p-Index From 2021 - 2026
3.982
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hukum Progresif Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Ulul Albab: Jurnal Studi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Analisis: Jurnal Studi Keislaman IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Jurnal Dakwah Risalah MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Journal of Islamic Studies and Humanities Sawwa: Jurnal Studi Gender Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Jurnal Politik Profetik Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Orientasi Baru Journal of Islamic Architecture community: Pengawas Dinamika Sosial Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial JURNAL PENELITIAN MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender RELIGIA Jurnal Ilmu Dakwah Forum Tarbiyah Kebudayaan Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Aceh Anthropological Journal Riwayah : Jurnal Studi Hadis Al-Adyan: Journal of Religious Studies Journal of Nahdlatul Ulama Studies Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Prabayaksa: Journal of History Education Jurnal Islam Nusantara Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Journal of Demography, Etnography, and Social Transformation Jurnal Hukum dan Pembangunan Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman TILA (Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal) Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Kebudayaan

ADAPTASI BUDAYA DAN BENTURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN: STUDI KASUS KOMUNITAS SAMIN DI KUDUS Rosyid, Mohammad
Kebudayaan Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.619 KB) | DOI: 10.24832/jk.v12i1.166

Abstract

AbstractThis research was conducted to Samin community in Kudus Regency, Central Java Province. Data was obtainabled through interviews and observations to Wong Samin in Kudus, particularly at Lerakrejo Village, Kaliyoso sub-village, and Karangrowo Village, in Undaan district. This article is descriptive qualitative research. The purpose of this research is to know how adaption efforts that based on culture in Samin community, Kudus, when they are stigmatized by their surrounding communities, and modification of their teachings as a respon of dynamically. As a strategy for maintenance their identity, Wong Samin make notes in a book, which records of their identity and teachings in a simple way in an attempt to straighten out the negative stigma. The book also illustrates compliance teaching to the local government regulations, such as formal school, pay taxes, active in election, and registration of marriages. Wong Samin also assimilate with non-Samin and accommodate non-Samin culture in their environment. Their efforts bring in a positively respon from surrounding community. As an evidence, a part of them is inducted as a chairman of neighborhood association (RT), surrounding association (RW), and farmer groups. However, the main problem that must be faced of Samin community in Kudus is their paddy field as their source economy often failed. So, they are to be urban workers in many cities. The impacts are, homeschooling and pirukunan (gemeinschaft) not repeated agen, because their elders and adult generation to be migrants and returning home uncertainly. Their routine social activities with non-Samin community in their residents are not maximal also.AbstrakRiset ini dilakukan pada komunitas Samin di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi dengan wong Samin Kudus, khususnya di Desa Larekrejo dan Dusun Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan. Analisis riset ini deskriptif kualitatif. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya adaptasi berbasis budaya yang dilakukan komunitas Samin di Kudus tatkala distigma lingkungannya dan mengalami pergeseran atas ajarannya akibat dinamika masa kini yang diresponnya. Strategi dalam mempertahankan jati dirinya, wong Samin membuat catatan yang dibukukan berupa jati diri dan ajarannya dalam bentuk sederhana sebagai upaya meluruskan stigma. Di dalamnya juga menggambarkan ketaatannya pada peraturan pemerintah seperti sekolah formal, membayar pajak, aktif dalam pemilu, selain pencatatan perkawinan, membaur dengan warga non-Samin, dan mengakomodasi budaya non-Samin di lingkungannya. Upaya tersebut membuahkan hasil yakni direspon positif lingkungannya dengan bukti dipercaya sebagai Ketua RT, RW, dan kelompok tani. Akan tetapi, problem utama yang dihadapi komunitas Samin di Kudus adalah sumber perekonomiannya sebagai petani padi yang mengalami kegagalan sehingga menjadi pekerja urban di kota. Imbasnya, homeschooling dan pertemuan pirukunan tak lagi berlangsung karena sesepuh dan generasi dewasa menjadi perantau yang pulangnya tak menentu. Rutinitas kegiatan sosial kemasyarakatan dengan warga non-Samin di lingkungannya pun tak maksimal. 
ADAPTASI BUDAYA DAN BENTURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN: STUDI KASUS KOMUNITAS SAMIN DI KUDUS Rosyid, Mohammad
Kebudayaan Vol 12 No 1 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i1.166

