Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEGREGASI SOSIAL PASCAKONFLIK 1999 DI KOTA AMBON David Octovianus Roos
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 2 No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v2i1.629

Abstract

Dinamika kehidupan yang saling menghargai dan menghormati antara pemeluk agama satu dan agama lain menjadi sangat utama bagi penduduk yang ada di Kota Ambon. Konflik yang pernah terjadi 1999 di Kota Ambon menyebabkan struktur masyarakat menjadi tersegregasi berdasarkan keyakinan masing-masing agama yakni, Islam dan Kristen. Pada dasarnya dahulu Kota Ambon terdiri atas wilayah kerajaan-kerajaan yang faktanya bahwa sampai sekarang masih ada panggilan untuk raja dari negeri yang ada di sana. Awalnya masyarakat Kota Ambon merupakan masyarakat pra-modern yang sering disebut dengan masyarakat adat. Seiring kemajuan zaman dengan berbagai isu dan wacananya, maka di Kota Ambon dengan bentuk pengotak-ngotakan wilayah berdasarkan keyakinan agama menjadi semakin penting untuk di lihat sebagai fenomena kajian sosial budaya. Apakah memang segregasi sosial pascakonflik ini menyebabkan munculnya ideologi Islam, Kristen, konsolidasi dan multikultur?. Hal ini kemudian memiliki dampak, baik secara sosial budaya, ekonomi, politik dan psikologis. Selain itu makna dari segregasi sosial yang terjadi di Kota Ambon memberikan ruang terciptanya pelampauan dialog antarumat beragama yang kemudian berkembang menjadi sebuah tindakan komunikatif yang bebas dominasi.
TUHAN DALAM KONTEKS BERAGAMA (Studi Sosio Religi) David Octovianus Roos
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 2 No 2: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v2i2.707

Abstract

Eksistensi Tuhan dan agama selalu menjadi perbincangan bahkan menjadi perdebatan sepanjang sejarah umat manusia. Perdebatan yang tak kunjung selesai itu telah melahirkan berbagai pandangan yang satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan bertentangan. Fakta belakangan ini menunjukkan bahwa secara teologis ada yang bertuhan dan beragama hanya pada tataran teoretis tapi tidak dalam tataran praktis sekularisme, yang berlindung di balik ketidak mampuan atau kemustahilan manusia untuk mengetahui Tuhannya. Manusia adalah makhluk sejarah,oleh karenannya nama-nama Tuhan juga muncul dalam wacana sejarah dan pemikiran agama. Hubungan agama, budaya dan masyarakat sangat penting atau merupakan sistem kehidupan karena adanya keterkaitan satu sama lain. Untuk soal keberagamaan dan pembangunan sosial tidak lengkap jika hanya dilihat dari satu aspek tertentu saja, untuk itu dalam memandang persoalan kemasyarakatan harus melalui pendekatan holistik. Kehidupan beragama terlihat dari cara berpikir, perilaku atau sikap dan tata krama dalam masyarakat dan berbangsa.