratif antara lain kanker, aterosklerosis, stroke, rematik dan jantung. Upaya untuk mencegah atau mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh aktivitas radikal bebas adalah dengan mengkonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung antioksidan. Pencarian sumber antioksidan alami sangat dibutuhkan untuk menggantikan peran antioksidan sintetik. Biji pepaya mengandung antioksidan yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suhu dan waktu ekstraksi, serta rasio solid/liquid terhadap TPC (Total Phenolic Content), aktivitas antioksidan dan kemampuan antibakteri dari ekstrak biji pepaya. Biji pepaya mengandung senyawa fenolik yang dapat berperan sebagai antioksidan dan antibakteri. Mula-mula biji pepaya dikeringkan di dalam oven untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam biji pepaya. Biji pepaya kemudian dihancurkan sehingga ukurannya berkisar antara -40/+60 mesh, lalu diekstrak dengan pelarut etanol 75%. Proses ekstraksi dilakukan pada berbagai variasi suhu, waktu ekstraksi, serta rasio solid/liquid. Setelah didapatkan ekstrak biji pepaya, ekstrak dianalisa dengan metode Folin Ciocalteu untuk mengetahui TPC dalam biji pepaya dan dengan metode DPPH untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak biji pepaya. Aktivitas antibakteri ekstrak biji pepaya dilakukan dengan metode kertas cakram menggunakan bakteri Escherichia coli (gram negatif) dan Bacillus thuringiensis (gram positif). Dari hasil penelitian didapatkan hasil TPC terbesar, yaitu 0,3471 mg GAE/mL, pada proses ekstraksi dengan rasio solid/liquid 1:10, suhu 60°C, selama 105 menit; sedangkan pada proses ekstraksi dengan rasio solid/liquid 1:20 didapatkan TPC tertinggi yaitu 0,1965 mg GAE/mL pada suhu 60°C selama 60 menit. Kedua ekstrak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri meski perbedaan diameter zona hambatnya tidak signifikan.
AMP Modifikasi Aspal Konvensional Penetrasi 60/70 Menggunakan Polimer Limbah Plastik Polipropilena (PP) Menjadi Produk Aspal Modifikasi Plastik Herman Hindarso; Aning Ayucitra; Chintya Gunarto; Nathania Puspitasari; Dian Retno Sari Dewi; Gogot Seto Budi
Widya Teknik Vol. 25 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v25i1.7806

Abstract

Peningkatan volume limbah plastik dan kebutuhan pada aspal jalan dengan kinerja lebih baik menjadi latar belakang penelitian ini. Penelitian ini mengusulkan modifikasi aspal konvensional penetrasi 60/70 dengan menambahkan limbah plastik jenis Polipropilen (PP) sebagai aditif sebanyak 10%, 20%, 30%, 40%, 50% berat dari berat aspal konvensional yang digunakan melalui proses pencampuran mekanis pada suhu 180°C dan kecepatan pengadukan 500-1000 rpm selama 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan aditif limbah plastik jenis PP meningkatkan titik lembek (dari 48°C menjadi 72°C), viskositas (dari 350 cP menjadi 2150 cP), dan elastisitas aspal, serta mengurangi kehilangan berat pada Thin Film Oven Test (TFOT), tetapi menyebabkan daktilitas menurun seiring peningkatan jumlah aditif limbah plastik PP. Stabilitas penyimpanan campuran aspal dan aditif limbah plastik optimal tercapai pada penambahan jumlah limbah plastik PP sebanyak 30% berat. Sebagai kesimpulan adalah limbah plastik jenis PP efektif memodifikasi aspal konvensional dengan penambahan jumlah limbah plastik optimum pada 20-30% berat, meningkatkan ketahanan termal dan elastisitas, serta menawarkan solusi pemanfaatan limbah plastik dan peningkatan kinerja perkerasan aspal.