Herlina Juni Risma Saragih
Universitas Pertahanan RI

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NIRMILITER DI PROVINSI BALI DALAM MENGHADAPI ANCAMAN VIRUS COVID-19 GUNA MENINGKATKAN PERTAHANAN NEGARA Ketut Budiantara; Ikhwan Syahtaria; Dohar Siantur; Lukman Yudho Prakoso; Herlina Juni Risma Saragih; Ernalem Bangun
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 2 No 8: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v2i8.1234

Abstract

Pentingnya penguatan kemampuan pertahanan nirmiliter di provinsi Bali sebagai dampak dari ancaman virus Covid-19 dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga pertahanan negara dari berbagai ancaman nirmiliter, seperti ancaman ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, terorisme, Narkoba dan keselamatan umum seperti penyebaran virus Covid-19. Penyebaran pandemi Covid-19 di provinsi Bali masih tinggi dimana per tanggal 9 Juni 2021 tercapat bahwa jumlah kasus kumulatif sebanyak 47.581 orang, sembuh 45.630 orang (95,90%), dan meninggal 1.514 orang (3,18%), kasus aktif sebanyak 437 orang (0,92%), dengan jumlah terbanyak penderita pada Kota Denpasar dengan akumulasi sebanyak 15.032 penderita. Penyebaran virus Covid-19 di Bali telah menurunkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada aspek wisata. Dari kondisi tersebut dapat disusun pertanyaan tentang bagaimana tingkat kemampuan Pertahanan nirmiliter untuk menghadapi ancaman virus Covid-19, prioritas alternative dan strategi penguatan kemampuan Pertahanan nirmiliter. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif pada kemampuan Pertahanan nirmiliter pada aspek kebijakan/peraturan (3,6), kewaspadaan dini (3,9), bela negara (3,9), kemampuan teknologi (3,7) dan dukungan anggaran (3,5). Untuk mendukung penguatan kemampuan Pertahanan nirmiliter perlu disusun kebijakan yang tepat dan pembentukan lembaga penanggulangan ancaman nirmiliter. Langkah strategis yang perlu dilakukan adalah peningkatan kemampuan analisis terhadap berbagai potensi ancaman agar dapat memberikan analisis data yang tepat untuk menghadapi berbagai potensi ancaman nimiliter. Sebagai saran diperlukan aksi pemerintah dalam mendukung peningkatan kewaspadaan nasional untuk mencegah terjadinya risiko dari ancaman nirmiliter.
Analysis of the Impact of Mineral and Coal Downstreaming Policy on Global and National Economies: A GTAP Approach Basuki Rahmad Saleh; Irdam Ahmad; Herlina Juni Risma Saragih; Agus Adriyanto; Susanna Renna Ertanti
Journal La Sociale Vol. 7 No. 3 (2026): Journal La Sociale
Publisher : Borong Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journal-la-sociale.v7i3.3249

Abstract

Indonesia's mineral and coal downstreaming policy, which imposes export bans and restrictions on raw minerals such as nickel, bauxite, copper, and coal, represents one of the most ambitious resource industrialization strategies globally. This study aims to analyze the potential and impact of the mineral and coal downstreaming policy on Indonesia's macroeconomic and sectoral economic indicators as well as its implications for global trading partners. The analysis method employs the GTAP (Global Trade Analysis Project) version 10 database model with two cooperation scenario approaches: a 50% reduction in raw mineral exports (Simulation 1) and a 95% reduction in raw mineral exports (Simulation 2). The macroeconomic indicators analyzed include welfare (equivalent variation), real Gross Domestic Product (GDP), household consumption, government expenditure, investment, exports, imports, and trade balance. The sectoral indicators include output changes and employment opportunities. The results show that Indonesia's downstreaming policy promotes an increase in real GDP, household welfare, domestic consumption, and investment, with the highest gains occurring in the nickel processing, ferronickel, and manufactured metals sectors. However, the policy creates a temporary trade balance deterioration due to increased capital goods imports for smelting infrastructure. From the sectoral perspective, downstream mineral industries particularly ferronickel, chemical fertilizers derived from coal gasification, and mineral-based manufactured goods record the highest output and employment increases. These findings underscore the strategic importance of accelerating hilirisasi policies while mitigating trade risks through market diversification.