Abstract

AbstractThis research was conducted to Samin community in Kudus Regency, Central Java Province. Data was obtainabled through interviews and observations to Wong Samin in Kudus, particularly at Lerakrejo Village, Kaliyoso sub-village, and Karangrowo Village, in Undaan district. This article is descriptive qualitative research. The purpose of this research is to know how adaption efforts that based on culture in Samin community, Kudus, when they are stigmatized by their surrounding communities, and modification of their teachings as a respon of dynamically. As a strategy for maintenance their identity, Wong Samin make notes in a book, which records of their identity and teachings in a simple way in an attempt to straighten out the negative stigma. The book also illustrates compliance teaching to the local government regulations, such as formal school, pay taxes, active in election, and registration of marriages. Wong Samin also assimilate with non-Samin and accommodate non-Samin culture in their environment. Their efforts bring in a positively respon from surrounding community. As an evidence, a part of them is inducted as a chairman of neighborhood association (RT), surrounding association (RW), and farmer groups. However, the main problem that must be faced of Samin community in Kudus is their paddy field as their source economy often failed. So, they are to be urban workers in many cities. The impacts are, homeschooling and pirukunan (gemeinschaft) not repeated agen, because their elders and adult generation to be migrants and returning home uncertainly. Their routine social activities with non-Samin community in their residents are not maximal also.AbstrakRiset ini dilakukan pada komunitas Samin di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi dengan wong Samin Kudus, khususnya di Desa Larekrejo dan Dusun Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan. Analisis riset ini deskriptif kualitatif. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya adaptasi berbasis budaya yang dilakukan komunitas Samin di Kudus tatkala distigma lingkungannya dan mengalami pergeseran atas ajarannya akibat dinamika masa kini yang diresponnya. Strategi dalam mempertahankan jati dirinya, wong Samin membuat catatan yang dibukukan berupa jati diri dan ajarannya dalam bentuk sederhana sebagai upaya meluruskan stigma. Di dalamnya juga menggambarkan ketaatannya pada peraturan pemerintah seperti sekolah formal, membayar pajak, aktif dalam pemilu, selain pencatatan perkawinan, membaur dengan warga non-Samin, dan mengakomodasi budaya non-Samin di lingkungannya. Upaya tersebut membuahkan hasil yakni direspon positif lingkungannya dengan bukti dipercaya sebagai Ketua RT, RW, dan kelompok tani. Akan tetapi, problem utama yang dihadapi komunitas Samin di Kudus adalah sumber perekonomiannya sebagai petani padi yang mengalami kegagalan sehingga menjadi pekerja urban di kota. Imbasnya, homeschooling dan pertemuan pirukunan tak lagi berlangsung karena sesepuh dan generasi dewasa menjadi perantau yang pulangnya tak menentu. Rutinitas kegiatan sosial kemasyarakatan dengan warga non-Samin di lingkungannya pun tak maksimal. 
MAKNA KERIS BAGI WARGA SAMIN DI KUDUS Rosyid, Moh
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.275

Abstract

Tujuan ditulisnya naskah ini untuk mengulas kepemilikan dan keberadaan keris bagi warga Samin, yakni komunitas yang mewarisi ajaran Ki Samin Surosentiko sejak era kolonial Belanda hingga kini di Kudus Jateng. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi dengan analisis deskriptif kualitatif. Keris diperankan sebagai mitra hidup batin dan pengendali sikap sombong sehingga kepemilikannya dirahasiakan. Pewarisan keris berdasarkan persetujuan keris dengan cara â??dialogâ?? magis antara si pemegang keris dengan keris, ada kalanya persetujuan keris dengan lambang dalam mimpi pewaris. Pewaris keris hanya lelaki dan tokoh (botoh) Samin.